kasus pemukulan pak Donald sebenarnya bagian kecil dari kekejaman orang2 malay di dunia usaha pun mereka berusaha untuk mengakali kita, dan kami pernah mengalami sendiri, ceritanya, kami membuka outlet di KL dengan share 75% milik kami dan 25 % milik orang tempatan. setelah berjalan 2 tahun, bos kami ke KL bersama istrinya. bos kami ini inggrisnya lumayan hancur, sampai di KL disodori dokumen rangkap 5(masing2 16 hal) untuk ditandatangani semua dokumen pake bhs inggris, tapi untung istri bos kami minta waktu untuk tandatangan di medan, mereka minta saat itu juga karena akan dimasukan ke Akuntan, akhirnya saya (berdua ama bagian legal) ke Kl, ternyata setelah saya baca dokumen tersebut berisi pengalihan saham yang 75% ke pemilik tempatan. setelah lama berdebat akhirnya kami bersama bos pulang, dengan keputusan klu mau memiliki outlet tersebut bos merelakan dengan dibeli semua(harga 250% dari nilai saham). akhirnya mereka gagal karena gak mampu untuk membeli dan sebenarnya masih banyak lagi cerita2 di dunia bisnis yang sangat merugikan bangsa kita. maaf, saya sendiri pernah masuk karantina imigresyen 1 malam di KLIA karena dianggap ilegal, padahal saya ada perjanjian bisnis sama orang tempatan & datang dengan bussines class MAS
yang ini cerita versi kawan yang kerja di hotel (di Medan) orang malaysia tu klu ke Indonesia, 80% untuk 1 cari wanita 2 cari dukun 3 cari makan ----- Pesan Asli ---- Dari: leo vans <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Selasa, 4 September, 2007 10:31:24 Topik: [STIE YKPN Mailing List] Re: Masalah di Malaysia Makanya bang riko.. Hapus aja foto di menara kembar KL yg ada Di Friendster. Biar ikut2an boikot malaysia. Hehehhe.. Opo Hubungan ne yo.. On 9/4/07, ariosa, riko (ID - Jakarta) <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Good statement from PKM I agree with you, someday Indonesian will be better than Malaysian and Indonesia will be come one of the powerful countries. So, all of us must take part to make it happens. Riko Ariosa From: PK Miranda [mailto: [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, September 04, 2007 11:33 To: [email protected] Subject: [STIE YKPN Mailing List] Re: Masalah di Malaysia Hahaha... jadi keputusanku untuk tidak ikut study program kemaren tepat kan? Daripada di sana emosi jiwa... gak lucu kalau tiba2 di headline koran Malaysia tertulis: "PKM, staf pengajar sebuah PTS di Jogja MENGHAJAR Polisi Diraja Malaysia sampai babak belur"...Hahaha.. Tapi memang for some reason, saya nggak terlalu interested tuh dg liburan ke maling sia (yang asal Banten dan Jabar pasti tau artinya..) Tapi SAYA YAKIN, HAQUL YAKIN, Indonesia akan segera BANGKIT seperti dulu lagi dan itu yang mereka takutkan sebetulnya. Orang yg dihinakan di dunia akan dimuliakan di akherat. Kalo nunggu akherat kelamaan, ingat saja bahwa roda terus berputar dan INDONESIA akan segera dapat giliran di atas lagi! Believe it with your heart and it WILL happen! Thank you for sharing this with us. On 9/3/07, Wing Wahyu Winarno < [EMAIL PROTECTED]> wrote: Guys, Dapet cerita dari milis sebelah nih, semoga bermanfaat dan menambah wawasan. From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto: KRL- [EMAIL PROTECTED] s.com ]On Behalf Of alvie Sent: 30 Agustus 2007 13:50 To: `rokerz` Subject: [Ayo!! Benahi KRL] FW: Tembak Saja Itu Indon !!! ----- Original Message ----- Sent: Thursday, August 30, 2007 11:03 AM Subject: Tembak Saja Itu Indon !!! Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun, WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di Jakarta. Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang "Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran. Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga WISATAWAN. Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2 anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan imigrasi). Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia anak-anak gembira. Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap. Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan, menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad Singapore, toh kabarnya KL cukup aman. Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin Tower. Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri. Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang "Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same language, saya dan istri bisa berbahasa inggris, negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, sementara seorang rekannya tetap memaksa saya mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya :"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis, wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya: KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja? Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel? "... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan ipar saya yg pulang duluan ke hotel. Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us. Saya kurung kalian... Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama saja... Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya tertulis nama: Rasheed. Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan orang ujung2nya merampok? Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan dirinya, sang preman marah dan mendekati saya, mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun dicegah polisi berseragam. Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk membuktikan identitas diri. saya langsung setuju, namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi. Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata: if those indon run, just shoot them... katanya sambil menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu, ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu". Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel. Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan Business class pada Flight Malayasia Airlines. Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada. Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan "membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di negeri sial ini). Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum. Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini. Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk tidak merekam wajah mereka. Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat ini, tanpa berjabat tangan. Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore. Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000 WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain mengalami hal yg sama. Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja bisa dihajar polisi Malaysia. Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus sedih. Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia, WNI diperlakukan seperti Kriminal. This message (including any attachments) contains confidential information intended for a specific individual and purpose, and is protected by law. If you are not the intended recipient, you should delete this message and are hereby notified that any disclosure, copying, or distribution of this message, or the taking of any action based on it, is strictly prohibited. 0-800-1-ASK-ACE www.acehardware.co.id ________________________________________________________ Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! http://id.yahoo.com/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups. Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected] Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
