Benar atau tidaknya nya cerita ini (mungkin apa yang disampaikan saudara arief 
ada benarnya), harus dikonfirmasi ke wartawan yang bersangkutan. Tapi kalau 
dikatakan pencitraan, saya kok melihatnya terlalu jauh ya. Karena saya termasuk 
yang sering membaca riwayat hidup beliau dari pertama masuk PLN, masalah 
cangkok hati, sampai sekarang dia masuk ke kementrian BUMN, dan memang beliau 
lebih senang melihat semua permasalahan di lapangan langsung dan ketemu dengan 
orang-orang yang berkepentingan, daripada menunggu laporan masuk.

 
________________________________
Dari: Dicky Kurniawan <[email protected]>
Kepada: Milis SMUN 1 Bekasi <[email protected]> 
Dikirim: Rabu, 16 Mei 2012 8:01
Judul: Re: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan 
Februari)
 


  
Yup! ATC bandara balikpapan jg bersihh..ini si HOAX aja.. Wartawan nulis kok 
begini modelnya..keterangan waktunya aja ga ada..
it's only a transition

Dicky Kurniawan

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  "Arief Kurniawan" <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Wed, 16 May 2012 01:05:51 +0000
To: Milis SMA 1 Bekasi<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan 
Februari)
  
Tinggal dikonfirmasi ke petugas ATC atau mbak ita yg wartawan kartini itu, kan 
sesama pers.

Tapi saya pernah masuk ke ATC Ngurah Rai tahun 2003 waktu KKL, tempatnya bersih 
dan steril, tidak ada bau rokok dan bekas makanan


AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone
________________________________

From:  "Dicky Kurniawan" <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Wed, 16 May 2012 00:36:07 +0000
To: Milis SMUN 1 Bekasi<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: Re: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan 
Februari)
  
Masa sih ATC begini? Tak ada foto pula ytg bisa dikonfirmasi.. Lagian pas ada 
kejadian, baru dah nongol tulisan2 kayak gini..

Sebelah rumah kebetulan orang ATC..tingkat stress tinggi memang, tp tidak 
sampai seperti yg ditulis kayak gini.. FYI, ATC itu sangat steril, menteri aja 
bahkan menurut aturan tak boleh masuk ATC..hanya pejabat berwenang yg memiliki 
otoritas yg bisa masuk ATC.. 

Sory, ini buat saya tak lebih dari sekedar hoax dan pencitraan dahlan iskan 
aja..
it's only a transition

Dicky Kurniawan

Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Morry Infra <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Wed, 16 May 2012 03:46:23 +0300
To: Serba_KL Serba_KL<[email protected]>; Ahlan 
Riyadh<[email protected]>; <[email protected]>; ARII Drlg 
Milist<[email protected]>; ex-cii<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari)
  
---------- Forwarded message ----------
From: <dudim2003>
Date: 2012/5/15
Subject:  Fw:  Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari) 

 
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  "Probo Yuniar" <> 
 
Date: Tue, 15 May 2012 19:26:56 +0700
Subject: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari)
Copas
dari Millis Sebelah :
Minggu,
pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil Mercy L 1 JP
melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya hanya berempat. Pak
Menteri BUMN, aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan kiri berdampingan
dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku dan pak Jusak, duduk di
belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil mewah itu. Terlihat beberapa
botol air mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga ada permen.

''Kita berangkat pagi, krn aku pingin mampir ATC (Air Traffic Control) Soeta,''
kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris warna biru yang
dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan kumasukkan ke dalam bagasi
mobil berwarna hitam metalik itu. Sepinya jalanan ibukota, membuat Zahidin
tancap gas full. Tidak sampai 1 jam, perjalanan menuju bandara Soeta dari
Capital Residence, dilalui tanpa hambatan. Lucunya, saat sampai di pintu
gerbang Perum Angkasa Pura (PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri bergegas
menurunkan kaca sambil menyapa sekuriti dan satpam yang tengah berjaga.

''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa pak Dis dgn ramah. Belum sempat menjawab, mobil
yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling ujung. Rupanya gedung ini
adalah tempat paling vital milik PAP. Karena di gedung inilah letak berbagai
mesin pengontrol lalu lintas udara yang ada di bandara Soeta. Belum sampai di
tempat parkir, terdengar peluit dari security yang kita lalui. Dari belakang,
kulihat petugas jaga yang ada di pos, berlari-lari menghampiri mobil kami. 
Dengan
wajah garang, seorang petugas berbadan agak tambun menyuruh mobil kami
kembali. 

