heeeh, emang cape kalo ngomongin bangsa ini, kagak ade habisnye. makanya males 
nyoblos pas pemilu nanti, males nyoblos presiden. Jangan disalahin dong kita 
kalo gak nyoblos. Nonton iklan partai aja dah muak rasanya. Mendingan nonton 
sinetron, biar bisa mimpi....hehehehe

On Tue, 11/25/08, Arif Panji Suprapto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Arif Panji Suprapto <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [sma1bks] Fw: Trs: Rakyat tetap menderita,pemerintah membangun istana 
pasir
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], "agatha sincy" <[EMAIL PROTECTED]>, "agatha sincy" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "ageyani malano" <[EMAIL PROTECTED]>, "Agung Prabowo" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "alfredo kurnia_fadjri" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ali Nafia" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Alia HP Permata Sari" <[EMAIL PROTECTED]>, "amir wawan" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "andi jussup" <[EMAIL PROTECTED]>, "andri dwinanto" <[EMAIL 
PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "anggie okta" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "aries hutagalung" <[EMAIL PROTECTED]>, "Astilia Prastianti" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "bintang" <[EMAIL PROTECTED]>, "bruce grey" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "brusli sahelangi" <[EMAIL PROTECTED]>, "chairulrizal" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "chantique" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "cut irma" <[EMAIL PROTECTED]>, "david" <[EMAIL PROTECTED]>, "dedet" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "dedy warja" <[EMAIL PROTECTED]>, "dedy warja" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Desianti Ibrahim" <[EMAIL PROTECTED]>, "devi irasaki" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "dewi cantik" <[EMAIL PROTECTED]>, "dewi kardina" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "dian maura" <[EMAIL PROTECTED]>, "Didiet" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"dina handriyani" <[EMAIL PROTECTED]>, "Eko Fitri" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL 
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "Erik" <[EMAIL PROTECTED]>, "fachri Oemar" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "feni Yunita" <[EMAIL PROTECTED]>, "fenny tjandra" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Ferry Yusuf" <[EMAIL PROTECTED]>, "Fian" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Fian Arfiansyah" <[EMAIL PROTECTED]>, "flory" <[EMAIL PROTECTED]>, "francine 
yacyntha" <[EMAIL PROTECTED]>, "Front Office Manager" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Hanna" <[EMAIL PROTECTED]>, "henry pangemanan"
 <[EMAIL PROTECTED]>, "Herlina candle" <[EMAIL PROTECTED]>, "Heryawan Heri" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "iin indrawati" <[EMAIL PROTECTED]>, "ivan syachrul" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "julie" <[EMAIL PROTECTED]>, "juliet mangowal" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Kayla Hermawan" <[EMAIL PROTECTED]>, "kris ian" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "lia auliaherliaty" <[EMAIL PROTECTED]>, "lidia sari lids" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Lili Yan Ing" <[EMAIL PROTECTED]>, "lutfi sheraton" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Megasari Rustianty" <[EMAIL PROTECTED]>, "meti premiati" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Meti Premiati" <[EMAIL PROTECTED]>, "mia novianti" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "minuk puji" <[EMAIL PROTECTED]>, "Mozes" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Nikolas Matahari" <[EMAIL PROTECTED]>, "Nilla Waty" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"nUkLiR nE tEdStEr.." <[EMAIL PROTECTED]>, "nurhasanah Indah" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Nyoman Suriana" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Paula Liman" <[EMAIL PROTECTED]>, "Pinto G-man" <[EMAIL PROTECTED]>, "Putra 
irawan" <[EMAIL PROTECTED]>, "raden roro" <[EMAIL PROTECTED]>, "rini malinda" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Ristya Asri" <[EMAIL PROTECTED]>, "rosa" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Rosalina" <[EMAIL PROTECTED]>, "seno" <[EMAIL PROTECTED]>, "Setyo 
Puryanto" <[EMAIL PROTECTED]>, "shogun_putih781" <[EMAIL PROTECTED]>, "Sinda" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "sma1" <[email protected]>, "smpn3bekasi Moderator" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "sugiri bayu aji" <[EMAIL PROTECTED]>, "teewool" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "tira tiara" <[EMAIL PROTECTED]>, "via zoudinta" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "virda septiana" <[EMAIL PROTECTED]>, "wenita" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "wiwit nurmansyah" <[EMAIL PROTECTED]>, "Wowo Wa2mas" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "wulan" <[EMAIL PROTECTED]>, "yogantara dodi" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"zein ahmad
 sheraton" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, November 25, 2008, 12:29 AM










