Assalamualaikumwarahmatullahi wabarakatuh...

selamat pagi dan salam sejahtera buat sodara-sodara yang non muslim....


@ari iwpoke, saya bukan gak mau nutup diskusi ini. saya ingin menjadikan
tradisi dialog sebagai budaya kita. Sejujurnya emang ada 'tema tersembunyi'
yang terkadang tidak berani diungkapkan. Dan, itu lebih karena kita semua
takut.Padahal 'tema tersembunyi' ini terus hidup. Bagai api dalam sekam.
Terus membakar. Saya pikir bukan nutup kasus atau mengkalibrasinya. Yang
lebih dewasa dan lebih berani adalah membiarkan dialog ini mengalir. Tapi
dengan catatan JANGAN LAKUKAN PERSONALISASI. Mudah-mudahan banyak yang bisa
mengambil manfaat dari komunitas kecil ini.

@Arif dan Beto, sudahlah gak ada yang keliru. Kita semua sepaham : Homo itu
penyakit. Tidak ada satu agama pun membolehkan. Setuju? soal ini selesai

@Beto, Soal FBR dan FPI kita gak sepakat. Kalau menurut saya bukan
lembaganya yang dibubarkan. Tapi lebih dari pribadi-pribadi yang melakukan.
Sebagai negara hukum, kita punya mekanisme hukum untuk menangani semuanya.

@Beto, apakah pemikiran lo ini representasi Dewan Gereja dan PGi? Apakah ini
representasi Kristen secara keseluruhan?
---kalau memang benar, saya paham mengapa selama ini terjadi 'pertikaian'.
Ya, karena salah satu dari kita tidak setuju dengan penerapan 2 SKb itu.
Bukankah SKB itu konsensus hukum yang mengatur hubungan antar agama. Sebagai
warga negara yang baik, alangkah indahnya bila kita semua taat dengan hukum
yang berlaku. Bukannya malah membangkang dan mencari teori-teori pakar untuk
menjustifikasi 'pembangkangan' ini.
Kalau memang tidak setuju, kita punya mekanisme kan, ajuin aza Judicial
review ke MK.
SKB itu kan mengikat semua warga negara di seluruh NKRI. Maka, terjadi pula
di daerah-daerah mayoritas Kristen.

@Octo dan ambar, terimakasih sudah berbagi. Sabar ya...Allah lebih
menghargai hamba-Nya yang beribadah saja sulit. Saya merasa lebih baik dan
enak. Plus, malu. Gak ada yang ngelarang. Tapi ke masjid gak semua waktu.
Ada saja pesona dunia bikin saya gak sempat ke masjid. Cuma shalat di rumah.

Tenang saja ya Ambar, tentu ibadah kamu akan lebih berharga. Lebih
berkualitas.

Soal minoritas dan mayoritas,
Buat kami juga tidak terlalu nyaman dengan isu mayoritas. Sebagian kerap
mengungkap teori buble. Kita hanya besar seperti buih. Kosong. Besar-besar.
Pas, dor! meledak. Habis semua. Dari sekian jumlah umat Islam Indonesia,
berapa orang yang bisa baca Qur'an. Dari yang bisa baca Qur'an. Berapa
persen yang membaca setiap hari. Dari yang membaca, berapa yang paham. Dari
yang paham paripurna, berapa yang berniat mengamalkan, dari yang berniat
berapa persen yang benar-benar mengamalkan. Duh, beraaat!

Hal ini kongruen dengan data, meningkatnya jumlah kemaksiyatan. Lihatlah
kota bekasi, Dari SPBU-stadion-rawa panjang-pasar baru-hingga tanjakan rawa
semmut. Semuanya itu posko pelacuran. Gila gak? Parahnya lagi, Kota bekasi
menduduki rangking ke dua se jawa barat dalam hal Angka pengidap HIV/Aids.

Belum lagi penanganan anak jalanan dan pengemis. Makin lama makin banyak.
Terasa banget kalau tangan dan daya upaya kita tidak ada artinya dengan
'rekruitmen' pengamen. Arinya, orang miskin baru lebih banyak daripada
ikhtiar untuk menangani orang miskin. Kayaknya kudu ada revolusi neh ya. Di
Islamic centre tiap jumat ada santunan dhuafa. Setiap santunan ada saja
dhuafa baru. kalo kurang-kurang ikhlas kita bisa dongkol.
Apalagi elit-elit kita sibuk dengan koalisi dan capres-capresan.

yah, gitu deh....
mohon maaf kalo kepanjangan. Sungguh saya pengen milis ini jadi ajang dialog
kita. Biar berbeda, tapi kita masih tetep bisa sharing.....

salam Beto ya.....

