good explanation bung Opik...tambahan pandangan ini
mungkin bisa lebih memperjelas...(sebagian gw ambil
dari salah satu tulisan di Tempo...akhir 2007
lalu...):

Yang dikenal dengan istilah subprime mortgage
sebenarnya adalah kredit perumahan berbunga tinggi
yang berisiko tinggi akibat rendahnya aset dari
peminjam rumah. Dalam tiga tahun terakhir mengalami
jenis fasilitas kredit ini mengalami kemerosotan
kualitas pembayaran utang.

Kemerosotan itu selama ini bisa dikompensasi oleh
kegiatan yang dikenal sebagai securitization. Hal itu
merupakan upaya lembaga keuangan, termasuk hedge fund,
yang mencari laba dengan menggabungkan surat-surat
berharga seperti surat utang rumah subprime, dengan
surat berharga yang rating-nya lebih tinggi.
Lembaga keuangan dan hedge fund itu merestrukturisasi
utang dengan ”mencampur” pinjaman yang lancar (prime
loan) dan pinjaman yang kurang lancar (subprime) dan
menciptakan ranking dari AAA hingga BB. Bagaimana ra
ting dilakukan adalah hal yang lazim dikerjakan oleh
lembaga rating seperti Moody’s.

Gejala sekuritisasi ini di Amerika berkembang sangat
cepat karena ia memberi kesan ”aman” lantaran sejumlah
hedge fund mengelola dana itu berdasar model
matematika. Mereka dikenal sebagai quant fund. Quant
fund inilah yang mengelola aktivitas sekuritisasi,
yang ikut memperluas pasar produk sekuritisasi hingga
mencapai hampir US$ 2 trili un di sektor kredit.

Sepuluh tahun lalu, produk yang berkaitan dengan
kredit rumah ini belum dikenal dalam sekuritisasi.
Kini terjadi guncangan ketika ternyata subprime
mortgage yang merupakan bagian yang cukup signifikan
dalam sekuritisasi mengalami ”kerusakan” akibat makin
banyaknya pengutang rumah yang tidak mampu membayar
cicilan dan bunga. 

Yang menyulitkan kita memahami tingkat kerusakan pa
sar kredit akibat kegagalan peminjam subprime ini
adalah perkembangan dari quant fund itu sendiri. 
Quant fund adalah hedge fund yang dijalankan dengan
model-model komputer. Perdagangan dilakukan berbasis
program yang memberikan order jual dan beli.

Parameternya didasarkan pada tolok ukur yang dikenal
di bursa seperti price earning ratio, price book
value, dan EBITDA (Earning Before Interest, Tax,
Depreciation and Amortization). Quant fund ini pada
umumnya dikelola doktor-doktor ekonomi yang biasanya
membeli berbagai tipe surat berharga (utang, saham,
komoditas, uang) yang mere ka kategorikan sebagai over
valued atau under valued.

Mereka kemudian melakukan peminjaman berlipat kali
banyaknya dan para pemberi pinjaman tidak berkeberatan
karena mereka melihat quant fund ini dapat dipercaya
lantaran model matematis dan kesan ”ilmiah” yang ada
pada mereka. 

Yang kemudian terjadi adalah, akibat tekanan di pasar
utang gara-gara keguncangan subprime, muncullah
kepanik an di pasar saham. Ini makin dipertajam oleh
berita bahwa banyak perusahaan (yang terkait dengan
industri perumah an) dilanda kekurangan likuiditas.
Para doktor yang menggunakan program komputer itu
kemudian dipaksa menjual aset mereka (securities)
untuk mengambil posisi kepemilikan uang tunai. 

Tetapi, karena sebagian besar dari mereka mempunyai
model yang mirip, terjadilah ketidakseimbangan
permintaan dan penawaran. Ini menimbulkan herd effect,
yang menciptakan volatilitas di bursa dunia, termasuk
Indonesia.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah  bahwa gejolak
bursa adalah mata rantai aktivitas sebagai berikut:
Kredit perumahan subprime berubah akibat naiknya gagal
bayar debitor rumah. Sementara itu, securitization
kian dirasuki oleh pasar kredit perumahan dan pada
gilirannya membuat pasar dipertanyakan
kredibilitasnya. Kepanikan di sana-sini tidak dapat
dicegah, sementara penjualan quant fund membuat
terjadinya penilaian ulang atas harga saham, komoditas
dan pasar mata uang.

 Yang lebih penting buat kita barangkali apakah
gejolak subprime ini mempunyai efek yang bisa besar,
sehingga bisa menimbulkan krisis yang parah pada
ekonomi kita?

Yang biasanya langsung berpengaruh pada bursa di
Indonesia (dan bursa2 laen didunia---termasuk gerakan
di pasar valas kita) adalah bila Fed di amrik sana
membuat 'gerakan'. Krisis yang dipicu oleh subprime
mortgage memberikan tekanan pada Fed untuk menurunkan
suku bunga (Fed rate) padahal mereka juga telah
mengintervensi bursa senilai US$ 130 miliar, sehingga
akses pada likuiditas sebetulnya telah dipermudah.
Bukan itu saja, dibuka pula discount window yang
memungkinkan akses pada likuiditas untuk kondisi
tertentu. Buat Indonesia, penurunan Fed rate  ini
lebih membawa pengaruh..yang jelas suku bunga kredit
dalam negeri dan suku bunga investasi/simpanan bakalan
mengikuti gerakan suku bunga Fed. Rentan? jelas...nota
bene hitung2an finansial qta banyak berkaitan dengan
si suku bunga ini.. jika suku bunga kredit menurun
mestinya lebih banyak kredit yang dikucurkan...(kredit
investasi is preferable)...sehingga bisa memicu
gerakan sektor riil ...mestinya...tp kaya'nya disini
nggak begitu...(itu yang bisa menngiring ekonomi kita
ikutan terimbas krisis)...ketika suku bunga kredit
ikutan turun,,yg lebih banyak dicairkan justru kredit
konsumsi yg memiliki potensi macet lebih besar ...(cek
deh NPL bank2 itu...apa yg membuat NPL mreka
belakangan naek pesat?)...

menurut Syahrir (Tempo, Sept 2007) Hal-hal  yang bisa
menguatkan kita bila terjadi keguncangan di AS:

Berkaitan dengan Bursa saham kita,pertama-tama kita
butuh emiten baru. Privatisasi BUMN yang selama
kepemimpinan Menteri Negara BUMN sebelumnya tidak
menjadi prioritas, kini harus diutamakan. Dan
tampaknya memang sudah dicanangkan Menteri Negara BUMN
yang baru. Kita harus melihat fakta bahwa kenaikan
IHSG yang juga meningkatkan kapitalisasi pasar tidak
sejalan dengan peningkatan jumlah emiten.
(Misalnya: Dari 2002 hingga September 2007,
kapitalisasi pasar Bursa Jakarta melonjak dari Rp
268,4 triliun menjadi Rp 1.561,7 triliun. Namun jumlah
emiten hanya naik dari 331 menjadi 349.)

Kinerja bank-bank di bursa yang dianggap baik
sesungguhnya bukan karena kualitas bank itu meningkat.
Mandiri dan BNI misalnya banyak menikmati keuntungan
dari SBI dan SUN. Dan itu tidak ada kaitannya dengan
peningkatan kredit—yang seharusnya dilakukan.

Untuk itu, perlu diberi insentif agar perusahaan
privat listing di BEI. Pemerintah sedang
mempertimbangkan adanya pengurangan pajak bagi
perusahaan publik, maka itu menjadi ”a necessary but
not sufficient condition”. Kondisi lain  yang
dibutuhkan tak lain adalah sektor riil yang
bergerak—yang hingga kini dirasakan masih
tersendat-sendat.

