http://borneo-tribune.net/2008/12/03/pembangunan-patung-naga-simon-takdir-naga-hewan-universal/
*Pembangunan Patung Naga, Simon Takdir: Naga Hewan Universal* Pembangunan patung naga di salah satu persimpangan jalan tengah Kota Singkawang, dan beberapa hari terakhir dipermasalahan oleh beberapa pihak dengan berpolemik di koran tidak perlu diperbesar-besarkan. Demikian diungkapakan Simon Takdir, selaku Kepala Adat Dayak Benua Garantukng Sakawokng Kecamatan Singkawang Timur dan Selatan, saat ditemui di kediamannya, Senin (1/12) kemarin. Naga, atau dalam bahasa Dayak yang di sebut Nabo merupakan nama hewan yang terdapat dalam cerita, mitos dari semua etnis dan bangsa di dunia. Kaberdaan naga di kosmos juga bermacam ragam. Kemudian naga bukanlah binatang yang sakral, namun melainkan bersifat universal. "Karena naga itu universal, maka naga itu bukan saja milik satu etnis atau bangsa tertentu," kata Simon memperjelas. Kata Simon, dalam cerita suku Dayak Nek Jahi dalam menyelesaikan misinya di pulau jawa dibantu putri naga. Secara antropologius, situasi ini merupakan simbol dimana salah satu unsur alam, yakni bintang sangat dekat dan bersahabat dengan manusia. Tidak heran bila lukisan dan ukiran binatang itu mengihiasi rumah-rumah, pakaian, aksesoris suku Dayak. "Binatang ini menjadi ornament dalam kesenian suku Dayak. Demikian juga dalam kehidupan etnis dan bangsa lain," kata Simon. Menurut Ahli Antropologi ini, sungguh suatu kekeliruan jika ada pendapat yang mengatakan ornamen naga itu milik sebuah etnis tertentu, seperti yang terjadi dalam polemik pembangunan tugu dengan aksesoris naga di Kota Singkawang. "Suku Tiong Hoa Singkawang, tidak pernah mengklaim bahwa naga adalah ciri budaya mereka. Klaim yang keliru itu hanya datang dari orang yang tidak mengerti akan keberadaan mitos naga tersebut," terang Simon. Simon menilai, pembangunan naga pada persimpangan itu hanya sebagai ornament, dengan maksud untuk memperindah kota Singkawang. Bangunan itu merupakan sebuah aksesoris untuk menambah keunikan di Kota Singkawang, sehingga memiliki daya tarik tersendiri. "Sebagai kota nasional, pembangunan tugu berornamen naga itu tidak perlu dipermasalahkan, baik dari segi lokasi maupun seni dan religi. Walaupun sekiranya ornamen naga itu hanya milik etnis tertentu saja, keberadaannya harus kita terima karena justru memperkaya budaya kita serta menujukkan kehidupan multikultural Kota Singkawang," jelas Simon seraya menganjurkan agar masyarakat Kota Singkawang berterimakasih dan mendukung donatur kelahiran Kota Singkawang, yang masih cinta dan memperhatikan kotanya. Karena ornamen naga itu tidak perlu dibesar-besarkan, Simon megajak semua pihak untuk berfikir matang dan dewasa agar pembangunan tugu denga ornamen naga itu tetap dilanjutkan dan didukung bersama. Tujuannya untuk kemajuan dan keindahan Kota Singkawang itu sendiri. Kalaupun ada permasalahan, sebaiknya dipilih penyelesaian di atas menja bersama pemerintah melalui dialog atau seminar. "Sampaikan dengan kata-kata yang santun dan beradat, bukan melaluai jalan kekerasan atau konflik yang disertai dengan kata-kata yang tidak baik," harap Simon.
