Judul yang menantang sekaligus kontradiktif. Saya sengaja memberikan
judul yang heboh begini karena bagi para perokok, Anda akan masuk dan
membaca posting ini. Bagi yang tidak merokok dan kenal saya secara
pribadi, Anda akan bertanya-tanya," Sejak kapan Budi merokok? Kok bisa
jadi perokok?" n so on.

Sebelum lanjut, perlu ditegaskan bahwa saya bukan perokok dan tidak
merokok (minimal tidak merokok secara aktif). Tetapi lingkungan kita
sudah banyak menciptakan perokok pasif. Termasuk diriku ini.
Background keluarga saya dari Ortu, Papa saya merokok tetapi 6
putranya MEMILIH untuk tidak merokok.

Mengapa saya tulis MEMILIH, sebab kami bisa merokok. At least, saat SD
pernah sembunyi-sembunyi merokok bersama my big brother. Kemudian
pernah merokok lagi waktu kelas 3 SMU dengan rekor 7 batang dalam
waktu 2 hari. Intinya kami bisa merokok tetapi MEMILIH tidak merokok.
BISA tetapi TIDAK MAU.

So, mengapa judulnya `Saya Beruntung sebagai Seorang Perokok', sebab
meskipun sudah dikeluarkan larangan merokok di tempat-tempat umum
seperti di mall, sekitar perkantoran, rumah sakit, sekolah dan
lain-lain, tetap saja Jakarta (Indonesia) adalah surga bagi perokok.

Apa buktinya Jakarta adalah surga perokok?

   1. Undang-undang yang ada tidak diperlakukan secara      ketat.
Banyak pelanggaran tanpa sanksi sama sekali. Sebagai      sesama
pengunjung di mall sekalipun kita sungkan untuk menegur para      perokok.
   2. Tersedia ruangan khusus perokok di berbagai tempat,      yang
celakanya seringkali lebih mewah daripada kawasan bebas rokok.
   3. Digelarnya berbagai acara khusus bagi para perokok      (yang
disponsori oleh para produsen rokok tentunya).
   4. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perokok pasif      justru
menderita kerugian lebih parah dibandingkan perokok aktif. Jadi     
mengapa tidak menjadi perokok aktif sekalian?

So guys, dengan begitu banyaknya kenikmatan untuk merokok, tidak salah
kan judul posting ini?

Terus, memang ada kerugian dari kita merokok?

Saya tidak akan membahas dari bidang kesehatan, tetapi mari kita lihat
dari segi finansial.

Apa saja nerakanya para perokok di bidang finansial?

   1. Bau napas akibat rokok juga membuat pergaulan      terhambat,
sehingga networking tidak berjalan lancar. Berarti banyak      potensi
bisnis yang hilang akibat bau napas ini.
   2. Uang untuk membeli rokok yang kita bakar setiap      harinya,
jika diakumulasikan dan diinvestasikan secara baik akan     
menghasilkan aset yang sangat besar. 

Asumsi 1 bungkus rokok dihabiskan dalam waktu 2 hari. Maka 2 hari = 1
bungkus, 1 bulan = 15 bungkus. Jika harga rokok sebungkus kita anggap
Rp 5.000,- maka sebulan kita menghabiskan Rp 75.000,-. Jika kita
investasikan ke dalam instrumen yang menghasilkan return 25% pertahun
selama 25 tahun, maka hasilnya adalah Rp 1.781.620.619,- (satu Milyar
lebih bo!)

WOW! Bayangkan kalau 1 hari malah 1 bungkus rokok yang Anda habiskan.
Dan saya yakin harga rokok lebih dari Rp 5.000,- perbungkusnya. Jadi
sudah berapa mobil atau rumah yang anda bakar selama ini?

Saya tidak melarang Anda merokok karena itu hak asasi manusia
(meskipun juga hak asasi bagi bukan perokok untuk mendapatkan udara
yang bersih dan bebas asap rokok). Saya hanya bisa menyentuh Anda dari
segi finansial mengenai berapa uang yang terbuang selama ini.

Terus, bagaimana solusinya?

   1. Yang terbaik tentu saja berhenti merokok, tetapi      sisihkan
uang rokok untuk diinvestasikan.
   2. Kalau tidak bisa (tidak mau) berhenti merokok, maka      jangan
mengeluh tidak bisa menabung karena penghasilan yang kecil atau     
pengeluaran yang terlalu besar.
   3. Ini yang paling menarik yaitu 'Jadilah Romantis à Rokok,     
Mangan (makan) Gratis..heheheh

Well saya hanya berharap Anda semua bisa menjadi tipe 1 di atas atau
menjadi tipe ke-4 .

Bagi bukan perokok...saatnya menyisihkan dana untuk investasi
anda....cia you!

Leonardus Budi Suryanto 0818 932638

Do Your Best and Let God Do The Rest!

 


Kirim email ke