2009/5/17 Beto FLP <[email protected]>

>
>
> @ Arief: kan sudah gw bilang yang berpikiran sempit gak usah posting.
> Kayaknya di tulisan gw gak pernak bilang suka homo ya? gw juga gak setuju
> sama homo dan perkawinan sejenis, trus kalau begitu kenapa lo nyerang gw?
> inilah contoh islam berpikiran sempit. Gak suka dikit, sikat, berbeda
> pandangan sedikit hina, ganggu dikit bakar. Gak bisa apa membangun wacana
> yang konstruktif? yang gw sampaikan itu cuma fakta dan sekedar menjawab
> pertanyaan bang komar dan itu semua fakta.
> Mengenai oknum (sekali lagi OKNUM)? tanya aja JI sama MI apa tujuan mereka
> mengenai FBR, gak peduli motifnya apa, mau puncak dari ketidakpuasan kek,
> mau atas nama kebenaran kek, yang namaya melanggar hukum ya melanggar hukum.
> mengenai gereja, kan bang komar tanya ada apa gak ada, bukan banyak atau
> sedikit. Kalau pertanyaannya ada atau gak ada ya ada tuh. HKBP Pondok Ungu
> Permai (dibakar ---> masuk SCTV) HKBP Cinere ditutup (masuk kompas), dll.
>
> Gitu loh sodaraku arief yang masih berpikiran sempit. Sorry ya. Please open
> your mind so we can talk, kalau gak mau buka pikiran yah.. silahkan saja
> hina saya, saya tidak akan membalas toh juga gak nyambung juga omongannya
> jadi buat apa.
>
> @ bang komar:
> 1. At least kita sudah sepakat mengenai ada oknum yang memang berbuat
> begitu. Soal dukuangan financial, saya tidak punya data jadi saya tidak
> kompeten berbicara.
> 2. Tentang FBR dan FPI, sudahlah bubarkan saja. Lebih baik anak2x muda di
> FPI dan FBR melamar jadi polisi, jadi bisa memberantas kejahatan atas nama
> hukum, bukan atas nama sentimen pribadi (agama?)
> 3. Soal gereja. John F.Fuller mengatakan, hukum yang tidak bisa dilakukan
> oleh masyarakat yang diaturnya sama sekali bukan hukum. Hukum itu harus
> realistis dan adil. Kalau tidak kenal siapa Fuller tanya om gugle. SKB2
> menteri hampir tidak mungkin dilaksanakan. masakan harus meminta persetujuan
> at least 50 KK yang berebeda agama (tujuannya sih sebagai representasi kalau
> sudah ada 50 KK yang setuju "dianggap" tidak mengganggu masyarakat sekitar)
> untuk mendirikan gereja di wilayah tersebut? hampir tidak mungkin bisa
> dilaksanakan (tidak logis). Lagipula hukum dalam ruang lingkup publik
> (hukum yang mengatur hubungan masyarakat dengan negara) harus bersifat
> non-retroaktif. Tidak boleh hukum publik bersifat retroaktif (kecuali
> UU.39/1999 tentang HAM). Artinya keberlakuan SKB2 menteri itu hanya
> diperuntukan bagi pendirian rumah ibadah yang akan didirikan setelah SKB
> tersebut berlaku, tidak bisa ditarik ulur kebelakang. Masakan gereja yang
> sudah 10 tahun berdiri tiba2x bisa ditutup karena ada sentimen tidak suka
> dan dikhawatirkan akan menimbulkan kericuhan? tidak adil namanya. Kecuali
> memang gereja tersebut benar2x mengganggu, seperti jemaatnya suka mabuk2xan
> suka ribut di malam hari dsb dsb. kalau begitu jangankan dari orang luar,
> saya sendiri sebagai orang kristen mendukung gereja tersebut ditutup karena
> buat apa ada gereja kalau gereja itu tidak bisa mengajarkan, memperbaiki,
> dan menjadikan jemaatnya garam dan terang bagi sekitar.
>
> soal HOMO? memang ada agama yang melegalkan ya? dan setahu saya perkawinan
> sejenis yang dilegalakan cuma ada di luar negeri bukan di NKRI. Salam kasih.
>
>
>
> ------------------------------
> *From:* komarudin ibnu mikam <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Saturday, May 16, 2009 5:55:42 PM
> *Subject:* Re: [sma1bks] Testimoni Romo: "Dirikanlah Negara Islam"
>
>  buat brother Beto dan kawan-kawan lain,
>
> Pertama, gue apreciate ama elo yang berani 'bicara'. Mudah-mudahn gak ada
> yang protes neg. Kita melakukan dialog antar iman. Kalau pun kkita berbeda.
> Mari kita sepakat untuk tidak sepakat. Paling gak lo udah paham maksud gue.
> Atau, gue udah paham maksud lo....
>
> kalo sekadar dialog gini gue pikir bukan SARA ya. SARA itu apabila kita
> menghina agama lain. Dan Islam pun melarang umatnya untuk menghina tuhan
> agama lain.
>
> Firman Allah swt dalam surat Al an Am :108. *“**Dan janganlah kamu (wahai
