Hai guys, apa kabar?
Lama juga nggak nulis NCB. Sebagian besar karena beberapa waktu yang lalu
koneksi internet di kantor sempet putus-putus. Herannya itu Cuma terjadi di
siang hari. Kadang pagi dan sore-nya bisa sangat lancar. Nggak tau kenapa.
Begitu koneksi bagus, ni komputer PC saya, nggak bisa reply maupun send message
di Yahoo. Weleh, untuk masalah yang satu ini pun tidak bisa saya atasi sendiri.
Seminggu kemarin juga tidak sempat menulis maupun mengirim NCB. Padahal
sehari saja tidak menulis, saya bisa sakaw...hehehe. Sebagai gantinya saya
mencoba mencatat dan merekam apa saja yang kelak bisa jadi bahan tulisan.
Bisa menuliskan apa yang dilihat, didengar dan diamati selama tujuh hari berada
di kota negaranya Ho Chi Minh, Bapak Revolusi rakyat Vietnam yang pertama kali
denger namanya waktu belajar sejarah dunia jaman SMA.
Lagi-lagi keberangkatan kesana dibiayai kantor, kalau biaya sendiri mana
sanggup, secara butuh uang berjuta-juta gitu loh. Kalau keseringan juga nggak
enak, kesannya kok memanfaatkan kantor banget. Tapi yah, mau dibilang apa kalau
pada akhirnya harus berangkat...*huuu* Sebagai kompensasi rasa nggak enak saya,
mau nggak mau kudu nurut begitu diminta nyiapin bahan-bahan buat presentasi
padahal tinggal 2 hari lagi menjelang keberangkatan. Untung full proposal-nya
udah ada. Tinggal copy paste aja.... Kami berangkat memang atas nama tim yang
akan menjadi host pada acara selanjutnya di Bali tahun 2008 nanti. Nama
acaranya adalah: International Conference on Asian Digital Library (ICADL).
Jadi apa saya di situ, hehehe..jadi anak bawang yang ikut-ikutan ngerecokin dan
siap diperintah ini itu sama para bos. Asyiiik..bisa ngamatin macam-macam orang
(dari berbagai negara) dan sumber berharga untuk bahan tulisan NCB..*teupteup*
Menjelang keberangkatan ke Hanoi kemarin, sempat terlintas bahwa saya akan
melihat kota tua yang mungkin, sendikit menyeramkan. Apalagi dengar-dengar di
sana sedang musim dingin. Lengkaplah sudah bayangan tentang kota tua yang
dingin. Dan dugaan itu tidak jauh meleset rupanya. Banyak bangunan tua
peninggalan perancis (dulu Vietnam pernah dijajah Perancis) yang masih utuh dan
dipertahankan. Sebagian terawat sebagian tak terawat. Yang tak terawat ini lho
yang sedikit menyeramkan (ditambah asesori pohon-pohon tua dengan akar
berjuntai-juntai, lampu temaram, anjing berkeliaran, serta aroma hio yang
khas...wuiiih syereeem). Tapi, begitu hari menjadi cerah, Hanoi kelihatan
cantik. Bangunan-bangunan tuanya juga tidak sedikit kok yang sudah dicat warna
kuning tua. Jadi kelihatan mentereng. Tidak kalah ngejrengya dengan bendera
Vietnam yang berwarna dasar merah.
Yang mengagumkan adalah, masyarakat Vietnam kini sedang bangkit. Kabar itu
terbukti dari begitu banyak forum internasional diselenggarakan di sana. Setahu
saya saja sudah ada empat sampai lima orang Indonesia ke Hanoi untuk mengikuti
acara yang berbeda-beda. Dalam perjalanan kami juga bertemu dengan orang dari
Singapura yang sempat menceritakan bahwa kini 20% mahasiswa di National
Univeristy of Singapura (NUS) berasal dari Vietnam. Konon, pemerintah Vietnam
memberikan dukungan penuh bagi siapa saja yang ingin kuliah di luar Negara-nya
dalam bentuk bantuan dana yang dapat dibayar kelak jika mereka sudah lulus.
Hebat ya...
Karena itu, pernah ada yang berkata, kalau Vietnam bertahan dengan
kegigihannya untuk maju dari sekarang sampai nanti, nggak heran kalau dalam
waktu dekat dia bisa meninggalkan Indonesia, Filipina, Thailand..bahkan
Malaysia... Lets see...
Have a nice day!
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.