Alasannya, tempat terlarang dan tidak boleh sembarangan orang masuk. Utk
urusuan itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat ada adu
argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan petugas security. Sedangkan Pak
Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang terjadi, aku tidak tahu
pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang sangat cepat, lebih penting.
Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis menuju sebuah gedung yg salah satu
mejanya bertuliskan receptionis.

''Pagi, Assalamulaikum, permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu kosong.
Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan berusaha memasuki
ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat keadaan. Kotor dan perlatan
kantor berserakan tidak pada tempatnya. Disamping itu, terlihat meja kerja
maupun meja tamu, terdapat botol air menieral, bekas piring makan dan satu
lagi, asbak penuh puntung rokok. Padahal, ruangan itu full AC. Dingiiin. Bagiku,
ini aneh... Meskipun minggu dikenal hari libur bagi masyarakat umum, tidak
demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari libur, justru hari-hari sibuk bagi
instansi yang ada dalam salah satu BUMN tersebut. Makanya, ada 3 shif yang
diberlakukan bagi karyawannya di bagian ini. Belum tuntas keanehanku, muncul
suara nyanyian dari laki-laki yang ada di dlm ruangan yang ada di televisinya
itu.

Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan jawaban salam, yang
kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa lo, pagi gini. Berisik amat,''
demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah ketus. Begitu melihat wajahku,
laki-laki lain muncul dengan suara tak kalah garang. ''Siapa yang suruh masuk
ke sini,'' katanya dengan suara lebih keras. Akupun tak mau kalah. ''Mana
bosmu, pak menteri pingin ketemu,'' jawabku dengan tak kalah garang. Mendengar
suara galakku, laki-laki yang ada di dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya ada
lima orang lelaki yang bersiap menghadapiku.

Saat kutoleh ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar dan
mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah gesitnya.
''Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua petugas yang masih muda dan
ganteng. Tanpa menjawab, aku pergi berlari menguntit langkah pak Dis dari
belakang. Kulihat, ada perubahan wajah pak Dis dari yang sebelumnya ramah,
agak kecut. HP blakberry warna hitam dikeluarkan dan memencet nomor telepon.
Sambil terus berjalan, pak Dis menelepon seseorang.

''Assalamulaikum, selamat pagi mas. Mohon maaf, mengaanggu libur anda ya. Sory,
nih, saya nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC. Melihat komputer yang
baru kita beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,'' ucap pak menteri. Rupanya, pak
Dis menelpon bos PAP yang tengah menikmati libur minggu. ''Tidak usah, tidak
usah. Biar saya sendiri saja yang mencari. Saya sudah ada di dalam kantor anda
kok ini. Cuma mencari-cari belum ketemu,'' ucap pak menteri sambil terus
membuka-buka pintu ruangan yg dilalui. Rupanya, sebelum itu, pak Dis sudah 
pernah
berkunjung. Hanya saja, lupa tempatnya. Meski demikian, pak Dis tidak putus
asa. Sampai akhirnya, ada ruangan yang bertuliskan ATC.

Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya dengan wajah berbinar.
Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yg agak tersembunyi
itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa orang
bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu karyawan yg
tengah bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka
dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai, terlihat kembali ke
komputernya. Begitu juga yang tengah merokok, meletakkan putung rokoknya
di asbak yang ada di sampingnya.

''Wah, lembur ya. Maaf, saya ganggu,'' ucap pak Dis sambil bertanya-tanya pada
karyawan yang berkerja kala itu. Stlh meminta penjelasan ruangan yg tengah
didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC. ''Wah,
disini perokok semua ya,'' kata pak Dis setengah menyindir. Kudengar ada yang
menjawab dan ada yang membisu, sambil mematikan putung rokoknya. Beberapa
orang, kulihat sibuk menelepon. Entah siapa yang ditelepon. Pastinya, ada
dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai supervisor menjadi penunjuk
jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan.

''Di sini pak. Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem kuning
muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan ''dilarang masuk'' dan
tulisan ''steril''. Selain itu juga ada tulisan ''jagalah kebersihan''. Karena
tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot sepatu ketsnya. Apalagi di
tempat itu juga terdapat rak sepatu. ''Di sini tidak sembarang orang boleh
masuk pak,'' kata petugas tadi menjelaskan ruangan khusus itu. Pak Dis hanya
manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak naik ke sebuah tangga. Kalau tidak
salah, ada 10 anak tangga yang kami naiki. Di ujung anak tangga, terdapat
sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan ''yang tidak berkepentingan di
larang masuk''.

Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya full
komputer. Suasananya ramai. Minimal ada 30 komputer berbagai ukuran.
Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang, ruangan yang super
dingin itu tidak steril, spt slogan yang dituliskan. Buktinya, di samping meja
komputer, ada beberapa makanan. Mulai makanan kecil, sampai piring bekas makan
mie. Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu terdapat beberapa asbak
ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi ... Paraah ...

STRES

Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok dan bekas
makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis serius. Kulihat,
leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ''Oh, iya pak. Rokok itu utk
menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak bisa konsentrasi dalam
memantau jalur-jalur penerbangan,'' jawab lelaki sekenanya. ''Oh, gitu ya.
Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di rumah. Di sini kan butuh orang
sehat. Bukan untuk orang stres,'' jawab pak Dis tak mau kalah. Melihat jawaban
itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya, pak. Siap,'' jawabnya dengan wajah
pucat.  ''Tolong ya, pak. yang stres diistirahatkan saja,'' tambah pak
Dis.

Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang baru saja
didatangkan oleh kementeriannya. Setelah itu, pak Dis berkeliling dan
melihat sekeliling. Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk dan
beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ''Lebih komplit di sini,
dibuka kantin atau resto ya,'' ucapnya sinis. Sindiran ini ternyata
direspon positif. Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya mengikuti langkah
kita, buru-buru menugasi kawannya membersihkan bekas makanan, piring atau apa
saja yang ada di meja sekitar komputer. Akupun hanya senyum-senyum melihat
karyawan di bagian komputer itu kelabakan.

KONSER

Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC berada.
Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di bandara Soeta.
Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara. Karena di tempat inilah
komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat untuk minta ijin landing atau
take off pesawat. Sial. Meskipun tempat ini bisa dikatakan jantungnya bandara,
tidak seperti yang digambarkan.

Super sterilnya tidak tampak. Putung rokok juga masih ada di beberapa tempat. 
Bahkan,
sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri, kembali kecewa. Peralatan
serba canggih dan super mahal, tidak diimbangi dengan atitu operatornya. Ketka
ditanya mengapa masih ada putung dan asbak, petugas tadi berkata
lugu. ''Biasanya kalau teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul
berbagai alat yang ada utk pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak
Apalagi jika cuacanya buruk seperti akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang
bertanggung jawab di bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius jawaban
petugas tersebut.

''Oh begitu. Bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran sambil
mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara rinci,
bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian tower itu. Puas,
pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah ruangan kecil, pak Dis
mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak lanjuti. Utamanya, masalah stres
dan menabuh bunyi-bunyian di bagian tower sebagai pelampiasan kegalauan
karyawan.

''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja kita di
Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan orkestra untuk
konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi gampang untuk mengatur
mereka,'' kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan pak Dis kepadaku, beberapa
supervisor tadi hanya menganggukkan kepala. Jelas sekali, jika pak Dis kecewa.
Jelas, bila pak menteri gundah.

DOSEN

Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri mengenakan sepatu,
akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru, akupun mengisahkan bagaimana
sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos. Bapak-bapak, kataku memulai ''ceramah''
kecil''.
Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat cetak jarah
jauh dan lain sebagainya yg berkaitan dgn satelit. Untuk menjaga itu semua,
bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh. Asalkan di luar
ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh dilakukan. Karena merupakan
kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya itu harus dilakukan pada tempatnya.
Untuk merokok, haruslah di luar ruangan. Di dalam ruang redaksi, harus steril.
Jadi, kataku lebih lanjut, tolong, di sediakan ruangan merokok bagi yang
merokok.
Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar dan bersih, peralatan
super canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa diperlihara dengan aman.
Melihat aku berceramah seperti dosen di depan mahasiswa, pak Dis menahan senyum
sambil pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya.

Oalah....rek....rek. Dadi opo aku iki.

Setelah itu, kamipun pamitan pulang. Di tengah perjalanan menuju mobil, kulihat
ada seorang pejabat yang buru-buru hendak menemui kami. ''Mana pak menteri
Dahlan,'' tanyanya kepadaku. Akupun segera menunjukkan dengan tanganku ke arah
belakang. Kulihat pak Dis sibuk menelpon di temani tiga orang supervisor yang
tadi kukuliahi.
Sayup-sayup,
ku dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf pada pak Dis karena
keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di tempat lain,'' ucapnya
memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet karena dinginnya ruangan
''steril'' tersebut.

Bandara Soekarno-Hatta
medio Februari 2012 dituturkan oleh Siti Ita Nasyi'ah wartawan di Majalah
Kartini   


 

Kirim email ke