Tinggal dikonfirmasi ke petugas ATC atau mbak ita yg wartawan kartini itu, kan 
sesama pers.

Tapi saya pernah masuk ke ATC Ngurah Rai tahun 2003 waktu KKL, tempatnya bersih 
dan steril, tidak ada bau rokok dan bekas makanan


AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone

-----Original Message-----
From: "Dicky Kurniawan" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 May 2012 00:36:07 
To: Milis SMUN 1 Bekasi<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan 
Februari)

Masa sih ATC begini? Tak ada foto pula ytg bisa dikonfirmasi.. Lagian pas ada 
kejadian, baru dah nongol tulisan2 kayak gini..

Sebelah rumah kebetulan orang ATC..tingkat stress tinggi memang, tp tidak 
sampai seperti yg ditulis kayak gini.. FYI, ATC itu sangat steril, menteri aja 
bahkan menurut aturan tak boleh masuk ATC..hanya pejabat berwenang yg memiliki 
otoritas yg bisa masuk ATC.. 

Sory, ini buat saya tak lebih dari sekedar hoax dan pencitraan dahlan iskan 
aja..
it's only a transition

Dicky Kurniawan

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Morry Infra <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 May 2012 03:46:23 
To: Serba_KL Serba_KL<[email protected]>; Ahlan 
Riyadh<[email protected]>; <[email protected]>; ARII Drlg 
Milist<[email protected]>; ex-cii<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari)

---------- Forwarded message ----------
From: <dudim2003>
Date: 2012/5/15
Subject:  Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari)

**
Powered by Telkomsel BlackBerry®
------------------------------
*From: * "Probo Yuniar" < <[email protected]>>

<[email protected]>
*Date: *Tue, 15 May 2012 19:26:56 +0700
*Subject:* Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari)

Copas dari Millis Sebelah :

 Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil
Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya
hanya berempat. Pak Menteri BUMN, aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan
kiri berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku dan pak
Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil mewah itu.
Terlihat beberapa botol air mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga
ada permen.

''Kita berangkat pagi, krn aku pingin mampir ATC (Air Traffic Control)
Soeta,'' kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris warna biru
yang dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan kumasukkan ke dalam
bagasi mobil berwarna hitam metalik itu. Sepinya jalanan ibukota, membuat
Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1 jam, perjalanan menuju bandara
Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa hambatan. Lucunya, saat sampai
di pintu gerbang Perum Angkasa Pura (PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri
bergegas menurunkan kaca sambil menyapa sekuriti dan satpam yang tengah
berjaga.

''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa pak Dis dgn ramah. Belum sempat menjawab,
mobil yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling ujung. Rupanya
gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena di gedung inilah
letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara yang ada di bandara
Soeta. Belum sampai di tempat parkir, terdengar peluit dari security yang
kita lalui. Dari belakang, kulihat petugas jaga yang ada di pos,
berlari-lari menghampiri mobil kami. Dengan wajah garang, seorang petugas
berbadan agak tambun menyuruh mobil kami kembali. ****


Alasannya, tempat terlarang dan tidak boleh sembarangan orang masuk. Utk
urusuan itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat ada adu
argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan petugas security. Sedangkan
Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang terjadi, aku tidak tahu
pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang sangat cepat, lebih penting.
Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis menuju sebuah gedung yg salah
satu mejanya bertuliskan receptionis.

''Pagi, Assalamulaikum, permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu
kosong. Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan
berusaha memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat keadaan.
Kotor dan perlatan kantor berserakan tidak pada tempatnya. Disamping itu,
terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol air menieral, bekas
piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung rokok. Padahal, ruangan itu
full AC. Dingiiin. Bagiku, ini aneh... Meskipun minggu dikenal hari libur
bagi masyarakat umum, tidak demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari
libur, justru hari-hari sibuk bagi instansi yang ada dalam salah satu BUMN
tersebut. Makanya, ada 3 shif yang diberlakukan bagi karyawannya di bagian
ini. Belum tuntas keanehanku, muncul suara nyanyian dari laki-laki yang ada
di dlm ruangan yang ada di televisinya itu.

Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan jawaban salam,
yang kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa lo, pagi gini. Berisik
amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah ketus. Begitu
melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan suara tak kalah garang.
''Siapa yang suruh masuk ke sini,'' katanya dengan suara lebih keras.
Akupun tak mau kalah. ''Mana bosmu, pak menteri pingin ketemu,'' jawabku
dengan tak kalah garang. Mendengar suara galakku, laki-laki yang ada di
dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya ada lima orang lelaki yang bersiap
menghadapiku.****


Saat kutoleh ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar
dan mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah
gesitnya. ''Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua petugas yang
masih muda dan ganteng. Tanpa menjawab, aku pergi berlari menguntit langkah
pak Dis dari belakang. Kulihat, ada perubahan wajah pak Dis dari yang
sebelumnya ramah, agak kecut. HP blakberry warna hitam dikeluarkan dan
memencet nomor telepon. Sambil terus berjalan, pak Dis menelepon seseorang.

''Assalamulaikum, selamat pagi mas. Mohon maaf, mengaanggu libur anda ya.
Sory, nih, saya nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC. Melihat
komputer yang baru kita beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,'' ucap pak
menteri. Rupanya, pak Dis menelpon bos PAP yang tengah menikmati libur
minggu. ''Tidak usah, tidak usah. Biar saya sendiri saja yang mencari. Saya
sudah ada di dalam kantor anda kok ini. Cuma mencari-cari belum ketemu,''
ucap pak menteri sambil terus membuka-buka pintu ruangan yg dilalui.
Rupanya, sebelum itu, pak Dis sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa
tempatnya. Meski demikian, pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada
ruangan yang bertuliskan ATC.

Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya dengan wajah berbinar.
Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yg agak tersembunyi
itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa
orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu
karyawan yg tengah bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika
ruangan mereka dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai,
terlihat kembali ke komputernya. Begitu juga yang tengah merokok,
meletakkan putung rokoknya di asbak yang ada di sampingnya.

''Wah, lembur ya. Maaf, saya ganggu,'' ucap pak Dis sambil bertanya-tanya
pada karyawan yang berkerja kala itu. Stlh meminta penjelasan ruangan yg
tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC. ''Wah,
disini perokok semua ya,'' kata pak Dis setengah menyindir. Kudengar ada
yang menjawab dan ada yang membisu, sambil mematikan putung rokoknya.
Beberapa orang, kulihat sibuk menelepon. Entah siapa yang
ditelepon. Pastinya, ada dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai
supervisor menjadi penunjuk jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju
ruangan yang ditunjukkan.

''Di sini pak. Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem
kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan ''dilarang
masuk'' dan tulisan ''steril''. Selain itu juga ada tulisan ''jagalah
kebersihan''. Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot
sepatu ketsnya. Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepatu. ''Di sini
tidak sembarang orang boleh masuk pak,'' kata petugas tadi menjelaskan
ruangan khusus itu. Pak Dis hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak
naik ke sebuah tangga. Kalau tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami
naiki. Di ujung anak tangga, terdapat sebuah ruangan yang dipintunya
bertuliskan ''yang tidak berkepentingan di larang masuk''.

Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya full
komputer. Suasananya ramai. Minimal ada 30 komputer berbagai ukuran.
Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang, ruangan yang
super dingin itu tidak steril, spt slogan yang dituliskan. Buktinya, di
samping meja komputer, ada beberapa makanan. Mulai makanan kecil, sampai
piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu
terdapat beberapa asbak ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi ... Paraah ...

STRES

Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok dan
bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis serius.
Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ''Oh, iya pak.
Rokok itu utk menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak bisa
konsentrasi dalam memantau jalur-jalur penerbangan,'' jawab lelaki
sekenanya. ''Oh, gitu ya. Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di
rumah. Di sini kan butuh orang sehat. Bukan untuk orang stres,'' jawab pak
Dis tak mau kalah. Melihat jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya,
pak. Siap,'' jawabnya dengan wajah pucat.  ''Tolong ya, pak. yang stres
diistirahatkan saja,'' tambah pak Dis.

Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang baru
saja didatangkan oleh kementeriannya*. Setelah itu, pak Dis berkeliling dan
melihat sekeliling. Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan
beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ''Lebih komplit di
sini, dibuka kantin atau resto ya,'' ucapnya sinis.* Sindiran ini ternyata
direspon positif. Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya mengikuti
langkah kita, buru-buru menugasi kawannya membersihkan bekas makanan,
piring atau apa saja yang ada di meja sekitar komputer. Akupun hanya
senyum-senyum melihat karyawan di bagian komputer itu kelabakan.

KONSER

Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC berada.
Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di bandara
Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara. Karena di
tempat inilah komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat untuk minta
ijin landing atau take off pesawat. Sial. Meskipun tempat ini bisa
dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti yang digambarkan.

Super sterilnya tidak tampak. Putung rokok juga masih ada di beberapa
tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri, kembali
kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak diimbangi dengan
atitu operatornya. Ketka ditanya mengapa masih ada putung dan asbak,
petugas tadi berkata lugu. ''Biasanya kalau teman-teman panik,
pelampiasannya memukul-mukul berbagai alat yang ada utk pelampiasan
kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak Apalagi jika cuacanya buruk seperti
akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang bertanggung jawab di bagian tower. Pak
Dis pun mendengar dengan serius jawaban petugas tersebut.****


''Oh begitu. Bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran sambil
mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara
rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian tower
itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah ruangan
kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak lanjuti.
Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di bagian tower sebagai
pelampiasan kegalauan karyawan.

''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja kita
di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan orkestra
untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi gampang untuk
mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan pak Dis
kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya menganggukkan kepala. Jelas
sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah.

DOSEN

Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri mengenakan
sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru, akupun mengisahkan
bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos. Bapak-bapak, kataku memulai
''ceramah'' kecil''.****

Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat cetak jarah jauh dan
lain sebagainya yg berkaitan dgn satelit. Untuk menjaga itu semua, bukan
berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh. Asalkan di luar
ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh dilakukan. Karena
merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya itu harus dilakukan pada
tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar ruangan. Di dalam ruang redaksi,
harus steril. Jadi, kataku lebih lanjut, tolong, di sediakan ruangan
merokok bagi yang merokok.****

Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar dan bersih, peralatan super
canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa diperlihara dengan aman.
Melihat aku berceramah seperti dosen di depan mahasiswa, pak Dis menahan
senyum sambil pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya.

Oalah....rek....rek. Dadi opo aku iki.

Setelah itu, kamipun pamitan pulang. Di tengah perjalanan menuju mobil,
kulihat ada seorang pejabat yang buru-buru hendak menemui kami. ''Mana pak
menteri Dahlan,'' tanyanya kepadaku. Akupun segera menunjukkan dengan
tanganku ke arah belakang. Kulihat pak Dis sibuk menelpon di temani tiga
orang supervisor yang tadi kukuliahi.****

Sayup-sayup, ku dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf pada pak
Dis karena keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di tempat
lain,'' ucapnya memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet karena
dinginnya ruangan ''steril'' tersebut.

Bandara Soekarno-Hatta medio Februari 2012 dituturkan oleh Siti Ita
Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini   ****

  

Kirim email ke