Banyak sekali budaya daerah atau negara yang sudah bersifat universal. 
Tanpa kita sadari kemeja, T shirt,Jas yg sering kita pakai sebenarnya ber 
asal dari Barat. Baju koko berasal dari Cina. Bahasa Inggris sudah menja 
di bahasa universal. Bahkan Pencak Silat pun sudah menjadi seni bela diri 
universal, terbukti sudah banyak orang bule yg belajar pencak silat. 
Yang gak boleh adalah bila tugu naga tsb dijadikan tempat ibadah ,pemu 
jaan,dll. Selama tidak ada upacara penyucian , maka tugu naga tsb yg 
sama saja seperti tugu tugu lainnya, tidak ada unsur religinya.
Mohon koreksi bila saya keliru.
Salam.
 


--- On Fri, 12/5/08, United Singkawang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: United Singkawang <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Singkawang] [BT] Simon Takdir: Naga Hewan Universal
To: "[Y] Singkawang" <[email protected]>
Date: Friday, December 5, 2008, 3:25 PM






http://borneo- tribune.net/ 2008/12/03/ pembangunan- patung-naga- simon-takdir- 
naga-hewan- universal/

Pembangunan Patung Naga, Simon Takdir: Naga Hewan Universal 


Pembangunan patung naga di salah satu persimpangan jalan tengah Kota 
Singkawang, dan beberapa hari terakhir dipermasalahan oleh beberapa pihak 
dengan berpolemik di koran tidak perlu diperbesar-besarkan . Demikian 
diungkapakan Simon Takdir, selaku Kepala Adat Dayak Benua Garantukng Sakawokng 
Kecamatan Singkawang Timur dan Selatan, saat ditemui di kediamannya, Senin 
(1/12) kemarin.
Naga, atau dalam bahasa Dayak yang di sebut Nabo merupakan nama hewan yang 
terdapat dalam cerita, mitos dari semua etnis dan bangsa di dunia. Kaberdaan 
naga di kosmos juga bermacam ragam. Kemudian naga bukanlah binatang yang 
sakral, namun melainkan bersifat universal.
"Karena naga itu universal, maka naga itu bukan saja milik satu etnis atau 
bangsa tertentu," kata Simon memperjelas.
Kata Simon, dalam cerita suku Dayak Nek Jahi dalam menyelesaikan misinya di 
pulau jawa dibantu putri naga. Secara antropologius, situasi ini merupakan 
simbol dimana salah satu unsur alam, yakni bintang sangat dekat dan bersahabat 
dengan manusia. Tidak heran bila lukisan dan ukiran binatang itu mengihiasi 
rumah-rumah, pakaian, aksesoris suku Dayak.
"Binatang ini menjadi ornament dalam kesenian suku Dayak. Demikian juga dalam 
kehidupan etnis dan bangsa lain," kata Simon.
Menurut Ahli Antropologi ini, sungguh suatu kekeliruan jika ada pendapat yang 
mengatakan ornamen naga itu milik sebuah etnis tertentu, seperti yang terjadi 
dalam polemik pembangunan tugu dengan aksesoris naga di Kota Singkawang.
"Suku Tiong Hoa Singkawang, tidak pernah mengklaim bahwa naga adalah ciri 
budaya mereka. Klaim yang keliru itu hanya datang dari orang yang tidak 
mengerti akan keberadaan mitos naga tersebut," terang Simon.
Simon menilai, pembangunan naga pada persimpangan itu hanya sebagai ornament, 
dengan maksud untuk memperindah kota Singkawang. Bangunan itu merupakan sebuah 
aksesoris untuk menambah keunikan di Kota Singkawang, sehingga memiliki daya 
tarik tersendiri.
"Sebagai kota nasional, pembangunan tugu berornamen naga itu tidak perlu 
dipermasalahkan, baik dari segi lokasi maupun seni dan religi. Walaupun 
sekiranya ornamen naga itu hanya milik etnis tertentu saja, keberadaannya harus 
kita terima karena justru memperkaya budaya kita serta menujukkan kehidupan 
multikultural Kota Singkawang," jelas Simon seraya menganjurkan agar masyarakat 
Kota Singkawang berterimakasih dan mendukung donatur kelahiran Kota Singkawang, 
yang masih cinta dan memperhatikan kotanya.
Karena ornamen naga itu tidak perlu dibesar-besarkan, Simon megajak semua pihak 
untuk berfikir matang dan dewasa agar pembangunan tugu denga ornamen naga itu 
tetap dilanjutkan dan didukung bersama. Tujuannya untuk kemajuan dan keindahan 
Kota Singkawang itu sendiri. Kalaupun ada permasalahan, sebaiknya dipilih 
penyelesaian di atas menja bersama pemerintah melalui dialog atau seminar.
"Sampaikan dengan kata-kata yang santun dan beradat, bukan melaluai jalan 
kekerasan atau konflik yang disertai dengan kata-kata yang tidak baik," harap 
Simon.

 














      

Kirim email ke