dari info ini, satu hal kayaknya info yang diberikan ke gue. rada-rada bener ya.
target 16000 barel realisasinya hanya 3600 bareal. Gak jauh lag...dari 2000

--- On Sat, 11/15/08, komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [sma1bks] Kompas, mengenai produksi Lapangan Tengah, Babelan Bekasi
To: [email protected]
Date: Saturday, November 15, 2008, 1:55 AM






  
Krisis Energi
Kinerja Ekonomi 2008 Terancam Harga Minyak 

Doty Damayanti 
Akhirnya terjadi juga. Harga minyak menembus tiga digit. Mengawali tahun 2008, 
spekulan pasar minyak langsung berulah dengan melakukan aksi ambil untung yang 
mengakibatkan harga komoditas itu menembus 100 dollar AS per barrel pada Rabu 
(2/1). Hal itu terjadi karena kombinasi berbagai faktor fundamental. 
Kombinasi faktor fundamental itu adalah perkiraan meningkatnya permintaan 
minyak oleh Amerika Serikat (AS), faktor geopolitis gangguan keamanan di 
negara-negara pengekspor minyak Timur Tengah dan Afrika, plus melemahnya mata 
uang AS, menjadi pendorong melejitnya harga minyak dunia. 
Meskipun kemudian harga kembali turun ke level 99 dollar AS per barrel, 
tembusnya angka psikologis 100 dollar AS menjadi peringatan serius bagi semua 
negara yang ekonominya bergantung pada minyak. Instansi yang bertanggung jawab 
atas pengelolaan energi mendapat sorotan serius karena sektor ini menjadi 
penopang sekaligus pembeban keuangan negara. 
Di satu sisi, sektor energi menyumbang 27 persen penerimaan negara. Namun, di 
sisi lain pengeluaran yang dikeluarkan untuk subsidi bahan bakar minyak dan 
listrik juga sama besar. 
Dari sisi penerimaan, patokan lifting 1,034 juta barrel yang diusulkan 
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja 
Negara (APBN) 2008 membuat kebat-kebit Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. 
Saat berbicara dalam pertemuan para pelaku industri energi di penghujung 
Desember 2007, Menkeu mengatakan, pihaknya adalah salah satu menteri yang 
memohon kepada Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro agar target itu diturunkan. 
Sebab, seluruh perhitungan penerimaan negara bergantung pada hitungan angka 
lifting itu. 
Upaya peningkatan produksi 
Keraguan Menkeu sangat beralasan melihat realisasi lifting minyak mentah tahun 
2007 meleset jauh di bawah sasaran. Depkeu menghitung angka lifting 899.000 
barrel, sementara Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas 906.000 barrel. 
Sementara, upaya menambah produksi secara riil melalui kenaikan produksi di 
lapangan-lapangan yang sudah ada maupun lapangan baru belum jelas. 
Departemen ESDM memang telah mengantongi tambahan 50.000 barrel dengan 
memasukkan bagian produksi minyak Chevron Pacific Indonesia yang selama ini 
dihitung sebagai pemakaian sendiri. 
Dengan begitu, maka tak ada lagi perbedaan angka lifting dan produksi. Namun, 
sebagaimana diakui Kepala BP Migas Kardaya Warnika, mekanisme penambahan 50.000 
barrel ke kas negara itu masih dalam pembahasan. 
Apabila dihitung sebagai kewajiban memenuhi kebutuhan di dalam negeri, harga 
minyak Chevron akan dibeli murah. 
Kalaupun dengan tambahan 50.000 barrel itu, produksi menjadi sekitar 960.000 
barrel, masih ada kekurangan sekitar 74.000 barrel. Sudah waktunya Departemen 
ESDM dan BP Migas berhenti menggembar-gemborka n produksi dari Blok Cepu dan 
lapangan Pondok Tengah. 
Faktanya, komite kerja sama pengelolaan Blok Cepu pun pesimis, pembebasan tanah 
bisa dilakukan untuk memenuhi target berproduksi pada kuartal III-2008. 
Apa artinya jika minyak dari Cepu baru mengucur di penghujung Desember dengan 
jumlah hanya 10.000 barrel? Sementara lapangan Pondok Tengah, dari target 
produksi 16.000 barrel tahun 2007, hanya terealisasi 3.500 barrel. 
Upaya meningkatkan produksi bertambah berat karena data BP Migas menunjukkan 
tahun 2007 banyak lapangan minyak yang justru mengalami penurunan produksi, 
seperti Lapangan Belanak dan West Seno. 
