ada yg bilang kalo pengen lihat kepribadian/sifat seseorang, lihat aja prilakunya berkendaraan di jalan raya. kayaknya tepat banget deh ucapan kayak gitu
2008/3/27 ACHMAD SUTRIADI <[EMAIL PROTECTED]>: > > kalo dijakarta sih Traffic Light masih merah aja diterobos... apalagi > detik2 menjelang Traffice Light lampu hijau... > > dan polisi cuma bisa nontonin aja heheh.... > > kalo dibekasi yang paling keliatan sih di Perempatan Tol Timur... saban > pagi ama sore... > > cabee dech... > > > > Sebenernya gak cuma di jepang yang tertib... > > di Singapore pun kondisinya juga tertib... > > (jadi ingat pertama kali kesana gua nungguin taksi di halte gak ikutan > ngantri, diliatin sama semua orang yang lagi ngantri panjang sampai masuk > kedalam gedung, hehehe) > > > > So tuk membuat kondisi seperti itu, Majunya Infrastruktur tidak cukup... > perlu pembinaan kepada warga yang berlangsung tidak dalam waktu singkat... > > Di Suwon Korea, walaupun Infrastrukturnya sudah bagus, tetap aja masih ada > warga sana yang kelakuannya tengil.. nerobos lampu merah > > hehehe... > > > > Tapi masalah kedisiplinan Lalu Lintas yang kurang memang hampir semuanya > ada dinegara berkembang kali yaa... > > Di Manila dan sekitarnya... juga gak jauh beda sama Jakarta kok hehehe > > (Udah Polusi tinggi plus selalu macet kalo pagi dan sore) > > > > > > > > > ------- *Original Message* ------- > *Sender* : kurniawan iswanto<[EMAIL PROTECTED]> > *Date* : Mar 28, 2008 11:00 (GMT+07:00) > *Title* : Re: [sma1bks] BERUSAHA MEMAHAMI > > wah, yang nulis tuh cerita pasti dah lama ga mampir ke jakarta......coba > aja liat kendaraan terutama motor kalo dah deket lampu merah. > ketika lampu hijau akan beralih jadi lampu merah (biasanya ada selang satu > detik ketika hijau akan berubah jadi merah) bukannya siap2 berhenti malah > gas semakin digeber, seolah-olah menunggu 1-2 menit di lampu merah seperti > menunggu ribuan tahun, pas nabrak kendaraan lain malah dianya yang marah2, > geblek > > > > 2008/3/27 Rahman, Tiar <[EMAIL PROTECTED]>: > > > > > > > Dari milis sebelah, dah lama sih > > > > =========== > > > > BERUSAHA MEMAHAMI > > > > Oleh Seriyawati > > > > > > > > > > > > Suatu hari seorang nenek berjalan terseok-seok di jalan trotoar yang > > sempit. Nenek itu menengok ke sebuah toko di sebelah kanan jalan sambil > > mendorong kereta belanjaan yang telah dipenuhi isi. Entah dia sadari atau > > tidak, tiba-tiba seorang pemuda sedang berusaha melewatinya. Tapi karena > > sempitnya trotoar, ditambah lagi dengan kereta dorongnya yang berada di > > tengah-tengah, membuat pemuda itu kesulitan untuk mendahului. > > > > > > > > Aku yang melihat pemandangan itu jadi berpikir apa yang akan dilakukan > > pemuda itu. "Pemuda itu akan membunyikan bel sepedanya dan melewati > > nenek itu," > > > > tebakku. Kenyataan ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Dengan > > pelan-pelan pemuda itu tetap berada di belakang si Nenek dan tidak > > membunyikan bel sepedanya. Sampai akhirnya si Nenek menyadari ada seseorang > > di belakangnya dan dia telah menghambat jalan orang lain. Dengan > > membungkukkan badannya > > > > berkali-kali sambil meminta maaf (kebiasaan yang sering kulihat pada > > orang Jepang), dia menepi dan memberi jalan untuk pemuda itu. Dan berlalulah > > pemuda itu dengan anggukan balasan tanpa kudengar suara omelannya. > > > > > > > > Pernah pula saya dan beberapa teman berjalan di trotoar yang lebarnya > > mungkin hanya 2 meteran, tetapi kami berjalan berjejer sambil mengobrol. > > Seakan-akan itu jalan milik kami dan tidak ada orang lain yang akan > > menggunakannya. Atau karena kami tidak mempunyai pikiran untuk berjalan agak > > ke pinggir dan membaginya untuk orang lain, walaupun saat itu tak ada orang > > yang lewat. > > > > > > > > Entahlah, mungkin saat itu di kepala kami tak ada pikiran seperti itu > > karena asyik mengobrol? Tiba-tiba ada orang berkata, " > > Sumimasen.sumimasen..." Seseorang meminta maaf (permisi) untuk dapat > > melanjutkan perjalanannya yang terhalang oleh kami. Atau kekhawatiran > > menabrak salah seorang anak-anak kami yang berkeliaran dengan bebasnya. > > Tetapi orang itu bukan yang terakhir, masih ada yang merasa tidak enak untuk > > meminta jalan kepada kami. > > > > > > > > Padahal mereka mempunyai hak yang sama atas jalan trotoar itu. Sama > > halnya dengan kami. "Ah... sumimasen, gomen nasai...," kataku meminta maaf > > sambil menarik tangan anakku untuk menepi dan memberi jalan kepada orang > > yang sempat turun dari sepedanya. Dia berlalu sambil menganggukkan kepalanya > > disertai senyuman di bibirnya. "Duh...kok dia nggak marah, ya?" batinku. > > Padahal biasanya orang marah-marah kalau jalannya terhalang, dan dari jauh > > sudah membunyikan bel sepedanya nyaring-nyaring. Kadangkala malah keluar > > kata-kata