Dari                  : Mida di Jaka Sampurna
Request           : Andra & The Backbone “Hitamku” 
 
Mpok Nadiah, aku lagi pusing deh. Udah tiga kali aku punya pacar, tapi 
ujung-ujungnya putus juga. Alasannya, yang pertama karena belum siap. Yang 
kedua, gara-gara orangtuanya minta aku berhenti bekerja. Yang ketiga karena 
suku; cowokku beda suku dan ibunya pengen calonnya sama suku. Sekarang aku 
punya seorang lagi dan aku sebetulnya sayang banget sama dia. Dari segi 
kepribadian boleh lah. Cuma ada satu prinsipnya yang nggak bisa aku terima. Dia 
maunya poligami, sedangkan aku monogami. Dalam hati jadi timbul konflik. Di 
satu sisi aku pengen bilang, ”no way, kita putus saja,” tapi di sisi lain hati 
pengen terus menjalani. Apalagi, dia seorang dokter, yang boleh dibilang masa 
depan cerah lah. Dan menurut dia aku pasti bisa menjalani poligami asalkan aku 
menguatkan hati. Duh, jadinya, gimana dunx. Apa sebaiknya aku nyerah saja soal 
cinta atau aku pertahankan karena cinta? Please kasih masukan yah.
 
 
Jawaban:
Buat Mpok Mida di Jaka Sampurna yang lagi pusing, yang namanya manusia sudah 
pasti pengen deket sama seseorang. Kita butuh kasih sayang, baik untuk 
mengasihi maupun dikasihi. Cuma, dalam urusan kasih sayang ini kita perlu 
hati-hati. Jangan sampai menyesal kemudian. Nah, buat Mpok Mida dan seluruh 
Sahabatku. Ada beberapa hal yang perlu Sahabat pertimbangkan dalam menjalin dan 
mempertahankan sebuah hubungan, yaitu: 
 
1. Pilihlah pasangan dengan akal sehat. Biasanya kita tertarik pada seseorang 
karena alasan-alasan tertentu. Mungkin dia mirip seseorang di masa lalu, 
mungkin dia memberi kita banyak hadiah, atau dia bikin kita merasa penting dan 
diperhatikan. Apapun alasannya, sebaiknya kita sungguh-sungguh mengevaluasi si 
dia seperti layaknya kita memilih sahabat, mulai dari karakternya, nilai-nilai 
yang dianutnya, kemurahan hatinya untuk berbagi semangat, hubungan antara 
ucapan dan tindakannya, dan hubungan dia dengan yang lainnya. Pernah denger kan 
istilah “pacarku, sahabatku”? Yah, memang nggak mesti selalu begitu karena 
kalau jadi sahabat dulu kadang ujung-ujungnya tetap di zona sahabat. Yang 
pasti, kita perlu mengenal si dia luar-dalam. Maksud lo? Weits, jangan salah 
sangka dulu. Maksudnya, kita perlu memahami sifat-sifatnya, apakah bisa kita 
terima atau nggak, terus bisa bikin kita nyaman atau nggak. 
 
2. Sebisa mungkin Sahabat mengetahui bagaimana pasangan mengartikan sebuah 
hubungan. Beda orang pasti beda keyakinan dan pengalamannya. Dalam kasusnya 
Mpok Mida, belum jadi suami saja sudah minta poligami. Hm, ini bikin tanda 
tanya. Mpok Mida dilihat seperti apa ya dalam sudut pandangnya? Tentu saja ini 
sesuatu yang prinsipil. Kalau kita merasa kurang sreg dengan itu, pertimbangkan 
terlebih dahulu perasaan Mpok. Ingat, kebahagiaan itu berasal dari lubuk 
hati. Kalau Mpok nggak bahagia, maka Mpok bakal merasa sengsara. Kalau 
Mpok sengsara, bahkan orangtua dan sahabat terdekat pun takkan bisa menolong 
Mpok. 
 
3. Otomatis, itu berarti, Mpok dan Sahabatku perlu tahu bener apa yang Mpok dan 
Abang rasakan dan inginkan! Karena hubungan cinta bukan permainan (jadi ingat 
lagu Gita Gutawa nih). Dari pengalaman sih, Nadiah sering lihat banyak teman 
yang takut buat mengungkapkan apa yang dirasakan atau diinginkannya. Akibatnya, 
mereka jadi merasa kecewa bahkan marah karena pasangan kayaknya nggak ngerti 
banget sama keinginan mereka. Makanya, honey, kejujuran kudu musti harus jadi 
landasan sebuah hubungan. Karena pasangan kita bukan paranormal,  Ketimbang 
kita nyeletuk “Kenapa sih kamu nggak ngertiin aku banget?” mendingan kita 
ngomong langsung. Bahas unek-uneknya sampai tuntas. Jangan sampai kita 
mengira-ngira dan berandai-andai. Pokoknya hajar aja, bleh. Tanya, tanya, 
tanya. Diskusi, diskusi, diskusi. Jangan biarkan masalah numpuk, apalagi 
berlarut-larut. Kesalahan terbanyak yang bikin hubungan antarpasangan rusak 
adalah perasaan – perasaan terluka sampai
 ujung-ujungnya kita jadi defensif, bahkan nggak jarang malah jadi musuhan.
 
