wah, yang nulis tuh cerita pasti dah lama ga mampir ke jakarta......coba aja liat kendaraan terutama motor kalo dah deket lampu merah. ketika lampu hijau akan beralih jadi lampu merah (biasanya ada selang satu detik ketika hijau akan berubah jadi merah) bukannya siap2 berhenti malah gas semakin digeber, seolah-olah menunggu 1-2 menit di lampu merah seperti menunggu ribuan tahun, pas nabrak kendaraan lain malah dianya yang marah2, geblek
2008/3/27 Rahman, Tiar <[EMAIL PROTECTED]>: > > > Dari milis sebelah, dah lama sih > > =========== > > BERUSAHA MEMAHAMI > > Oleh Seriyawati > > > > > > Suatu hari seorang nenek berjalan terseok-seok di jalan trotoar yang > sempit. Nenek itu menengok ke sebuah toko di sebelah kanan jalan sambil > mendorong kereta belanjaan yang telah dipenuhi isi. Entah dia sadari atau > tidak, tiba-tiba seorang pemuda sedang berusaha melewatinya. Tapi karena > sempitnya trotoar, ditambah lagi dengan kereta dorongnya yang berada di > tengah-tengah, membuat pemuda itu kesulitan untuk mendahului. > > > > Aku yang melihat pemandangan itu jadi berpikir apa yang akan dilakukan > pemuda itu. "Pemuda itu akan membunyikan bel sepedanya dan melewati nenek > itu," > > tebakku. Kenyataan ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Dengan > pelan-pelan pemuda itu tetap berada di belakang si Nenek dan tidak > membunyikan bel sepedanya. Sampai akhirnya si Nenek menyadari ada seseorang > di belakangnya dan dia telah menghambat jalan orang lain. Dengan > membungkukkan badannya > > berkali-kali sambil meminta maaf (kebiasaan yang sering kulihat pada orang > Jepang), dia menepi dan memberi jalan untuk pemuda itu. Dan berlalulah > pemuda itu dengan anggukan balasan tanpa kudengar suara omelannya. > > > > Pernah pula saya dan beberapa teman berjalan di trotoar yang lebarnya > mungkin hanya 2 meteran, tetapi kami berjalan berjejer sambil mengobrol. > Seakan-akan itu jalan milik kami dan tidak ada orang lain yang akan > menggunakannya. Atau karena kami tidak mempunyai pikiran untuk berjalan agak > ke pinggir dan membaginya untuk orang lain, walaupun saat itu tak ada orang > yang lewat. > > > > Entahlah, mungkin saat itu di kepala kami tak ada pikiran seperti itu > karena asyik mengobrol? Tiba-tiba ada orang berkata, " > Sumimasen.sumimasen..." Seseorang meminta maaf (permisi) untuk dapat > melanjutkan perjalanannya yang terhalang oleh kami. Atau kekhawatiran > menabrak salah seorang anak-anak kami yang berkeliaran dengan bebasnya. > Tetapi orang itu bukan yang terakhir, masih ada yang merasa tidak enak untuk > meminta jalan kepada kami. > > > > Padahal mereka mempunyai hak yang sama atas jalan trotoar itu. Sama halnya > dengan kami. "Ah... sumimasen, gomen nasai...," kataku meminta maaf sambil > menarik tangan anakku untuk menepi dan memberi jalan kepada orang yang > sempat turun dari sepedanya. Dia berlalu sambil menganggukkan kepalanya > disertai senyuman di bibirnya. "Duh...kok dia nggak marah, ya?" batinku. > Padahal biasanya orang marah-marah kalau jalannya terhalang, dan dari jauh > sudah membunyikan bel sepedanya nyaring-nyaring. Kadangkala malah keluar > kata-kata umpatan yang tidak sedap didengar. > > > > *** > > > > Di sekitar tempat tinggalku ini jarang sekali kudengar suara klakson mobil > ataupun bel sepeda berdering-dering. Kenapa ya? Apakah mereka sudah sampai > pada tahap yang namanya manusia beradab? Atau karena begitu patuhnya pada > peraturan? Atau tenggang rasa pada sesama sudah mengakar dalam kehidupan > mereka? Atau mereka tidak sudi dianggap orang bodoh karena membunyikan > klakson atau bel? Orang Jepang terkenal sangat patuh pada peraturan. > Itukah jawabannya? > > > > "Eh, kenapa ya orang-orang ngga ada