Pa' Dhe, air dari pdam kota singkawang ngalirnya senin - kemis sejak jadul
(jaman dulu) ya ?
mandinya dimana kalo To Le jalan2 ke singkawang ?
Hhuuss, To Le kalo mau ke singkawang ya pegi aja, kog mikirin mandi !
Mandi pake dua jari aja, celupin di air aqua !
Usapin dua jari itu ke mata kiri kanan, mumet (pusing) aku !
Pa' Dhe ngedumel (ngomel) yaa ?
Pa Dhe, nyari mata air sing gampang, uakeh banyune pie (cari mata air yg mudah,
banyak airnya gimana) ?
Siapkan garam secukupnya, letakan garam tsb. di tanah pada 5 s/d 6 lokasi yang
jaraknya berjauhan (dibersihkan dari rumput2) pada saat matahari sdh tenggelam,
bentuk tumpukan garam tsb. berupa gunungan (kerucut) yang tingginya kira2 10
cm, sama dengan gunungan garam dilokasi lainnya (utk pedoman), tutup gunungan
garam tsb. dengan panci, ember dsb.
Buka tutup gunungan garam tsb. pada saat subuh, amati ketinggian garam tsb.
pilih gunungan garam yang paling rendah dan basah (dikarenakan penguapan)
diantara gunungan garam lainnya. nah itulah lokasi airnya yang paling banyak
diantara lokasi2 lainnya. bikin sumur disitu.
Thank's dahsyat ya Pa' Dhe, tapi kog gunungan garamnya bisa jadi rendah sih Pa'
Dhe ?
Pikir sendiri, renungkan sendiri, ingat pelajaran sekolah dulu ?
Iya . . . iya . . . Pa' Dhe, To Le buka lagi buku2 pelajaran sekolah dulu.
Tapi kalo cuman dapat satu sumur ya ngga cukup lho Pa' Dhe buat orang banyak di
singkawang ? Jadi harus gimana Dhe ?
Pa' Dhe nanya dengan tetangga Pa' Dhe dulu yaa yang kerjanya di LIPI.
Seorang kawan (Rachmat Fajar Lubis)
yg sedang berada di Jepang, bukan belajar gempa tetapi tentang air tanah. Ya,
belajar tentang air tanah. mengapa ? Karena air akan menjadi bahan komoditi
ketika nanti kita kesulitan mencari air tawar dan air baku untuk kehidupan
sehari-hari. Pak Fajar ini mempelajari pengelolaan air tanah, beliau bekerja di
Indonesia sebagai ahli air tanah di Geotek LIPI,
Bandung. Pak Fajar saat ini berada di Chiba, Jepang dalam rangka Joint
Research.
Berikut tulisan sekelumit beliau
tentang air tanah.
Airtanah?
Apa dan Bagaimana Mencarinya?
Rachmat
Fajar Lubis
Pertanyaan diatas seringkali muncul
ketika sumber air yang kita gunakan selama ini seperti air sungai, danau atau
air hujan tidak bisa kita dapatkan. Satu hal yang pasti ini adalah salahsatu
jenis air juga.
Hanya dikarenakan jenis air ini
tidak terlihat secara langsung, banyak kesalahfahaman dalam masalah ini. Banyak
orang secara umum menganggap airtanah itu sebagai suatu danau atau sungai yang
mengalir di bawah tanah. Padahal, hanya dalam kasus dimana suatu daerah yang
memiliki gua dibawah tanahlah kondisi ini adalah benar. Secara umum airtanah
akan mengalir sangat perlahan melalui suatu celah yang sangat kecil dan atau
melalui butiran antar batuan
(Model
aliran airtanah melewati rekahan dan butir batuan)
Batuan yang mampu menyimpan dan
mengalirkan airtanah ini kita sebut dengan akifer. Bagaimana interaksi kita
dalam penggunaan airtanah? Yang alami adalah dengan mengambil airtanah yang
muncul di permukaan sebagai mataair atau secara buatan. Untuk pengambilan
airtanah secara buatan, mungkin analogi yang baik adalah apabila kita memegang
suatu gelas yang berisi air dan es. Apabila kita masukkan sedotan, maka akan
terlihat bahwa air yang berada di dalam sedotan akan sama dengan tinggi air di
gelas. Ketika kita menghisap air dalam gelas tersebut terus menerus pada
akhirnya kita akan menghisap udara, apabila kita masih ingin menghisap air yang
tersimpan diantara es maka kita harus menghisapnya lebih keras atau mengubah
posisi sedotan. Nah konsep ini hampirlah sama dengan teknis pengambilan
airtanah dalam lapisan akifer (dalam hal ini diwakili oleh es batu) dengan
menggunakan pompa (diwakili oleh sedotan)
Hal yang menarik, jika kita tutup
permukaan sedotan maka akan terlihat bahwa muka air di dalam sedotan akan
berbeda dengan muka air didalam gelas. Perbedaan ini akan mengakibatkan
pergerakan air. Sama dengan analog ini, airtanahpun akan bergerak dari tekanan
tinggi menuju ke tekanan rendah. Perbedaan tekanan ini secara umum diakibatkan
oleh gaya gravitasi (perbedaan ketinggian antara daerah pegunungan dengan
permukaan laut), adanya lapisan penutup yang impermeabel diatas lapisan akifer,
gaya lainnya yang diakibatkan oleh pola struktur batuan atau fenomena lainnya
yang ada di bawah permukaan tanah. Pergerakan ini secara umum disebut gradien
aliran airtanah (potentiometrik). Secara alamiah pola gradien ini dapat
ditentukan dengan menarik kesamaan muka airtanah yang berada dalam satu sistem
aliran airtanah yang sama.
Mengapa pergerakan atau aliran
airtanah ini menjadi penting? Karena disinilah kunci dari penentuan suatu
daerah kaya dengan airtanah atau tidak. Perlu dicatat : tidak seluruh daerah
memiliki potensi airtanah alami yang baik.
Model aliran airtanah itu sendiri
akan dimulai pada daerah resapan airtanah atau sering juga disebut sebagai
daerah
imbuhan airtanah (recharge zone). Daerah ini adalah wilayah dimana
air yang berada di permukaan tanah baik air hujan ataupun air permukaan
mengalami proses penyusupan (infiltrasi) secara gravitasi melalui lubang pori
tanah/batuan atau celah/rekahan pada tanah/batuan.
(Model
siklus hidrologi, dimodifikasi dari konsep Gunung Merapi-GunungKidul)
Proses penyusupan ini akan
berakumulasi pada satu titik dimana air tersebut menemui suatu lapisan atau
struktur batuan yang bersifat kedap air (impermeabel).
Titik akumulasi ini akan membentuk suatu zona jenuh air (saturated zone)
yang seringkali disebut sebagai daerah luahan airtanah (discharge zone).
Perbedaan kondisi fisik secara alami akan mengakibatkan air dalam zonasi ini
akan bergerak/mengalir baik secara gravitasi, perbedaan tekanan, kontrol
struktur batuan dan parameter lainnya. Kondisi inilah yang disebut sebagai
aliran airtanah. Daerah aliran airtanah ini selanjutnya disebut sebagai daerah
aliran (flow zone).
Dalam perjalananya aliran airtanah
ini seringkali melewati suatu lapisan akifer yang diatasnya memiliki lapisan
penutup yang bersifat kedap air (impermeabel) hal ini mengakibatkan perubahan
tekanan antara airtanah yang berada di bawah lapisan penutup dan airtanah yang
berada diatasnya. Perubahan tekanan inilah yang didefinisikan sebagai airtanah
tertekan (confined aquifer) dan airtanah bebas (unconfined aquifer).
Dalam kehidupan sehari-hari pola pemanfaatan airtanah bebas sering kita lihat
dalam penggunaan sumur gali oleh penduduk, sedangkan airtanah tertekan dalam
sumur bor yang sebelumnya telah menembus lapisan penutupnya.
Airtanah bebas (water table) memiliki
karakter berfluktuasi terhadap iklim sekitar, mudah tercemar dan cenderung
memiliki kesamaan karakter kimia dengan air hujan. Kemudahannya untuk
didapatkan membuat kecenderungan disebut sebagai airtanah dangkal (Padahal
dangkal atau dalam itu sangat relatif lho).
Airtanah tertekan/ airtanah
terhalang inilah yang seringkali disebut sebagai air sumur artesis (artesian
well). Pola pergerakannya yang menghasilkan gradient potensial,
mengakibatkan adanya istilah artesis positif ; kejadian dimana potensial
airtanah ini berada diatas permukaan tanah sehingga airtanah akan mengalir
vertikal secara alami menuju kestimbangan garis potensial khayal ini. Artesis
nol ; kejadian dimana garis potensial khayal ini sama dengan permukaan tanah
sehingga muka airtanah akan sama dengan muka tanah. Terakhir artesis negatif ;
kejadian dimana garis potensial khayal ini dibawah permukaan tanah sehingga
muka airtanah akan berada di bawah permukaan tanah..
Jadi, kalau tukang sumur bilang
bahwa dia akan membuat sumur artesis, itu artinya dia akan mencari airtanah
tertekan/airtanah terhalang ini.. belum tentu airnya akan muncrat dari tanah ;p
Lalu airtanah mana yang akan dicari?
Itulah yang pertama kali harus kita
tentukan. Tiap jenis airtanah memerlukan metode pencarian yang spesifik. Tapi
secara umum bisa kita bagi menjadi :
Metode berdasarkan aspek fisika (Hidrogeofisika)
: Penekanannya pada aspek fisik yaitu merekonstruksi pola sebaran lapisan
akuifer. Beberapa metode yang sudah umum kita dengar dalam metode ini adalah
pengukuran geolistrik yang meliputi pengukuran tahanan jenis, induce
polarisation (IP) dan lain-lain. Pengukuran lainnya adalah dengan
menggunakan sesimik, gaya berat dan banyak lagi.
Metode berdasarkan aspek kimia (Hidrogeokimia)
: Penekanannya pada aspek kimia yaitu mencoba merunut pola pergerakan airtanah.
Secara teori ketika air melewati suatu media, maka air ini akan melarutkan
komponen yang dilewatinya. Sebagai contoh air yang telah lama mengalir di bawah
permukaan tanah akan memiliki kandungan mineral yang berasal dari batuan yang
dilewatinya secara melimpah.
Metode manakah yang terbaik?
Kombinasi dari kedua metode ini akan
saling melengkapi dan akan memudahkan kita untuk mengetahui lebih lengkap
mengenai informasi keberadaan airtanah di daerah kita.
Selamat mencari airtanah… untuk kehidupan yang
lebih baik.
Chiba,
23 Agustus 2006
Semoga bermanfaat,
Salam Hormat,
HB.
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/