Intinya,.. aman ato nggaknya perekonomian qta
tergantung kekuatan fundamental ekonomi qta sendiri...
Paling nggak kita bisa mengaca pada  Cina. Gejolak
subprime tidak mempengaruhi Cina karena sektor riilnya
tumbuh amat cepat. Itu pula yang membuat bursa Cina
lebih tahan


--- OpiK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Krisis finansial yg terjadi di amrik atau yg dikenal
> dengan sebutan subprime
> mortgage terjadi karena adanya kompetisi yang sangat
> ketat dalam hal
> penyaluran kredit perumahan (KPR). Industri properti
> di sono booming selama
> tahun 2002-2005 (cmiiw). minan orang sono buat beli
> properti sangat tinggi.
> nah, karena yg memasarkan KPR ada banyak perusahaan,
> maka terjadilah
> persaingan diantara merek untuk bisa mendapatkan
> debitur sebanyak mungkin
> tanpa mempertimbangkan resiko yg ada.
> 
> sekedar buat pengetahuan (ini berdasarkan pengalaman
> waktu gue sma disono,
> hehehe), disono, utk mendapat kredit, orang akan
> mendapat credit score yang
> dikeluarkan oleh lembaga credit scoring. semakin
> rendah nilainya, maka
> semakin tidak layak org tersebut mendapat kredit.
> tapi karena persaingan,
> akhirnya kredit score ini diabaikan. pokoke siapa
> ajah yg ngajuin kredit
> disetujuin.
> 
> yang jadi masalah adalah, kredit yg disalurkan tsb
> menggunakan sistem bunga
> seperti yg sekarang banyak ditawarkan oleh bank2 di
> indon.. yaitu satu tahun
> pertama dengan fix rate, selanjutnya floating rate.
> biasanya, memasuki tahun
> kedua, maka jumlah cicilan meningkat secara
> signifikan sehingga banyak
> debitur yg gagal bayar. kondisi ini diperburuk
> dengan menurunnya sektor
> properti disono.. harga rumah turun dan suku bunga
> naik. karena buanyak
> buangat yg macet, terjadilah krisis finansial disono
> yg disebut dengan subprime
> mortgage, sesuai dengan namanya, subprime mortgage
> loan.
> 
> nah, di indon, hal yg sama juga sangat mungkin
> terjadi.. ambil contoh di
> kredit motor. hanya dg 200K (bahkan ada yg gratis)
> bisa bawa pulang motor.
> coba ajah cek ke sekeliling rumah, ada brapa banyak
> tetangga anda yg ngambil
> kredit motor? apakah menurut anda mereka sumua
> sanggup membayar cicilan
> dengan baik? coba juga cek di depan tol bekasi
> timur? ada brapa banyak
> tukang ojeknya? hampir semua motor yg dgunakan
> adalah motor yang masih
> kredit? (tanpa bermaksud merendahkan) apa mereka
> semua itu pasti bisa
> membayar cicilannya? coba cek di ruko robinson. ada
> brapa banyak motor yg
> ditarik kembali oleh fif krn debiturnya gak bisa
> bayar? coba juga cek harga
> motor second. apakah harganya naik?
> 
> kira2 kek gitu bro yg ane tau.. mungkin ada yg lbh
> menguasai, monggo.....
> 
> 
> On 3/31/08, komarudin ibnu mikam
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   brother Opik,
> >
> > tolong dun loe jelasin apa yang terjadi dengan USA
> dengan krisis
> > financialnya. Gimana dengan kita?
> >
> > thanks bro!
> >
> >  
> >
> 
> 
> 
> -- 
> OpiK
> http://taufiek.wordpress.com
> 



      
____________________________________________________________________________________
Special deal for Yahoo! users & friends - No Cost. Get a month of Blockbuster 
Total Access now 
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text3.com

Kirim email ke