> kaum Muslim) memaki sembahan-sembahan** **(seperti berhala-berhala atau
> manusia betapapun agungnya) yang mereka sembah** **selain Allah, (karena
> jika kamu memakinya) maka akibatnya mereka akan memaki (pula)** **Allah
> dengan melampaui batas (dan secara tergesa-gesa tanpa berpikir serta) tanpa
> ** **pengetahuan. Apa yang dapat mereka lakukan dari cacian itu sama
> dengan apa yang telah** **dilakukan oleh kaum musyrik yang lain sepanjang
> masa, karena) demikianlah Kami** **memperindah bagi setiap umat, amal
> (buruk) mereka (akibat kebejatan budi mereka dan** **akibat godaan setan
> terhadap mereka. Tetapi jangan duga mereka akan lepas dari tanggung
> jawab, karena) kemudian, (yakni nanti setelah datang waktu yang ditentukan,
> yang boleh jadi kamu anggap lama—nanti—hanya) kepada Tuhan merekalah (yang
> sampai saat ini masih terus memelihara mereka), kembali mereka, (yakni pada
> akhirnya mereka pasti kembali kepada Allah swt. lalu) Dia (yang Mahakuasa
> dan Maha Mengetahui itu) memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka
> kerjakan (sambil menuntut pertanggungjawaban mereka) (QS. al-An‘âm [6]: 108)
> *.
>
> Brother Beto.
>
> Soal mendirikan Negara islam, gue jujur memang ada yang sekelompok orang
> Islam yang masih ngotot untuk mendirikan Negara Islam. Tapi, kalau lihat
> statistic dimana hampir 80% orang yang nyontreng itu  beragama Islam. Nah,
> apa masih relevan kalau menuduh orang islam itu akan mendirikan Negara
> Islam?
>
> Kedua, apakah ada sekelompok orang terlatih (well trained), terorganisir
> dengan rapih (well organized) dengan dukungan financial yang hebat. Lalu,
> mereka mendesakan keinginan untuk mendirikan Negara Islam.
>
> Atau, mari kita flash back ke tahun 45. Ketika tujuh kalimat dihapus.
> Tokoh-tokoh Islam waktu itu mengikhlaskan. Apakah masih menuduh umat Islam
> akan mendirikan Negara Islam?
>
> Percayalah, cita-cita politik Islam adalah juga cita-cita politik
> Indonesia. Indonesia dan Islam merupakan bagian organic yang tidak
> terpisahkan. Buat Beto dan teman-teman lain percayalah dengan saya. Jangan
> takut! Bagi kami yang penting adalah bagaimana ibadah yang kami lakukan
> dapat sempurna terlaksana. Sementara yang lain, bila dilakukan dengan
> nilai-nilai kebaikan, jujur, amanah, professional berpihak ke rakyat,.
> Itulah Islam. Tanpa perlu gembar-gembor bahwa ini Islam atau bukan. Umat
> kini berpikir gak apa-apa ‘baju’ partainya merah, kuning, biru,atau merah
> putih atau apa lah warnanya. Yang penting, ia melakukan segala sesuatu
> sesuai dengan nilai-nilai Islam.
>
> Duhai saudaraku umat Kristiani dan yang lainnya,
>
> Tenang saja. Kami masih punya banyak perbendaharaan cinta dan kasih. Untuk
> kita membangun bangsa ini lebih baik. Mengentaskan kemiskinan. Menegakan
> keadilan, memberantas korupsi.
>
> Soal FPI dan FBR,
>
> Yang gue mau kalau ada tikus di gudang. Bukan gudangnya dibakar. Kalau ada
> anggota fpi dan fbr yang melanggar pasal2 KUHAP, laporkan aza. Kejadiannya
> dimana, peristiwanya apa, korbannya siapa, bawa aza ke polisi. Begitu juga
> kalau ada oknum dari gereja yang bermasalah bukan gerejanya dibakar. Bawa
> aza oknumnya ke polisi.
>
> Mari kita lihat dari frame yang lebih besar. FBR itu merupakan resul dari
> pembangunan yang tidak memperhatikan penduduk asli. Kotanya modern. Orangnya
> terpinggir. Kotanya metropolitan, penduduk aslinya belepotan.
>
> Soal gereja,
>
> Kan kita udah punya mekanisme melalui perundang-undangan yang ada. SKB 2
> menteri. Melalui FKUB. Ajukan saja ke FKUB. Kalau sudah keluar izin dari
> FKUB yang itu sah.
>
> Sorry lho, di wisma asri terus taman kebalen indah ada lebih dari 8 gereja.
> Aman-aman aza tuh! Walau pun gereja itu di ruko. Kan salah perizinan! Ruang
> yang diperuntukan usaha malah dijadikan buat ibadah.
>
> Soal Homo,
>
> GAK ADA KOMPROMI HOMO ITU HARAM!
>
> He..he..he….gitu aza bro,
>
> Gue mohon maaf kalo ada yang nyinggung. Gue terbuka buat diskusi koq.
> Apalagi kalo sembari  ngupi……
>
>  
>



-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply.com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)

Kirim email ke