Saya, Prabowo Subianto.."Ngeringga?"
On Tue, Nov 25, 2008 at 1:09 PM, Ika Fitriana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > heeeh, emang cape kalo ngomongin bangsa ini, kagak ade habisnye. makanya > males nyoblos pas pemilu nanti, males nyoblos presiden. Jangan disalahin > dong kita kalo gak nyoblos. Nonton iklan partai aja dah muak rasanya. > Mendingan nonton sinetron, biar bisa mimpi....hehehehe > > On *Tue, 11/25/08, Arif Panji Suprapto <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Arif Panji Suprapto <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [sma1bks] Fw: Trs: Rakyat tetap menderita,pemerintah membangun > istana pasir > To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], > "agatha sincy" <[EMAIL PROTECTED]>, "agatha sincy" < > [EMAIL PROTECTED]>, "ageyani malano" <[EMAIL PROTECTED]>, > "Agung Prabowo" <[EMAIL PROTECTED]>, "alfredo kurnia_fadjri" < > [EMAIL PROTECTED]>, "Ali Nafia" <[EMAIL PROTECTED]>, "Alia > HP Permata Sari" <[EMAIL PROTECTED]>, "amir wawan" < > [EMAIL PROTECTED]>, "andi jussup" <[EMAIL PROTECTED]>, > "andri dwinanto" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], "anggie okta" <[EMAIL PROTECTED]>, > "aries hutagalung" <[EMAIL PROTECTED]>, "Astilia Prastianti" < > [EMAIL PROTECTED]>, "bintang" <[EMAIL PROTECTED]>, "bruce > grey" <[EMAIL PROTECTED]>, "brusli sahelangi" < > [EMAIL PROTECTED]>, "chairulrizal" <[EMAIL PROTECTED]>, > "chantique" <[EMAIL PROTECTED]>, "cut irma" < > [EMAIL PROTECTED]>, "david" <[EMAIL PROTECTED]>, "dedet" < > [EMAIL PROTECTED]>, "dedy warja" <[EMAIL PROTECTED]>, "dedy warja" < > [EMAIL PROTECTED]>, "Desianti Ibrahim" <[EMAIL PROTECTED]>, > "devi irasaki" <[EMAIL PROTECTED]>, "dewi cantik" <[EMAIL PROTECTED]>, > "dewi kardina" <[EMAIL PROTECTED]>, "dian maura" < > [EMAIL PROTECTED]>, "Didiet" <[EMAIL PROTECTED]>, "dina handriyani" < > [EMAIL PROTECTED]>, "Eko Fitri" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], > [EMAIL PROTECTED], "Erik" <[EMAIL PROTECTED]>, "fachri Oemar" < > [EMAIL PROTECTED]>, "feni Yunita" <[EMAIL PROTECTED]>, "fenny > tjandra" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ferry Yusuf" <[EMAIL PROTECTED]>, > "Fian" <[EMAIL PROTECTED]>, "Fian Arfiansyah" <[EMAIL PROTECTED]>, > "flory" <[EMAIL PROTECTED]>, "francine yacyntha" <[EMAIL PROTECTED]>, > "Front Office Manager" <[EMAIL PROTECTED]>, "Hanna" <[EMAIL PROTECTED]>, > "henry pangemanan" <[EMAIL PROTECTED]>, "Herlina candle" < > [EMAIL PROTECTED]>, "Heryawan Heri" <[EMAIL PROTECTED]>, "iin > indrawati" <[EMAIL PROTECTED]>, "ivan syachrul" <[EMAIL PROTECTED]>, > "julie" <[EMAIL PROTECTED]>, "juliet mangowal" <[EMAIL PROTECTED]>, > "Kayla Hermawan" <[EMAIL PROTECTED]>, "kris ian" < > [EMAIL PROTECTED]>, "lia auliaherliaty" <[EMAIL PROTECTED]>, > "lidia sari lids" <[EMAIL PROTECTED]>, "Lili Yan Ing" < > [EMAIL PROTECTED]>, "lutfi sheraton" <[EMAIL PROTECTED]>, > "Megasari Rustianty" <[EMAIL PROTECTED]>, "meti premiati" < > [EMAIL PROTECTED]>, "Meti Premiati" <[EMAIL PROTECTED]>, "mia > novianti" <[EMAIL PROTECTED]>, "minuk puji" <[EMAIL PROTECTED]>, "Mozes" < > [EMAIL PROTECTED]>, "Nikolas Matahari" <[EMAIL PROTECTED]>, > "Nilla Waty" <[EMAIL PROTECTED]>, "nUkLiR nE tEdStEr.." < > [EMAIL PROTECTED]>, "nurhasanah Indah" <[EMAIL PROTECTED]>, "Nyoman > Suriana" <[EMAIL PROTECTED]>, "Paula Liman" <[EMAIL PROTECTED]>, > "Pinto G-man" <[EMAIL PROTECTED]>, "Putra