http://borneo-tribune.net/2008/12/05/berkunjung-ke-borneo-tribune-sman-1-singkawang-cari-kebenaran-berita/
Berkunjung ke Borneo Tribune, SMAN 1 Singkawang Cari Kebenaran Berita
Mujidi
Borneo Tribune, Singkawang
Selasa siang (2/12), sekitar pukul 14.00 Wib, mendadak halaman kantor Borneo
Tribune Biro Kota Singkawang dipenuhi belasan pelajar berseragam putih. Ada
perempuan dan laki-laki.
Saya yang berada di ruang tengah, awalnya tidak ambil pusing. Terlebih saya
tidak menggunakan baju lantaran cuaca pada hari itu cukup panas. Pelajar itu
kemudian diterima staf pemasaran Borneo Tribune, Aldi Khairudin.
Saya berpikiran pelajar itu bersal dari SMAN 10. Yang pada hari sebelumnya,
Senin (1/12) membagikan bunga untuk memperingati hari HIV/AIDS sedunia.
Pemberintaanya diterbikan pada edisi Selasa (2/12).
“Bang ada anak-anak SMAN 1. Katanya mau klarifikasi berita,” kata Aldi yang
mengahmpiri saya yang baru keluar kamar. Saya tersadar, ternyata pelajar
berseragam putih itu para siswa dan siswi SAMN 1 Kota Singkawang.
Saya kembali bertanaya kepada Aldi, Berita apa? Pertanyaan itu wajar, karena
pada edesi Selasa ataupun pada hari-hari sebelumnya saya tidak pernah membuat
tulisan berkaitan dengan SMAN 1 Kota Singkawang.
“Berita apa yang mau mereka klarifikasi,” ujar saya memperjelas.
Aldi kemudian menyerah kora Harian Borneo Tribune edisi Senin, 1 Desember
2008. Aldi membuka halaman pendidikan. Salah satu halaman unggulan yang
dimiliki koran yang baru berusia lebih dari satu tahun ini. Aldi menunjukkan
salah satu judul berita yang ditulis dengan font yang cukup besar. Judulnya,
Tahun 2009 Seluruh Sekolah di Kalbar Terakreditasi. Berita itu ditulis Tantra
Nur Andi. Wartawan pendidikan Borneo Tribune.
“Katanya mereka minta penjelasan dari isi berita ini, yang ada menyangkut SMAN
1,” ujar Aldi.
Di tengah tengah pembicaraan saya dengan Aldi, Halaman Kantor Borneo Tribune
makin dipenuh pelajar. Satu diantara merekapun tidak ada yang mau masuk
keruangan sebelum dipersilahkan. Mereka begitu sopan.
“Masuklah,” saya berseru. Dua orang diantara mereka, bergegas. Semuanya
masukpun ndak apa. Di luar panas. Ruang kita cukup kok. Kata saya sebari
mempersilah dua pelajar yang masuk untuk duduk di sopa berwarna coklat muda,
seirama dengan warna diding kantor yang saya tempati.
Nidia, salah satu pelajar yang masuk buka pembicaraan. Ia menyodorkan korang
yang sama. Ia juga menujukkan beberapa kalimat yang sudah digaris bawah dengan
bolpoint. Kalimat yang dinatandai kurang lebih berbunyi setelah proses
penilaian akreditasi selesai ternyata ada sekolah yang selama ini yang dianggap
masyarakat bagus dan berkualitas, namun hasil penilaian akreditasi sekolah
tersebut kurang baik. Contonya, selama ini masyarakat Singkawang beranggapan
bahwa SMAN 1 Singkawang adalah sekolah berkualitas namun, hasil penilaian
akreditasi, nilai SMAN 1 Singkawang masih dibawah SMAN 3 Singkawang”. Nidia
membacanya dengan runtut. Walau baru duduk di kelas II A di SMAN 1, Nidia
begitu berani menyampaikan unek-uneknya dengan tenang.
“Kami mau tahu, dari maa sumber dan datanya bila SMAN 1 Singkawang itu berada
di bawah SMAN 3 Singkawang. Menurut kami, dari segala prestasi, SMAN 1
Singkawang lebih berprestasi dibandingkan dengan SMAN 3,” kata Nidia.
Nidia menambahkan, pemberitaan tersebut sebaiknya harus dilengkpi dengan data.