    
            

----- Forwarded Message ----
From: Octavianus Stephen <[EMAIL PROTECTED] co.id>
To: ami <[EMAIL PROTECTED] com>; andry <andry_nugroho2000@ yahoo.co. id>; fian 
arfiansyah <[EMAIL PROTECTED] co.id>; aris <ariswidodo74@ yahoo.co. id>; My 
luvLy BabY... <[EMAIL PROTECTED] co.uk>; grace barus <[EMAIL PROTECTED] com>; 
Ariesta Batubara <erick_abank@ hotmail.com>; bayu <[EMAIL PROTECTED] com>; 
wisnu boediono <wisnuboediono@ yahoo.com>; jon bogel <[EMAIL PROTECTED] com>; 
Dito
 <[EMAIL PROTECTED] com>; [EMAIL PROTECTED] com; fionamarlina@ yahoo.com; wayan 
gila <[EMAIL PROTECTED] co.id>; gilles marx <[EMAIL PROTECTED] .com>; grant 
<gwiryadinata@ yahoo.com>; ary hambali <ary_hambali@ yahoo.com>; Hansye Rudolf 
<ilphenomenon9@ yahoo.com>; putra irawan <irawan_putra@ yahoo.com>; irma 
<[EMAIL PROTECTED] com>; irma.lestari@ gmail.com; kaFF <[EMAIL PROTECTED] com>; 
kuff <[EMAIL PROTECTED] ae>; marsin_simatupang@ yahoo.com; aji martoyo 
<mr_adjiebond@ yahoo.com>; njut <njut_iscute@ hotmail.com>; ocha <[EMAIL 
PROTECTED] ups.com>; Francisca Pratiwi <[EMAIL PROTECTED] co.id>; robin <[EMAIL 
PROTECTED] com>; rosa <anastasia1802@ yahoo.com>; samir <[EMAIL PROTECTED] 
com>; bunga sirait <[EMAIL PROTECTED] com>; Arif Suprapto <[EMAIL PROTECTED] 
com>; t' katrin <katharinagsl@ yahoo.com>; Hanna Tante <[EMAIL PROTECTED] de>; 
Theresia Dyah Utami
 <theresia_du@ yahoo.co. id>; vevesh <brett_andersonfb@ yahoo.co. uk>; wiwiek 
<[EMAIL PROTECTED] com>
Sent: Tuesday, November 25, 2008 7:38:38 AM
Subject: Trs: Rakyat tetap menderita,pemerinta h membangun istana pasir



--- Pada Sel, 25/11/08, Hanna Sihombing <[EMAIL PROTECTED] de> menulis:
Dari: Hanna Sihombing <[EMAIL PROTECTED] de>
Topik: Rakyat tetap menderita,pemerinta h membangun istana pasir
Kepada: "Batak"
 <batakjermanselatan@ yahoogroups. com>, "Batak" <[EMAIL PROTECTED] s.com>, 
"Batak" <marga_si5_europe@ yahoogroups. com>, "Batak" <voiceofbatak@ 
yahoogroups. com>
Tanggal: Selasa, 25 November, 2008, 4:42 AM

Kamis, 19 November 2008 
 SOSOK ibu bernama Reni, 30 tahun di Karawaci itu kusut. Ia mondar-mandir dalam 
kegalauan. Bertengkar dengan suami. Bayinya, Raihan, 8 bulan, tidak bersusu. 
Uang di tangan tak ada. Belum makan. Dalam keadaan kalut ia diduga meminumkan 
racun serangga kepada sang bayi. Si ibu meminta ojek mengantar ke sebuah rumah 
kosong. Pikirannya nanar. Di sana, ia berteriak-teriak. Tolooong. Anaknya 
terkulai. Di perjalanan ke Puskesmas, bayi itu lunglai. Mati. 

