jadi inget DOBONSOLO bang

--- komar udin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Kopi Asin dan Pahitnya Isi Ampela
> 
> 
> Sebuah siang delapan tahun silam. Mentari panas.
> Angin
> kering. Udara meresahkan. Suasana makin resah
> setelah
> beberapa kali kucoba membuat rak buku, beberapa kali
> pula gagal. Rak itu bukannya berdiri dengan tegap.
> Malah, doyong dan, pasti, ambruk bila diisi buku.
> Huh,
> berulang kali kucoba, berulangkali pula tidak jadi.
> Menyesal mulai menyelimuti. Seandainya saja Aku dulu
> belajar hal-hal yang teknis seperti ini, mungkin
> keadaannya akan jauh berbeda dengan saat ini.
> Sebagai
> aktivis, aku cenderung meremehkan pekerjaan itu. Aku
> lebih suka melahap waktu berjam-jam di depan buku. 
> 
> Persoalan muncul setelah menikah. Aku dipaksa
> keadaan
> untuk membuka sebuah toko buku. Jadilah kemudian,
> aku
> mulai mengecat dan membuat rak buku. Begitulah
> jadinya. Cat hasil polesanku warnanya tak karuan.
> Dan,
> rak buku? Tak kunjung jadi!
> 
> Peluh mulai membasahi. Dengan punggung tanganku
> kuusap. Kutarik nafas sebentar  memandangi tumpukan
> kayu. Tiba-tiba, �Assalamu�alaium.� Seorang
gadis
> manis datang: kamu, istriku.
> 
> Kedatanganmu mengusir semua resah. Maklumlah,
> pengantin baru. Kira-kira baru sebulan kita menikah.
> Seperti biasa, kamu datang membawakan makan siang
> untukku.
> 
> �Walaikum salam.� Aku menyambutmu dengan uluran
> tangan. Kau sambut dengan mencium punggung tanganku.
> Ah, kamu. Aku tersenyum sumringah. Begitu juga kamu.
> Pernikahan kita yang tanpa diawali pacaran membuat
> beda.                                               
>  
>                                                     
>  
>                                                     
>  
>                                                     
>  
>                                                     
>  
>                                                     
>  
>                                                    
> Masih serasa seperti pacaran. Pun, hingga delapan
> tahun berselang. 
> 
> �Gimana Bang? Beres?� 
> �Yah, beginilah. Aktivis yang biasa ngisi
training,
> bingung ketika disuruh bikin rak.� Aku membereskan
> kayu-kayu yang berserakan. Mempersilahkanmu
> menggelar
> rantang berisi makan siang. Indahnya momentum itu.
> Dan, sayangnya tak pernah terulang. Apalagi, setelah
> kapal rumahtangga kita berlabuh berjalin tahun.
> Kesibukanku akhirnya membunuh terciptanya
> momen-moemn
> indah saat kita bersama. 
> 
> Dari kresek hitam, rantang putih dikeluarkan.
> Bersamaan dengan itu, dua buah plastik putih berisi
> lauk. Yang pertama, warnanya hijau dan, bisa
> ditebak,
> sayur bayam. Yang kedua agak gelap. Nampak seperti
> rendang daging agak kecoklatan. 
> 
> Kamu mengeluarkan tutup baskom yang kemudian
> digunakan
> sebagai piring. Dengan sendok, kamu keluarkan
> segumpal
> dua nasi ke tutup baskom. Sesuatu yang kukira daging
> tadi kamu keluarkan, dan langsung menempatkannya di
> atas nasi putih. Ternyata bukan daging. Terakhir,
> wadah itu disiram sayur bayam. 
> 
> �wuih, nampaknya enak. Apaan nih?� Aku menerima
> hidangan makan siangku bersamaan dengan dorongan air
> liur dan perut yang memang tak berpenghuni sejak
> pagi.
> Keroncongan.
> 
> Ternyata bukan daging. �Itu ampela bang,� katamu
> singkat sembari merapikan nasi yang masih tersisa di
> baskom.
> 
> Aku perhatikan sebentar. Agak aneh. Ampela itu masih
> bulat. Persis seperti segumpal batu berwarna
> kecoklatan. Tapi, rasa laparku menepis keraguan itu.
> Berdoa sebentar. Tanganku langsung menyambar nasi.
> Dilanjutkan dengan menggigit sedikit �ampela�
itu.
> Anehnya, bekas gigitan itu nampak seperti bumbu.
> Agak
> kehitaman. Lalu, rasanya koq aneh. Agak pahit. Tidak
> seperti daging ayam pada umumnya.
> 
> �Ini apaan �Nda?� Aku menghentikan kunyahan
dan
> memandang �ampela� yang sudah tergores.  Kamu
pun
> memandang serupa. 
> 
> �Iya yah, apaan tuh.� Kamu malah balik bertanya
> lagi.
> Kamu terlihat sedikit grogi.
> 
> Aku jadi nggak tega. Ah, sudahlah, untuk tidak
> menyakiti perasaanmu aku melanjutkan makan siangku.
> 
> �Bumbu kali.� Katamu memberikanku semangat untuk
> melanjutkan santap siangku. Walau, rasanya aneh.
> 
> Terlihat sekali kamu bingung. Tak mengerti. Aneh
> juga
> yah, kamu yang masak. Tapi, kamu juga tak mengerti.
> Aku pun mulai ragu. Kunyahanku melambat. 
> 
> Kamu segera mencubit bagian dalam �ampela� itu.
Dan,
> mencicipinya. Kamu langsung berlari keluar dan
> muntah.
> 
> Aku berlari mengejarmu. Memegang lehermu. �Kenapa
> Nda?� 
> 
> Dengan mata berair, kamu memandangku dan berkata,�
> Itu
> bukan bumbu bang�.!
>   
> 
> Astagfirulllah, Aku terkejut bukan kepalang. Ups,
> aku
> baru sadar bahwa di dalam ampela ayam itu bukan
> bumbu
> tapi��kotorannya. Tapi, satu suapan sudah
melewati
> kerongkongan. Aku langsung berlari meraih gelas dan
> berkumur-kumur. 
> 
> Aku lihat, kamu memandangku dengan perasaan bersalah
> sembari menutup mulut. �Maaf� terdengar kamu
> berdesis.
> Kita bertatapan. Ada embung bening terlukis di
> matamu.
> 
> 
> Aku bukannya marah. Malah, tertawa
> terpingkal-pingkal.
> MasyaAllah, seumur hidup baru kali ini aku mengalami
> makan kotoran ayam.
> 
> �Memangnya kamu nggak bongkar dulu?�
> �Aku nggak tahu.�
> 
> �Dasar anak kuliahan. Bisanya masak air dan mie
> rebus.� Aku memegang kepalamu.
> 
> Kenangan manis yang selalu menyibak tawa saat
> kukenang. 
> 
> 
> Sayang, aku pun teringat forward seorang teman.
> Begini
> ceritanya : 
> 
> 
> Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis
> yang menakjubkan.
> Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia
> sendiri hanya seorang
> laki-laki biasa. Tak ada yang begitu
> menghiraukannya.
> Saat pesta telah
> usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi
> bersamanya. Walaupun
> terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis
> tidak
> mau
> mengecewakannya.
> 
> Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang
> nyaman.
> Si laki-laki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu,
> sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. 
> 
> "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang
> gadis dalam hatinya. Tiba-tiba si laki-laki berkata
> pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya
> ingin
> membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang
> dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi
> merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam
> dalam kopi serta meminum kopinya. 
> 
> Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke