uang rakyat? hmmm.... kalo kate politisi mah rakyat yg mana dulu? :p

2008/11/15 komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]>

>   he..he...he...
> wah, gawat kalo mindset kayak gitu pik....
> bagaimanapun itu uang rakyat kan?
> weleh...weleh..weleh.....
>
> Alesan yang sempet gue denger seh, ternyata minyak yang ada tdak sama
> dengan yang diprediksi....tapi juga gue gak detil ya...prediksi yang gimana,
> dapet yang gimana.
>
> persoalannya mungkin, kalao untung diem aza. kalo rugi baru dikasih  tahu
> orang lain...
>
> he..he...he...just kidding ya...soalnya gue juga gak punya data....
>
>
> 2008/11/15 Taufik Hidayat <[EMAIL PROTECTED]>
>
>    kek kate pepatah om komar, "gantungkan cita-cita mu setinggi langit".
>>
>> pokoke target hrs tinggi, perkara gak kesampean, kan tinggal cari alesan,
>> toh lidah tak bertulang. lagian pshnnya juga gak ada yg punya, jadi gak ada
>> yg ngomelin. coba kalo swasta yg kek gitu, misalnya medco (ini asal sebut
>> aja yah), bisa ngamuk2 tuh arifin panigoro, secara itu pake duit dia
>> ngebornya. kalo ari sumarno kan gak gitu mikirnya. dia pasti mikir, sebagus
>> apa pun kinerja gue, kalo atasan gue di ganti, gue pasti diganti kok, jadi
>> dia gak ambil pusing soal pencapaian yg jauh dibawah target.
>>
>> Taufik
>> http://taufiek.wordpress.com
>> send by Samsung SGH i780
>>
>>
>> -----Original Message-----
>> From: komar udin <[EMAIL PROTECTED] <komaibnumikam%40yahoo.com>>
>> Sent: Saturday, November 15, 2008 2:07 AM
>> To: [email protected] <sma1bks%40yahoogroups.com> <
>> [email protected] <sma1bks%40yahoogroups.com>>
>> Subject: Re: [sma1bks] Kompas, mengenai produksi Lapangan Tengah, Babelan
>> Bekasi
>>
>> dari info ini, satu hal kayaknya info yang diberikan ke gue. rada-rada
>> bener ya.
>> target 16000 barel realisasinya hanya 3600 bareal. Gak jauh lag...dari
>> 2000
>>
>> --- On Sat, 11/15/08, komarudin ibnu mikam <[EMAIL 
>> PROTECTED]<komaribnumikam%40gmail.com>>
>> wrote:
>>
>> From: komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]<komaribnumikam%40gmail.com>
>> >
>> Subject: [sma1bks] Kompas, mengenai produksi Lapangan Tengah, Babelan
>> Bekasi
>> To: [email protected] <sma1bks%40yahoogroups.com>
>> Date: Saturday, November 15, 2008, 1:55 AM
>>
>> Krisis Energi
>> Kinerja Ekonomi 2008 Terancam Harga Minyak
>>
>> Doty Damayanti
>> Akhirnya terjadi juga. Harga minyak menembus tiga digit. Mengawali tahun
>> 2008, spekulan pasar minyak langsung berulah dengan melakukan aksi ambil
>> untung yang mengakibatkan harga komoditas itu menembus 100 dollar AS per
>> barrel pada Rabu (2/1). Hal itu terjadi karena kombinasi berbagai faktor
>> fundamental.
>> Kombinasi faktor fundamental itu adalah perkiraan meningkatnya permintaan
>> minyak oleh Amerika Serikat (AS), faktor geopolitis gangguan keamanan di
>> negara-negara pengekspor minyak Timur Tengah dan Afrika, plus melemahnya
>> mata uang AS, menjadi pendorong melejitnya harga minyak dunia.
>> Meskipun kemudian harga kembali turun ke level 99 dollar AS per barrel,
>> tembusnya angka psikologis 100 dollar AS menjadi peringatan serius bagi
>> semua negara yang ekonominya bergantung pada minyak. Instansi yang
>> bertanggung jawab atas pengelolaan energi mendapat sorotan serius karena
>> sektor ini menjadi penopang sekaligus pembeban keuangan negara.
>> Di satu sisi, sektor energi menyumbang 27 persen penerimaan negara. Namun,
>> di sisi lain pengeluaran yang dikeluarkan untuk subsidi bahan bakar minyak
>> dan listrik juga sama besar.
>> Dari sisi penerimaan, patokan lifting 1,034 juta barrel yang diusulkan
>> Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dalam Anggaran Pendapatan dan
>> Belanja Negara (APBN) 2008 membuat kebat-kebit Menteri Keuangan Sri Mulyani
>> Indrawati.
>> Saat berbicara dalam pertemuan para pelaku industri energi di penghujung
>> Desember 2007, Menkeu mengatakan, pihaknya adalah salah satu menteri yang
>> memohon kepada Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro agar target itu diturunkan.
>> Sebab, seluruh perhitungan penerimaan negara bergantung pada hitungan angka
>> lifting itu.
>> Upaya peningkatan produksi
>> Keraguan Menkeu sangat beralasan melihat realisasi lifting minyak mentah
>> tahun 2007 meleset jauh di bawah sasaran. Depkeu menghitung angka lifting
>> 899.000 barrel, sementara Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Migas 906.000
>> barrel.
>> Sementara, upaya menambah produksi secara riil melalui kenaikan produksi
>> di lapangan-lapangan yang sudah ada maupun lapangan baru belum jelas.
>> Departemen ESDM memang telah mengantongi tambahan 50.000 barrel dengan
>> memasukkan bagian produksi minyak Chevron Pacific Indonesia yang selama ini
>> dihitung sebagai pemakaian sendiri.
>> Dengan begitu, maka tak ada lagi perbedaan angka lifting dan produksi.
>> Namun, sebagaimana diakui Kepala BP Migas Kardaya Warnika, mekanisme
>> penambahan 50.000 barrel ke kas negara itu masih dalam pembahasan.
>> Apabila dihitung sebagai kewajiban memenuhi kebutuhan di dalam negeri,
>> harga minyak Chevron akan dibeli murah.
>> Kalaupun dengan tambahan 50.000 barrel itu, produksi menjadi sekitar
>> 960.000 barrel, masih ada kekurangan sekitar 74.000 barrel. Sudah waktunya
>> Departemen ESDM dan BP Migas berhenti menggembar-gemborka n produksi dari
>> Blok Cepu dan lapangan Pondok Tengah.
>> Faktanya, komite kerja sama pengelolaan Blok Cepu pun pesimis, pembebasan
>> tanah bisa dilakukan untuk memenuhi target berproduksi pada kuartal
>> III-2008.
>> Apa artinya jika minyak dari Cepu baru mengucur di penghujung Desember
>> dengan jumlah hanya 10.000 barrel? Sementara lapangan Pondok Tengah, dari
>> target produksi 16.000 barrel tahun 2007, hanya terealisasi 3.500 barrel.
>> Upaya meningkatkan produksi bertambah berat karena data BP Migas
>> menunjukkan tahun 2007 banyak lapangan minyak yang justru mengalami
>> penurunan produksi, seperti Lapangan Belanak dan West Seno.
>> Tidak mungkin BBM naik
>> Pemerintah sebagaimana janjinya, kemungkinan besar tidak akan mengambil
>> kebijakan menaikkan harga minyak secara terang-terangan sebagaimana yang
>> dilakukan tahun 2005 ketika harga minyak mencapai 60 dollar AS. Kenaikan
>> harga bakal picu inflasi dan dampak sosial.
>> Meskipun demikian, tetap diperlukan upaya menekan subsidi. Kalau harga
>> minyak sepanjang 2008 rata-rata 100 dollar AS, subsidi BBM diperkirakan
>> bakal melonjak dari Rp 45,8 triliun menjadi Rp 170,7 triliun.
>> Sementara PT Perusahaan Listrik Negara menghitung ketika harga minyak
>> rata-rata 80 dollar AS, kebutuhan subsidi listrik membengkak dari Rp 31
>> triliun menjadi Rp 68 triliun.
>> Seefektif apa upaya untuk menekan subsidi BBM yang dilakukan dengan
>> mengurangi subsidi minyak tanah melalui program pengalihan ke gas elpiji?