umpatan yang tidak sedap didengar. > > > > > > > > *** > > > > > > > > Di sekitar tempat tinggalku ini jarang sekali kudengar suara klakson > > mobil ataupun bel sepeda berdering-dering. Kenapa ya? Apakah mereka sudah > > sampai pada tahap yang namanya manusia beradab? Atau karena begitu patuhnya > > pada peraturan? Atau tenggang rasa pada sesama sudah mengakar dalam > > kehidupan mereka? Atau mereka tidak sudi dianggap orang bodoh karena > > membunyikan klakson atau bel? Orang Jepang terkenal sangat patuh pada > > peraturan. Itukah jawabannya? > > > > > > > > "Eh, kenapa ya orang-orang ngga ada yang bunyiin klakson?" tanyaku pada > > suami, yang kebetulan orang Jepang. "Ngapain bunyiin klakson? Kayak orang > > bodoh aja? Nanti juga kan dapat gilirannya kalau mau jalan?" suamiku > > malah balik bertanya. Memang kulihat lalu lintas di Jepang teratur, yang > > jalan lurus sudah > > > > ancang-ancang dari jauh memilih jalur lurus, begitu juga yang ingin > > belok mengambil jalur sisi jalan agar tak menghalangi mobil yang akan jalan > > lurus. Mobil yang akan belok kanan akan mendahulukan pengendara yang > > berlawanan arah, baik itu yang jalan lurus ataupun yang belok kiri. > > > > > > > > *** > > > > > > > > Kemarin sewaktu aku dan teman-temanku ketinggalan bis, kami duduk di > > sembarang bangku yang berjejer di halte itu. Masih ada waktu 10 menit lagi > > untuk keberangkatan bis berikutnya. Kami ngobrol sana sini, hingga tak > > terasa sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Mereka hanya melihat > > sekilas kepada > > > > kami dan tetap berdiri, padahal masih banyak bangku yang kosong. Karena > > yang duduk hanya aku dan anaknya temanku. Sedangkan temanku berjongkok > > menghadap anaknya dan satu temanku lagi berdiri di belakang kami. > > > > > > > > "Heh...! Kok ada perasaan tak enak ya?" batinku ketika aku melihat > > seorang nenek berdiri tak jauh dari kami. Tentu saja nenek itu dan > > orang-orang yang ada di situ tak bisa maju karena biarpun di depan kami > > masih kosong, tetapi karena kami yang ada di sana lebih dulu, maka mereka > > akan berada di belakang kami. > > > > > > > > Segera aku mengajak teman-temanku maju ke depan mendekati tempat naiknya > > bis. Barulah nenek itu dan yang lainnya ikut maju dan duduk di bangku yang > > > > tadi kami duduki. Aku menganggukkan kepala dan meminta maaf, > > "Sumimasen..." Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk. > > > > > > > > Tak ada kesan marah atau sinis. Anggukan kepala dan senyum, tanpa ada > > kata-kata umpatan atau omelan malah membuat kita malu sendiri dan sadar > > telah berlaku ceroboh. Nenek tersebut seolah berusaha memahami kami. > > > > > > > > Dari beberapa contoh di atas, aku merasa ada sebuah kekaguman pada orang > > Jepang. Mereka yang terkenal dengan sifat individunya, ternyata masih bisa > > > > berusaha memahami perasaan orang lain. Dengan caranya, mereka akan > > tersenyum sambil menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa tak ada > > hal yang perlu dirisaukan oleh si pihak lawan akan sikap salahnya. Sesuatu > > yang kadang masih sulit aku terapkan. Yaitu berusaha memahami perasaan orang > > lain. > > > > > > > > Tidak salah jika Rasulullah saw sering mengingatkan bahwa saling > > memahami (tafahum) akan meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah. Karena dari > > rasa saling memahami inilah akan timbul keinginan saling bekerjasama. Yang > > kemudian akan berlanjut menjadi mendahulukan kepentingan orang lain, > > tingkatan yang tertinggi dalam jalinan ukhuwah. Hingga terjalin rasa saling > > cinta kasih. > > > > > > > > Entah cerita di atas berhubungan atau tidak, tapi dengan kejadian > > tersebut, kini aku mulai berusaha agar dapat memahami orang lain. Aku > > berharap > > > > dengan berusaha memahami orang lain, dapat meningkatkan diri ke arah > > insan yang bisa mendahulukan kepentingan orang lain. > > > > Wallahu`alam bisshowab. > > > > CONFIDENTIALITY NOTICE > > The information in this email may be confidential and/or privileged. > > This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named > > above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified > > that any review, dissemination, copying, use or storage of this email > > and its attachments, if any, or the information contained herein is > > prohibited. If you have received this email in error, please > > immediately notify the sender by return email and delete this email > > from your system. Thank you. > > > > > > -- > Kurniawan I > Kanwil DJP Kaltim > > > > > > > > > > *Achmad Sutriadi* > > > > *Strategy and Planning Procurement* > > *OMS Division* > > *PT Samsung Electronics Indonesia** * > > > > v*Strategic Sourcing, SCM Process, Supplier Partnership*v > > > > > > > > > > -- Kurniawan I Kanwil DJP Kaltim
