--source : http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008070410045320
TIDAK diketahui secara pasti kapan wayang gantung masuk Indonesia. Namun, dalam buku Gavin Menzies, 1421: Saat China Menemukan Dunia, disebutkan kebesaran armada laut Cheng Ho mengenalkan budaya itu ke Eropa. Salah satunya wayang gantung. Misal saja, di Singkawang, Kalimantan Barat. Kesenian tradisional China ini dikenalkan dari China daratan pada 1929. Kali pertama dibawa A Jong yang mengais uang dari pergelaran keliling wayang gantung. Karena hingga kini belum ada penelitian Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak tentang wayang gantung Singkawang. Buku Peta Wayang di Indonesia (1993) dan Direktori Seni Pertunjukan Tradisional (1998/1999) keluaran Departemen Pariwisata, juga tidak mencantumkan budaya wayang gantung itu. Sejak ada Instruksi Presiden No. 14/1967 pada era pemerintahan Soeharto yang melarang berbagai bentuk ekspresi kesenian warga keturunan China, sejumlah kesenian ikut mati suri, termasuk wayang gantung. Akibatnya, generasi muda yang lahir tahun 70-an sampai dengan 90-an tidak mengenal dengan baik kesenian ini. Akhirnya selama 30 tahun karena rezim Orde Baru mengebiri kebudayaan Tionghoa, wayang gantung masuk kotak. Untunglah setelah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjabat presiden, larangan itu dicabut dan sejumlah kesenian keturunan China, termasuk wayang gantung, diperbolehkan tampil di ruang-ruang publik hingga semakin memasyarakat. Setelah reformasi, warga etnis China "tidak malu-malu" lagi menggelar pertunjukan ini di berbagai acara. Soal ceritanya, bergantung pada permintaan. Cerita dimodifikasi sesuai perkembangan zaman. Kalau dahulu, pertunjukan hanya memainkan lakon-lakon klasik daratan China seputar kisah dinasti-dinasti yang hidup di China secara terbatas dalam kelenteng. Beberapa lakon yang biasa dibawakan dalam wayang gantung adalah Sie Jin Kwie, Hong Kiam Cun Ciu, Cun Hun Cauw Kok, dan Poei Sie Giok. Tapi kini, cerita kisah kehidupan rumah tangga maupun percintaan berlatar lokasi yang dinilai mengena pun kerap ditampilkan. Ini mirip kesenian wayang kulit; agar menarik penonton, mengadopsi campursari. Wayang gantung pun terkadang menampilkan biduanita yang membawakan lagu-lagu Mandarin. Plus iringan musik or wu (semacam rebab), dong ko (semacam tambur), sia lo (semacam kendang), tua lo (semacam canang), alat tiup suling dan terompet, serta song chen (gitar tiga senar). Modifikasi cerita wayang gantung sesungguhnya mereduksi makna positif berbagai kisah. Sebab, kisah China klasik mengandung nilai-nilai Taoisme, falsafah Konfusism yang dikenal sebagai nilai kebijaksanaan. Mirip cerita pewayangan. Umumnya wayang gantung dimainkan dua hingga empat dalang. Meski demikian, satu pertunjukan membutuhkan 12--14 orang, termasuk pemusik dan pengatur permainan. Tiadk berbeda dengan dalang wayang kulit yang menggelar sesajen sebelum tampil, dalang wayang gantung pun merapal mantra China kuno lebih dahulu, dibarengi mengorbankan ayam jago. Jika lalai, dikhawatirkan--dan pernah terjadi--benang bisa kusut dan boneka sulit dikendalikan. Tidak jarang pula dalang kerasukan roh "leluhur". Butuh waktu 5--6 bulan untuk mahir memainkan wayang gantung. Dalang juga perlu keahlian untuk adegan berkelahi dan barongsai. Sebab, perpindahan benang bukan saja dari tangan kanan ke tangan kiri, melainkan juga persilangan tangan antara dua dan lebih dalang. AST/L-1
