Ini replayan dari teman ku yang lain ========================== Bagus T! Bravo!
Semalem malah sudah aku ceritakan sama salah satu muridku yang terkadang ngeluh "Sekolah tidak enak!". Sorenya selepas jam kantor, sambil bermotor-motor ria menuju sessi dua dalam kehidupanku aku mikirin lagi artikel tsb. Lalu aku punya konsep sbb: [Hati dan Pikiran] kita lebih baik mengacu ke Wortel dalam konteks dengan adanya kesulitan hidup hati & pikiran kita yang sebelumnya keras bagai lapisan semen yang menutupi tanah seharusnya berubah menjadi Lunak, mudah terbuka dengan input2 dan cara-cara orang lain yang bias sukses. Sedangkan [Mental, Etos kerja, Semangat hidup] kita lebih baik mengacu ke Telor dalam konteks semakin tidak mudah pecah dan kenyal/lentur terus pantang mundur sampai benar-benar berhasil mencapai misi & visi. Dengan Penerapan konsep Wortel dan Telor untuk Hati & Pikiran serta Mental kita secara otomatis diri kita bagi lingkungan di sekitar kita akan seperti kopi, mewarnai dan Harum serta nikmat rasanya diminum sambil menyelesaikan tulisan email ini. Zahron --- In [email protected], OpiK <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > wow.. what a good story > cuma ada satu pertanyaan nih bang tiar.. mungkin ini pertanyaan bodoh. > mana yg lebih baik, menjadi wortel, telur, atau kopi? > toh, setelah direbus ketiga-tiganya memberikan manfaat yang lebih dari > bentuk asalnya > apakah intinya hanya menyuruh kita untuk berubah, seperti kata om RK ==> > gile, doi makin banyak ajah proyeknya setelah nulis buku change.. nyesel gak > ditempel terus > > salam, > opik > yangkurangfahamtulisansastra > > On 3/13/08, Rahman, Tiar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia > > tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah > > berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain > > muncul. > > > > Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak perempuannya ke > > dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing- masing dengan > > air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air > > dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. > > Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia > > memasukkan beberapa biji kopi tumbuk. > > > > Ia membiarkan masing-masing mendidih. Selama itu ia terdiam seribu bahasa. > > Sang anak menggereget gigi, tak sabar menunggu dan heran dengan apa yang > > dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. > > > > Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. > > Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. > > Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu > > menoleh pada anaknya dan bertanya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, > > telur, dan kopi, " jawab sang anak. > > > > > > > > Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. > > Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa > > lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu > > dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa > > keras. Kemudian sang ayah meminta anak itu mencicipi kopi. > > Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. > > > > > > "Apa maksud semua ini, ayah?" tanya sang anak. > > > > > > > > Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang > > sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka > > berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan > > keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. > > > > > > > > Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus > > menjadi keras dan kokoh. > > > > Sedangkan biji kopi tumbuh berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, > > setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu. > > > > Maka, yang manakah dirimu?" tanya sang ayah pada anaknya. > > > > "Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada > > dirimu? > > > > Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?" > > > > > > > > CONFIDENTIALITY NOTICE > > The information in this email may be confidential and/or privileged. > > This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named > > above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified > > that any review, dissemination, copying, use or storage of this email > > and its attachments, if any, or the information contained herein is > > prohibited. If you have received this email in error, please > > immediately notify the sender by return email and delete this email > > from your system. Thank you. > > > > > > > > > > -- > OpiK > http://taufiek.wordpress.com >