irawan" < > [EMAIL PROTECTED]>, "raden roro" <[EMAIL PROTECTED]>, "rini > malinda" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ristya Asri" <[EMAIL PROTECTED]>, > "rosa" <[EMAIL PROTECTED]>, "Rosalina" <[EMAIL PROTECTED]>, > "seno" <[EMAIL PROTECTED]>, "Setyo Puryanto" <[EMAIL PROTECTED]>, > "shogun_putih781" <[EMAIL PROTECTED]>, "Sinda" <[EMAIL PROTECTED]>, > "sma1" <[email protected]>, "smpn3bekasi Moderator" < > [EMAIL PROTECTED]>, "sugiri bayu aji" < > [EMAIL PROTECTED]>, "teewool" <[EMAIL PROTECTED]>, "tira tiara" < > [EMAIL PROTECTED]>, "via zoudinta" <[EMAIL PROTECTED]>, "virda > septiana" <[EMAIL PROTECTED]>, "wenita" <[EMAIL PROTECTED]>, > "wiwit nurmansyah" <[EMAIL PROTECTED]>, "Wowo Wa2mas" < > [EMAIL PROTECTED]>, "wulan" <[EMAIL PROTECTED]>, "yogantara > dodi" <[EMAIL PROTECTED]>, "zein ahmad sheraton" < > [EMAIL PROTECTED]> > Date: Tuesday, November 25, 2008, 12:29 AM > > > > ----- Forwarded Message ---- > *From:* Octavianus Stephen <[EMAIL PROTECTED] co.id> > *To:* ami <[EMAIL PROTECTED] com>; andry <andry_nugroho2000@ yahoo.co. id>; > fian arfiansyah <[EMAIL PROTECTED] co.id>; aris <ariswidodo74@ yahoo.co. > id>; My luvLy BabY... <[EMAIL PROTECTED] co.uk>; grace barus > <[EMAIL PROTECTED] com>; Ariesta Batubara <erick_abank@ hotmail.com>; bayu > <[EMAIL PROTECTED] com>; wisnu boediono <wisnuboediono@ yahoo.com>; jon bogel > <[EMAIL PROTECTED] com>; Dito <[EMAIL PROTECTED] com>; [EMAIL PROTECTED] com; > fionamarlina@ yahoo.com; wayan gila <[EMAIL PROTECTED] co.id>; gilles marx > <[EMAIL PROTECTED] .com>; grant <gwiryadinata@ yahoo.com>; ary hambali > <ary_hambali@ yahoo.com>; Hansye Rudolf <ilphenomenon9@ yahoo.com>; putra > irawan <irawan_putra@ yahoo.com>; irma <[EMAIL PROTECTED] com>; > irma.lestari@ gmail.com; kaFF <[EMAIL PROTECTED] com>; kuff <[EMAIL > PROTECTED]>; marsin_simatupang@ > yahoo.com; aji martoyo <mr_adjiebond@ yahoo.com>; njut <njut_iscute@ > hotmail.com>; ocha <[EMAIL PROTECTED] ups.com>; Francisca Pratiwi > <[EMAIL PROTECTED] co.id>; robin <[EMAIL PROTECTED] com>; rosa > <anastasia1802@ yahoo.com>; samir <[EMAIL PROTECTED] com>; bunga sirait > <[EMAIL PROTECTED] com>; Arif Suprapto <[EMAIL PROTECTED] com>; t' katrin > <katharinagsl@ yahoo.com>; Hanna Tante <[EMAIL PROTECTED] de>; Theresia > Dyah Utami <theresia_du@ yahoo.co. id>; vevesh <brett_andersonfb@ yahoo.co. > uk>; wiwiek <[EMAIL PROTECTED] com> > *Sent:* Tuesday, November 25, 2008 7:38:38 AM > *Subject:* Trs: Rakyat tetap menderita,pemerinta h membangun istana pasir > > > > --- Pada *Sel, 25/11/08, Hanna Sihombing <[EMAIL PROTECTED] de>* menulis: > > Dari: Hanna Sihombing <[EMAIL PROTECTED] de> > Topik: Rakyat tetap menderita,pemerinta h membangun istana pasir > Kepada: "Batak" <batakjermanselatan@ yahoogroups. com>, "Batak" > <[EMAIL PROTECTED] s.com>, "Batak" <marga_si5_europe@ yahoogroups. com>, > "Batak" <voiceofbatak@ yahoogroups. com> > > Tanggal: Selasa, 25 November, 2008, 4:42 AM > > Kamis, 19 November 2008* * > * *SOSOK ibu bernama Reni, 30 tahun di Karawaci itu kusut. Ia > mondar-mandir dalam kegalauan. Bertengkar dengan suami. Bayinya, Raihan, 8 > bulan, tidak bersusu. Uang di tangan tak ada. Belum makan. Dalam keadaan > kalut ia diduga meminumkan racun serangga kepada sang bayi. Si ibu meminta > ojek mengantar ke sebuah rumah kosong. Pikirannya nanar. Di sana, ia > berteriak-teriak. Tolooong. Anaknya terkulai. Di perjalanan ke Puskesmas, > bayi itu lunglai. *Mati*. > > Menajam sembilu seakan melukakan hati membaca itu berita - - antara lain, > di Kompas.com, Rabu, 19 November 2008. > > Pahit. > > Jika Anda masih ingat dan menyimak, pada peringatan hari TNI di Surabaya, > 14 Oktober 2008 lalu, semua lalu-lintas penerbangan, penyeberangan sungai, > terhenti hampir lima jam. Seorang nenek-nenek tua, sedang sakit jantung, > tergolek, menahan sakit. Nyawanya meradang di antara hidup dan mati. > Mobilnya yang ditumpangi terhenti tak bisa menyeberang dari Madura. Kamera > wartawan televisi mengabadikan nenek itu menringis, dipancar-siarkan. > > Ganang Tidarwono Soedirman, cucu kandung Palima Besar Soedirman, mengirim > pesan kepada saya melalui SMS, "Jika saja Panglima Besar Soedirman masih > hidup, ia tidak akan menerima kenyataan itu. Karena sikapnya jelas, rakyat > tidak boleh menderita. Ini nyawa orang harus dikorbankan, hanya karena > sebuah upacara, " katanya pula, "Urusan ulang tahun tentara pula. Saya > percaya almarhum Soedirman tak rela." > > Dalam kesempatan berbeda, Ganang berkali-kali menceritakan ke saya, di > dalam gerilya masa perjuangan silam, di saat lapar, prajurit TNI untuk > mengambil mangga penduduk saja tidak berani. "Mereka menempatkan hak warga > di atas segalanya, " ujar Ganang. > > "Karena laku itu, pasukan gerilya yang boleh dikatakan minim asupan gizi > itu, di setiap desa disambut, rakyat biasa mengulurkan tangan, memberikan > makanan dengan sukarela." > > "Dalam Indonesia kini uluran tangan rakyat itu, masih terus ada, " kata > Ganang pula, "Cuma karena sudah menjadi kebiasaan, mungkin saja karena > keterusan menderita dan masih terus pula berkorban untuk yang mengaku > pemimpin yang sesungguhnya cuma pengelola, sementara rakyat tetap menderita, > lama-lama sekaan-akan hak rakyat memang untuk menderita menjadi biasa" > > Kalimat Ganang itu, jika diucapkan oleh seorang aktifis, tentu biasa. > Tetapi sosok langsung berdarah pahlawan, bagi saya menjadi magnitud > tersendiri. > > *SAYA* pernah menulis ekonomi mengayuh sepeda, perangkap pinjaman > perbankan ke sektor properti; mal, kondominium dan perkantoran, laksana > bersepeda di jalan datar, begitu berhenti mendayung, maka pengusaha dan bank > terjungkal. > > Sudah sejak lama banyak ekonom Indonesia brilian otaknya. Mereka > mengingatkan yang mengaku pemimpin perlu mengembangkan sektor riil, salah > satunya mengembalikan peran intermediasi perbankan. Bukan cuma fokus ke > perdagangan valas dan instrumen. > > Namun prakteknya, perbankan cari gampang,. Mereka berpikir mudah. Cukup > pegang satu, dua pengusaha properti kakap - - sekadar contoh - - yang sekali > menyalurkan kredit mencapai Rp 600 miliar. Selain langsung gede, indikasi > komisi mencapai 5% dari total loan untuk direksi, bukan lagi basa-basi. > > Untuk kredit sektor peningkatan modal kerja, innovasi pengembangan produk > industri, macam memfasilitasi pemilik dua hektar kebun coklat bisa membeli > mesin pengolah bubuk coklat, hampir tak ada. Apalagi hingga memfasilitasinya > membuat produk jadi, misalnya saja membuat Coklat Toraja - - daerah ini > salah satu penghasil coklat - - amit-amit tak ada. Itulah yang dihadapi oleh > daerah, sulit sekali mencari likuiditas untuk pengembangan usaha, sejak > lama. > > Pekan lalu, Iwan Jaya Aziz, ekonom, dalam kunjungan libur mengajar dari AS, > mengatakan, "Biar satu US $ Rp 15 ribu sekalipun, jika daya beli tumbuh > memang kenapa?" > > Dalam bahasa gaulnya, so what gitu lho? > > Akan tetapi dalam kenyataan hidup sehari-hari, so what gitu lho, tidak bisa > dengan happy diuarkan. Pengelembungan ekonomi dari memutar instrumen > moneter, berpedoman utama kepada pertumbuhan pasar modal, ibarat balon angin > yang terus digasak-tiup hingga mencapai titik jenuh. Meletup. > > Dari pecahan, dari semula seakan memegang produk tambun, seketika senyap. > Kehilangan asset itu, harus dipikul oleh kehidupan rakyat kebanyakan, tanpa > terkecuali. Berakibat kian jauh lidah rakyat bisa berucap untuk menyampaikan > kata: di mana keadilan? > > Sebagai hamba rakyat biasa yang ampun-ampun - - ibarat menyembah raja macam > di film-film sejarah masa silam - - sang jelata bukanlah kemudian dibela. > Oleh keadaan, dipancung kepalanya. Demikianlah perumpamaan hidup dibelantara > rakyat biasa, kini. > > Kepada media, Iwan Jaya Azis pekan silam mengatakan, bahwa dari berkeliling > melihat berbagai daerah banyak sekali kekayaan alam. "Tetapi kehidupan > rakyat banyak yang miskin, " Iwan Jaya, dengan satir terus berujar, "Tetapi > bukan di sini, di negeri lain." > > Dia nyengir. > > Senyum Iwan Jaya kecut. > > Bagaimana tidak kelat, ambil saja contoh kelapa sawit, dari lebih Rp 2.500 > tandan perkilo, enam bulan lalu, kini tinggal di rentang Rp 300 sampai Rp > 500/kg. Coklat semula Rp 26.000 sekilo, kini di kisaran Rp 12 ribu. Petani > kayu manis di kampung saya di Sumatera Barat, kini, membiarkan kulit manis > di batang tanpa dikuliti, harganya ambrol. Tidak ada antisipasi negara di > sana. > > Itu perkebunan. > > Perikanan lain lagi. > > Sejak semula upaya intermediasi perbankan ke sekor riil tak ada. Nelayan > hidup dalam sebuah siklus jalan di tempat, laksana dalam situasi lingkaran > setan. Bagaikan teori ekonomi yang dilontarkan Rostov, tidak ada energi yang > mem-booster keadaan tumbuh. > > Lebih celaka di beberapa pelabuhan perikanan, macam di pantai utara Banten > yang pernah saya temui, mesin tempel untuk perahu sudah berbahan baku > oplosan solar, minyak tanah dan jelantah. > > Suaranya melengking. Peralatan melaut sekenanya. Serba ala kadar. > > Alhasil, tangkapan ikan pastilah tak maksimal. Bila pun ada yang > memodernisasi mesin tempel, hanyalah buatan Cina, yang sudah direkondisi di > Singapura, karena itu produk yang harganya terjangkau. Nelayan berkerja > menyabung nyawa melaut, hanya sekadar mengisi perut, di luar biaya anak > sekolah, yang akhirnya putus belajar. > > Di ranah itulah rakyat kebanyakan berada. > > Celakanya dulu saja di saat ekonomi makro yang digadang-gadang berlandasan > mengelembungkan balon itu dinggap sakti, juga tak ada energi dan kemauan > menggerakkan sektor riil, apatah pula kini keadaan resesi bukan lagi janji. > > Rencana PHK besar perusahaan besar yang berafiliasi dengan internasional > sudah diambang mata. Citigroups, AS, akan mem-PHK pululan ribu orang > karyawannya. Tentulah termasuk jaringan usaha mereka yang ada di sini. > Diperkirakan 200 ribu TKI, yang bekerja di industri Taiwán, Korea, Jepang, > sebagai buruh kasar akan pulang akhir tahun ini, dan tidak diperpanjang > kontrak lagi. Desa, daerah asal mereka belum siap menampung mereka - - > ekonomi tradisonal desa seakan jalan di tempat, jika tak hendak disebut kian > suram. > > Sehingga sebuah siklus kehidupan yang menempatkan rakyat seakan terus-terus > menderita, menjadi kenyataan, bahwa penderitaan rakyat itu menjadi biasa, > menjadi titah yang ditabalkan. > > Bila di hari-hari ke depan kian banyak kita menyimak berita ibu tega > membunuh bayi, suami tega membunuh isteri, mencampakkan anak di tengah pasar > laksana anak kucing yang merecoki rumah, kian menjadi-jadi, maka, itulah > yang disebut mesin gangguan kejiwaan sedang berputar kencang. > > Celakanya negeri ini tidak punya Undang-Undang Gangguan Jiwa, sebagaimana > pernah disampaikan Ardi Sutedja, seorang Konsultan Media, kepada saya. > > Di dalam UU Gangguan Jiwa, mengacu ke negara yang memilikinya, bila bisa > dibuktikan, penyebab gangguan jiwa itu, termasuk jika negara melalui > pengelolanya lalai sebagai penyebab, maka layak dipengadilankan. > > Namun, sayang pengelola negeri ini memilih membangun istana pasir, yang > ibarat dibangun di tepi pantai, begitu datang ombak, disaput laut. Atau bila > datang hujan sekali saja, langsung runtuh. > > Karenanya negara lebih memilih sibuk dengan undang_undang yang bergaya > introvert, yang mengamankan dirinya, enggan menerima kritik. Kita nikmati > kesibukan UU Pornografi, yang entah untuk apa gunanya itu, di banding UU > Gangguan Jiwa itu, misalnya. > > Hari-hari ini media digemparkan pula oleh pelaporan media, macam TEMPO ke > polisi. Pers dalam upaya berusaha menjadi kekuatan ke-4, yang bekerja > profesional, mengahadapi situasi dikriminalkan, karena berhadapan dengan > hukum pidana. > > Di lain sisi, medium blog, sebagai media alternatif di internet yang kini > dominan menjadi wadah jurnalisme warga, berhadapan pula dengan UU ITE, yang > dalam pasal 27-nya tidak fokus ke Computer Offences, karena mengatur pula > ranah privasi termasuk yang sesungguhnya masuk wilayah perdata. Setidaknya > itu yang dikatakan oleh Rob Baiton, dari hukumonline. com versi Inggris, > jika mau lessons learned dari Australia. > > Jurnalisme warga (citizen reporter), yang menurut Bill Kovach, penulis buku > 10 Elemen Jurnalisme bersama Tom Rosentiel, pada 23 Oktober 2008 lalu di > Washington DC, AS, mengatakan, "Jurnalisme warga antara lain melalui blog, > punya daya dorong." Persoalannya, menurut Kovach, bagaimana media online itu > taat kaedah dengan elemen jurnalisme - - anatara lain pro warga - - memiliki > income secara independen menghidupi. > > Akhirnya pertemuan Pesta Blogger Indonesia, Sabtu, 22 November 2008 besok, > yang ikut disponsori Kedutaan Amerika Serikat dan diadakan di gedung BPPT, > Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat itu menjadi sangat signifikan. > > Begitu berarti bagi menggerakkan kekuatan keempat dalam demokrasi, bisa > menuliskan bahwa rakyat telah diindikasikan dibuat terus menderita, > pengelola membangun istana pasir bagi dirinya. > > Dan bila itu dituliskan, tanpa kuatir lagi masuk penjara. Termasuk tak > takut menulis bahwa negeri ini hanya punya dua kapal selam yang berjalan, > itupun cuma buatan tahun 1982, kondisinya tidak prima. Katanya kita negeri > maritim, entah kapan Jalesveva Jayamahe. Menagislah dikau pahlawan, macam > Soedirman?!* ** > > Iwan Piliang, presstalk.info > > > ------------------------------ > Warnai pesan status dengan Emoticon. > Sekarang bisa dengan Yahoo! Messenger baru. > <http://sg.rd.yahoo.com/sg/messenger/maxwell/*http://id.messenger.yahoo.com/> > > > > -- OpiK http://taufiek.wordpress.com
