Wah.....saya baru tahu nih pengertian dari Kau Fan Pho dan juga Fan Nyin... (padahal selama ini komunikasi dengan bahasa Khek...walah walah)
Tapi ....jika memang akan menimbulkan reaksi negatif...ada baiknya Sang Prof..melakukan revisi sesegera mungkin, mengingat masalah SARA itu sangatlah rentan di Indonesia tercinta ini.... Jika selama ini tidak ada yang menyadarinya, kemungkinan buku tersebut jarang dibaca orang...(mudah-mudahan demikian, sehingga tidak terjadi kesimpang siuran informasi...) --- In [email protected], "Hendy Lie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > http://muhlissuhaeri.blogspot.com/2008/05/fan-nyin-bukan-setengah-manusia.html > "Fan Nyin" Bukan Setengah > Manusia<http://muhlissuhaeri.blogspot.com/2008/05/fan-nyin-bukan-setengah-manusia.html> > <http://bp1.blogger.com/_PiNBOQPn5jc/SDmJQ1H3ALI/AAAAAAAAAnE/dBplIlEdXKY/s1600-h/Lauching+buku+by+Lukas.JPG>Awal > bulan ini saya mendapat kiriman dari anak saya di Yogyakarta 1 buah buku > yang berjudul: "Orang Cina Khek dari Singkawang", karangan Prof. Dr. Hari > Poerwanto, Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah > Mada, cetakkan tahun 2005. > > Buku ini memang belum sempat saya baca secara keseluruhan, tetapi membaca > secara sepintas, diantaranya pengantar Penerbit Komunitas Bambu (Edi > Sudrajat) pada halaman VI bagian bawah terdapat beberapa kalimat yang > mengusik perhatian saya, seperti dikutip di bawah ini: > > > "Sedangkan masyarakat Singkawang kadang menyebut suku bangsa bumiputra > dengan istilah Fan Nyin, artinya setengah manusia atau barbar". Sebagai > putra daerah yang kebetulan dari suku Khek/Hakka, juga fasih, memahami betul > dialeg Khek, saya merasa istilah ini sangat menyesatkan dan tidak etis > karena dapat dikonotasikan memandang rendah terhadap martabat saudara kita > bumiputra, serta menimbulkan kesalahpahaman yang berkelanjutan sampai ke > generasi anak cucu kita. > > Di zaman reformasi ini perlu adanya semangat keterbukaan dan saling mengenal > serta memahami, maka saya merasa terpanggil dan berkewajiban berkomentar apa > adanya berdasarkan fakta dan data yang kami ketahui. Karena tulisan Bapak > Profesor Dr. Hari Poerwanto adalah buku yang "serius" (dikerjakan selama 15 > tahun ) yang tentu nantinya akan banyak dibaca dan dipakai sebagai referensi > oleh generasi muda kita, jangan hanya karena ketidaktahuan/ketidakpahaman > sesaat, akan merusak sendi-sendi persatuan kebangsaan kita di masa depan. > > Penterjemahan kata "Fan Nyin" yang diterjemahkan artinya menjadi "Setengah > Manusia" di editor buku tersebut, mengingatkan saya pada 1 dekade yang lalu, > pernah seorang penulis lokal Kalbar menterjemahkan demikian juga. Pada waktu > itu, saya tidak menanggapinya karena saya mendapat informasi bahwa penulis > ini adalah "pendatang baru" di Kalbar, yang menulis berdasarkan pengamatan > pribadinya. > > Dan sekarang kembali saya membaca lagi istilah "Fan Nyin" = setengah > manusia, dari buku ilmuwan yang Guru Bbesar Antropologi berpengalaman, > sehingga membuat saya mau tidak mau memberanikan diri menginformasikan > penterjemahan yang benar. > > Untuk lebih jelasnya asal usul kata "Fan" ini, saya mengutip dari Kamus > Mandarin > "Phiau Cun Kuok Ing Suek Sen Xi Tian" atau Kamus Standard Bahasa, Siswa > Mandarin tahun 1952, dimana tulisan kata: "FAN" diartikan: di luar batas > Negara Tiongkok, perbatasan. Sedangkan "NYIN" diartikan sebagai manusia, > komunitas orang, sehingga kata "Fan Nyin" kalau diterjemahkan akan berarti: > orang/komunitas asing, masyarakat yang berada di luar perbatasan Negara > Tengah/Tiongkok. > > Perlu diketahui zaman dahulu di Tiongkok (Negara Tengah), dinasti kekaisaran > Cina saat itu menganggap Negaranya terletak di tengah, sebagai sentral, > pusat semesta, sehingga menganngap suku bangsa yang di luar perbatasan > negara tengah sebagai suku Fan. > Masa itu Kekaisaran di daratan Tiongkok menamai suku-suku di luar Tiongkok > (Negara Tengah/China) berdasarkan letak geografis dari arah mata anginnya, > sebagai berikut : > Di sebelah Timur Tiongkok disebut "Tung Ie". Sebelah Barat Tiongkok disebut > "Si Yung". Sebelah Selatan Tiongkok disebut "Nan Man". Dan, sebelah utara > Tiongkok disebut "Pei Tik". > > Saya masih ingat ,semasa Perang Dunia II tahun 1941, kami komunitas > peranakan Tionghoa di Singkawang sendiri juga disebut "Fan Nyin" yang > artinya Orang/asing, orang di luar perbatasan Tiongkok. > > Sedangkan saya anak kecil disebut " Fan Tse" artinya, anak orang asing (Fan > = orang asing/orang diluar Tiongkok/orang di luar Negara Tengah; Tse = > anak). > > Kalau orang Tiongkok yang merantau ke Selatan/ASEAN, masih disebut dengan > "Ko Fan " (Ko= merantau/melewati; Fan = Perbatasan Tiongkok). Dan bahkan > sekarang kalau kami menikah pun masih disebut Kau Fan Pho (Kau = > memperistri; Fan Pho = gadis di luar negara Tiongkok). Sehingga biarpun > lelaki suku Khek menikah dengan gadis Tionghoa di sini, tetap di sebut Kau > Pan Pho. Artinya menikah dengan gadis yang di luar Tiongkok. > > Jadi sebutan "Fan Nyin" sama sekali tidak ada konotasi negatif apalagi > menghina. Memang arti yang sebenarnya adalah orang luar/asing, orang di luar > perbatasan, dan ini semua ada tercantum dalam kamus koleksi saya 1952 yang > saya sebutkan tersebut di atas dan tentu saja di kamus kamus modern lainnya. > > Dari pengalaman tumbuh dan bergaul bersama dengan teman-teman bumiputra saya > semasa kecil, khususnya teman dari suku pesisir, terlihat ada yang sering > melafalkan huruf F menjadi P. Jadi kemungkinan saja ada yang salah > melafalkan kata Fan Nyin menjadi Pan Nyin. Padahal dalam dialeg Tionghoa > beda intonasi saja beda arti. Apalagi salah melafalkan, ini sering saya > alami dimana nama kecil saya A Fat tapi dipanggil A PAT. Hal ini kami anggap > hanya salah pengucapan saja, tidak ada unsur kesengajaan. > > Seperti masih juga sering kita temui orang orang tua Tionghoa yang susah > membedakan untuk melafalkan huruf R dan huruf L. > > Saya bukan seorang akademis, tetapi berprinsip belajar itu tidak ada > batasnya, jadi kalau ingin memahami suatu hal/perkara, harus > belajar/bertanya kepada sumber/literatur yang dapat dipertanggungjawabkan, > paling tidak bisa kita perbandingkan dari beberapa sumber. > > Saya hanyalah seorang pemerhati sosial dan budaya yang peduli dengan > persatuan dan kerukunan anak bangsa, dan sadar tak ada gading yang tak > retak, maka harus siap membuka diri untuk dikritik untuk memperkaya wawasan > kita bersama. > > Kiranya kedepan akan ada usaha usaha dari dunia akademis kita misalnya, > Universitas Tanjungpura, Departemen Pendidikan Nasional, Balai kajian > sejarah dll, untuk melakukan penelitian dan pengkajian atas keanekaragaman > kultur budaya daerah kita yang majemuk. > > Mudah-mudahan tulisan ini ada manfaatnya, khususnya bagi yang senang dengan > wawasan mengenai adat istiadat serta budaya daerah. > > Salam Sejahtera. > > X.F. ASALI > Jl. Sisingamangaraja Pontianak > > Edisi cetak ada di Borneo Tribune 24 Mei 2008 > Foto Lukas B. Wijanarko >
