Kepada Pak Ardy seorang,

Tersinggung nih ye. ( kompor.com ) 

Mohon penjelasannya tentang lokalitas budaya dlm mening 
katkan pendidikan. Thanks. 

NB, kenapa gak bisa reply lewat yahoo email ya (kolongkolong?)



- In [email protected], ardy prasetya <ardy_a...@...> wrote:
>
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Gilles Deleuze pernah berkata,
> bahwa jika kita berpikir tanpa beraksi, maka sebenarnya kita tidak berpikir
> sama sekali. Lalu disambung lagi, bahwa jika kita beraksi tanpa berpikir, maka
> sebenarnya kita juga tidak beraksi sama sekali. Seorang tukang kayu Yunani
> bernama Vitruvius pernah mengatakan (jika diterjemahkan sesuai topik yang
> sedang dibicarakan) kurang lebih yaitu bahwa perhatian pada pengertian dan
> pemaparan dalam artian membangun text adalah merupakan bagian esensial dari
> sebuah aksi dan memiliki tujuan untuk menaikkan status dari aksi 
> tersebut.Seperti dipaparkan oleh Hanno Kruft, pada abad ke 17,
> seiring dengan perkembangan absolutisme di Perancis, maka mulailah berdiri
> perkumpulan-perkumpulan pendidikan yang bisa disebut sekolah. Ide atau tujuan
> awal sekolah pada waktu itu adalah untuk mendokumentasikan segala ide, 
> gagasan,
> pengetahuan dan informasi yang berhubungan dengan masa lalu. Itupun awalnya
> melalui proses perdebatan panjang antara pihak-pihak moderat dengan 
> pihak-pihak
> konservatif yang tidak menyetujui dokumentasi seperti itu karena dianggap
> seperti sedang mencatat rahasia dan misteri ilahi /dewa-dewi yang dianggap 
> maha
> suci waktu itu dan hanya boleh diketahui oleh segelintir orang sakti. Dan
> akhirnya, proses dokumentasi yang dilakukan sampai saat ini hasilnya boleh
> dibilang adalah berbagai macam pengetahuan dan pemikiran (baca: buku-buku) 
> yang
> kini bisa didapatkan dengan sangat mudah, dan semua pengetahuan dan pemikiran
> itu tidak bisa dipungkiri adalah cikal bakal dari apa yang dikatakan sebagai
> act / aksi nyata. Pada kenyataannya, seperti kata Kruft, ternyata dokumentasi
> itu sendiri adalah kunci untuk berkembang.Dari sini, saya ingin mengambil 
> beberapa kata-kata
> "sakral" yang sering dihadapi ketika sedang berdiskusi. Yaitu BERPIKIR, IDE,
> AKSI, PERDEBATAN, DOKUMENTASI, INFORMASI, TEXT, dan BUKU.Seperti kata 
> Deleuze, bahwa setiap AKSI selalu disertai
> dengan BERPIKIR, begitu juga sebaliknya. Apa yang sering terjadi diantara IDE 
> /
> PIKIRAN dan AKSI ? Adalah PERDEBATAN. PERDEBATAN ini sering terjadi karena
> bentrokan-bentrokan antara IDE dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses
> sintesis dari IDE menjadi AKSI.  
> Misalnya peraturan, hukum, teorema, probabilitas, dan lain sebagainya.
> Contohnya seperti perdebatan antara pihak moderat dan konservatif di Perancis
> itu, di mana yang menjadi faktor pengaruh adalah persepsi atau anggapan bahwa
> IDE yang akan dilakukan atau akan menjadi AKSI tersebut telah melanggar suatu
> aturan yang maha suci. Lalu apa yang menjadi hasil dari PERDEBATAN itu ? 
> Selain
> terwujudnya aksi, maka yang ikut menjadi penting seperti kata Vitruvius adalah
> TEXT yang terbangun dari PERDEBATAN itu, yang biasa disebut sebagai
> DOKUMENTASI. Apa hasil dari DOKUMENTASI itu ? hasilnya adalah BUKU-BUKU dan
> INFORMASI yang kini bisa kita dapat dengan mudah setiap hari. Sadarkah kita,
> bahwa segala macam akal, pengetahuan, dan informasi yang telah membawa kita
> melakukan aksi nyata sampai hari ini, semuanya berawal dari IDE, PIKIRAN, DAN
> PERDEBATAN 4 abad yang lalu, yang sekarang kita anggap seperti barang omong
> kosong ?Semuanya menurut saya tidak akan bisa dipisahkan. Antara
