*272 Tatung MTI dan Tri Dharma Didepak * SINGKAWANG-Sebanyak 191 tatung yang tergabung dalam umat Majelis Tao Indonesia (MTI) bakal "didepak" oleh panitia, walaupun sudah terdaftar. Begitu juga dengan 80-an umat yang tergabung dalam Tri Dharma. Mereka tidak akan memperoleh bantuan dari panitia yang sumber dananya dari donatur Jakarta dan APBD Kota Singkawang. MTI dan Tri Dharma mengakui siap menampung tatung tersebut dan akan memberikan buku paramitha guna memperlancar ritual dan ini menjadi konsekwensi tak memperoleh bantuan dari panitia.
"Kita akan bagikan buku paramitha," kata Chai Ket Kiong, kepada Pontianak Post, kemarin. Namun, Akiong geram dengan tingkah panitia yang dianggapnya tak bertanggungjawab. Menurut Akiong, bila tatung yang merupakan umat MTI mendaftar kemudian tak diberi santunan oleh panitia yang sudah dijanjikan, tentu akan diberikan buku paramitha. "Tatung sudah terbiasa mencari sendiri untuk kegiatan ritual cap go meh ini," kata Akiong. Kata Akiong, bila 191 tatung tidak diberi santunan yang merupakan umat Majelis Tao, maka Akiong minta juga pembagian dana yang dianggarkan dalam APBD tahun 2009. "Kalau begitu, panitia jangan mengambilnya sendiri. Kita akan permasalahan bila anggaran itu hanya dinikmati oleh panitia. Itukan uang rakyat yang harus dibagi rata dengan Majelis Tao, Tri Dharma dan panitia. Jangan mentang-mentang di-SK-kan oleh wali kota, sehingga seratus persen menikmati uang rakyat itu," kata Akiong berang. Sementara itu, Ketua Tri Dharma, Bong Wui Khong menyayangkan sikap panitia bila tidak memberikan santunan kepada tatung yang merupakan umatnya. Namun, bila itu menjadi konsekwensinya, maka Tri Dharma akan mengeluarkan buku paramitha seperti tahun-tahun sebelumnya. "Katanya panitia akan menyantuni tatung karena memperoleh dana dari donatur dari Jakarta dan APBD. Justru itu, kita suruh para tatung untuk mendaftar. Tiba-tiba kasarnya kita diusir, karena kita mendirikan altar. Bagi kita tak masalah, kita akan keluarkan buku paramitha. Biar masyarakat pun tahu itu sikap dari panitia. Panitia hanya mementingkan uang saja dan kesuksesan pariwisata, tanpa memandang bagaimana ritual keagamaan itu berjalan dengan baik," kata Bong Wui Khong, kepada Pontianak Post, kemarin terpisah. Kata Bong Wui Khong, pihaknya sudah memastikan mendirikan altar sendiri di tempat biasa yakni di Jalan Budi Utomo. "Waktu rapat di polres. Pihak kepolisian siap mengamankan ketika kita membuat altar. Hal itu sesuai dengan bunyi SK wali kota. Pembangunan altar disesuaikan dengan kebutuhan dan hanya berkoordinasi dengan pihak keamanan. Keamanan tak masalah. Kok, panitia yang terus mempersoalkan hingga harus memilah umat," kata Bong Wui Khong tak habis pikir. Menurut Bong Wui Khong, harus diperhatikan kondisi lapangan soal ritual keagamaan ini. "Kalau ada tiga altar, tentu tidak terjadi antrian yang cukup panjang. Ritual tatung saja membutuhkan waktu. Belum lagi kurang lebih 20 ribu umat yang harus sembahyang. Belum lagi orang-orang Jakarta yang perlu pengamanan, belum lagi wisatawan dan penonton lainnya. Tentu sangat berdesak-desakan dan tidak konsentrasinya tatung melaksanakan sembahyang. Kalau ada tiga altar, lebih memudahkan," katanya. Kata Bong Wui Khong, panitia yang memaksakan kehendak soal ritual keagamaan. "Kan, panitia hanya memandang persoalan pariwisata menjadi event nasional. Jangan dikedepankan nilai budayanya tapi ritualnya harus dikedepankan. Dengan nilai agama menjadi nilai budaya. Justru itu, sekda jadi ketua panitia hanya untuk menyukseskan pelaksanaan event nasional. Kita pasti ikut mendukung cap go meh ini sukses. Kita pasti ikut panitia, seperti karnaval, dan sebagainya. Panitia kan hanya serimonial saja dan hendaknya jangan mencampuri urusan keagamaan. Soal agama sudah dijamin didalam UUD," kata mantan anggota dewan yang di PAW ini. Kata Bong Wui Khong, sejak puluhan tahun dia sudah membina umat dan suara mereka tentu harus didengar. "Kalau mereka orang Jakarta, setelah cap go meh pulang. Jangan mau ngatur sendiri. Jangan dirusak tatanan yang sudah ada. Kita di Singkawang tentu melakukan pembinaan secara terus menerus," katanya. (zrf)
