sabar-sabar....buat yg ga puas ama filmnya.....mungkin nanti bakal ada
Ayat-Ayat Cinta the series.....seperti Heart the series.....tradisi latah
kalo suatu produk lagi laku hehehe

2008/3/6 miendha risfianthi <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Sama mbak Vita saya juga sangat menikmati film itu (palagi sempet ketemu
> dulu sama Fedi Nuril di Loket 21, hehe..), walopun banyak orang yang
> mengkritik karena apa yang ada di film ngga sesuai dengan novel
> aslinya....tapi tetep aja AAC tidak kalah kualitasnya dengan film Indonesia
> lain yang beredar saat ini.  Kalau kita terlalu berharap bahwa versi layar
> lebar harus sama persis dengan aslinya ya jelas tidak bisa..
>
> Paling tidak Mas Hanung dalam menggarap film ini sudah cukup 'apik'
> terutama dari segi editing gambarnya dimana dari sisi pencahayaannya sangat
> bagus (menurut saya loh...).
>
> Setelah nonton AAC malah jadi pengen baca novelnya lagi untuk kedua
> kalinya, selain utk mencari bagian2 mana yang terlewat di film juga memang
> cara Kang Abik menulis novel itu sungguh sangat tidak membosankan..
>
> Akhirnya 1 harapan semoga para sineas kita dapat menghasilkan film2 yang
> lebih berkualitas lagi kedepannya,,
>
>
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: Lusiana M. Hevita <[EMAIL PROTECTED]>
> Kepada: [EMAIL PROTECTED]; Jip 92 <[EMAIL PROTECTED]>;
> [email protected]
> Terkirim: Kamis, 6 Maret, 2008 15:35:42
> Topik: [sma1bks] Noon Coffee Break
>
>  TENTANG AYAT-AYAT CINTA
>
> Kang Abik, begitu kami akrab memanggilnya. Pertama
> kali ketemu, Kang Abik baru menyelesaikan kuliahnya di
> Mesir. Penampilannya sangat santri. Sederhana dan
> bersahaja.
> "Ciri khasnya Habib ini, selalu deh pake sarung…"
> komentar ketua umum kami di Forum Lingkar Pena saat
> rapat pengurus pusat FLP yang dihadiri Kang Abik saat
> Munas di Yogya. Lelaki itu cuma senyum. Di tahun 2004
> itu, karyanya memperoleh penghargaan FLP Award.
> Penghargaan internal FLP untuk para penulisnya yang
> menurut kami berprestasi. Waktu itu Ayat-Ayat Cinta
> (AAC) belum sepopuler sekarang. Tapi sangat mudah bagi
> kami menentukan karya siapa yang tahun ini layak
> memperoleh penghargaan. Penghargaannya pun cuma
> sederhana, tidak ada uang atau materi yang berharga
> lain. Sekedar plakat murah berlogo FLP.
>
> Tapi waktu itu wajah Kang Abik berseri-seri. Merasa
> tersanjung mendapat penghargaan dari kami,
> teman-temannya di FLP. Waktu itu kami tentunya tidak
> menyangka kalau beberapa tahun setelahnya, novel Kang
> Abik benar-benar best seller dan kemudian diangkat di
> layar lebar.
> Saya masih ingat cerita Kang Abik saat menulis AAC.
> Beliau baru saja mengalami kecelakaan yang membuat ia
> menghentikan total semua kegiatannya, kecuali menulis.
> Dan belakangan kami baru tahu kalau hasil jerih payah
> Kang Abik itu, adalah untuk mahar pernikahannya dengan
> istrinya sekarang.
>
> Semalam, bersama seorang teman kami menyaksikan AAC di
> layar lebar (asli lebar banget..hehehe) . Malam itu ada
> dua layar untuk AAC. Semuanya cukup penuh (kayaknya,
> soale pas keluar banyak banget orangnya). Kami
> berhitung. Ini sudah masuk ke minggu ke dua, dan
> bangku masih cukup penuh. Beberapa tempat malah masih
> ada yang antri. Dua juta penonton seperti target
> Hanung, supaya balik modal, sepertinya bisa jadi
> kesampaian.
>
> "Lu nangis nggak, Yand?"
> "Ampir sih, tapi aku tahan-tahan mbak."
> "Hihi, aku sempet tuh…"
> "Cukup mengaduk-aduk emosi sih emang…"
> Kami berdua nyengir. Benar-benar emang begitu filmnya
> atau kami terbawa suasana karena ingat perjuangan Kang
> Abik menulis novel itu?
> Yang kami tonton barusan tidak hanya sebuah film,
> karya dari Kang Abik. Penulis, pengurus pusat FLP di
> masa itu, yang bersahaja dan sederhana. Sejak FLP
> cabang Mesir terbentuk, cerita tentang mahasiswa
> Al-Azhar di Mesir cukup akrab di telinga kami.
> Beberapa teman malah cukup intens ber-email-emailan
> ria dengan para mahasiswa Indonesia (yang rata-rata
> berjenggot hehehe) di sana. Jadi rasanya kok rada
> bangga juga akhirnya khalayak se-Indonesia bisa
> menikmati apa yang dulu pernah jadi obrolan di saat
> senggang. Walaupun dalam novel tentunya banyak kisah
> fiksinya.
>
> Di sela-sela tayangan film Indonesia yang sering
> didominasi cerita hantu, atau kehidupan cinta remaja
> ibukota, AAC memberikan warna yang lain. Terlepas dari
> berbagai pro kontra (karena banyak juga yang kecewa
> dengan alasan nggak sesuai dengan novel aslinya) kami
> sangat menikmati film itu. Wah, untung udah lupa sama
> novelnya hehehe, jadi kami tidak terlalu banyak
> menuntut. Lagi pula, untuk ukuran film lokal, AAC
> tergolong lumayan. Paling soal editing suara aja yang
> kadang nggak pas. Walau gagal mengambil gambar di
> Mesir, toh masih oke-oke aja secara kita bisa maklum
> lah. Tarif yang dipasang mahal banget (14 M??).
> Padahal, menurut sang Sutradara, biaya film secara
> keseluruhannya aja jauh di bawah harga itu. Yo wiss,
> nggak apa-apa kok Mas Hanung...tak ada Mesir, Semarang
> dan India pun jadi :D
>
> Film AAC sudah cukup bergizi untuk penonton Indonesia.
> Apalagi kalau dibandingkan dengan kualitas film lokal
> yang lain. Hmm, bintang 3,5 lah….:)
>
>
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
> http://www.yahoo. com/r/hs <http://www.yahoo.com/r/hs>
>
>
> ------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
> Answers<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/>
> 
>



-- 
Kurniawan I
Kanwil DJP Kaltim

Kirim email ke