Tidak mungkin BBM naik 
Pemerintah sebagaimana janjinya, kemungkinan besar tidak akan mengambil 
kebijakan menaikkan harga minyak secara terang-terangan sebagaimana yang 
dilakukan tahun 2005 ketika harga minyak mencapai 60 dollar AS. Kenaikan harga 
bakal picu inflasi dan dampak sosial. 
Meskipun demikian, tetap diperlukan upaya menekan subsidi. Kalau harga minyak 
sepanjang 2008 rata-rata 100 dollar AS, subsidi BBM diperkirakan bakal melonjak 
dari Rp 45,8 triliun menjadi Rp 170,7 triliun. 
Sementara PT Perusahaan Listrik Negara menghitung ketika harga minyak rata-rata 
80 dollar AS, kebutuhan subsidi listrik membengkak dari Rp 31 triliun menjadi 
Rp 68 triliun. 
Seefektif apa upaya untuk menekan subsidi BBM yang dilakukan dengan mengurangi 
subsidi minyak tanah melalui program pengalihan ke gas elpiji? 
Dengan disparitas harga minyak tanah subsidi dan harga pasar Rp 4.000 per 
liter, besarnya subsidi untuk volume 8 juta kiloliter minyak tanah Rp 32 
triliun. 
Tahun 2007, program konversi tak bisa mencapai target yang ditetapkan dalam 
APBN karena tidak matangnya perencanaan. Dari target pendistribusian 6 juta 
unit tabung dan kompor, yang tersalurkan hanya setengahnya. 
Berarti kekurangan itu menjadi tambahan dalam target pendistribusian tahun 
2008. Pemerintah menetapkan target pendistribusian tabung elpiji tahun ini 12 
juta unit. Sementara hitungan subsidi yang bisa dihemat mencapai Rp 16 triliun. 
Apakah target itu bisa dicapai? Faktanya, Pertamina masih kelimpungan mencari 4 
juta unit tabung. Belum bisa dipastikan apakah produsen dalam negeri bisa 
menyediakannya. 
Disparitas harga yang semakin melebar antara bahan bakar yang disubsidi dan 
nonsubsidi terus-menerus menjadi sasaran penyalahgunaan. 
Fenomena antrean minyak tanah di sejumlah wilayah Jakarta, Tangerang, dan 
Bandung dalam sepekan ini tidak lepas dari hal itu. Lemahnya mekanisme 
pengawasan dari Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas maupun PT Pertamina 
mengakibatkan minyak tanah disalahgunakan. 
Apalagi dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang sekarang dilakukan tiap 
dua minggu. Harga BBM nonsubsidi jadi sangat fluktuatif. Langkah lain yang 
kemungkinan akan diambil pemerintah untuk menekan subsidi adalah pembatasan 
premium. Namun, langkah ini juga diragukan keefektifannya. 
Dengan target pengalihan 2 juta kiloliter, penghematan yang bisa didapat hanya 
Rp 6 triliun sementara dampak sosial yang ditimbulkan jauh lebih besar. 
Sebenarnya pemerintah bisa menempuh cara lain untuk menekan subsidi, yaitu 
dengan menekan margin keuntungan dalam pendistribusian BBM bersubsidi. 
Subsidi BBM dengan menggunakan patokan harga mean of platts Singapore (MOPS) 
plus alfa dengan persentase bakal memberatkan pemerintah. 
APBN 2008 mematok alfa 13,5 persen dari angka MOPS. Misalkan harga MOPS minyak 
tanah 115 dollar AS, maka alfa yang dibayarkan 15,25 dollar AS. Padahal, biaya 
distribusi BBM bisa ditetapkan per wilayah niaga. 
Biaya distribusi untuk wilayah Jawa tentunya lebih murah daripada Sulawesi. Hal 
lain yang perlu diperhatikan dalam penyediaan BBM subsidi adalah proses 
pengadaan melalui impor. 
Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian 
BBM Jenis Tertentu menjadi legitimasi bagi Pertamina untuk melakukan impor BBM 
karena produksi kilang tidak mencukupi. Untuk mencukupi kebutuhan BBM, setiap 
hari Pertamina impor sekitar 300.000 barrel produk BBM. 
Mengapa Pertamina tidak menambah kapasitas kilang untuk mengurangi 
ketergantungan atas impor? Pertanyaan yang bertahun-tahun selalu dijawab dengan 
pernyataan klise, rendahnya margin kilang dan mahalnya biaya pembangunan kilang 
baru. 
Selama pertanyaan-pertanya an itu tidak terjawab, sulit bagi kita untuk bisa 
menghadapi fluktuasi harga minyak dunia. Tahun 2008 akan menjadi tahun bahaya 
bagi perekonomian Indonesia.  














      

Kirim email ke