>> Dengan disparitas harga minyak tanah subsidi dan harga pasar Rp 4.000 per
>> liter, besarnya subsidi untuk volume 8 juta kiloliter minyak tanah Rp 32
>> triliun.
>> Tahun 2007, program konversi tak bisa mencapai target yang ditetapkan
>> dalam APBN karena tidak matangnya perencanaan. Dari target pendistribusian 6
>> juta unit tabung dan kompor, yang tersalurkan hanya setengahnya.
>> Berarti kekurangan itu menjadi tambahan dalam target pendistribusian tahun
>> 2008. Pemerintah menetapkan target pendistribusian tabung elpiji tahun ini
>> 12 juta unit. Sementara hitungan subsidi yang bisa dihemat mencapai Rp 16
>> triliun.
>> Apakah target itu bisa dicapai? Faktanya, Pertamina masih kelimpungan
>> mencari 4 juta unit tabung. Belum bisa dipastikan apakah produsen dalam
>> negeri bisa menyediakannya.
>> Disparitas harga yang semakin melebar antara bahan bakar yang disubsidi
>> dan nonsubsidi terus-menerus menjadi sasaran penyalahgunaan.
>> Fenomena antrean minyak tanah di sejumlah wilayah Jakarta, Tangerang, dan
>> Bandung dalam sepekan ini tidak lepas dari hal itu. Lemahnya mekanisme
>> pengawasan dari Badan Pengatur Kegiatan Hilir Migas maupun PT Pertamina
>> mengakibatkan minyak tanah disalahgunakan.
>> Apalagi dengan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang sekarang dilakukan
>> tiap dua minggu. Harga BBM nonsubsidi jadi sangat fluktuatif. Langkah lain
>> yang kemungkinan akan diambil pemerintah untuk menekan subsidi adalah
>> pembatasan premium. Namun, langkah ini juga diragukan keefektifannya.
>> Dengan target pengalihan 2 juta kiloliter, penghematan yang bisa didapat
>> hanya Rp 6 triliun sementara dampak sosial yang ditimbulkan jauh lebih
>> besar.
>> Sebenarnya pemerintah bisa menempuh cara lain untuk menekan subsidi, yaitu
>> dengan menekan margin keuntungan dalam pendistribusian BBM bersubsidi.
>> Subsidi BBM dengan menggunakan patokan harga mean of platts Singapore
>> (MOPS) plus alfa dengan persentase bakal memberatkan pemerintah.
>> APBN 2008 mematok alfa 13,5 persen dari angka MOPS. Misalkan harga MOPS
>> minyak tanah 115 dollar AS, maka alfa yang dibayarkan 15,25 dollar AS.
>> Padahal, biaya distribusi BBM bisa ditetapkan per wilayah niaga.
>> Biaya distribusi untuk wilayah Jawa tentunya lebih murah daripada
>> Sulawesi. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyediaan BBM subsidi
>> adalah proses pengadaan melalui impor.
>> Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan
>> Pendistribusian BBM Jenis Tertentu menjadi legitimasi bagi Pertamina untuk
>> melakukan impor BBM karena produksi kilang tidak mencukupi. Untuk mencukupi
>> kebutuhan BBM, setiap hari Pertamina impor sekitar 300.000 barrel produk
>> BBM.
>> Mengapa Pertamina tidak menambah kapasitas kilang untuk mengurangi
>> ketergantungan atas impor? Pertanyaan yang bertahun-tahun selalu dijawab
>> dengan pernyataan klise, rendahnya margin kilang dan mahalnya biaya
>> pembangunan kilang baru.
>> Selama pertanyaan-pertanya an itu tidak terjawab, sulit bagi kita untuk
>> bisa menghadapi fluktuasi harga minyak dunia. Tahun 2008 akan menjadi tahun
>> bahaya bagi perekonomian Indonesia.
>>
>>
>
>
> --
> Komarudin Ibnu Mikam
> WTS - Writer Trainer Speaker
> komarmikam.multiply.com
> 0818721014
> karya-karya ;
> sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
> prahara buddenovsky (GIP)
> dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
> sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
> nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
> merit yuk! (qultum media)
> rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)
>
>  
>



-- 
Kurniawan

Kirim email ke