yang bunyiin klakson?" tanyaku pada > suami, yang kebetulan orang Jepang. "Ngapain bunyiin klakson? Kayak orang > bodoh aja? Nanti juga kan dapat gilirannya kalau mau jalan?" suamiku malah > balik bertanya. Memang kulihat lalu lintas di Jepang teratur, yang jalan > lurus sudah > > ancang-ancang dari jauh memilih jalur lurus, begitu juga yang ingin belok > mengambil jalur sisi jalan agar tak menghalangi mobil yang akan jalan lurus. > Mobil yang akan belok kanan akan mendahulukan pengendara yang berlawanan > arah, baik itu yang jalan lurus ataupun yang belok kiri. > > > > *** > > > > Kemarin sewaktu aku dan teman-temanku ketinggalan bis, kami duduk di > sembarang bangku yang berjejer di halte itu. Masih ada waktu 10 menit lagi > untuk keberangkatan bis berikutnya. Kami ngobrol sana sini, hingga tak > terasa sudah banyak orang yang mulai berdatangan. Mereka hanya melihat > sekilas kepada > > kami dan tetap berdiri, padahal masih banyak bangku yang kosong. Karena > yang duduk hanya aku dan anaknya temanku. Sedangkan temanku berjongkok > menghadap anaknya dan satu temanku lagi berdiri di belakang kami. > > > > "Heh...! Kok ada perasaan tak enak ya?" batinku ketika aku melihat seorang > nenek berdiri tak jauh dari kami. Tentu saja nenek itu dan orang-orang yang > ada di situ tak bisa maju karena biarpun di depan kami masih kosong, tetapi > karena kami yang ada di sana lebih dulu, maka mereka akan berada di belakang > kami. > > > > Segera aku mengajak teman-temanku maju ke depan mendekati tempat naiknya > bis. Barulah nenek itu dan yang lainnya ikut maju dan duduk di bangku yang > > tadi kami duduki. Aku menganggukkan kepala dan meminta maaf, > "Sumimasen..." Nenek itu hanya tersenyum sambil mengangguk. > > > > Tak ada kesan marah atau sinis. Anggukan kepala dan senyum, tanpa ada > kata-kata umpatan atau omelan malah membuat kita malu sendiri dan sadar > telah berlaku ceroboh. Nenek tersebut seolah berusaha memahami kami. > > > > Dari beberapa contoh di atas, aku merasa ada sebuah kekaguman pada orang > Jepang. Mereka yang terkenal dengan sifat individunya, ternyata masih bisa > > berusaha memahami perasaan orang lain. Dengan caranya, mereka akan > tersenyum sambil menganggukkan kepala. Seolah memberi tanda bahwa tak ada > hal yang perlu dirisaukan oleh si pihak lawan akan sikap salahnya. Sesuatu > yang kadang masih sulit aku terapkan. Yaitu berusaha memahami perasaan orang > lain. > > > > Tidak salah jika Rasulullah saw sering mengingatkan bahwa saling memahami > (tafahum) akan meningkatkan rasa ukhuwah Islamiyah. Karena dari rasa saling > memahami inilah akan timbul keinginan saling bekerjasama. Yang kemudian akan > berlanjut menjadi mendahulukan kepentingan orang lain, tingkatan yang > tertinggi dalam jalinan ukhuwah. Hingga terjalin rasa saling cinta kasih. > > > > Entah cerita di atas berhubungan atau tidak, tapi dengan kejadian > tersebut, kini aku mulai berusaha agar dapat memahami orang lain. Aku > berharap > > dengan berusaha memahami orang lain, dapat meningkatkan diri ke arah insan > yang bisa mendahulukan kepentingan orang lain. > > Wallahu`alam bisshowab. > > CONFIDENTIALITY NOTICE > The information in this email may be confidential and/or privileged. > This email is intended to be reviewed by only the addressee(s) named > above. If you are not the intended recipient, you are hereby notified > that any review, dissemination, copying, use or storage of this email > and its attachments, if any, or the information contained herein is > prohibited. If you have received this email in error, please > immediately notify the sender by return email and delete this email > from your system. Thank you. > > -- Kurniawan I Kanwil DJP Kaltim
