Rekans,
 
Membicarakan masalah Indonesia dengan segala pernik-perniknya (baik yang 
positif maupun negative)  menarik untuk dijadikan bahan renungan kita bersama. 
Adalah wajar apabila kita merasa pusing, frustasi dan patah arang bahkan 
barangkali acuh beibeh dengan kondisi Negara ini. 
 
Sepanjang sejarahnya –mohon koreksi para sejarawan—berdasarkan pengamatan 
pribadi, perjalanan negeri ini selalu dipenuhi oleh intrik dan pergulatan 
kekuasaan. Waktu di bangku Sekolah Dasar kita diberi tahu  bagaimana Ken Arok 
dapat merebut kekuasaan di tanah Kediri, dilanjutkan dengan episode 
pemberontakan yang dilakukan oleh para Rakrian dalam zaman Majapahit yang nota 
bene para rakrian ini sebagian adalah para pengikut setia R. Wijaya sebagai 
founding father kerajaan Majapahi sampai kemudian tragedi Perang Bubat yang 
efek psikologisnya samapai saat ini.
 
Selepas itu kita dapat menemui, bagaimana Pangeran Diponegoro, Sentot Alibasyah 
sampai dengan Cut Nya Dien di tangkap, tidak dalam kondisi –head to head— di 
medan tempur, tetapi lebih kepada adanya penghianatan dari teman sendiri. 
Bahkan ampe si Pitung aja matinya gara-gara tikus busuk piaran kompeni buka 
rahasia ama tuh kompeni, jadi biangnye sih orang-orang kita juga!!. Sehingga 
ada beberapa teman saya berpendapat bahwa  tidaklah sepenuhnya salah kalau kita 
waktu itu di jajah sama Belanda 350 tahun, karena lamanya itu menurut bahasa 
matematika adalah fungsi dari kesetiaan kita terhadap Negara ini.
 
Berbicara masalah penjajahan dalam Indonesia modern, sebenarnya pada awalnya 
kita dijajah oleh Perusahaan dagang VOC milik Belanda. Perusahaan ini agar 
tetap eksis dan dapat melebarkan sayapnya kemudian mempersenjatai diri, baik 
dengan bantuan resmi Kerajaan Belanda atau membentuk Pasukan sendiri dengan 
anggotanya belanda itemyang direkrut dari para pribumi untuk memusuhi bangsa 
sendiri. Sedangkan pada level ambtenar dan para ningrat, tidak sedikit para 
Demang, bupati dan Tumenggung yang berperan sebagai antek-anteknya. 
 
Mari kita lihat bersama kondisi Negara kita saat ini, sudah merdekakah atau 
masih dijajah? Bagaimana Kondisi perekonomian kita? Bagaimana mental para 
Ambtenar kita? 
 
Sekiranya negeri tercinta kita ini negeri yang sangat-sangat ideal –kalo kata 
orang kulon  Utopis apa? saya sendiri kagak tau—tentunya sudah tidak menarik 
lagi bagi kaum muda yang memiliki daya kreatifitas yang tinggi dengan sejumlah 
ide dan  gejolak pemikiran yang selalu haus akan tantangan
 
Seperti halnya dahulu Gajahmada, Diponegoro, Sultan Hasanudin, Soetomo, 
Sukarno, Hatta, Syahrir dll masih banyak lagi, selalu saja ada cara dan celah 
yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan nasib negeri ini. Mereka semua orang 
yang tercatat dalam sejarah berhasil mengatasi keterpurukan dan menggapai 
kesuksesan? . Jasad mereka memang mati dan sudah habis dilebur tanah, tapi 
karakter, pemikiran, semangat juang mereka masih terasa oleh orang-orang yang 
terinspirasi. Belum terlambat untuk berbuat demi Indonesia, siapapun kita dan 
pada posisi apapun kita. Harapan masih ada di tangan kita, pikiran dan hati 
kita. Apabila urusan negeri ini dirasakan terlalu besar dan berat untuk kita 
gapai, setidaknya jangan kita biarkan tetangga kita tidak merasakan keberadaan 
diri kita.
 
Menjadi GOLPUT, APATIS  atau CUEK AJA  merupakan sebuah pilihan. Sebagaimana 
halnya suatu pilihan berujung pada konsekwensi atau risiko tertentu. 
Konsekwensi dari ketiga hal tersebut di atas daalam kasus PEMILU atau PILKADA 
adalah menyerahkan pilihan dan hasilnya kepada orang-orang yang menggunakan hak 
pilihnya dengan cara mencontreng sebuah nama atau lambang partai yang ikut 
berlomba. Tetapi Golput, Apatis ataupun Cuek aja juga bukan merupakan suatu 
kebanggan atau kehinaan, karena kita harus meyakini bahwa pilihan tersebut 
diambil melalui proses berfikir yang panjang dan matang.
 
Sebagai orang Indonesia, masih banyak PR kita. Idealisme masih belum bisa 
dikalahkan oleh realitas. Permata tetaplah permata, tidak akan berubah menjadi 
tidak berharaga walaupun benda tersebut berada dalam kubangan lumpur. Layaknya 
para pejuang dulu, akan muncul mutiara-mutiara baru di bumi Indonesia ini. Saya 
yakin rekan-rekan semua adalah bagian dari hal tersebut. Jangan biarkan “ Ibu 
Pertiwi yang sedang bersusah hati,  makin berlinang air matanya” 
 
Yang di butuhkan oleh Indonesia saat ini adalah berbaris bersama, saling  
rangkul dan bergandengan membangun Indonesia yang lebih baik, Jika kita tidak 
ingin berbaris, setidaknya jangan panggil kawan-kawan yang sudah berada dalam 
barisan, silahkan  nikmati kesendirian kita dan mempersiapkan masa depan untuk 
keturunan penyendiri itu sendiri.
 
Mari berbuat untuk Indonesia. Biarpun sedikit, tapi itu lebih baik daripada 
menyerah
 
Salam
MIK
3 IPA 4 -84
Bukan anggota Partai, Just an Ordinary person


      

Kirim email ke