hi.... guys....
  memang benar kejadian2 itu ada d msia but don't forget guys many indonesian 
students study in malaysia. one of them is me.
  i'm taryati sukmawati, angkatan 2002. sekarang lg kul di APIIT university 
colleges di Malaysia. i'm taking for master in technology management course. 
  So, do'a kan qt2 ya supaya sukses di Msia and ga' bw malu nama Indonesia.
  Btw, wkt qt ngerayain 17 agustusan meriah lho, qt ada ngadain upacara bendera 
di kampus qt and ada paskibrakanya jg lho, tari traditional and fashion show pk 
kebaya and qt bk bazar makanan indonesia, and ad nge band jg, seru dech. 
Pokoknya org2 and many foreign students shock when they saw our performance.
  qt do'a in aja smoga smua nya baek2 aja dsnia ya.....
  senang bs bagi pengalaman ama kalian semua....
  love u all.............
   
  Taryati "sukma/ai"

hurip setiyono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          kasus pemukulan pak Donald sebenarnya bagian kecil dari kekejaman 
orang2 malay
  di dunia usaha pun mereka berusaha untuk mengakali kita, dan kami pernah 
mengalami sendiri,
  ceritanya, kami membuka outlet di KL dengan share 75% milik kami dan 25 % 
milik orang tempatan. setelah berjalan 2 tahun, bos kami ke KL bersama istrinya.
  bos kami ini inggrisnya lumayan hancur,
  sampai di KL disodori dokumen rangkap 5(masing2 16 hal) untuk ditandatangani
  semua dokumen pake bhs inggris, tapi untung istri bos kami minta waktu untuk 
tandatangan di medan, mereka minta saat itu juga karena akan dimasukan ke 
Akuntan, akhirnya saya (berdua ama bagian legal) ke Kl, ternyata setelah saya 
baca dokumen tersebut berisi pengalihan saham yang 75% ke pemilik tempatan. 
setelah lama berdebat akhirnya kami bersama bos pulang, dengan keputusan klu 
mau memiliki outlet tersebut bos merelakan dengan dibeli semua(harga 250% dari 
nilai saham).
  akhirnya mereka gagal karena gak mampu untuk membeli
  dan sebenarnya masih banyak lagi cerita2 di dunia bisnis yang sangat 
merugikan bangsa kita.
  maaf, saya sendiri pernah masuk karantina imigresyen 1 malam di KLIA karena 
dianggap ilegal, padahal saya ada perjanjian bisnis sama orang tempatan & 
datang dengan bussines class MAS
   
  yang ini cerita versi kawan yang kerja di hotel (di Medan)
  orang malaysia tu klu ke Indonesia, 80% untuk
  1    cari wanita
  2    cari dukun
  3    cari makan
   
  
 
  ----- Pesan Asli ----
Dari: leo vans <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 4 September, 2007 10:31:24
Topik: [STIE YKPN Mailing List] Re: Masalah di Malaysia

  Makanya bang riko.. Hapus aja foto di menara kembar KL yg ada Di Friendster. 
Biar ikut2an boikot malaysia. Hehehhe.. Opo Hubungan ne yo..
   
  

 
  On 9/4/07, ariosa, riko (ID - Jakarta) <[EMAIL PROTECTED]> wrote:           
Good statement from PKM
  I agree with you, someday Indonesian will be better than Malaysian and 
Indonesia will be come one of the powerful countries. 
  So, all of us must take part to make it happens.
   
    Riko Ariosa 
   

      
---------------------------------
  
  From: PK Miranda [mailto: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, September 04, 2007 11:33 
To: [email protected]
Subject: [STIE YKPN Mailing List] Re: Masalah di Malaysia

     
  Hahaha... jadi keputusanku untuk tidak ikut study program kemaren tepat kan? 
Daripada di sana emosi jiwa... gak lucu kalau tiba2 di headline koran Malaysia 
tertulis: "PKM, staf pengajar sebuah PTS di Jogja MENGHAJAR Polisi Diraja 
Malaysia sampai babak belur"...Hahaha.. 
Tapi memang for some reason, saya nggak terlalu interested tuh dg liburan ke 
maling sia (yang asal Banten dan Jabar pasti tau artinya..)

Tapi SAYA YAKIN, HAQUL YAKIN, Indonesia akan segera BANGKIT seperti dulu lagi 
dan itu yang mereka takutkan sebetulnya.  Orang yg dihinakan di dunia akan 
dimuliakan di akherat. Kalo nunggu akherat kelamaan, ingat saja bahwa roda 
terus berputar dan INDONESIA akan segera dapat giliran di atas lagi! Believe it 
with your heart and it WILL happen! 

Thank you for sharing this with us.
    


On 9/3/07, Wing Wahyu Winarno < [EMAIL PROTECTED]> wrote: 
    Guys,

     

    Dapet cerita dari milis sebelah nih, semoga bermanfaat dan menambah wawasan.

     

     

     

    From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto: KRL- [EMAIL PROTECTED] s.com ]On 
Behalf Of alvie
Sent: 30 Agustus 2007 13:50
To: `rokerz`
Subject: [Ayo!! Benahi KRL] FW: Tembak Saja Itu Indon !!! 


----- Original Message ----- 
Sent: Thursday, August 30, 2007 11:03 AM
Subject: Tembak Saja Itu Indon !!!

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di 
Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN 
kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
"Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia. 
BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga 
WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke
