Menarik ya diskusinya. Kaget juga baca tulisannya Dicky. Oh, bisa ya...ini berita bohong. Selama ini orang menganggap hal biasa-biasa saja kalau Dahlan iskan melakukan sidak kaya gini...
Dan saya suport idenya Morry, kenapa gak bikin aja bantahannya....biar jadi pelajaran buat semua. 2012/5/16 ahmad usmar <[email protected]> > ** > > > Menarik tulisannya Bu Ita itu. Detail dan hidup, bagus gambarinnya, hehehe > bahkan dahlan iskan betulin tali sepatu juga dimasukin. Pemantauan > sekelilingnya bagus. Dia wartawan senior Jawapos, sayang kalau hanya > dicibir untuk pencitraan Dahlan Iskan. Buatku itu urusannya DI, hehehe. > Pekan lalu saya menugaskan reporter buat liputan menara kontrol di Soetta. > Alhamdulillah, diberikan izin, walaupun setelah itu kebanyakan media > ditolak. Tujuannya hanya ingin tahu apa sih ATC, kita gak wawancara di > situ, khawatir mengganggu kerja mereka. Dari hasil liputannya sih ruangan > bersih dan steril. Mungkin kameramennya lupa ngambil gambar asbak dan > puntung rokok hehehe. Sejauh yg terlihat mereka profesional, capable > terhadap kerjaannya. Mudah-mudahan begitu. > *From:* Morry Infra [email protected] > *To:* [email protected] > *Sent:* Wednesday, 16 May 2012, 11:26 > > *Subject:* Re: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta > (pertengahan Februari) > > > He..he.e.e.e.e. > > Sorry buat Dicky dan Arief... he..hee.e. > Mungkin sayanya yang sewot... he..he.e.e. > > Kebetulan sepupu saya juga lulusan Curug dan jadi petugas ATC.... > Tapi jujur aja saya gak pernah nanya2 soal bersih apa 'nggak-nya tuch ATC. > Soal kerjaan sibuk ya iya... he.e.e.e. > > Sekarang tinggal diuji langsung aja.... > Saya yakin Dicky punya access ke Mbak Ita... langsung aja tanya... > Ketimbang suudzon... dan berbau "hasad" gitu... he.e.e.e.e. > > Buat saya pribadi seperti yang saya bilang... > Selama itu buat kebaikan... pencitraan syah2 aja... > > Salam, > Morry Infra > > 2012/5/16 Arief Kurniawan <[email protected]> > > ** > > **Waduh ketiban sampur, Ane ngga sewot mas > > Ane kan cuman ngasih saran buat bro dicky, kalau mau komfirmasi silahkan > lsg ke petugas ATC atau ke mbak ita, sesama pers. > > > AriefK > > Sent from my NerdBerry® freakz smartphone > *From: *Morry Infra <[email protected]> > *Sender: *[email protected] > *Date: *Wed, 16 May 2012 06:46:21 +0300 > *To: *<[email protected]> > *ReplyTo: *[email protected] > *Subject: *Re: [sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta > (pertengahan Februari) > > > Dicky dan Arief, > > Gak usah sewot lah... > Langsung aja tulis bantahannya... mungkin di Blog pribadi atau kayak > Kompasiana gitu... > Tapi yaitu... setelah lihat sendiri... > > Kalau baru cuma bantahan lewat opini pribadi... ya sulit... > Begitupun dengan ATC Balikpapan... > Buktinya ada yang bisa masuk dan lihat ke dalam ATC.... he.he..e.e.e > > Pencitraan.... he..he.e.e. > Selama itu bagus... no issue ah.... as long as ada yang diperbaiki.... > > Ketimbang koar2 gak jelas... NATO.... > Belum lagi teriak paling keras... tapi kelakuan minus... > > Ayo jadi lebih baik.... > Dari yang kecil, dari diri sendiri dan dari sekarang...!!! > > Salam, > Morry Infra > > > > 2012/5/16 Dicky Kurniawan <[email protected]> > > ** > > **Masa sih ATC begini? Tak ada foto pula ytg bisa dikonfirmasi.. Lagian > pas ada kejadian, baru dah nongol tulisan2 kayak gini.. > > Sebelah rumah kebetulan orang ATC..tingkat stress tinggi memang, tp tidak > sampai seperti yg ditulis kayak gini.. FYI, ATC itu sangat steril, menteri > aja bahkan menurut aturan tak boleh masuk ATC..hanya pejabat berwenang yg > memiliki otoritas yg bisa masuk ATC.. > > Sory, ini buat saya tak lebih dari sekedar hoax dan pencitraan dahlan > iskan aja.. > it's only a transition > > Dicky Kurniawan > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > *From: *Morry Infra <[email protected]> > *Sender: *[email protected] > *Date: *Wed, 16 May 2012 03:46:23 +0300 > *To: *Serba_KL Serba_KL<[email protected]>; Ahlan Riyadh< > [email protected]>; <[email protected]>; ARII Drlg > Milist<[email protected]>; ex-cii<[email protected]> > *ReplyTo: *[email protected] > *Subject: *[sma1bks] Fwd: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan > Februari) > > > ---------- Forwarded message ---------- > From: <dudim2003> > Date: 2012/5/15 > Subject: Fw: Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari) > ** > Powered by Telkomsel BlackBerry® > *From: *"Probo Yuniar" < <[email protected]>> > > <[email protected]> > *Date: *Tue, 15 May 2012 19:26:56 +0700 > *Subject:* Sidak DI ke ATC Sukarno-Hatta (pertengahan Februari) > > Copas dari Millis Sebelah : > Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil > Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya > hanya berempat. Pak Menteri BUMN, aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan > kiri berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya. Sedangkan aku dan pak > Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti juragan di mobil mewah itu. > Terlihat beberapa botol air mineral dan camilan kecil tersedia rapi. Juga > ada permen. > > ''Kita berangkat pagi, krn aku pingin mampir ATC (Air Traffic Control) > Soeta,'' kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris warna biru > yang dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan kumasukkan ke dalam > bagasi mobil berwarna hitam metalik itu. Sepinya jalanan ibukota, membuat > Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1 jam, perjalanan menuju bandara > Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa hambatan. Lucunya, saat sampai > di pintu gerbang Perum Angkasa Pura (PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri > bergegas menurunkan kaca sambil menyapa sekuriti dan satpam yang tengah > berjaga. > > ''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa pak Dis dgn ramah. Belum sempat menjawab, > mobil yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling ujung. Rupanya > gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena di gedung inilah > letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara yang ada di bandara > Soeta. Belum sampai di tempat parkir, terdengar peluit dari security yang > kita lalui. Dari belakang, kulihat petugas jaga yang ada di pos, > berlari-lari menghampiri mobil kami. Dengan wajah garang, seorang petugas > berbadan agak tambun menyuruh mobil kami kembali. **** > > Alasannya, tempat terlarang dan tidak boleh sembarangan orang masuk. Utk > urusuan itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat ada adu > argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan petugas security. Sedangkan > Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang terjadi, aku tidak tahu > pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang sangat cepat, lebih penting. > Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis menuju sebuah gedung yg salah > satu mejanya bertuliskan receptionis. > > ''Pagi, Assalamulaikum, permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu > kosong. Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan > berusaha memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat keadaan. > Kotor dan perlatan kantor berserakan tidak pada tempatnya. Disamping itu, > terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol air menieral, bekas > piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung rokok. Padahal, ruangan itu > full AC. Dingiiin. Bagiku, ini aneh... Meskipun minggu dikenal hari libur > bagi masyarakat umum, tidak demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari > libur, justru hari-hari sibuk bagi instansi yang ada dalam salah satu BUMN > tersebut. Makanya, ada 3 shif yang diberlakukan bagi karyawannya di bagian > ini. Belum tuntas keanehanku, muncul suara nyanyian dari laki-laki yang ada > di dlm ruangan yang ada di televisinya itu. > > Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan jawaban salam, > yang kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa lo, pagi gini. Berisik > amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah ketus. Begitu > melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan suara tak kalah garang. > ''Siapa yang suruh masuk ke sini,'' katanya dengan suara lebih keras. > Akupun tak mau kalah. ''Mana bosmu, pak menteri pingin ketemu,'' jawabku > dengan tak kalah garang. Mendengar suara galakku, laki-laki yang ada di > dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya ada lima orang lelaki yang bersiap > menghadapiku.**** > > Saat kutoleh ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis keluar > dan mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti langkah > gesitnya. ''Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua petugas yang > masih muda dan ganteng. Tanpa menjawab, aku pergi berlari menguntit langkah > pak Dis dari belakang. Kulihat, ada perubahan wajah pak Dis dari yang > sebelumnya ramah, agak kecut. HP blakberry warna hitam dikeluarkan dan > memencet nomor telepon. Sambil terus berjalan, pak Dis menelepon seseorang. > > ''Assalamulaikum, selamat pagi mas. Mohon maaf, mengaanggu libur anda ya. > Sory, nih, saya nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC. Melihat > komputer yang baru kita beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,'' ucap pak > menteri. Rupanya, pak Dis menelpon bos PAP yang tengah menikmati libur > minggu. ''Tidak usah, tidak usah. Biar saya sendiri saja yang mencari. Saya > sudah ada di dalam kantor anda kok ini. Cuma mencari-cari belum ketemu,'' > ucap pak menteri sambil terus membuka-buka pintu ruangan yg dilalui. > Rupanya, sebelum itu, pak Dis sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa > tempatnya. Meski demikian, pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada > ruangan yang bertuliskan ATC. > > Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya dengan wajah berbinar. > Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yg agak tersembunyi > itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu ada beberapa > orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis menyalami satu persatu > karyawan yg tengah bertugas. Tentu saja mereka kaget. Tidak mengira, jika > ruangan mereka dikunjungi menteri. Beberapa orang yang tadinya santai, > terlihat kembali ke komputernya. Begitu juga yang tengah merokok, > meletakkan putung rokoknya di asbak yang ada di sampingnya. > > ''Wah, lembur ya. Maaf, saya ganggu,'' ucap pak Dis sambil bertanya-tanya > pada karyawan yang berkerja kala itu. Stlh meminta penjelasan ruangan yg > tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan tangga menuju tower ATC. ''Wah, > disini perokok semua ya,'' kata pak Dis setengah menyindir. Kudengar ada > yang menjawab dan ada yang membisu, sambil mematikan putung rokoknya. > Beberapa orang, kulihat sibuk menelepon. Entah siapa yang > ditelepon. Pastinya, ada dua orang lelaki yang memperkenalkan diri sebagai > supervisor menjadi penunjuk jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju > ruangan yang ditunjukkan. > > ''Di sini pak. Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem > kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan ''dilarang > masuk'' dan tulisan ''steril''. Selain itu juga ada tulisan ''jagalah > kebersihan''. Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis mencopot > sepatu ketsnya. Apalagi di tempat itu juga terdapat rak sepatu. ''Di sini > tidak sembarang orang boleh masuk pak,'' kata petugas tadi menjelaskan > ruangan khusus itu. Pak Dis hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak > naik ke sebuah tangga. Kalau tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami > naiki. Di ujung anak tangga, terdapat sebuah ruangan yang dipintunya > bertuliskan ''yang tidak berkepentingan di larang masuk''. > > Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya > full komputer. Suasananya ramai. Minimal ada 30 komputer berbagai ukuran. > Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang, ruangan yang > super dingin itu tidak steril, spt slogan yang dituliskan. Buktinya, di > samping meja komputer, ada beberapa makanan. Mulai makanan kecil, sampai > piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan ber suhu super dingin itu > terdapat beberapa asbak ukuran 1 meter. Sangat kontradiksi ... Paraah ... > > STRES > > Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok dan > bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis serius. > Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan. ''Oh, iya pak. > Rokok itu utk menghilangkan stres saja. Kalau tidak, temen-teman tidak bisa > konsentrasi dalam memantau jalur-jalur penerbangan,'' jawab lelaki > sekenanya. ''Oh, gitu ya. Kalau stres ya gak usah bekerja saja. Cukup di > rumah. Di sini kan butuh orang sehat. Bukan untuk orang stres,'' jawab pak > Dis tak mau kalah. Melihat jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya, > pak. Siap,'' jawabnya dengan wajah pucat. ''Tolong ya, pak. yang stres > diistirahatkan saja,'' tambah pak Dis. > > Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang baru > saja didatangkan oleh kementeriannya*. Setelah itu, pak Dis berkeliling > dan melihat sekeliling. Begitu melihat ada piring makan, sendok, mangkuk > dan beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap lagi. ''Lebih komplit di > sini, dibuka kantin atau resto ya,'' ucapnya sinis.* Sindiran ini > ternyata direspon positif. Buktinya, beberapa lelaki yang sebelumnya > mengikuti langkah kita, buru-buru menugasi kawannya membersihkan bekas > makanan, piring atau apa saja yang ada di meja sekitar komputer. Akupun > hanya senyum-senyum melihat karyawan di bagian komputer itu kelabakan. > > KONSER > > Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC berada. > Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada di bandara > Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap bandara. Karena di > tempat inilah komunikasi antara petugas dengan pilot pesawat untuk minta > ijin landing atau take off pesawat. Sial. Meskipun tempat ini bisa > dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti yang digambarkan. > > Super sterilnya tidak tampak. Putung rokok juga masih ada di beberapa > tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri, kembali > kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak diimbangi dengan > atitu operatornya. Ketka ditanya mengapa masih ada putung dan asbak, > petugas tadi berkata lugu. ''Biasanya kalau teman-teman panik, > pelampiasannya memukul-mukul berbagai alat yang ada utk pelampiasan > kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak Apalagi jika cuacanya buruk seperti > akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang bertanggung jawab di bagian tower. Pak > Dis pun mendengar dengan serius jawaban petugas tersebut.**** > > ''Oh begitu. Bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran sambil > mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara > rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian tower > itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah ruangan > kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak lanjuti. > Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di bagian tower sebagai > pelampiasan kegalauan karyawan. > > ''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja > kita di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower dibuatkan > orkestra untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik toh, jadi > gampang untuk mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku. Mendengar ucapan > pak Dis kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya menganggukkan kepala. > Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila pak menteri gundah. > > DOSEN > > Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri mengenakan > sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru, akupun mengisahkan > bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos. Bapak-bapak, kataku memulai > ''ceramah'' kecil''.**** > Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat cetak jarah jauh > dan lain sebagainya yg berkaitan dgn satelit. Untuk menjaga itu semua, > bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh. Asalkan di > luar ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh dilakukan. Karena > merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya itu harus dilakukan pada > tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar ruangan. Di dalam ruang redaksi, > harus steril. Jadi, kataku lebih lanjut, tolong, di sediakan ruangan > merokok bagi yang merokok.**** > Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar dan bersih, peralatan super > canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa diperlihara dengan aman. > Melihat aku berceramah seperti dosen di depan mahasiswa, pak Dis menahan > senyum sambil pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya. > > Oalah....rek....rek. Dadi opo aku iki. > > Setelah itu, kamipun pamitan pulang. Di tengah perjalanan menuju mobil, > kulihat ada seorang pejabat yang buru-buru hendak menemui kami. ''Mana pak > menteri Dahlan,'' tanyanya kepadaku. Akupun segera menunjukkan dengan > tanganku ke arah belakang. Kulihat pak Dis sibuk menelpon di temani tiga > orang supervisor yang tadi kukuliahi.**** > Sayup-sayup, ku dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf pada > pak Dis karena keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di tempat > lain,'' ucapnya memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet karena > dinginnya ruangan ''steril'' tersebut. > > Bandara Soekarno-Hatta medio Februari 2012 dituturkan oleh Siti Ita > Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini **** > > > > > > > > -- komarudin ibnu mikam 0818721014 komaribnumikam.com http://jualbambu.wordpress.com/ http://jualbelitanahbekasi.wordpress.com/