Menajam sembilu seakan melukakan hati membaca itu berita - - antara lain, di 
Kompas.com, Rabu, 19 November 2008. 

Pahit. 

Jika Anda masih ingat dan menyimak, pada peringatan hari TNI di Surabaya, 14 
Oktober 2008 lalu, semua lalu-lintas penerbangan, penyeberangan sungai, 
terhenti hampir lima jam. Seorang
 nenek-nenek tua, sedang sakit jantung,
 tergolek, menahan sakit. Nyawanya meradang di antara hidup dan mati. Mobilnya 
yang ditumpangi terhenti tak bisa menyeberang dari Madura. Kamera wartawan 
televisi mengabadikan nenek itu menringis, dipancar-siarkan. 

Ganang Tidarwono Soedirman, cucu kandung Palima Besar Soedirman, mengirim pesan 
kepada saya melalui SMS, “Jika saja Panglima Besar Soedirman masih hidup, ia 
tidak akan menerima kenyataan itu. Karena sikapnya jelas, rakyat tidak boleh 
menderita. Ini nyawa orang harus dikorbankan, hanya karena sebuah upacara, “ 
katanya pula, “Urusan ulang tahun tentara pula. Saya percaya almarhum Soedirman 
tak rela.” 

Dalam kesempatan berbeda, Ganang berkali-kali menceritakan ke saya, di dalam 
gerilya masa perjuangan silam, di saat lapar, prajurit TNI untuk mengambil 
mangga penduduk saja tidak berani. “Mereka menempatkan hak warga di atas 
segalanya, “ ujar Ganang. 

“Karena laku itu, pasukan gerilya yang boleh dikatakan minim
 asupan gizi itu, di setiap desa disambut, rakyat biasa mengulurkan tangan, 
memberikan makanan dengan sukarela.“ 

“Dalam Indonesia kini uluran tangan rakyat itu, masih terus ada, “ kata Ganang 
pula, “Cuma karena sudah menjadi kebiasaan, mungkin saja karena keterusan 
menderita dan masih terus pula berkorban untuk yang mengaku pemimpin yang 
sesungguhnya cuma pengelola, sementara rakyat tetap menderita, lama-lama 
sekaan-akan hak rakyat memang untuk menderita menjadi biasa” 

Kalimat Ganang itu, jika diucapkan oleh seorang aktifis, tentu biasa. Tetapi 
sosok langsung berdarah pahlawan, bagi saya menjadi magnitud tersendiri. 

SAYA pernah menulis ekonomi mengayuh sepeda, perangkap pinjaman perbankan ke 
sektor properti; mal, kondominium dan perkantoran, laksana bersepeda di jalan 
datar, begitu berhenti mendayung, maka pengusaha dan bank terjungkal. 

Sudah sejak lama banyak ekonom Indonesia brilian otaknya.
 Mereka mengingatkan yang mengaku pemimpin perlu mengembangkan sektor riil, 
salah satunya mengembalikan peran intermediasi perbankan. Bukan cuma fokus ke 
perdagangan valas dan instrumen. 

Namun prakteknya, perbankan cari gampang,. Mereka berpikir mudah. Cukup pegang 
satu, dua pengusaha properti kakap - - sekadar contoh - - yang sekali 
menyalurkan kredit mencapai Rp 600 miliar. Selain langsung gede, indikasi 
komisi mencapai 5% dari total loan untuk direksi, bukan lagi basa-basi. 

Untuk kredit sektor peningkatan modal kerja, innovasi pengembangan produk 
industri, macam memfasilitasi pemilik dua hektar kebun coklat bisa membeli 
mesin pengolah bubuk coklat, hampir tak ada. Apalagi hingga memfasilitasinya 
membuat produk jadi, misalnya saja membuat Coklat Toraja - - daerah ini salah 
satu penghasil coklat - - amit-amit tak ada. Itulah yang dihadapi oleh daerah, 
sulit sekali mencari likuiditas untuk pengembangan usaha, sejak lama. 

Pekan
 lalu, Iwan Jaya Aziz, ekonom, dalam kunjungan libur mengajar dari AS, 
mengatakan, “Biar satu US $ Rp 15 ribu sekalipun, jika daya beli tumbuh memang 
kenapa?” 

Dalam bahasa gaulnya, so what gitu lho? 

Akan tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, so what gitu lho, tidak bisa 
dengan happy diuarkan. Pengelembungan ekonomi dari memutar instrumen moneter, 
berpedoman utama kepada pertumbuhan pasar modal, ibarat balon angin yang terus 
digasak-tiup hingga mencapai titik jenuh. Meletup. 

Dari pecahan, dari semula seakan memegang produk tambun, seketika senyap. 
Kehilangan asset itu, harus dipikul oleh kehidupan rakyat kebanyakan, tanpa 
terkecuali. Berakibat kian jauh lidah rakyat bisa berucap untuk menyampaikan 
kata: di mana keadilan? 

Sebagai hamba rakyat biasa yang ampun-ampun - - ibarat menyembah raja macam di 
film-film sejarah masa silam - - sang jelata bukanlah kemudian dibela. Oleh 
keadaan, dipancung kepalanya. Demikianlah
 perumpamaan hidup dibelantara rakyat biasa, kini. 

Kepada media, Iwan Jaya Azis pekan silam mengatakan, bahwa dari berkeliling 
melihat berbagai daerah banyak sekali kekayaan alam. “Tetapi kehidupan rakyat 
banyak yang miskin, ” Iwan Jaya, dengan satir terus berujar, “Tetapi bukan di 
sini, di negeri lain.” 

Dia nyengir. 

Senyum Iwan Jaya kecut. 

Bagaimana tidak kelat, ambil saja contoh kelapa sawit, dari lebih Rp 2.500 
tandan perkilo, enam bulan lalu, kini tinggal di rentang Rp 300 sampai Rp 
500/kg. Coklat semula Rp 26.000 sekilo, kini di kisaran Rp 12 ribu. Petani kayu 
manis di kampung saya di Sumatera Barat, kini, membiarkan kulit manis di batang 
tanpa dikuliti, harganya ambrol. Tidak ada antisipasi negara di sana. 

Itu perkebunan. 

Perikanan lain lagi. 

Sejak semula upaya intermediasi perbankan ke sekor riil tak ada. Nelayan hidup 
dalam sebuah siklus jalan di tempat, laksana dalam situasi
 lingkaran setan. Bagaikan teori ekonomi yang dilontarkan Rostov, tidak ada 
energi yang mem-booster keadaan tumbuh. 

Lebih celaka di beberapa pelabuhan perikanan, macam di pantai utara Banten yang 
pernah saya temui, mesin tempel untuk perahu sudah berbahan baku oplosan solar, 
minyak tanah dan jelantah. 

Suaranya melengking. Peralatan melaut sekenanya. Serba ala kadar. 

Alhasil, tangkapan ikan pastilah tak maksimal. Bila pun ada yang memodernisasi 
mesin tempel, hanyalah buatan Cina, yang sudah direkondisi di Singapura, karena 
itu produk yang harganya terjangkau. Nelayan berkerja menyabung nyawa melaut, 
hanya sekadar mengisi perut, di luar biaya anak sekolah, yang akhirnya putus 
belajar. 

Di ranah itulah rakyat kebanyakan berada. 

Celakanya dulu saja di saat ekonomi makro yang digadang-gadang berlandasan 
mengelembungkan balon itu dinggap sakti, juga tak ada energi dan kemauan 
menggerakkan sektor riil, apatah pula kini
 keadaan resesi bukan lagi janji. 

Rencana PHK besar perusahaan besar yang berafiliasi dengan internasional sudah 
diambang mata. Citigroups, AS, akan mem-PHK pululan ribu orang karyawannya. 
Tentulah termasuk jaringan usaha mereka yang ada di sini. Diperkirakan 200 ribu 
TKI, yang bekerja di industri Taiwán, Korea, Jepang, sebagai buruh kasar akan 
pulang akhir tahun ini, dan tidak diperpanjang kontrak lagi. Desa, daerah asal 
mereka belum siap menampung mereka - - ekonomi tradisonal desa seakan jalan di 
tempat, jika tak hendak disebut kian suram. 

Sehingga sebuah siklus kehidupan yang menempatkan rakyat seakan terus-terus 
menderita, menjadi kenyataan, bahwa penderitaan rakyat itu menjadi biasa, 
menjadi titah yang ditabalkan. 

Bila di hari-hari ke depan kian banyak kita menyimak berita ibu tega membunuh 
bayi, suami tega membunuh isteri, mencampakkan anak di tengah pasar laksana 
anak kucing yang merecoki rumah, kian menjadi-jadi, maka,
 itulah yang disebut mesin gangguan kejiwaan sedang berputar kencang. 

Celakanya negeri ini tidak punya Undang-Undang Gangguan Jiwa, sebagaimana 
pernah disampaikan Ardi Sutedja, seorang Konsultan Media, kepada saya. 

Di dalam UU Gangguan Jiwa, mengacu ke negara yang memilikinya, bila bisa 
dibuktikan, penyebab gangguan jiwa itu, termasuk jika negara melalui 
pengelolanya lalai sebagai penyebab, maka layak dipengadilankan. 

Namun, sayang pengelola negeri ini memilih membangun istana pasir, yang ibarat 
dibangun di tepi pantai, begitu datang ombak, disaput laut. Atau bila datang 
hujan sekali saja, langsung runtuh. 

Karenanya negara lebih memilih sibuk dengan undang_undang yang bergaya 
introvert, yang mengamankan dirinya, enggan menerima kritik. Kita nikmati 
kesibukan UU Pornografi, yang entah untuk apa gunanya itu, di banding UU 
Gangguan Jiwa itu, misalnya. 

Hari-hari ini media digemparkan pula oleh pelaporan media, macam
 TEMPO ke polisi. Pers dalam upaya berusaha menjadi kekuatan ke-4, yang bekerja 
profesional, mengahadapi situasi dikriminalkan, karena berhadapan dengan hukum 
pidana. 

Di lain sisi, medium blog, sebagai media alternatif di internet yang kini 
dominan menjadi wadah jurnalisme warga, berhadapan pula dengan UU ITE, yang 
dalam pasal 27-nya tidak fokus ke Computer Offences, karena mengatur pula ranah 
privasi termasuk yang sesungguhnya masuk wilayah perdata. Setidaknya itu yang 
dikatakan oleh Rob Baiton, dari hukumonline. com versi Inggris, jika mau 
lessons learned dari Australia. 

Jurnalisme warga (citizen reporter), yang menurut Bill Kovach, penulis buku 10 
Elemen Jurnalisme bersama Tom Rosentiel, pada 23 Oktober 2008 lalu di 
Washington DC, AS, mengatakan, “Jurnalisme warga antara lain melalui blog, 
punya daya dorong.” Persoalannya, menurut Kovach, bagaimana media online itu 
taat kaedah dengan elemen jurnalisme - - anatara lain pro warga - -
 memiliki income secara independen menghidupi. 

Akhirnya pertemuan Pesta Blogger Indonesia, Sabtu, 22 November 2008 besok, yang 
ikut disponsori Kedutaan Amerika Serikat dan diadakan di gedung BPPT, Jl. MH 
Thamrin, Jakarta Pusat itu menjadi sangat signifikan. 

Begitu berarti bagi menggerakkan kekuatan keempat dalam demokrasi, bisa 
menuliskan bahwa rakyat telah diindikasikan dibuat terus menderita, pengelola 
membangun istana pasir bagi dirinya. 

Dan bila itu dituliskan, tanpa kuatir lagi masuk penjara. Termasuk tak takut 
menulis bahwa negeri ini hanya punya dua kapal selam yang berjalan, itupun cuma 
buatan tahun 1982, kondisinya tidak prima. Katanya kita negeri maritim, entah 
kapan Jalesveva Jayamahe. Menagislah dikau pahlawan, macam Soedirman?!* ** 

Iwan Piliang, presstalk.info





      

       Warnai pesan status dengan Emoticon.
   Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru. 


      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke