Sama mbak Vita saya juga sangat menikmati film itu (palagi sempet ketemu dulu sama Fedi Nuril di Loket 21, hehe..), walopun banyak orang yang mengkritik karena apa yang ada di film ngga sesuai dengan novel aslinya....tapi tetep aja AAC tidak kalah kualitasnya dengan film Indonesia lain yang beredar saat ini. Kalau kita terlalu berharap bahwa versi layar lebar harus sama persis dengan aslinya ya jelas tidak bisa.. Paling tidak Mas Hanung dalam menggarap film ini sudah cukup 'apik' terutama dari segi editing gambarnya dimana dari sisi pencahayaannya sangat bagus (menurut saya loh...). Setelah nonton AAC malah jadi pengen baca novelnya lagi untuk kedua kalinya, selain utk mencari bagian2 mana yang terlewat di film juga memang cara Kang Abik menulis novel itu sungguh sangat tidak membosankan.. Akhirnya 1 harapan semoga para sineas kita dapat menghasilkan film2 yang lebih berkualitas lagi kedepannya,,
----- Pesan Asli ---- Dari: Lusiana M. Hevita <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [EMAIL PROTECTED]; Jip 92 <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected] Terkirim: Kamis, 6 Maret, 2008 15:35:42 Topik: [sma1bks] Noon Coffee Break TENTANG AYAT-AYAT CINTA Kang Abik, begitu kami akrab memanggilnya. Pertama kali ketemu, Kang Abik baru menyelesaikan kuliahnya di Mesir. Penampilannya sangat santri. Sederhana dan bersahaja. “Ciri khasnya Habib ini, selalu deh pake sarung…” komentar ketua umum kami di Forum Lingkar Pena saat rapat pengurus pusat FLP yang dihadiri Kang Abik saat Munas di Yogya. Lelaki itu cuma senyum. Di tahun 2004 itu, karyanya memperoleh penghargaan FLP Award. Penghargaan internal FLP untuk para penulisnya yang menurut kami berprestasi. Waktu itu Ayat-Ayat Cinta (AAC) belum sepopuler sekarang. Tapi sangat mudah bagi kami menentukan karya siapa yang tahun ini layak memperoleh penghargaan. Penghargaannya pun cuma sederhana, tidak ada uang atau materi yang berharga lain. Sekedar plakat murah berlogo FLP. Tapi waktu itu wajah Kang Abik berseri-seri. Merasa tersanjung mendapat penghargaan dari kami, teman-temannya di FLP. Waktu itu kami tentunya tidak menyangka kalau beberapa tahun setelahnya, novel Kang Abik benar-benar best seller dan kemudian diangkat di layar lebar. Saya masih ingat cerita Kang Abik saat menulis AAC. Beliau baru saja mengalami kecelakaan yang membuat ia menghentikan total semua kegiatannya, kecuali menulis. Dan belakangan kami baru tahu kalau hasil jerih payah Kang Abik itu, adalah untuk mahar pernikahannya dengan istrinya sekarang. Semalam, bersama seorang teman kami menyaksikan AAC di layar lebar (asli lebar banget..hehehe) . Malam itu ada dua layar untuk AAC. Semuanya cukup penuh (kayaknya, soale pas keluar banyak banget orangnya). Kami berhitung. Ini sudah masuk ke minggu ke dua, dan bangku masih cukup penuh. Beberapa tempat malah masih ada yang antri. Dua juta penonton seperti target Hanung, supaya balik modal, sepertinya bisa jadi kesampaian. “Lu nangis nggak, Yand?” “Ampir sih, tapi aku tahan-tahan mbak.” “Hihi, aku sempet tuh…” “Cukup mengaduk-aduk emosi sih emang…” Kami berdua nyengir. Benar-benar emang begitu filmnya atau kami terbawa suasana karena ingat perjuangan Kang Abik menulis novel itu? Yang kami tonton barusan tidak hanya sebuah film, karya dari Kang Abik. Penulis, pengurus pusat FLP di masa itu, yang bersahaja dan sederhana. Sejak FLP cabang Mesir terbentuk, cerita tentang mahasiswa Al-Azhar di Mesir cukup akrab di telinga kami. Beberapa teman malah cukup intens ber-email-emailan ria dengan para mahasiswa Indonesia (yang rata-rata berjenggot hehehe) di sana. Jadi rasanya kok rada bangga juga akhirnya khalayak se-Indonesia bisa menikmati apa yang dulu pernah jadi obrolan di saat senggang. Walaupun dalam novel tentunya banyak kisah fiksinya. Di sela-sela tayangan film Indonesia yang sering didominasi cerita hantu, atau kehidupan cinta remaja ibukota, AAC memberikan warna yang lain. Terlepas dari berbagai pro kontra (karena banyak juga yang kecewa dengan alasan nggak sesuai dengan novel aslinya) kami sangat menikmati film itu. Wah, untung udah lupa sama novelnya hehehe, jadi kami tidak terlalu banyak menuntut. Lagi pula, untuk ukuran film lokal, AAC tergolong lumayan. Paling soal editing suara aja yang kadang nggak pas. Walau gagal mengambil gambar di Mesir, toh masih oke-oke aja secara kita bisa maklum lah. Tarif yang dipasang mahal banget (14 M??). Padahal, menurut sang Sutradara, biaya film secara keseluruhannya aja jauh di bawah harga itu. Yo wiss, nggak apa-apa kok Mas Hanung...tak ada Mesir, Semarang dan India pun jadi :D Film AAC sudah cukup bergizi untuk penonton Indonesia. Apalagi kalau dibandingkan dengan kualitas film lokal yang lain. Hmm, bintang 3,5 lah….:) ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ Never miss a thing. Make Yahoo your home page. http://www.yahoo. com/r/hs ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/
