GURUKU TERSAYANG
 
Punya guru favorit? Guru waktu SD, SMP atau SMA? Siapa
gerangan kah beliau? 
 
Dulu pernah ada voting di milis SMA, pemenang guru
favoritnya adalah Bu Heni. Beliau guru matematika, hebat euy… ada guru
matematika jadi favorit. Mengapa jadi favorit? Karena Bu Heni ini enak kalau
ngajar (kayaknya matematik jadi lebih gampang deh), nggak galak, cantik, dan
paling hobi menyemangati dan memotivasi murid-muridnya. Bersyukur kelas saya
dulu sempat diajar beliau, jadi begitu nama bu Heni disebut-sebut dalam bursa
guru favorit, langsung kebayang gimana saat dulu dia mengajar…
 
Waktu SMP guru favorit saya guru matematika juga. Pak
Handono namanya. Belajar matematika jadi menarik, seru, karena beliau juga hobi
bercerita. Macam-macam ceritanya. Saking suka bercerita, saya sampai nggak
terlalu inget sebenarnya kalau dia ini guru matematika atau apa :D. Gara-gara 
kedua guru
matematik yang seru ini, pelajaran matematika bukan lagi momok yang menakutkan
(meski nilai matematik saya tetep standar-standar saja…hehehe).
 
Waktu SD, guru favorit saya adalah guru IPS dan guru IPA.
Dua-duanya laki-laki, dan sama-sama menyenangkan. Mereka bagai seorang Bapak di
sekolah. Tidak pernah marah, cuma menasehati. Kalau pun marah, marahnya nggak
beneran. Guru IPS saya ini (yang pernah jadi wali kelas waktu kelas 2?) juga
senang bercerita. Semua disampaikan dengan cara seperti mendongeng. Soal
sejarah Indonesia sampai ASEAN. Dari peta buta sampai menghapal singkatan. Dari
dia kami belajar mengenal nama-nama negara, dan tempat-tempat bersejarah di
dunia.
 
Guru IPS ini juga yang sempat memboncengkan saya di sepeda
onthelnya. Menempuh jarak belasan kilometer, ke arena pertandingan PORSENI
tingkat SD. Beruntung kami menang, pulang membawa piala dan bahagia rasanya
melihat beliau bangga.
 
Guru IPA beda lagi. Ia memperlakukan kami tidak seperti
anak-anak (padahal anak SD), jadi kami merasa dihargai. Orangnya serius, tapi
santai. Jarang becanda, tapi tidak pernah membuat kami suntuk. Nggak tau tuh
gimana caranya. Pendekatan personalnya bagus, semua murid jadi merasa istimewa.
Kendaraan beliau bukan sepeda onthel, melainkan sekuter. Saat kami mengikuti
lomba cerdas cermat tingkat propinsi, beliau salah satu guru yang mengantar ke
lokasi lomba menempuh jarak puluhan kilometer. Sayangnya kalah. Habis 
‘jagoan’nya
mabok, masuk angin sih…:p Meski kalah kami ditraktir, makan-makan di restoran.
Tak tersirat sedikitpun kekecewaan dari wajah beliau  (beliau ini satu-satuya 
guru yang menggembleng kami mati-matian mempersiapkan lomba), padahal kami 
(yang waktu
itu bertiga) sedih banget rasanya. Hiks...
 
Hmm, begitu denger lagu “Guruku tersayang” – yang pernah
mengiringi episode Laskar Pelangi di Kick Andy (yang menghadirkan Bu Muslimah),
rasanya memang tidak berlebihan puja dan pujian itu.
 
 ***
Pagiku cerahku
Matahari bersinar
Kugendong tas merahku
Di pundak…
 
Slamat pagi semua
Kunantikan dirimu
Di depan kelasmu
Menantikan kami
 
Guruku tersayang
Guruku tercinta
Tanpamu apa jadinya aku
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal
Guruku, terima kasihku
 
Nyatanya diriku, kadang buatmu marah
Namun segala maaf kau berikan…
 
***
 
Kalau mau tau lagunya kayak apa, bisa di dengar di blog
ini http://mywritten.multiply.com/reviews/item/183 siapa tau mau mengajari si 
kecil menyanyi? ;)
 
Have a nice day!



      

Kirim email ke