> ide/pemikiran dan aksi nyata. Antara ngomong dan berbuat. Semuanya harus
> berjalan seiring. Yang menjadi penting adalah, kita perlu tahu dan membedakan,
> di mana tempat untuk berpikir dan di mana tempat untuk beraksi ? Milis ini,
> apakah menjadi tempat untuk berpikir, atau menjadi tempat untuk beraksi ?
> mungkinkah kita makan di toilet dan buang air di meja makan ? Kalau ada orang
> yang sedang berada di lapangan untuk melakukan aksi nyata tapi malah terus 
> saja
> ngomong-ngomong kosong seperti saya sekarang di sini, maka tak perlu orang
> lain, saya orang pertama yang akan mengutuknya.Kecuali kalau memang ternyata 
> ada paradigma baru tentang
> fungsi sebuah milis, saya tidak tahu. Kalau perdebatan yang telah terjadi 
> selama ini dianggap hanya seperti debat
> kosong tanpa hasil, saya juga jadi bingung tentang apa fungsi sebenarnya dari
> milis ini. Tadinya persepsi saya tentang fungsi milis / forum diskusi adalah
> wadah untuk saling berpikir dan menyalurkan pemikiran, bukan wadah untuk 
> beraksi.
> Seharusnya kalau memang mau beraksi, maka jangan lemparkan isu ke tempat yang
> memang dipakai buat mikir dan ngomong seperti ini, bukankah begitu ? 
> Terkecuali
> jika kita memang ingin mempublikasikan dan ingin orang lain tahu bahwa kita 
> ini
> sedang beraksi. Kalau memang begitu, buat apa mengajak orang lain berpikir dan
> menjadikan forum ini tempat buat menyalurkan kontribusi dan ide ? Langsung 
> saja
> laporkan apa saja aksi yang sudah dilakukan dan ajak orang melakukan dan
> membantu aksi yang sama. Kok repot-repot. Ngomongin ikan dan pancing segala.
> Rasanya seperti sedang dipermainkan saja. Awalnya seperti ngajak berpikir, 
> tapi
> tiba-tiba brak, malah ditusuk dengan kata-kata "cuma bisa debat kosong tanpa
> hasil".Saya di sini, di milis Singkawang ini, hanya ingin menyampaikan 
> sedikit yang saya
> tahu, yang mungkin bermanfaat buat kampung saya Singkawang. Sementara ini 
> hanya begini yang bisa saya lakukan. Dan saya tahu diri, wajar jika para 
> penulis buku dan peraih penghargaan menganggap pemikiran bodoh saya ini 
> bukanlah
> apa-apa. Jika seiring diskusi ada beberapa selingan "warung kopi" yang 
> terkesan
> main-main, mohon dimaklumi. Jika ada lain kali, saya akan lebih serius.
> Baiklah kalau begitu, mulai sekarang cukup beraksi saja lah.
> Tapi saya rasa aksi saya nanti tak perlu dielu-elukan kepada orang lain.
> Lagipula seperti kata Konfusius, saya tidak takut kalau tidak dikenal oleh
> orang lain, saya hanya takut kalau saya tidak mengenal mereka. Salah-salah
> malah terkesan narsis. Tak perlulah sampai memohon maaf dan selamat-selamatan
> segala, karena tak ada yang salah atau benar dan juara-juaraan di sini kan.
> Kalau merasa tak perlu diomongkan dan tak bisa diomongin, ya jangan ngomong
> duluan. Itu saja.Steven Holl pernah bilang begini, sebuah aksi nyata atau
> manifesto boleh saja telah mati atau berakhir, tapi ide atau gagasan dan
> argumen atau perdebatan, akan terus bertahan.Sekali lagi saya ulangi visi dan 
> proposisi saya kemarin. Menurut saya, faktor pengaruh yang paling utama dari 
> rendahnya kualitas SDM dan tingkat pendidikan di kampung kita Singkawang 
> adalah karena rendahnya kemampuan ekonomi dari masyarakatnya untuk dapat 
> memperoleh pendidikan yang lebih terjangkau. Jadi bagaimana mendekatkan 
> fasilitas pendidikan agar lebih terjangkau oleh masyarakat ? Saya pikir, 
> jalan keluarnya adalah dengan mulai mengembangkan potensi lokal / lokalitas 
> budaya dan menjadi masyarakat yang kreatif, karena menurut Mochtar Lubis, 
> itulah tumpuan masa depan negeri kita.
