Dari milis sebelah, dah lama sih

===========

BERUSAHA MEMAHAMI

Oleh Seriyawati

 

 

Suatu hari seorang nenek berjalan terseok-seok di jalan trotoar yang
sempit.  Nenek itu menengok ke sebuah toko di sebelah kanan jalan sambil
mendorong kereta belanjaan yang telah dipenuhi isi. Entah dia sadari
atau tidak, tiba-tiba seorang pemuda sedang berusaha melewatinya. Tapi
karena sempitnya trotoar, ditambah lagi dengan kereta dorongnya yang
berada di tengah-tengah, membuat pemuda itu kesulitan untuk mendahului.

 

Aku yang melihat pemandangan itu jadi berpikir apa yang akan dilakukan
pemuda itu. "Pemuda itu akan membunyikan bel sepedanya dan melewati
nenek itu,"

tebakku. Kenyataan ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Dengan
pelan-pelan pemuda itu tetap berada di belakang si Nenek dan tidak
membunyikan bel sepedanya. Sampai akhirnya si Nenek menyadari ada
seseorang di belakangnya dan dia telah menghambat jalan orang lain.
Dengan membungkukkan badannya

berkali-kali sambil meminta maaf (kebiasaan yang sering kulihat pada
orang Jepang), dia menepi dan memberi jalan untuk pemuda itu. Dan
berlalulah pemuda itu dengan anggukan balasan tanpa kudengar suara
omelannya.

 

Pernah pula saya dan beberapa teman berjalan di trotoar yang lebarnya
mungkin hanya 2 meteran, tetapi kami berjalan berjejer sambil mengobrol.
Seakan-akan itu jalan milik kami dan tidak ada orang lain yang akan
menggunakannya. Atau karena kami tidak mempunyai pikiran untuk berjalan
agak ke pinggir dan membaginya untuk orang lain, walaupun saat itu tak
ada orang yang lewat.

 

Entahlah, mungkin saat itu di kepala kami tak ada pikiran seperti itu
karena asyik mengobrol? Tiba-tiba ada orang berkata,
"Sumimasen.sumimasen..." Seseorang meminta maaf (permisi) untuk dapat
melanjutkan perjalanannya yang terhalang oleh kami. Atau kekhawatiran
menabrak salah seorang anak-anak kami yang berkeliaran dengan bebasnya.
Tetapi orang itu bukan yang terakhir, masih ada yang merasa tidak enak
untuk meminta jalan kepada kami.

 

Padahal mereka mempunyai hak yang sama atas jalan trotoar itu. Sama
halnya dengan kami. "Ah... sumimasen, gomen nasai...," kataku meminta
maaf sambil menarik tangan anakku untuk menepi dan memberi jalan kepada
orang yang sempat turun dari sepedanya. Dia berlalu sambil menganggukkan
kepalanya disertai senyuman di bibirnya. "Duh...kok dia nggak marah,
ya?" batinku. Padahal biasanya orang marah-marah kalau jalannya
terhalang, dan dari jauh sudah membunyikan bel sepedanya
nyaring-nyaring. Kadangkala malah keluar kata-kata umpatan yang tidak
sedap didengar.

 

***

 

Di sekitar tempat tinggalku ini jarang sekali kudengar suara klakson
mobil ataupun bel sepeda berdering-dering. Kenapa ya? Apakah mereka
sudah sampai pada tahap yang namanya manusia beradab? Atau karena begitu
patuhnya pada peraturan? Atau tenggang rasa pada sesama sudah mengakar
dalam kehidupan mereka? Atau mereka tidak sudi dianggap orang bodoh
karena membunyikan klakson atau bel? Orang Jepang terkenal sangat patuh
pada peraturan. Itukah jawabannya?

 

"Eh, kenapa ya orang-orang ngga ada yang bunyiin klakson?" tanyaku pada
suami, yang kebetulan orang Jepang. "Ngapain bunyiin klakson? Kayak
orang bodoh aja? Nanti juga kan dapat gilirannya kalau mau jalan?"
suamiku malah balik bertanya. Memang kulihat lalu lintas di Jepang
teratur, yang jalan lurus sudah 

ancang-ancang dari jauh memilih jalur lurus, begitu juga yang ingin
belok mengambil jalur sisi jalan agar tak menghalangi mobil yang akan
jalan lurus. Mobil yang akan belok kanan akan mendahulukan pengendara
yang berlawanan arah, baik itu yang jalan lurus ataupun yang belok kiri.

 

***

 

Kemarin sewaktu aku dan teman-temanku ketinggalan bis, kami duduk di
sembarang bangku yang berjejer di halte itu. Masih ada waktu 10 menit
lagi untuk keberangkatan bis berikutnya. Kami ngobrol sana sini, hingga
tak terasa sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Mereka hanya
melihat sekilas kepada 

kami dan tetap berdiri, padahal masih banyak bangku yang kosong. Karena
yang duduk hanya aku dan anaknya temanku. Sedangkan temanku berjongkok
menghadap anaknya dan satu temanku lagi berdiri di belakang kami.  

 

"Heh...! Kok ada perasaan tak enak ya?" batinku ketika aku melihat
seorang nenek berdiri tak jauh dari kami. Tentu saja nenek itu dan
orang-orang yang ada di situ tak bisa maju karena biarpun di depan kami
masih kosong, tetapi karena kami yang ada di sana lebih dulu, maka
mereka akan berada di belakang kami.

 

Segera aku mengajak teman-temanku maju ke depan mendekati tempat naiknya
bis. Barulah nenek itu dan yang lainnya ikut maju dan duduk di bangku
yang

tadi kami duduki. Aku menganggukkan kepala dan meminta maaf,
"Sumimasen..." Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk.

 

Tak ada kesan marah atau sinis. Anggukan kepala dan senyum, tanpa ada
kata-kata umpatan atau omelan malah membuat kita malu sendiri dan sadar
telah berlaku ceroboh. Nenek tersebut seolah berusaha memahami kami.

 

Dari beberapa contoh di atas, aku merasa ada sebuah kekaguman pada orang
Jepang.  Mereka yang terkenal dengan sifat individunya, ternyata masih
bisa

berusaha memahami perasaan orang lain. Dengan caranya, mereka akan
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa tak
ada hal yang perlu dirisaukan oleh si pihak lawan akan sikap salahnya.
Sesuatu yang kadang masih sulit aku terapkan. Yaitu berusaha memahami
perasaan orang lain.

 

Tidak salah jika Rasulullah saw sering mengingatkan bahwa saling
memahami (tafahum) akan meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah. Karena dari
rasa saling memahami inilah akan timbul keinginan saling bekerjasama.
Yang kemudian akan berlanjut menjadi mendahulukan kepentingan orang
lain, tingkatan yang tertinggi dalam jalinan ukhuwah. Hingga terjalin
rasa saling cinta kasih.

 

Entah cerita di atas berhubungan atau tidak, tapi dengan kejadian
tersebut, kini aku mulai berusaha agar dapat memahami orang lain. Aku
berharap

dengan berusaha memahami orang lain, dapat meningkatkan diri ke arah
insan yang bisa mendahulukan kepentingan orang lain. 

Wallahu`alam bisshowab.



CONFIDENTIALITY NOTICE
The information in this email may be confidential and/or privileged. 
This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named 
above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified 
that any review, dissemination, copying, use or storage of this email 
and its attachments, if any, or the information contained herein is 
prohibited. If you have received this email in error, please 
immediately notify the sender by return email and delete this email 
from your system. Thank you.

Kirim email ke