Suku Bunga Kredit Akan Segera Naik
Perbankan Mencermati Perkembangan Inflasi
 Selasa, 22 April 2008 | 00:47 WIB

Jakarta, Kompas - Lonjakan inflasi dan membesarnya risiko perekonomian ke
depan telah meningkatkan dorongan terhadap kenaikan suku bunga bank,
termasuk suku bunga kredit. Namun, perbankan sebaiknya berupaya menahan
kenaikan suku bunga kredit agar kinerja sektor riil tetap bergairah.

Kemungkinan akan naiknya suku bunga kredit salah satunya tercermin dari
hasil survei kredit perbankan yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI).

Para bankir yang disurvei memperkirakan, suku bunga kredit modal kerja bakal
naik dari rata-rata 12,94 persen per tahun pada triwulan I-2008 menjadi
rata-rata 12,98 persen per tahun pada triwulan II-2008.

Bahkan, kenaikan suku bunga kredit konsumsi diperkirakan lebih pesat dari
rata-rata 14,99 persen per tahun menjadi rata-rata 15,34 persen per tahun.

Namun, kredit investasi diperkirakan turun dari rata-rata 13,21 persen per
tahun menjadi rata- rata 13,17 persen per tahun.

Hasil survei tersebut menegaskan bahwa tren penurunan suku bunga kredit
perbankan yang berlangsung sejak akhir 2006 telah berakhir. Pada akhir 2006,
suku bunga kredit berkisar 16-18 persen per tahun.

Ekonom BNI, Ryan Kiryanto, Senin (21/4) di Jakarta, menjelaskan, ada
sejumlah faktor yang memicu kenaikan suku bunga kredit.

Pertama, suku bunga dana seperti tabungan, deposito berjangka, dan giro juga
terdorong naik. Jika tidak menaikkan suku bunga dana, bank tentu akan
ditinggalkan nasabahnya.

Nasabah akan memilih menaruh dananya di portofolio pasar modal atau bank
lain yang menawarkan bunga lebih menarik.

Kedua, biaya operasional bank telah meningkat seiring melonjaknya
harga-harga kebutuhan di masyarakat. Agar laba tidak tergerus, perbankan
juga harus menaikkan pendapatannya.

Ketiga, risiko sektor riil kian meningkat seiring makin dekatnya
perekonomian global menuju resesi. Resesi akan menyebabkan pertumbuhan
ekonomi turun dan laba korporasi anjlok sehingga mengurangi kemampuan
korporasi membayar utang.

Artinya, potensi munculnya kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pun
meningkat.

Direktur Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI Halim Alamsyah sebelumnya
mengatakan, NPL berpotensi meningkat seiring masih bergejolaknya pasar
keuangan global.

Daya beli masyarakat yang tergerus oleh inflasi juga meningkatkan risiko
gagal bayar debitor kredit konsumsi seperti kredit pemilikan rumah dan
kredit pemilikan kendaraan bermotor.

Sementara itu, Wakil Presdir Bank Internasional Indonesia (BII) Sukatmo
Padmosukarso mengatakan, saat ini perbankan memang sudah waktunya meninjau
ulang apakah kenaikan risiko kredit sudah berdampak signifikan terhadap
biaya kredit.

Chief Financial Officer Bank Mandiri Pahala N Mansury mengatakan, kebijakan
suku bunga Bank Mandiri masih menunggu perkembangan inflasi bulan April 2008
dan pengaruhnya terhadap suku bunga acuan (BI Rate).

"Sejauh ini kami belum ada rencana menaikkan tingkat bunga," kata Pahala.
Saat ini BI Rate berada di level 8 persen, stabil sejak Desember 2007.
Adapun inflasi tahunan (year on year) Maret 2007-Maret 2008 mencapai 8,17
persen.

*Bisa menjadi bumerang*

Ryan Kiryanto mengatakan, bank sebenarnya bisa mengatasi kenaikan biaya dana
tanpa menaikkan suku bunga kredit. "Bank bisa bermain volume dengan memacu
penyaluran kredit. Dengan cara ini, bank tetap bisa mendongkrak keuntungan
tanpa menaikkan bunga kredit," katanya.

BI, lanjut Ryan, telah memberi jalan kepada bank untuk menggenjot kredit
dengan cara merelaksasi aturan. BI menurunkan bobot risiko untuk kredit
usaha rakyat (KUR) dan obligasi korporasi. Bank sentral juga memperbesar
batas maksimum pemberian kredit untuk kelompok usaha yang minimal satu
anggotanya melepas 40 persen sahamnya ke publik.

Penurunan bobot risiko kredit membuat bank makin leluasa menyalurkan
pinjaman tanpa khawatir terjadi penggerusan modal secara signifikan.

Kenaikan suku bunga kredit, ujar Ryan, hanya akan menambah beban sektor riil
yang sudah tertohok akibat inflasi, kenaikan harga minyak, dan situasi
perekonomian yang tidak menentu.

Kenaikan bunga kredit justru bisa menjadi bumerang bagi perbankan karena
bisa mengakibatkan peningkatan NPL. (FAJ)

Kirim email ke