> Heh, terkadang rasanya miris. Sudah ngomong sepanjang sungai di
> Jalan Pemangkat ini, mungkin saja tak pernah dibaca oleh orang lain. Jadi
> kenapa harus terus ngomong ? Heheheheh. Ya sudahlah.
> Best Regards.
> 
>  To: [email protected]
> From: hendra.b...@...
> Date: Sat, 11 Apr 2009 10:20:54 +0000
> Subject: Re: [Singkawang] mohon maaf  dar iMelly kiong
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>             
>             
> 
> 
>       
>       
>      Bu Melly,
> 
> Saya kagum kepada prestasi Anda, jadi selamat ya.. Seperti postinganku 
> sebelumnya, kepedulian Anda memang positif.
> 
> Soal perdebatan, itulah gaya anak muda atau obrolan gaya warkop Singkawang, 
> terkesan bernada tinggi. Sebenarnya itu hanya verbal saja, saya yakin masih 
> berhati dingin, ha-ha-ha.. 
> Benar 'kan, Bung Ardy ? Anda memang berbakat dan intelek.
> 
> Saya kira tidak perlu minta maaf, Bu Melly, namun Anda cukup rendah hati. 
> Saran Anda memang baik: mari hentikan perdebatan dan kedepankan aksi nyata.
> 
> Terima kasih atas nasehatnya, juga kepada Pak Himawan.
> 
> Hendra Bong.
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 
> From:  melly kiong 
> Date: Sat, 11 Apr 2009 03:06:28 -0700 (PDT)
> To: <[email protected]>
> Subject: [Singkawang] mohon maaf  dar iMelly kiong
> 
>                            
> Dear teman teman , Sebelumnya saya mohon maaf karena artikel  yang saya 
> posting ternyata membawa pandangan  dengan emosi yang berbeda beda. Saya 
> cantumkan sumber data supaya saya  tidak salah, namun data tersebut yang 
> dipakai oleh suatu badan Internasional untuk menggugah  masyarakat  Indonesia 
> untuk peduli Singkawang.  Saya sebagai salah satu warga Singkawang yang sudah 
> hampir 24 tahun di Jakarta, merasa terpanggil, dan saya yakin saya tidak bisa 
> sendirian dan tidak akan mampu, namun saya  telah belajar melakukan sesuatu  
> yang  ternyata  dapat apresiasi  yang cukupbaik di masyarakat  luas khususnya 
> dunia pendidikan. Tanpa sengaja saya berhasil menuliskan sebuah buku  yang 
> mendapat penghargaan MURI ( Musium Rekor Indonesia ) dengan kategori  sebagai 
> buku pedoman pendidikan anak untuk Ibu ibu Publik maupun domestik.Buat  saya 
> pribadi bukan keberhasilan   yang saya banggakan,  namun setidaknya  ada 
> sebuah prestasi  dari anak kampung seperti saya  yang bisa dicatat. Dan saat  
> ini  saya sudah melakukan suatu  program  pengentasan kemiskinan  yang  
> menurut  saya mungkin bisa diadopsi oleh kota Singkawang jika kita kita mau 
> peduli. Bagaimana   memulainya ? Saya berharap teman teman  bisa lebih 
> positif  terhadap setiap informasi dan jujur saja saya sangat berharap  
> Permasis  sebagai organsasi  yang cukup bisa berperan mau  memfasilitasi  
> suatu pertemuan  untuk  bersama sama kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan 
> untuk Singkawang. Untuk mengetahui  siapa saya  silahkan cari di google : 
> melly kiong atau silahkan berkunjung ke www.andaluarbiasa.com atau  
> rumah-moral.blogspot.com. Percayalah, kebersamaan kita akan jauh lebih cepat 
> dan lakukan sesuatu yang kecil daripada berdebat  suatu yang besar tapi tidak 
>  ada  hasil.  salam Peduli Anak Bangsa  melly kiong      
>         
>                                          
> 
>  
> 
>       
> 
>     
>     
>       
>       
>       
>       
> 
> 
>       
> 
> 
>       
>       
> _________________________________________________________________
> See all the ways you can stay connected to friends and family
> http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx
>


Kirim email ke