As'um ... boleh ikut cerita ngak ??? pagi pagi udah dapet "sarapan " cerita bagus nii..
walau aku bukan angkatan '93 juga belum jadi seorang istri ( ngak promosi loh !! ) aku mau cerita dikit ni.. sebelumnya... Bang Komar.. salam kangen buat K Linda.. salam dari Lulu-NK angkatan '97.. semoga K Linda masih ingat.. terus terang.. cerita ini aku pernah denger langsung dari K Linda ( sssttt jgn di aduin yach ! )... waktu itu aku sempet senyum senyum.. dan ketawa sendiri dalam hati.. " wah hebat yaa yang namanya cinta ".. hehhee..cuma jujur.. gara gara cerita ini.. eku juga takut kalo suatu saat disuruh masak ampela ( terus terang sebelumnya belum pernah loh !! ).. aku inget2 dalam hati.. wah cerita K Linda sm Bang Komar jangan sampe kejadian sama aku.. Cerita punya cerita.. beberapa tahun kemudian pergilah aku kenegri sebrang.. tinggal sama tanteku.. dan tibalah suatu saat aku ngebantuin masak ampela.. langsung teringat akan cerita K Linda.. aku dengan ragu ragu membersihkan ampela.. jangan sampai ada yang terlewat dalam hatiku .. huhuuhu tapi malang.. karena rasa takut itulah.. kejadian K Linda dan Bang Komar menimpaku juga... ternyata ngak mudah membersihkan ampela.. walau sangat hati hati.. tetap saja ada yang tertinggal dan terlewat.... huhuhu... ujung2nya nya.. yang ditakuti terjadi.. tanteku merasakan apa yang Bang Komar rasakan.. hehehhehe.. Alhasil...inilah kesalahanku yang mengangap enteng memasak.. kirain simple.. ternyata ribettt juga... bener banget Bang Komar.. banyak kita yang GAPMAS... bahkan sampe sekarang.. aku masih berprinsip.. ntar aja kalo mau married baru belajar masaknya.. mending sekarang belajar yang laen dulu.. hehehhe.. MMMmmmm.. segitu dulu sharingnya.. menanggapi cerita Bang Komar tadi.. Btw.. mengenai buku Sekuntum cinta untuk istriku... ini dari pengalaman pribadikah ?? kalo yang belum married.. sah sah ajakan baca bukunya ???...hehehe ntar dicari di Gramed deh.. ( diskon ngak kalo nyebut nama Bang Komar ? - hehehee) Hv a nice weekend.. Brgds/ Lulu Olivia - '97 ----- Original Message ----- From: "komar udin" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Cc: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, June 23, 2006 12:44 AM Subject: [sma1bks] Kelakuan angkatan 93! > Kopi Asin dan Pahitnya Isi Ampela > > > Sebuah siang delapan tahun silam. Mentari panas. Angin > kering. Udara meresahkan. Suasana makin resah setelah > beberapa kali kucoba membuat rak buku, beberapa kali > pula gagal. Rak itu bukannya berdiri dengan tegap. > Malah, doyong dan, pasti, ambruk bila diisi buku. Huh, > berulang kali kucoba, berulangkali pula tidak jadi. > Menyesal mulai menyelimuti. Seandainya saja Aku dulu > belajar hal-hal yang teknis seperti ini, mungkin > keadaannya akan jauh berbeda dengan saat ini. Sebagai > aktivis, aku cenderung meremehkan pekerjaan itu. Aku > lebih suka melahap waktu berjam-jam di depan buku. > > Persoalan muncul setelah menikah. Aku dipaksa keadaan > untuk membuka sebuah toko buku. Jadilah kemudian, aku > mulai mengecat dan membuat rak buku. Begitulah > jadinya. Cat hasil polesanku warnanya tak karuan. Dan, > rak buku? Tak kunjung jadi! > > Peluh mulai membasahi. Dengan punggung tanganku > kuusap. Kutarik nafas sebentar memandangi tumpukan > kayu. Tiba-tiba, "Assalamu'alaium." Seorang gadis > manis datang: kamu, istriku. > > Kedatanganmu mengusir semua resah. Maklumlah, > pengantin baru. Kira-kira baru sebulan kita menikah. > Seperti biasa, kamu datang membawakan makan siang > untukku. > > "Walaikum salam." Aku menyambutmu dengan uluran > tangan. Kau sambut dengan mencium punggung tanganku. > Ah, kamu. Aku tersenyum sumringah. Begitu juga kamu. > Pernikahan kita yang tanpa diawali pacaran membuat > beda. > > > > > > > Masih serasa seperti pacaran. Pun, hingga delapan > tahun berselang. > > "Gimana Bang? Beres?" > "Yah, beginilah. Aktivis yang biasa ngisi training, > bingung ketika disuruh bikin rak." Aku membereskan > kayu-kayu yang berserakan. Mempersilahkanmu menggelar > rantang berisi makan siang. Indahnya momentum itu. > Dan, sayangnya tak pernah terulang. Apalagi, setelah > kapal rumahtangga kita berlabuh berjalin tahun. > Kesibukanku akhirnya membunuh terciptanya momen-moemn > indah saat kita bersama. > > Dari kresek hitam, rantang putih dikeluarkan. > Bersamaan dengan itu, dua buah plastik putih berisi > lauk. Yang pertama, warnanya hijau dan, bisa ditebak, > sayur bayam. Yang kedua agak gelap. Nampak seperti > rendang daging agak kecoklatan. > > Kamu mengeluarkan tutup baskom yang kemudian