Tuan Kho,

Saya tidak tersinggung sama sekali. Saya hanya bingung, kenapa setiap 
perdebatan dan diskusi selalu dikaitkan dengan emosi dan ketersinggungan ? 
Terus terang saya  sangat santai sekali ketika menulis semua itu. Di ruang 
berAC yang dingin, bahkan setengah mengantuk. Mungkin gaya bicara memang sudah 
seperti itu. Tidak tahu orang lain bagaimana. Lagipula di sini saya hanya 
spontan-responsif saja. Kalau dari awal merasa tidak bisa ngomong, ya tak perlu 
banyak ngomong, daripada sudah ngomong nanti direspon malah mencak-mencak 
sendiri dan bilang orang emosi lah, omong kosong lah. Terserah sih.

Sudahlah saya jadi malas ngomong sekarang. Kalau masih mau ngajak ngomong ya 
via japri saja.


Best Regards.
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Sun, 12 Apr 2009 00:59:48 +0000
Subject: [Singkawang] Re: mohon maaf  dar iMelly kiong




















    
            
            


      
      Kepada Pak Ardy seorang,



Tersinggung nih ye. ( kompor.com ) 



Mohon penjelasannya tentang lokalitas budaya dlm mening 

katkan pendidikan. Thanks. 



NB, kenapa gak bisa reply lewat yahoo email ya (kolongkolong?)



- In [email protected], ardy prasetya <ardy_a...@...> wrote:

>

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> Gilles Deleuze pernah berkata,

> bahwa jika kita berpikir tanpa beraksi, maka sebenarnya kita tidak berpikir

> sama sekali. Lalu disambung lagi, bahwa jika kita beraksi tanpa berpikir, maka

> sebenarnya kita juga tidak beraksi sama sekali. Seorang tukang kayu Yunani

> bernama Vitruvius pernah mengatakan (jika diterjemahkan sesuai topik yang

> sedang dibicarakan) kurang lebih yaitu bahwa perhatian pada pengertian dan

> pemaparan dalam artian membangun text adalah merupakan bagian esensial dari

> sebuah aksi dan memiliki tujuan untuk menaikkan status dari aksi 
> tersebut.Seperti dipaparkan oleh Hanno Kruft, pada abad ke 17,

> seiring dengan perkembangan absolutisme di Perancis, maka mulailah berdiri

> perkumpulan-perkumpulan pendidikan yang bisa disebut sekolah. Ide atau tujuan

> awal sekolah pada waktu itu adalah untuk mendokumentasikan segala ide, 
> gagasan,

> pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan masa lalu. Itupun awalnya

> melalui proses perdebatan panjang antara pihak-pihak moderat dengan 
> pihak-pihak

> konservatif yang tidak menyetujui dokumentasi seperti itu karena dianggap

> seperti sedang mencatat rahasia dan misteri ilahi /dewa-dewi yang dianggap 
> maha

> suci waktu itu dan hanya boleh diketahui oleh segelintir orang sakti. Dan

> akhirnya, proses dokumentasi yang dilakukan sampai saat ini hasilnya boleh

> dibilang adalah berbagai macam pengetahuan dan pemikiran (baca: buku-buku) 
> yang

> kini bisa didapatkan dengan sangat mudah, dan semua pengetahuan dan pemikiran

> itu tidak bisa dipungkiri adalah cikal bakal dari apa yang dikatakan sebagai

> act / aksi nyata. Pada kenyataannya, seperti kata Kruft, ternyata dokumentasi

> itu sendiri adalah kunci untuk berkembang.Dari sini, saya ingin mengambil 
> beberapa kata-kata

> "sakral" yang sering dihadapi ketika sedang berdiskusi. Yaitu BERPIKIR, IDE,

> AKSI, PERDEBATAN, DOKUMENTASI, INFORMASI, TEXT, dan BUKU.Seperti kata 
> Deleuze, bahwa setiap AKSI selalu disertai

> dengan BERPIKIR, begitu juga sebaliknya. Apa yang sering terjadi diantara IDE 
> /

> PIKIRAN dan AKSI ? Adalah PERDEBATAN. PERDEBATAN ini sering terjadi karena

> bentrokan-bentrokan antara IDE dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses

> sintesis dari IDE menjadi AKSI.  

> Misalnya peraturan, hukum, teorema, probabilitas, dan lain sebagainya.

> Contohnya seperti perdebatan antara pihak moderat dan konservatif di Perancis

> itu, di mana yang menjadi faktor pengaruh adalah persepsi atau anggapan bahwa

> IDE yang akan dilakukan atau akan menjadi AKSI tersebut telah melanggar suatu

> aturan yang maha suci. Lalu apa yang menjadi hasil dari PERDEBATAN itu ? 
> Selain

> terwujudnya aksi, maka yang ikut menjadi penting seperti kata Vitruvius adalah

> TEXT yang terbangun dari PERDEBATAN itu, yang biasa disebut sebagai

> DOKUMENTASI. Apa hasil dari DOKUMENTASI itu ? hasilnya adalah BUKU-BUKU dan

> INFORMASI yang kini bisa kita dapat dengan mudah setiap hari. Sadarkah kita,

> bahwa segala macam akal, pengetahuan, dan informasi yang telah membawa kita

> melakukan aksi nyata sampai hari ini, semuanya berawal dari IDE, PIKIRAN, DAN

> PERDEBATAN 4 abad yang lalu, yang sekarang kita anggap seperti barang omong

> kosong ?Semuanya menurut saya tidak akan bisa dipisahkan. Antara

> ide/pemikiran dan aksi nyata. Antara ngomong dan berbuat. Semuanya harus

> berjalan seiring. Yang menjadi penting adalah, kita perlu tahu dan membedakan,

> di mana tempat untuk berpikir dan di mana tempat untuk beraksi ? Milis ini,

> apakah menjadi tempat untuk berpikir, atau menjadi tempat untuk beraksi ?

> mungkinkah kita makan di toilet dan buang air di meja makan ? Kalau ada orang

> yang sedang berada di lapangan untuk melakukan aksi nyata tapi malah terus 
> saja

> ngomong-ngomong kosong seperti saya sekarang di sini, maka tak perlu orang

> lain, saya orang pertama yang akan mengutuknya.Kecuali kalau memang ternyata 
> ada paradigma baru tentang

> fungsi sebuah milis, saya tidak tahu. Kalau perdebatan yang telah terjadi 
> selama ini dianggap hanya seperti debat

> kosong tanpa hasil, saya juga jadi bingung tentang apa fungsi sebenarnya dari

> milis ini. Tadinya persepsi saya tentang fungsi milis / forum diskusi adalah

> wadah untuk saling berpikir dan menyalurkan pemikiran, bukan wadah untuk 
> beraksi.

> Seharusnya kalau memang mau beraksi, maka jangan lemparkan isu ke tempat yang

> memang dipakai buat mikir dan ngomong seperti ini, bukankah begitu ? 
> Terkecuali

> jika kita memang ingin mempublikasikan dan ingin orang lain tahu bahwa kita 
> ini

> sedang beraksi. Kalau memang begitu, buat apa mengajak orang lain berpikir dan

> menjadikan forum ini tempat buat menyalurkan kontribusi dan ide ? Langsung 
> saja

> laporkan apa saja aksi yang sudah dilakukan dan ajak orang melakukan dan

> membantu aksi yang sama. Kok repot-repot. Ngomongin ikan dan pancing segala.

> Rasanya seperti sedang dipermainkan saja. Awalnya seperti ngajak berpikir, 
> tapi

> tiba-tiba brak, malah ditusuk dengan kata-kata "cuma bisa debat kosong tanpa

> hasil".Saya di sini, di milis Singkawang ini, hanya ingin menyampaikan 
> sedikit yang saya

> tahu, yang mungkin bermanfaat buat kampung saya Singkawang. Sementara ini 
> hanya begini yang bisa saya lakukan. Dan saya tahu diri, wajar jika para 
> penulis buku dan peraih penghargaan menganggap pemikiran bodoh saya ini 
> bukanlah

> apa-apa. Jika seiring diskusi ada beberapa selingan "warung kopi" yang 
> terkesan

> main-main, mohon dimaklumi. Jika ada lain kali, saya akan lebih serius.

> Baiklah kalau begitu, mulai sekarang cukup beraksi saja lah.

> Tapi saya rasa aksi saya nanti tak perlu dielu-elukan kepada orang lain.

> Lagipula seperti kata Konfusius, saya tidak takut kalau tidak dikenal oleh

> orang lain, saya hanya takut kalau saya tidak mengenal mereka. Salah-salah

> malah terkesan narsis. Tak perlulah sampai memohon maaf dan selamat-selamatan

> segala, karena tak ada yang salah atau benar dan juara-juaraan di sini kan.

> Kalau merasa tak perlu diomongkan dan tak bisa diomongin, ya jangan ngomong

> duluan. Itu saja.Steven Holl pernah bilang begini, sebuah aksi nyata atau

> manifesto boleh saja telah mati atau berakhir, tapi ide atau gagasan dan

> argumen atau perdebatan, akan terus bertahan.Sekali lagi saya ulangi visi dan 
> proposisi saya kemarin. Menurut saya, faktor pengaruh yang paling utama dari 
> rendahnya kualitas SDM dan tingkat pendidikan di kampung kita Singkawang 
> adalah karena rendahnya kemampuan ekonomi dari masyarakatnya untuk dapat 
> memperoleh pendidikan yang lebih terjangkau. Jadi bagaimana mendekatkan 
> fasilitas pendidikan agar lebih terjangkau oleh masyarakat ? Saya pikir, 
> jalan keluarnya adalah dengan mulai mengembangkan potensi lokal / lokalitas 
> budaya dan menjadi masyarakat yang kreatif, karena menurut Mochtar Lubis, 
> itulah tumpuan masa depan negeri kita.

> Heh, terkadang rasanya miris. Sudah ngomong sepanjang sungai di

> Jalan Pemangkat ini, mungkin saja tak pernah dibaca oleh orang lain. Jadi

> kenapa harus terus ngomong ? Heheheheh. Ya sudahlah.

> Best Regards.

> 

>  To: [email protected]

> From: hendra.b...@...

> Date: Sat, 11 Apr 2009 10:20:54 +0000

> Subject: Re: [Singkawang] mohon maaf  dar iMelly kiong

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

>     

>             

>             

> 

> 

>       

>       

>      Bu Melly,

> 

> Saya kagum kepada prestasi Anda, jadi selamat ya.. Seperti postinganku 
> sebelumnya, kepedulian Anda memang positif.

> 

> Soal perdebatan, itulah gaya anak muda atau obrolan gaya warkop Singkawang, 
> terkesan bernada tinggi. Sebenarnya itu hanya verbal saja, saya yakin masih 
> berhati dingin, ha-ha-ha.. 

> Benar 'kan, Bung Ardy ? Anda memang berbakat dan intelek.

> 

> Saya kira tidak perlu minta maaf, Bu Melly, namun Anda cukup rendah hati. 
> Saran Anda memang baik: mari hentikan perdebatan dan kedepankan aksi nyata.

> 

> Terima kasih atas nasehatnya, juga kepada Pak Himawan.

> 

> Hendra Bong.

> Sent from my BlackBerry®

> powered by Sinyal Kuat INDOSAT

> 

> From:  melly kiong 

> Date: Sat, 11 Apr 2009 03:06:28 -0700 (PDT)

> To: <[email protected]>

> Subject: [Singkawang] mohon maaf  dar iMelly kiong

> 

>                            

> Dear teman teman , Sebelumnya saya mohon maaf karena artikel  yang saya 
> posting ternyata membawa pandangan  dengan emosi yang berbeda beda. Saya 
> cantumkan sumber data supaya saya  tidak salah, namun data tersebut yang 
> dipakai oleh suatu badan Internasional untuk menggugah  masyarakat  Indonesia 
> untuk peduli Singkawang.  Saya sebagai salah satu warga Singkawang yang sudah 
> hampir 24 tahun di Jakarta, merasa terpanggil, dan saya yakin saya tidak bisa 
> sendirian dan tidak akan mampu, namun saya  telah belajar melakukan sesuatu  
> yang  ternyata  dapat apresiasi  yang cukupbaik di masyarakat  luas khususnya 
> dunia pendidikan. Tanpa sengaja saya berhasil menuliskan sebuah buku  yang 
> mendapat penghargaan MURI ( Musium Rekor Indonesia ) dengan kategori  sebagai 
> buku pedoman pendidikan anak untuk Ibu ibu Publik maupun domestik.Buat  saya 
> pribadi bukan keberhasilan   yang saya banggakan,  namun setidaknya  ada 
> sebuah prestasi  dari anak kampung seperti saya  yang bisa dicatat. Dan saat  
> ini  saya sudah melakukan suatu  program  pengentasan kemiskinan  yang  
> menurut  saya mungkin bisa diadopsi oleh kota Singkawang jika kita kita mau 
> peduli. Bagaimana   memulainya ? Saya berharap teman teman  bisa lebih 
> positif  terhadap setiap informasi dan jujur saja saya sangat berharap  
> Permasis  sebagai organsasi  yang cukup bisa berperan mau  memfasilitasi  
> suatu pertemuan  untuk  bersama sama kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan 
> untuk Singkawang. Untuk mengetahui  siapa saya  silahkan cari di google : 
> melly kiong atau silahkan berkunjung ke www.andaluarbiasa.com atau  
> rumah-moral.blogspot.com. Percayalah, kebersamaan kita akan jauh lebih cepat 
> dan lakukan sesuatu yang kecil daripada berdebat  suatu yang besar tapi tidak 
>  ada  hasil.  salam Peduli Anak Bangsa  melly kiong      

>         

>                                          

> 

>  

> 

>       

> 

>     

>     

>       

>       

>       

>       

> 

> 

>       

> 

> 

>       

>       

> __________________________________________________________

> See all the ways you can stay connected to friends and family

> http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

>





 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
_________________________________________________________________
See all the ways you can stay connected to friends and family
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

Kirim email ke