----- Forwarded Message ----
From: Octavianus Stephen <[EMAIL PROTECTED]>
To: ami <[EMAIL PROTECTED]>; andry <[EMAIL PROTECTED]>; fian arfiansyah <[EMAIL
PROTECTED]>; aris <[EMAIL PROTECTED]>; My luvLy BabY... <[EMAIL PROTECTED]>;
grace barus <[EMAIL PROTECTED]>; Ariesta Batubara <[EMAIL PROTECTED]>; bayu
<[EMAIL PROTECTED]>; wisnu boediono <[EMAIL PROTECTED]>; jon bogel <[EMAIL
PROTECTED]>; Dito <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
wayan gila <[EMAIL PROTECTED]>; gilles marx <[EMAIL PROTECTED]>; grant <[EMAIL
PROTECTED]>; ary hambali <[EMAIL PROTECTED]>; Hansye Rudolf <[EMAIL
PROTECTED]>; putra irawan <[EMAIL PROTECTED]>; irma <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL
PROTECTED]; kaFF <[EMAIL PROTECTED]>; kuff <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL
PROTECTED]; aji martoyo <[EMAIL PROTECTED]>; njut <[EMAIL PROTECTED]>; ocha
<[EMAIL PROTECTED]>; Francisca Pratiwi <[EMAIL PROTECTED]>; robin <[EMAIL
PROTECTED]>;
rosa <[EMAIL PROTECTED]>; samir <[EMAIL PROTECTED]>; bunga sirait <[EMAIL
PROTECTED]>; Arif Suprapto <[EMAIL PROTECTED]>; t' katrin <[EMAIL PROTECTED]>;
Hanna Tante <[EMAIL PROTECTED]>; Theresia Dyah Utami <[EMAIL PROTECTED]>;
vevesh <[EMAIL PROTECTED]>; wiwiek <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, November 25, 2008 7:38:38 AM
Subject: Trs: Rakyat tetap menderita,pemerintah membangun istana pasir
--- Pada Sel, 25/11/08, Hanna Sihombing <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Hanna Sihombing <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Rakyat tetap menderita,pemerintah membangun istana pasir
Kepada: "Batak" <[EMAIL PROTECTED]>, "Batak" <[EMAIL PROTECTED]>, "Batak"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Batak" <[EMAIL PROTECTED]>
Tanggal: Selasa, 25 November, 2008, 4:42 AM
Kamis, 19 November 2008
SOSOK ibu bernama Reni, 30 tahun di Karawaci itu kusut. Ia mondar-mandir dalam
kegalauan. Bertengkar dengan suami. Bayinya, Raihan, 8 bulan, tidak bersusu.
Uang di tangan tak ada. Belum makan. Dalam keadaan kalut ia diduga meminumkan
racun serangga kepada sang bayi. Si ibu meminta ojek mengantar ke sebuah rumah
kosong. Pikirannya nanar. Di sana, ia berteriak-teriak. Tolooong. Anaknya
terkulai. Di perjalanan ke Puskesmas, bayi itu lunglai. Mati.
Menajam sembilu seakan melukakan hati membaca itu berita - - antara lain, di
Kompas.com, Rabu, 19 November 2008.
Pahit.
Jika Anda masih ingat dan menyimak, pada peringatan hari TNI di Surabaya, 14
Oktober 2008 lalu, semua lalu-lintas penerbangan, penyeberangan sungai,
terhenti hampir lima jam. Seorang nenek-nenek tua, sedang sakit jantung,
tergolek, menahan sakit. Nyawanya meradang di antara hidup dan mati. Mobilnya
yang ditumpangi terhenti tak bisa menyeberang dari Madura. Kamera wartawan
televisi mengabadikan nenek itu menringis, dipancar-siarkan.
Ganang Tidarwono Soedirman, cucu kandung Palima Besar Soedirman, mengirim pesan
kepada saya melalui SMS, “Jika saja Panglima Besar Soedirman masih hidup, ia
tidak akan menerima kenyataan itu. Karena sikapnya jelas, rakyat tidak boleh
menderita. Ini nyawa orang harus dikorbankan, hanya karena sebuah upacara, “
katanya pula, “Urusan ulang tahun tentara pula. Saya percaya almarhum Soedirman
tak rela.”
Dalam kesempatan berbeda, Ganang berkali-kali menceritakan ke saya, di dalam
gerilya masa perjuangan silam, di saat lapar, prajurit TNI untuk mengambil
mangga penduduk saja tidak berani. “Mereka menempatkan hak warga di atas
segalanya, “ ujar Ganang.
“Karena laku itu, pasukan gerilya yang boleh dikatakan minim asupan gizi itu,
di setiap desa disambut, rakyat biasa mengulurkan tangan, memberikan makanan
dengan sukarela.“
“Dalam Indonesia kini uluran tangan rakyat itu, masih terus ada, “ kata Ganang
pula, “Cuma karena sudah menjadi kebiasaan, mungkin saja karena keterusan
menderita dan masih terus pula berkorban untuk yang mengaku pemimpin yang
sesungguhnya cuma pengelola, sementara rakyat tetap menderita, lama-lama
sekaan-akan hak rakyat memang untuk menderita menjadi biasa”
Kalimat Ganang itu, jika diucapkan oleh seorang aktifis, tentu biasa. Tetapi
sosok langsung berdarah pahlawan, bagi saya menjadi magnitud tersendiri.
SAYA pernah menulis ekonomi mengayuh sepeda, perangkap pinjaman perbankan ke
sektor properti; mal, kondominium dan perkantoran, laksana bersepeda di jalan
datar, begitu berhenti mendayung, maka pengusaha dan bank terjungkal.
Sudah sejak lama banyak ekonom Indonesia brilian otaknya. Mereka mengingatkan
yang mengaku pemimpin perlu mengembangkan sektor riil, salah satunya
mengembalikan peran intermediasi perbankan. Bukan cuma fokus ke perdagangan
valas dan instrumen.
Namun prakteknya, perbankan cari gampang,. Mereka berpikir mudah. Cukup pegang
satu, dua pengusaha properti kakap - - sekadar contoh - - yang sekali
menyalurkan kredit mencapai Rp 600 miliar. Selain langsung gede, indikasi
komisi mencapai 5% dari total loan untuk direksi, bukan lagi basa-basi.
Untuk kredit sektor peningkatan modal kerja, innovasi pengembangan produk
industri, macam memfasilitasi pemilik dua hektar kebun coklat bisa membeli
mesin pengolah bubuk coklat, hampir tak ada. Apalagi hingga memfasilitasinya
membuat produk jadi, misalnya saja membuat Coklat Toraja - - daerah ini salah
satu penghasil coklat - - amit-amit tak ada. Itulah yang dihadapi oleh daerah,
sulit sekali mencari likuiditas untuk pengembangan usaha, sejak lama.
Pekan lalu, Iwan Jaya Aziz, ekonom, dalam kunjungan libur mengajar dari AS,
mengatakan, “Biar satu US $ Rp 15 ribu sekalipun, jika daya beli tumbuh memang
kenapa?”
Dalam bahasa gaulnya, so what gitu lho?
Akan tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, so what gitu lho, tidak bisa
dengan happy diuarkan. Pengelembungan ekonomi dari memutar instrumen moneter,
berpedoman utama kepada pertumbuhan pasar modal, ibarat balon angin yang terus
digasak-tiup hingga mencapai titik jenuh. Meletup.
Dari pecahan, dari semula seakan memegang produk tambun, seketika senyap.
Kehilangan asset itu, harus dipikul oleh kehidupan rakyat kebanyakan, tanpa
terkecuali. Berakibat kian jauh lidah rakyat bisa berucap untuk menyampaikan
kata: di mana keadilan?
Sebagai hamba rakyat biasa yang ampun-ampun - - ibarat menyembah raja macam di
film-film sejarah masa silam - - sang jelata bukanlah kemudian dibela. Oleh
keadaan, dipancung kepalanya. Demikianlah perumpamaan hidup dibelantara rakyat
biasa, kini.
Kepada media, Iwan Jaya Azis pekan silam mengatakan, bahwa dari berkeliling
melihat berbagai daerah banyak sekali kekayaan alam. “Tetapi kehidupan rakyat
banyak yang miskin, ” Iwan Jaya, dengan satir terus berujar, “Tetapi bukan di
sini, di negeri lain.”
Dia nyengir.
Senyum Iwan Jaya kecut.
Bagaimana tidak kelat, ambil saja contoh kelapa sawit, dari lebih Rp 2.500
tandan perkilo, enam bulan lalu, kini tinggal di rentang Rp 300 sampai Rp
500/kg. Coklat semula Rp 26.000 sekilo, kini di kisaran Rp 12 ribu. Petani kayu
manis di kampung saya di Sumatera Barat, kini, membiarkan kulit manis di batang
tanpa dikuliti, harganya ambrol. Tidak ada antisipasi negara di sana.
Itu perkebunan.
Perikanan lain lagi.
Sejak semula upaya intermediasi perbankan ke sekor riil tak ada. Nelayan hidup
dalam sebuah siklus jalan di tempat, laksana dalam situasi lingkaran setan.
Bagaikan teori ekonomi yang dilontarkan Rostov, tidak ada energi yang
mem-booster keadaan tumbuh.
Lebih celaka di beberapa pelabuhan perikanan, macam di pantai utara Banten yang
pernah saya temui, mesin tempel untuk perahu sudah berbahan baku oplosan solar,
minyak tanah dan jelantah.
Suaranya melengking. Peralatan melaut sekenanya. Serba ala kadar.
Alhasil, tangkapan ikan pastilah tak maksimal. Bila pun ada yang memodernisasi
mesin tempel, hanyalah buatan Cina, yang sudah direkondisi di Singapura, karena
itu produk yang harganya terjangkau. Nelayan berkerja menyabung nyawa melaut,
hanya sekadar mengisi perut, di luar biaya anak sekolah, yang akhirnya putus
belajar.
Di ranah itulah rakyat kebanyakan berada.
Celakanya dulu saja di saat ekonomi makro yang digadang-gadang berlandasan
mengelembungkan balon itu dinggap sakti, juga tak ada energi dan kemauan
menggerakkan sektor riil, apatah pula kini keadaan resesi bukan lagi janji.
Rencana PHK besar perusahaan besar yang berafiliasi dengan internasional sudah
diambang mata. Citigroups, AS, akan mem-PHK pululan ribu orang karyawannya.
Tentulah termasuk jaringan usaha mereka yang ada di sini. Diperkirakan 200 ribu
TKI, yang bekerja di industri Taiwán, Korea, Jepang, sebagai buruh kasar akan
pulang akhir tahun ini, dan tidak diperpanjang kontrak lagi. Desa, daerah asal
mereka belum siap menampung mereka - - ekonomi tradisonal desa seakan jalan di
tempat, jika tak hendak disebut kian suram.
Sehingga sebuah siklus kehidupan yang menempatkan rakyat seakan terus-terus
menderita, menjadi kenyataan, bahwa penderitaan rakyat itu menjadi biasa,
menjadi titah yang ditabalkan.
Bila di hari-hari ke depan kian banyak kita menyimak berita ibu tega membunuh
bayi, suami tega membunuh isteri, mencampakkan anak di tengah pasar laksana
anak kucing yang merecoki rumah, kian menjadi-jadi, maka, itulah yang disebut
mesin gangguan kejiwaan sedang berputar kencang.
Celakanya negeri ini tidak punya Undang-Undang Gangguan Jiwa, sebagaimana
pernah disampaikan Ardi Sutedja, seorang Konsultan Media, kepada saya.
Di dalam UU Gangguan Jiwa, mengacu ke negara yang memilikinya, bila bisa
dibuktikan, penyebab gangguan jiwa itu, termasuk jika negara melalui
pengelolanya lalai sebagai penyebab, maka layak dipengadilankan.
Namun, sayang pengelola negeri ini memilih membangun istana pasir, yang ibarat
dibangun di tepi pantai, begitu datang ombak, disaput laut. Atau bila datang
hujan sekali saja, langsung runtuh.
Karenanya negara lebih memilih sibuk dengan undang_undang yang bergaya
introvert, yang mengamankan dirinya, enggan menerima kritik. Kita nikmati
kesibukan UU Pornografi, yang entah untuk apa gunanya itu, di banding UU
Gangguan Jiwa itu, misalnya.
Hari-hari ini media digemparkan pula oleh pelaporan media, macam TEMPO ke
polisi. Pers dalam upaya berusaha menjadi kekuatan ke-4, yang bekerja
profesional, mengahadapi situasi dikriminalkan, karena berhadapan dengan hukum
pidana.
Di lain sisi, medium blog, sebagai media alternatif di internet yang kini
dominan menjadi wadah jurnalisme warga, berhadapan pula dengan UU ITE, yang
dalam pasal 27-nya tidak fokus ke Computer Offences, karena mengatur pula ranah
privasi termasuk yang sesungguhnya masuk wilayah perdata. Setidaknya itu yang
dikatakan oleh Rob Baiton, dari hukumonline.com versi Inggris, jika mau lessons
learned dari Australia.
Jurnalisme warga (citizen reporter), yang menurut Bill Kovach, penulis buku 10
Elemen Jurnalisme bersama Tom Rosentiel, pada 23 Oktober 2008 lalu di
Washington DC, AS, mengatakan, “Jurnalisme warga antara lain melalui blog,
punya daya dorong.” Persoalannya, menurut Kovach, bagaimana media online itu
taat kaedah dengan elemen jurnalisme - - anatara lain pro warga - - memiliki
income secara independen menghidupi.
Akhirnya pertemuan Pesta Blogger Indonesia, Sabtu, 22 November 2008 besok, yang
ikut disponsori Kedutaan Amerika Serikat dan diadakan di gedung BPPT, Jl. MH
Thamrin, Jakarta Pusat itu menjadi sangat signifikan.
Begitu berarti bagi menggerakkan kekuatan keempat dalam demokrasi, bisa
menuliskan bahwa rakyat telah diindikasikan dibuat terus menderita, pengelola
membangun istana pasir bagi dirinya.
Dan bila itu dituliskan, tanpa kuatir lagi masuk penjara. Termasuk tak takut
menulis bahwa negeri ini hanya punya dua kapal selam yang berjalan, itupun cuma
buatan tahun 1982, kondisinya tidak prima. Katanya kita negeri maritim, entah
kapan Jalesveva Jayamahe. Menagislah dikau pahlawan, macam Soedirman?!***
Iwan Piliang, presstalk.info
________________________________
Warnai pesan status dengan Emoticon.
Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru.