Gilles Deleuze pernah berkata,
bahwa jika kita berpikir tanpa beraksi, maka sebenarnya kita tidak berpikir
sama sekali. Lalu disambung lagi, bahwa jika kita beraksi tanpa berpikir, maka
sebenarnya kita juga tidak beraksi sama sekali. Seorang tukang kayu Yunani
bernama Vitruvius pernah mengatakan (jika diterjemahkan sesuai topik yang
sedang dibicarakan) kurang lebih yaitu bahwa perhatian pada pengertian dan
pemaparan dalam artian membangun text adalah merupakan bagian esensial dari
sebuah aksi dan memiliki tujuan untuk menaikkan status dari aksi 
tersebut.Seperti dipaparkan oleh Hanno Kruft, pada abad ke 17,
seiring dengan perkembangan absolutisme di Perancis, maka mulailah berdiri
perkumpulan-perkumpulan pendidikan yang bisa disebut sekolah. Ide atau tujuan
awal sekolah pada waktu itu adalah untuk mendokumentasikan segala ide, gagasan,
pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan masa lalu. Itupun awalnya
melalui proses perdebatan panjang antara pihak-pihak moderat dengan pihak-pihak
konservatif yang tidak menyetujui dokumentasi seperti itu karena dianggap
seperti sedang mencatat rahasia dan misteri ilahi /dewa-dewi yang dianggap maha
suci waktu itu dan hanya boleh diketahui oleh segelintir orang sakti. Dan
akhirnya, proses dokumentasi yang dilakukan sampai saat ini hasilnya boleh
dibilang adalah berbagai macam pengetahuan dan pemikiran (baca: buku-buku) yang
kini bisa didapatkan dengan sangat mudah, dan semua pengetahuan dan pemikiran
itu tidak bisa dipungkiri adalah cikal bakal dari apa yang dikatakan sebagai
act / aksi nyata. Pada kenyataannya, seperti kata Kruft, ternyata dokumentasi
itu sendiri adalah kunci untuk berkembang.Dari sini, saya ingin mengambil 
beberapa kata-kata
“sakral” yang sering dihadapi ketika sedang berdiskusi. Yaitu BERPIKIR, IDE,
AKSI, PERDEBATAN, DOKUMENTASI, INFORMASI, TEXT, dan BUKU.Seperti kata Deleuze, 
bahwa setiap AKSI selalu disertai
dengan BERPIKIR, begitu juga sebaliknya. Apa yang sering terjadi diantara IDE /
PIKIRAN dan AKSI ? Adalah PERDEBATAN. PERDEBATAN ini sering terjadi karena
bentrokan-bentrokan antara IDE dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses
sintesis dari IDE menjadi AKSI.  
Misalnya peraturan, hukum, teorema, probabilitas, dan lain sebagainya.
Contohnya seperti perdebatan antara pihak moderat dan konservatif di Perancis
itu, di mana yang menjadi faktor pengaruh adalah persepsi atau anggapan bahwa
IDE yang akan dilakukan atau akan menjadi AKSI tersebut telah melanggar suatu
aturan yang maha suci. Lalu apa yang menjadi hasil dari PERDEBATAN itu ? Selain
terwujudnya aksi, maka yang ikut menjadi penting seperti kata Vitruvius adalah
TEXT yang terbangun dari PERDEBATAN itu, yang biasa disebut sebagai
DOKUMENTASI. Apa hasil dari DOKUMENTASI itu ? hasilnya adalah BUKU-BUKU dan
INFORMASI yang kini bisa kita dapat dengan mudah setiap hari. Sadarkah kita,
bahwa segala macam akal, pengetahuan, dan informasi yang telah membawa kita
melakukan aksi nyata sampai hari ini, semuanya berawal dari IDE, PIKIRAN, DAN
PERDEBATAN 4 abad yang lalu, yang sekarang kita anggap seperti barang omong
kosong ?Semuanya menurut saya tidak akan bisa dipisahkan. Antara
ide/pemikiran dan aksi nyata. Antara ngomong dan berbuat. Semuanya harus
berjalan seiring. Yang menjadi penting adalah, kita perlu tahu dan membedakan,
di mana tempat untuk berpikir dan di mana tempat untuk beraksi ? Milis ini,