Sehingga para siswa atau pihak sekolah yang diberitakan dapat menerima. Namun
sayang, dalam berita itu tidak ada data yang mengatakan SMAN 1 Singkawang
berada di bawah SMAN 3.
Saya berkesempatan menanggapi. Saya katakan, berita itu tulisan wartawan
Borneo Tribun di Kota Pontianak, namanya Tantara Nur Andi. Ia ada di Pontianak,
dan dia wart awan Pendidikan Borneo Tribune.
“Bukan saya tidak mau menanggapi, tapi bagusnya kita tanyakan ke wartawannya
langsung,” saya menjelaskan.
Saya membuka nomor kontak di Handpon. Lama mencari, nomor Tantra tidak saya
dapati. Saya hubungi kantor redaksi Borneo Tribune di Pontianak. Tidak lama,
nomor Tantara saya dapatkan dari Lina, Sekretaris Redakasi.
Tantra saya hubungi. Nyambung. Kedatangan para siswa ke Borneo Tribune, maksud
dan tujuannya saya samapaikan. Saya persilahkan Tantara untuk berbicara
langsung dengan siswa, yang sekali lagi diwakilkan Nidia.
Kurang lebih lima menit pembicara berlangsung. Keduanya terlibat pembicaraan.
Nidia menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Dan sepertinya, Tantra juga
menjelaskan apa yang diingikan para siswa itu.
Giliran saya yang berbicara degan Tantra. Tantra mengatakan sumber dari
beitanya itu adalah Aswandi. Ia sebagai Kepala Badan Akreditasi Provinsi
Kalimantan Barat. Terkait dengan data, tantara mengatakan data itu ada Cuma
belum saatnya untuk dipublikasikan. Kemudian saya usulkan ke Tantara untuk
menghubungi kepala sekolah SMAN 1 Kota Singkawang. Nomor handpon kepala sekolah
SMAN 1 Kota Singkawang, Helmi MK, saya dapatkan dari siswa. Melalui pesan
singkat, nomor Helmi itu saya berikan pada Tantra.
Setelah berbicara dengan Tantra, para siswa ini mohon undur diri. Kurang lebih
setengah jam mereka berada di Kantor Borneo Tribune biso Singkawang. Saya
terasa sangat puas dan bangga dengan kedatangan dan sikap mereka. Untuk para
siswa itu saya ucapkan terimakasih.
Sekitar setengah jam berselang, rombongan SMAN 1 Kembali mendatangi Kantor
Biro Borneo Tribune Singkawang. Mereka sepertinya bukan rombongan pertama.
Mereka yang datag semua pelajar. Mereka kemudian menyemut ke halaman Kantor.
Permisi bang, ini kantor Borneo Tribune ya?, kata salah satu diantara pelajar
itu. Tadi ada yang ke sini ya bang. Saya mengiyakan dan berkata, oooo ini
rombongan lain ya. Saya mempersilahkan masuk.
Rombongan kedua ini dipimpin Ketua Osis, Dennis Ferdoansyah. Sama dengan
rombongan pertama, rombogan ini juga mempertanyakan pemberitaan terkait dengan
akreditasi yang membawa SAMN 1 dan SAMN 3 Singkawang. Saya menjelaskan hal yang
sama seperti yang saya jelaskan pada rombongan pertama. Namur dibalik kepuasan
itu, para siswa ini kembali menunggu pemberitaan selanjutnya.
Pertemuan saya dengan rombogan kedua begitu nikmat. Terasa menyenangkan. Kami
berbicara nyantai dengan duduk di lantai. Terlebih pembicaraan itu menggunakan
dialeg sambas. Saya tidak kaku, dan saya cukup mahir dengan dialeg itu.
Kemudian para siswa itu kembali meminta pamit. Namun sebelum meninggalkan
kantor Borneo Tribue, pelajar itu mengajukan permintaan untuk diberitakan.
“Bang foto kami bang, masukkan dalam berita, tapi beritanya yang bagus,” ujar
salah satu pelajar. Saya menyanggupi. Kemera saya ambil. Saya berjanji
beritanya akan saya buat. Setidaknya soal kedatangan mereka ke Borneo Tribune
Biro Singkawang untuk mencari kebenaran berita.
---------------------------------
Lebih bergaul dan terhubung dengan lebih baik.
Tambah lebih banyak teman ke Yahoo! Messenger sekarang!