4. Hormat, hormat, hormat. Ini penting banget dalam mempertahankan hubungan 
cinta, baik dengan pasangan maupun teman. Sayangnya, kita sering lupa, bahkan 
menganggapnya sebagai hal yang sepele saja. Nah, Sahabat, jangan sampai nih 
kita kehilangan rasa hormat kepada pasangan, apalagi kehilangan kehormatan di 
tengah jalannya. Memang kita punya kecenderungan pengen jaim dan paling kuasa. 
Tapi, dalam hubungan yang baik, kita dan si dia sama sama berkuasa dilandasi 
saling menghormati dan percaya. Khusus buat Mpok Mida, gimana? Ada nggak rasa 
hormat si Abang ke ente? Kalo kagak hormat, mending dipertegas kalo ente 
sebagai perempuan juga punya harga diri dan dan pantas dihormati.  
 
5. Dengan kata lain, Mpok dan Abang sama-sama unik, punya harga diri, dan 
terhormat. Makanya, kita kudu melihat diri kita sama pacar atau suami sebagai 
satu tim. Dan ini yang mesti jadi nilai lebih dari Mpok dan Abang, jangan 
sampai timpang. Ada pepatah yang bilang, “cintai diri sendiri dulu, baru orang 
lain”, itu memang ada benarnya. Tapi, dalam berpasangan, hubungan perlu 
ditekankan karena jelas butuh dua orang dalam satu hubungan.
 
6. Mengerti bagaimana caranya mengatasi perasaan dan perilaku negatif terhadap 
pasangan. Ingat-ingat nih. Perasaan dan perilaku negatif bisa menjadi awal dari 
bencana, termasuk di dalamnya nih sikap menghindar. Jadi, coba deh. Meskipun 
terkadang sulit, memaksakan kehendak tanpa mendengar pendapat pasangan adalah 
sebuah kesalahan, dan kalau kita mengambil sikap pasrah alias terima-terima 
saja, meskipun dengan niat baik tapi disertai perasaan negatif yang mengganjal, 
pada akhirnya bisa menjadi pemicu rasa dendam. Maka, kuncinya dengarkan dan 
amatilah pasangan baik-baik dengan penuh empati. Lalu bicaralah! Bicaralah apa 
adanya sesuai kata hati. 
 
7. Menjaga hubungan butuh kerja keras bersama. Yang namanya hubungan yang 
hangat itu nggak terjadi dengan sendirinya. Biasanya pada masa absen atau 
vakum, mungkin karena kesibukan atau hal lain, orang cenderung menjauh, bahkan 
potensial terlibat cinlok alias affair sama orang lain yang lebih dekat. 
Makanya, perlu Sahabat ingat-ingat. Sebuah hubungan yang baik bukanlah sebuah 
tujuan, melainkan sebuah proses seumur hidup yang perlu dijaga dengan perhatian 
yang khusus dan teratur. Ambisi memang bagus dan perlu biar kita bisa terus 
maju. Tetapi ambisi yang kelewat kaku bukan cuma bisa merusak sebuah hubungan, 
tapi juga merusak kehidupan itu sendiri.
 
8. Merencanakan jauh ke depan. Sebuah hubungan tentu ingin berakhir dengan 
kebahagiaan. Ibarat cerita Cinderela, akhirnya adalah hidup bersama dalam suka 
dan duka hingga maut menjelang dan memisahkan kita. Pernikahan merupakan sebuah 
perjanjian untuk menjalani masa depan bersama. Sekarang coba bicarakan 
rencanamu dan rencananya secara terbuka untuk memastikan kalian berada di jalan 
yang sama. Kalau ada perubahan dalam rencana Mpok dan Abang, biasakan buat 
memberitahu pasangan Anda. Kalau ternyata memang tidak sejalan, mumpung belum 
kawin, mungkin bisa diatur kembali biar sejalan. Dan kalau benar-benar nggak 
sejalan, sudahlah. Berarti mungkin belum jodoh.
 
Sebagai penutup, selalulah ingat: Jangan pernah putus asa karena jika cinta 
tidak dapat mengembalikan kekasih hati kepadamu dalam kehidupan ini, pastilah 
cinta dapat menyatukanmu dengannya dalam kehidupan nanti.
 
(Sumber: Biawak dengan berbagai pertimbangan pribadi; Nadiah Abidin, 6 November 
2008, 09:00 WIB, buat materi siaran Melati Bhagasasi dan menjawab pertanyaan 
seorang Sahabat yang namanya disamarkan)


      

Kirim email ke