Haji - Bukti Islam Pasti Dapat Menyatukan Ummat Manusia   (dikutip dari
Buku karangan Jefry Lang yang berjudul "Bahkan Malaikat Pun Bertanya",
hal 256, 263-266)   Saudara sekalian, banyak agama memberikan klaim
bahwa mereka menganggap semua manusia sama - prinsip egalitarian.
Tapi... hanya Islam yang berhak mengklaim demikian, karena memang secara
terang dan nyata tertulis ajaran semua manusia sama, dan secara nyata
ada contoh pelaksanaannya. Haji - Bukti Bukan Janji, Bahwa Islam Pasti
Dapat Menyatukan Ummat Manusia, sebagaimana kesaksian dan pengalaman
Jefry Lang berikut ini.    Secara singkat, ia hampir terjebak dengan
perasaan ujub, sombong, chauvinisme dan rasis kultural, menganggap
mualaf jauh lebih baik dari orang yg menjadi muslim sejak lahir, apalagi
ia adalah orang kulit putih Amerika, yang pada saat itu, dan mungkin
masih sekarang, adalah pemegang kekuasaan dan peradaban dunia. Namun
Haji-lah yang mengingatkannya tentang persamaan Ummat manusia,
Alhamdulillah.   .....   Pada mulanya, saya menikmati ketenaran sekilas
itu. Biasanya saya akan sedikit mengungkapkan lelucon-lelucon dan
menjadi sangat bersemangat dalam menuturkan kisah konversi saya ke dalam
Islam. Saya jarang menemui pendengar yang sangat responsif. Akan tetapi,
segera saja saya mulai merasa seperti barang pameran di museum dan
menjadi bosan mengulang-ulang cerita basi yang sama. Sebenaranya, tidak
ada yang terlalu istimewa atau heroik tentang proses saya menjadi
seorang muslim. Saya mulai bertanya-tanya: sekiranya saya bukan orang
Amerika kulit putih keturunan Anglo-Saxon, tentulah kisah saya tidak
akan bersifat inspirasional atau memberikan ilham kepada para pendengar
saya. Saya mulai merindukan dan mendambakan agar tidak dikenal dan
beroleh kebebasan pribadi. Tentu saja, sebuah tempat padat berjejalan
dan suasana hingar-bingar ini, harapan seperti itu mungkin terlalu
berlebihan, tetapi saya merasa seolah-olah diawasi terus-menerus. Saya
hanya ingin duduk dengan tenang di suatu tempat tanpa harus berpura-pura
tidur agar orang lain membiarkan saya sendiran.   .....   Sekalipun
secara teknis saya telah menyelesaikan ibadah hadi, saya merasa gelisah
seolah-olah ada bagian tertentu yang tertinggal. Saya tahu saya telah
melaksanakan setiap amalan ibadah dengan cermat dan khusyuk sebagaimana
mestinya, tetap saja ada perasaan gagal dan belum sempurna.   Kemudian
pikiran saya beralih pada angan-angan pulang ke Amerika. Saya berpikir
mengapa saya tidak bisa bersabar menunggu duduk di pesawat yang akan
menerbangkan saya kembali ke rumah lagi. Dalam hati saya bergurau bahwa
saya akan keluar dari pesawat dan mencium landasan pesawat begitu
mendarat di bandara JFK. Saya merasakan betapa tersiksanya saya selama
setahun ini adn betapa penderitaan ini akan berakhir dalam beberapa
minggu lagi. Saya membayangkan alangkah senangnya nanti berkumpul lagi
dengan teman-teman Amerika saya, bersama orang-orang yang dapat saya
pahami, dan mereka memahami saya, menonton televisi Amerika, pergi ke
perpustakaan atau toko-toko buku Amerika, mengunjungi kedua orang tua
dan saudara-saudara saya dan keluarga mereka lagi!   Sebuah bus berhenti
di dekat saya. "Ke Mina?" tanya saya kepada sopir. Ia menganggukkan
kepala.   Saya membayar sopir sepuluhriyal, lalu mencari tempat di mana
saya dapat duduk sendirian tanpa terganggu. Saya merasa telah ditanya
ratusan kali tentang kebangsaan dan konversi saya ke dalam Islam selama
minggu terakhir ini, dan saya siap mengusir penanya berikutnya. Saya
merasa lega, karena tiga bari tempat duduk di belakang kosong. Saya
menghindari bertatapan mata dengan siapa pun ketika saya berjalan di
ruas tengah bus. Saya memilih tempat duduk di tengah barisan terakhir,
lalu duduk, merentangkan tubuh, menyilangkan kaki, bersedekap tangan,
menyandarkan kepala, menutup kedua mata, dan berharap semoga tidak ada
seorang pun mengganggu saya.   Ketika bus mulai berjalan, saya membuka
mata sedikit untuk memastikan bahwa saya tidak menimbulkan rasa
penasaran seseorang. Benar juga, seorang laki-laki di baris tempat duduk
kedua sebelah kiri sedang menatap dan tersenyum kepada saya. "Tetaplah
di situ!" kata saya dalam hati. Kemudian saya menutup mata rapat-rapat
dan memalingkan wajah ke sebelah kanan.   Beberapa detik kemudian, saya
merasa ada seseorang duduk di sebelah kiri saya. "Permisi, bolehkan saya
bertanya sesuatu kepada Anda?" Ia berkata dengan nada sangat sopan dan
minta maaf. Pelan-pelan saya menghadapkan kepala ke depan dengan tetap
menutup mata. "Silahkan," kata saya sambil menarik nafas. "Apakah Anda
orang Amerika?" ia bertanya dengan nada keheranan. "Ya," saya mendesah
lelah karena sudah tahu pertanyaan apa berikutnya. Ia kemudian 
menyorongkan badannya lebih dekat kepada saya dan bertanya, hampir
seperti berbisik. "Dapatkah Anda menceritakan kepada saya bagaimana Anda
menjadi seorang muslim?"   Dalam tujuh hari terakhir ini, jawaban saya
atas pertanyaan itu menjadi semakin pendek, setiap kali diajukan kepada
saya pertanyaan itu. Pada mulanya, saya memerlukan waktu setengah jam
untuk menuturkan kisah saya, tetapi sekarang ini saya sudah
memendekkannya menjadi uraian singkat setengah menit. Tanpa mengubah
posisi duduk saya atau membuka mata, saya memberinya kesimpulan yang
membosankan ini: saya dilahirkan sebagai penganut Kristen. Saya menjadi
seorang ateis pada usia delapan belas tahun lantaran keberatan-keberatan
rasional tertentu saya atas gagasan tentang Tuhan. Saya tetap menjadi
ateis selama sepuluh tahun berikutnya. Kemudian pada usia dua puluh
delapan tahun saya membaca tafsir Al-Quran. Dengan membaca tafsir itu,
saya mendapati Al-Quran tidak saja memberikan jawaban-jawaban koheren
atas berbagai keberatan saya, melainkan juga membuat saya kembali
beriman kepada Tuhan sesudah membacanya. Demikianlah, akhirnya saya
menjadi seorang muslim.   Ketika sinopsis saya selesai, saya memicingkan
mata kiri saya untuk melihat apakah ia terpukul mundur oleh jawaban saya
yang kaku. Tetapi, alangkah terkejutnya saya. Saya melihat air mata
menetes di pipi laki-laki itu. Dan betapa malunya saya!   Pada waktu
itu, saya memohon kepada Allah agar memaafkan saya karena bersikap
begitu kasar dan arogan serta memohon agar Dia membantu saya lebih bisa
seperti saudara saya yang rendah hati ini, yang kekuatan cintanya pada
agama menyebabkannya begitu mudah meneteskan air mata dan tetap dapat
merasakan rahmat dan kebesaran Allah atas kisah yang sangat kering
seperti itu. Saya lalu duduk dengan tegak dan menghadap kepadanya.  
"Siapa nama Anda dan dari mana Anda berasal?" tanya saya. "Nama saya
Ahmed dan saya berasal dari Bangladesh," ia menjawab dengan tersenyum,
sambil menghapus air matanya. "Senang sekali berkenalan dengan Anda,
Ahmed. Nama saya Jeffrey. Saya berasal dari Negara Bagian Kansas,
Amerika."   Setelah kami saling sedikit bertukar informasi tentang diri
masing-masing, Ahmed tiba-tiba bertanya dengan rian, "Tidakkah ini haji
yang luar biasa, Saudaraku Jeffrey?"   Saya tidak memberikan jawaban.  
"Ingatlah di hari ketika kita tiba," ia melanjutkan, "betapa kita semua
dapat mendengar panggilan haji dari arah di sekelilingnya kita semua,
'Labbaika Allaahumma Labbaik! Labbaika Allaahumma Labbaik!' Tahukah anda
makna 'labbaik' di negara saya?" ia bertanya. "Maaf kalau saya katakan
bahwa saya hampir tidak tahu sedikitpun tentang Bangladesh," jawab saya.
Ia memandangi saya dengan tajam dan berkata, "Di negara saya, bila
seorang guru memanggil seorang murid di kelas, murid akan segera berdiri
tegak dan berseru 'Labbaik, Guru, Labbaik!' seolah-olah ingin
mengatakan, 'Saya siap guru - saya siap melayani guru!' Inilah sikap
yang seharusnya kita, kaum muslim, ambil dalam hubungannya dengan Allah
- dan inilah sikap para nabi. Seperti ketika Allah memerintahkan Nabi
Ibrahim as agar mengumandangkan seruan atau panggilan di Mekkah waktu
itu - paling-paling hanya keluarganya dan beberapa penggembala yang
mungkin ada di sana. Sekiranya yang diseru adalah Anda atau saya, hampir
pasti kita akan ragu-ragu dan berkata, 'Mengapa menyeru menunaikan
ibadah haji ketika tidak ada seorang pun di daerah ini yang akan
mendengarkannya?' Akan tetapi, keimanan dan keyakinan Nabi Ibrahim
kepada Allah amatlah besar sehingga beliau tidak menunggu-nunggu barang
sedetik pun. Sebaliknya, beliau berdiri di tempat yang kosong dan segera
mengumandangkan azan. Wahai saudaraku Jeffrey, seandainya saja Nabi
Ibrahim as melihat jutaan hamba Allah di sini tengah memenuhi seruan itu
sekarang, seandainya saja beliau melihat kita berdua - Anda dari Amerika
dan saya dari Bangladesh - duduk disini bersama - sebagai orang-orang
yang bersaudara - di dalam bus yang sedang kembali menuju ke Mina!"  
Sekarang giliran saya merasakan gelora emosi. Saya merasa begitu malu
kepada diri sendiri. Dan saya merasa seperti hendak menangis - dan
hampir saja saya menangis - tetapi saya berhasil melawan dorongan itu.  
Sekarang saya menyadari apa yang kurang dari ibadah haji saya: rasa
persatuan, persaudaraan, dan cinta yang diserukan oleh Islam kepada para
pengikutnya.   Sebagai akibat dari beberapa peristiwa tak menguntungkan
yang saya alami selama setahun terakhir ini dan sedikit guncangan
kebudayaan, saya telah membiarkan diri saya terjerumus dalam chauvinisme
dan rasisme kultural. Saya memberiakan diri saya merasa lebih unggul dan
menjauh dari kaum muslim di sekitar saya, sehingga pada akhirnya, bahkan
ibadah haji saya menjadi ibadah ritual pribadi (seharusnya mesti
kebalikannya). Kata-kata bijaksana Ahmed itulah yang menunjukkan jalan
saya yang salah. Saya sadar sekarang bahwa sebenarnya saya dapat
memperoleh banyak manfaat selama setahun tinggal di Timur Tengah dan
juga dari ibadah haji ini. Akan tetapi, sekali lagi, saya telah
membiarkan keangkuhan justru menghalang-halanginya. Saya merasa bahwa
saya perlu melakukan ibadah haji lagi, karena salah satu unsurnya yang
paling penting - cinta kepada sesama muslim - tidak ada dalam penunaian
ibadah haji saya.   Beberapa menit kemudian, bus berhenti dan saya harus
turun.   "Saya beruntung berjumpa dengan Anda, Ahmed," kata saya
kepadanya sambil menyalami tangannya, "semoga Allah memberkati Anda!
Assalamu 'alaikum, Saudaraku Ahmed!" "Wa 'alaikum salam, Saudaraku
Jeffrey!" jawabnya dengan senyum lebar.

Kirim email ke