apakah menjadi tempat untuk berpikir, atau menjadi tempat untuk beraksi ?
mungkinkah kita makan di toilet dan buang air di meja makan ? Kalau ada orang
yang sedang berada di lapangan untuk melakukan aksi nyata tapi malah terus saja
ngomong-ngomong kosong seperti saya sekarang di sini, maka tak perlu orang
lain, saya orang pertama yang akan mengutuknya.Kecuali kalau memang ternyata 
ada paradigma baru tentang
fungsi sebuah milis, saya tidak tahu. Kalau perdebatan yang telah terjadi 
selama ini dianggap hanya seperti debat
kosong tanpa hasil, saya juga jadi bingung tentang apa fungsi sebenarnya dari
milis ini. Tadinya persepsi saya tentang fungsi milis / forum diskusi adalah
wadah untuk saling berpikir dan menyalurkan pemikiran, bukan wadah untuk 
beraksi.
Seharusnya kalau memang mau beraksi, maka jangan lemparkan isu ke tempat yang
memang dipakai buat mikir dan ngomong seperti ini, bukankah begitu ? Terkecuali
jika kita memang ingin mempublikasikan dan ingin orang lain tahu bahwa kita ini
sedang beraksi. Kalau memang begitu, buat apa mengajak orang lain berpikir dan
menjadikan forum ini tempat buat menyalurkan kontribusi dan ide ? Langsung saja
laporkan apa saja aksi yang sudah dilakukan dan ajak orang melakukan dan
membantu aksi yang sama. Kok repot-repot. Ngomongin ikan dan pancing segala.
Rasanya seperti sedang dipermainkan saja. Awalnya seperti ngajak berpikir, tapi
tiba-tiba brak, malah ditusuk dengan kata-kata “cuma bisa debat kosong tanpa
hasil”.Saya di sini, di milis Singkawang ini, hanya ingin menyampaikan sedikit 
yang saya
tahu, yang mungkin bermanfaat buat kampung saya Singkawang. Sementara ini hanya 
begini yang bisa saya lakukan. Dan saya tahu diri, wajar jika para penulis buku 
dan peraih penghargaan menganggap pemikiran bodoh saya ini bukanlah
apa-apa. Jika seiring diskusi ada beberapa selingan “warung kopi” yang terkesan
main-main, mohon dimaklumi. Jika ada lain kali, saya akan lebih serius.
Baiklah kalau begitu, mulai sekarang cukup beraksi saja lah.
Tapi saya rasa aksi saya nanti tak perlu dielu-elukan kepada orang lain.
Lagipula seperti kata Konfusius, saya tidak takut kalau tidak dikenal oleh
orang lain, saya hanya takut kalau saya tidak mengenal mereka. Salah-salah
malah terkesan narsis. Tak perlulah sampai memohon maaf dan selamat-selamatan
segala, karena tak ada yang salah atau benar dan juara-juaraan di sini kan.
Kalau merasa tak perlu diomongkan dan tak bisa diomongin, ya jangan ngomong
duluan. Itu saja.Steven Holl pernah bilang begini, sebuah aksi nyata atau
manifesto boleh saja telah mati atau berakhir, tapi ide atau gagasan dan
argumen atau perdebatan, akan terus bertahan.Sekali lagi saya ulangi visi dan 
proposisi saya kemarin. Menurut saya, faktor pengaruh yang paling utama dari 
rendahnya kualitas SDM dan tingkat pendidikan di kampung kita Singkawang adalah 
karena rendahnya kemampuan ekonomi dari masyarakatnya untuk dapat memperoleh 
pendidikan yang lebih terjangkau. Jadi bagaimana mendekatkan fasilitas 
pendidikan agar lebih terjangkau oleh masyarakat ? Saya pikir, jalan keluarnya 
adalah dengan mulai mengembangkan potensi lokal / lokalitas budaya dan menjadi 
masyarakat yang kreatif, karena menurut Mochtar Lubis, itulah tumpuan masa 
depan negeri kita.
Heh, terkadang rasanya miris. Sudah ngomong sepanjang sungai di
Jalan Pemangkat ini, mungkin saja tak pernah dibaca oleh orang lain. Jadi
kenapa harus terus ngomong ? Heheheheh. Ya sudahlah.
Best Regards.

 To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Sat, 11 Apr 2009 10:20:54 +0000
Subject: Re: [Singkawang] mohon maaf  dar iMelly kiong




















    
            
            


      
      
     Bu Melly,

Saya kagum kepada prestasi Anda, jadi selamat ya.. Seperti postinganku 
sebelumnya, kepedulian Anda memang positif.

Soal perdebatan, itulah gaya anak muda atau obrolan gaya warkop Singkawang, 
terkesan bernada tinggi. Sebenarnya itu hanya verbal saja, saya yakin masih 
berhati dingin, ha-ha-ha.. 
Benar 'kan, Bung Ardy ? Anda memang berbakat dan intelek.

Saya kira tidak perlu minta maaf, Bu Melly, namun Anda cukup rendah hati. Saran 
Anda memang baik: mari hentikan perdebatan dan kedepankan aksi nyata.

Terima kasih atas nasehatnya, juga kepada Pak Himawan.

Hendra Bong.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

From:  melly kiong 
Date: Sat, 11 Apr 2009 03:06:28 -0700 (PDT)
To: <[email protected]>
Subject: [Singkawang] mohon maaf  dar iMelly kiong

                           
Dear teman teman , Sebelumnya saya mohon maaf karena artikel  yang saya posting 
ternyata membawa pandangan  dengan emosi yang berbeda beda. Saya cantumkan 
sumber data supaya saya  tidak salah, namun data tersebut yang dipakai oleh 
suatu badan Internasional untuk menggugah  masyarakat  Indonesia untuk peduli 
Singkawang.  Saya sebagai salah satu warga Singkawang yang sudah hampir 24 
tahun di Jakarta, merasa terpanggil, dan saya yakin saya tidak bisa sendirian 
dan tidak akan mampu, namun saya  telah belajar melakukan sesuatu  yang  
ternyata  dapat apresiasi  yang cukupbaik di masyarakat  luas khususnya dunia 
pendidikan. Tanpa sengaja saya berhasil menuliskan sebuah buku  yang mendapat 
penghargaan MURI ( Musium Rekor Indonesia ) dengan kategori  sebagai buku 
pedoman pendidikan anak untuk Ibu ibu Publik maupun domestik.Buat  saya pribadi 
bukan keberhasilan   yang saya banggakan,  namun setidaknya  ada sebuah 
prestasi  dari anak kampung seperti saya  yang bisa dicatat. Dan saat  ini  
saya sudah melakukan suatu  program  pengentasan kemiskinan  yang  menurut  
saya mungkin bisa diadopsi oleh kota Singkawang jika kita kita mau peduli. 
Bagaimana   memulainya ? Saya berharap teman teman  bisa lebih positif  
terhadap setiap informasi dan jujur saja saya sangat berharap  Permasis  
sebagai organsasi  yang cukup bisa berperan mau  memfasilitasi  suatu pertemuan 
 untuk  bersama sama kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk Singkawang. 
Untuk mengetahui  siapa saya  silahkan cari di google : melly kiong atau 
silahkan berkunjung ke www.andaluarbiasa.com atau  rumah-moral.blogspot.com. 
Percayalah, kebersamaan kita akan jauh lebih cepat dan lakukan sesuatu yang 
kecil daripada berdebat  suatu yang besar tapi tidak  ada  hasil.  salam Peduli 
Anak Bangsa  melly kiong      
        
                                   

 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
_________________________________________________________________
See all the ways you can stay connected to friends and family
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

Kirim email ke