Senin, 01 Desember 2008 , 07:11:00
*500 Penderita AIDS, Kota Kedua Setelah Pontianak
HIV AIDS Singkawang ; Momok yang
Menakutkan<http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=10158#>
*

 Kota Singkawang saat ini mendapat peringkat kedua, penderita HIV AIDS
terbanyak setelah Kota Pontianak. Jumlahnya lebih dari 500 penderita.
Penyebaran penyakit mematikan ini harus dicegah. Karena, jika dibiarkan,
bukan tidak mungkin wabah ini semakin mengancam kehidupan manusia, khusunya
di Kota Singkawang.
Penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Singkawang, sudah saatnya mendapat
perhatian serius oleh seluruh lapisan masyarakat dan khususnya Pemerintah
Kota Singkawang."Saya berharap ke depan kegiatan ataupun program pencegahan
dan penanggulangan HIV dan AIDS tidak saja prioritas sektor kesehatan saja.
Sehingga terlihat penanggulangan masih bersifat parsial dan tidak
komprehensif," demikian dikatakan Wakil Ketua DPRD Kota Singkawang, Drs.
Dadang Suryadi, MS, M.Si kemarin kepada Pontianak Post, menanggapi
peringatan hari AIDS sedunia tahun ini.

Upaya mengatasi epidemi AIDS di kota ini, kata dia, hanya akan berhasil bila
pemerintah mempunyai komitmen yang tinggi dan memimpin sendiri upaya
penanggulangan virus dan penyakit mematikan ini.

"Oleh karena itu, saya menyambut baik dan akan mendukung kegiatan-kegiatan
dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Singkawang, baik yang
dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) maupun oleh LSM-LSM atau
kelompok-kelompok peduli AIDS," katanya.

Ia meminta, kepada Pemerintah Daerah untuk pro aktif melibatkan
kelompok-kelompok Peduli AIDS. "Jangan sampai mereka-mereka ditinggalkan,
karena secara sadar pemerintah sendiri jangkauannya sangat terbatas,"
jelasnya.

Ridha Wahyudi, SH, Anggota DPRD Kota Singkawang menambahkan, Pemerintah
Daerah harus lebih peduli terhadap persoalan HIV dan AIDS di kota ini,
Karena, sambung dia, besaran kasus HIV di kota ini sudah berada di nomor
urut 2 setelah Kota Pontianak.

"Terutama dalam hal pendanaan. Selama ini program-program pencegahan dan
penanggulangan terhadap virus yang tidak dapat disembuhkan ini masih di
support oleh lembaga donor asing, sehingga apabila donor tersebut memutus
bantuannya di Kota Singkawang kita belum siap," katanya.

Oleh karenanya, ia sependapat jika Pemerintah Daerah harus sudah melakukan
antisipasi sekiranya lembaga donor akan memutus dukungannya di Kota
Singkawang. Selain itu, lanjut dia lagi, Pemerintah Kota Singkawang juga
dapat segera melakukan antisipasi terhadap ketersediaan obat Anti Retroviral
(ARV).

"Dimana disampaikan oleh Direktur RS. Abdul Azis beberapa waktu lalu, bahwa
persediaan obat Anti Retroviral di RS. Abdul Azis Singkawang akan bertahan
sampai tiga bulan ke depan (Maret 2009). Artinya apabila dalam waktu 3 bulan
ke depan ARV habis dan Pemerintah Daerah tidak melakukan antisipasi dan
jalan keluarnya, maka akan banyak permasalahan besar yang akan muncul,"
katanya.

Ia menyampaikan, bukan hanya ODHA yang mengkonsumsi obat ini yang akan
menderita dan mengalami defresi. Melainkan masyarakat Kota Singkawang secara
umum juga akan terancam. "Karena dikhawatirkan ODHA-ODHA (Orang dengan HIV
AIDS) akan menularkan virus-virus ini secara cuma-cuma kepada orang lain,"
tuturnya.

Selain itu, kata dia, kedepannya setiap SKPD-SKPD diharapkan dapat menyusun
rencana anggaran kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS sesuai dengan
fungsinya masing-masing. Sehingga penanggulangan HIV dan AIDS tidak saja
menjadi beban kerja Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit.

"Sekiranya dalam SKPD belum menganggarkan program tersebut paling tidak
anggaran untuk KPAD Kota Singkawang di tingkatkan," katanya.

Menurut Program Officer KPA Kota Singkawang, Asnaim, HIV dan AIDS bukan lagi
sebuah fenomena, tetapi merupakan sebuah kenyataan yang telah terjadi di
Kota Singkawang.

"HIV dan AIDS sudah mendunia, sehingga bukan saatnya lagi untuk tidak tahu
dan tidak peduli dengan HIV dan AIDS. Siap tidak siap kita harus menerima
kenyataan itu," katanya.

Ia menambahkan, masih munculnya diskriminasi dan stigmatisasi di masyarakat
terhadap HIV dan AIDS, merupakan suatu yang hal wajar. Asnaim berkata, ini
berarti masih ada masyarakat yang belum mengerti dan memahami tentang HIV
dan AIDS. "Karena mungkin sosialisasi yang dilakukan belum menyentuh arus
bawah (grass root), yang sebenarnya merupakan ancaman terbesar dalam
penularan virus HIV ini," ungkapnya.

Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan telah dilakukan, baik oleh
Pemerintah, LSM, dan kelompok-kelompok peduli AIDS. Seperti, sosialisasi dan
kampanye, promosi dan penyuluhan KIE, advokasi, penjangkauan, dan berbagai
kegiatan pencegahan lainnya.

"Namun belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ke depannya upaya-upaya
pencegahan terhadap penularan virus ini akan semakin ditingkatkan, dengan
alasan bahwa semakin banyak kasus yang ditemukan maka akan semakin banyak
orang-orang yang akan terancam tertular virus HIV," jelas Asnaim.

Sementara itu, Heri Purwanto, Petugas Outreach PMI Singkawang, berpendapat,
HIV merupakan sebuah fenomena gunung es. Dimana dikatakan apabila satu orang
ditemukan positif HIV, berarti ada 100 orang yang akan terancam tertular
virus tersebut.

"Kita tidak bisa menafikan bahwa Kota singkawang menempati peringkat yang
cukup mengkhawatirkan dalam penularan virus HIV. Namun kita juga tidak boleh
berpandangan apriori terhadap Kota Singkawang dengan peringkat tersebut,"
katanya.

Konsekuensi dalam sebuah upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS,
kata dia lagi, dimana sudah tersedia layanan VCT dan CST, ARV dan semakin
meningkatnya pegiat (kelompok) AIDS dalam melakukan penjangkauan dan
pendampingan. Hal ini, lanjutnya, tentu akan berpengaruh secara signifikan
terhadap kasus yang ditemukan.

"Penjangkauan bukan saja dilakukan pada kelompok WPS, Waria, IDU, Gay.
Tetapi juga dilakukan terhadap klien WPS, sopir, tukang becak. Selain itu
penjangkauan juga dilakukan di Lapas yang juga berpotensi terjadinya
penularan HIV di lingkungan Warga Binaan," jelasnya.Khusus di Lapas kegiatan
yang dilakukan cenderung kepada pendampingan dan sosialisasi. Karena
beberapa kasus yang ditemukan memang sudah didapat ketika mereka masih bebas
di luar. "Sehingga sosialisasi yang dilakukan lebih ditujukan kepada mereka
warga binaan yang masih belum terkena infeksi virus HIV," pungkasnya. (**)

Kirim email ke