digunakan > sebagai piring. Dengan sendok, kamu keluarkan segumpal > dua nasi ke tutup baskom. Sesuatu yang kukira daging > tadi kamu keluarkan, dan langsung menempatkannya di > atas nasi putih. Ternyata bukan daging. Terakhir, > wadah itu disiram sayur bayam. > > "wuih, nampaknya enak. Apaan nih?" Aku menerima > hidangan makan siangku bersamaan dengan dorongan air > liur dan perut yang memang tak berpenghuni sejak pagi. > Keroncongan. > > Ternyata bukan daging. "Itu ampela bang," katamu > singkat sembari merapikan nasi yang masih tersisa di > baskom. > > Aku perhatikan sebentar. Agak aneh. Ampela itu masih > bulat. Persis seperti segumpal batu berwarna > kecoklatan. Tapi, rasa laparku menepis keraguan itu. > Berdoa sebentar. Tanganku langsung menyambar nasi. > Dilanjutkan dengan menggigit sedikit 'ampela' itu. > Anehnya, bekas gigitan itu nampak seperti bumbu. Agak > kehitaman. Lalu, rasanya koq aneh. Agak pahit. Tidak > seperti daging ayam pada umumnya. > > "Ini apaan 'Nda?" Aku menghentikan kunyahan dan > memandang 'ampela' yang sudah tergores. Kamu pun > memandang serupa. > > "Iya yah, apaan tuh." Kamu malah balik bertanya lagi. > Kamu terlihat sedikit grogi. > > Aku jadi nggak tega. Ah, sudahlah, untuk tidak > menyakiti perasaanmu aku melanjutkan makan siangku. > > "Bumbu kali." Katamu memberikanku semangat untuk > melanjutkan santap siangku. Walau, rasanya aneh. > > Terlihat sekali kamu bingung. Tak mengerti. Aneh juga > yah, kamu yang masak. Tapi, kamu juga tak mengerti. > Aku pun mulai ragu. Kunyahanku melambat. > > Kamu segera mencubit bagian dalam 'ampela' itu. Dan, > mencicipinya. Kamu langsung berlari keluar dan muntah. > > Aku berlari mengejarmu. Memegang lehermu. "Kenapa > Nda?" > > Dengan mata berair, kamu memandangku dan berkata," Itu > bukan bumbu bang..! > > > Astagfirulllah, Aku terkejut bukan kepalang. Ups, aku > baru sadar bahwa di dalam ampela ayam itu bukan bumbu > tapi..kotorannya. Tapi, satu suapan sudah melewati > kerongkongan. Aku langsung berlari meraih gelas dan > berkumur-kumur. > > Aku lihat, kamu memandangku dengan perasaan bersalah > sembari menutup mulut. "Maaf" terdengar kamu berdesis. > Kita bertatapan. Ada embung bening terlukis di matamu. > > > Aku bukannya marah. Malah, tertawa terpingkal-pingkal. > MasyaAllah, seumur hidup baru kali ini aku mengalami > makan kotoran ayam. > > "Memangnya kamu nggak bongkar dulu?" > "Aku nggak tahu." > > "Dasar anak kuliahan. Bisanya masak air dan mie > rebus." Aku memegang kepalamu. > > Kenangan manis yang selalu menyibak tawa saat > kukenang. > > > Sayang, aku pun teringat forward seorang teman. Begini > ceritanya : > > > Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis > yang menakjubkan. > Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia > sendiri hanya seorang > laki-laki biasa. Tak ada yang begitu menghiraukannya. > Saat pesta telah > usai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi > bersamanya. Walaupun > terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak > mau > mengecewakannya. > > Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang nyaman. > Si laki-laki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, > sedangkan sang gadis merasa sangat tidak nyaman. > > "Ayolah, cepat. Aku ingin segera pulang", kata sang > gadis dalam hatinya. Tiba-tiba si laki-laki berkata > pada pelayan, "Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin > membubuhkan dalam kopi saya." Semua orang memandang > dan melihat aneh padanya. Mukanya kontan menjadi > merah, tapi ia tetap mengambil dan membubuhkan garam > dalam kopi serta meminum kopinya. > > Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu > kepadanya, > > "Kebiasaanmu kok sangat aneh?". > > "Saat aku masih kecil, aku tinggal di dekat laut. Aku > sangat suka > bermain-main di laut, di mana aku bisa merasakan > laut... asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi > ini",jawab si laki-laki. "Sekarang, tiap kali aku > minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, > tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung > halamanku, rindu kedua orangtuaku yang masih tinggal > di sana", lanjutnya dengan mata berlinang. Sang gadis > begitu terenyuh. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. > Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang > mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia > pasti seorang yang mencintai dan begitu peduli akan > rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa > tanggung jawab akan tempat tinggalnya. Kemudian sang > gadis memulai pembicaraan, mulai bercerita tentang > tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, > keluarganya... > > Pembicaraan yang sangat menarik bagi mereka berdua. > Dan itu juga merupakan awal yang indah dari kisah > cinta mereka. Mereka terus menjalin hubungan. Sang > gadis menyadari bahwa ia adalah laki-laki idaman > baginya. Ia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh > perhatian...pokoknya ia adalah pria baik yang hampir > saja diabaikan begitu saja. Untung saja ada kopi asin > ! > > Cerita berlanjut seperti tiap kisah cinta yang indah: > sang putri menikah dengan sang pangeran, dan mereka > hidup bahagia... Dan, tiap ia membuatkan suaminya > secangkir kopi, ia membubuhkan sedikit garam > didalamnya, karena ia tahu itulah kesukaan suaminya. > > Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal > dunia. Ia meninggalkan > sepucuk surat bagi istrinya:"Sayangku, maafkanlah aku. > Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang > hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku > padamu---tentang kopi asin. Kamu ingat kan saat kita > pertama kali berkencan? Aku sangat gugup waktu itu. > Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku > malah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin > membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan > saja semuanya. Aku tak pernah mengira kalau hal itu > malah menjadi awal pembicaraan kita. Aku telah mencoba > untuk mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Aku telah > mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku > begitu takut untuk melakukannya, karena aku telah > berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu... > Sekarang aku sedang sekarat. Tidak ada lagi yang dapat > aku khawatirkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: > Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku > mengenalmu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin > sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas > semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah > menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah > kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya > kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku > tetap akan berusaha mengenalmu dan menjadikanmu > istriku walaupun aku harus minum kopi asin lagi." > > Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu. Suatu > hari seseorang > menanyainya, "Bagaimana rasa kopi asin?", ia menjawab, > "Rasanya begitu > manis." > > Yah, antara kopi asin dan pahitnya isi ampela. > Keduanya terasa beda ketika cinta sudah melekat. I > love you just the way you are. Aku mencintaimu apa > adanya. Walaupun aku tahu bahwa kamu memang > benar-benar 'anak sekolahan' yang terbilang cuek untuk > urusan dapur. Persis dengan tahunya kamu bahwa aku > memang tak bisa mengerjakan hal-hal teknis kecil > seperti membuat rak buku atau mengecat. > > Dan, setelah peristiwa itu kamu pun berusaha > memperbaiki. Paling tidak mengoleksi resep makanan > dari sejumlah majalah. Sayangnya, kamu kerap lupa > meletakan resep-resep itu sehingga bila aku ingin > makanan yang sama, kamu harus bongkar arsip resepmu. > Kamu masih ingatkan ketika kamu bingung harus membuat > masakan serupa sementara 'buku resep' kamu hilang > entah di mana. > > Cinta memang harus menerima apa adanya orang yang kita > cintai.[] > > > > (dikutip dari buku SEKUNTUM CINTA UNTUK ISTRIKU > (GIP)kalo mau cerita lain yang lebih seru silahkan ke > gramedia) > > NB. > Pelajaran buat semuanya untuk belajar masak. Jangan > bisanya masak mie, masak air dan telor ciplok. Buat > Angkatan 93, sorry. Judul Cuma buat penarik. Gue yakin > gak semuanya gapmas (gagap masak).paling-paling > Cuma..yah 99 -ersen! He..he. > > anyway, SALAM HORMAT UNTUK SEMUA ISTRI YANG SETIA! > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > > > -------------------------------------------------- > Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk > menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. > > Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, > kirim email ke [EMAIL PROTECTED] > > Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke > [EMAIL PROTECTED] > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Check out the new improvements in Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/4tWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -------------------------------------------------- Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
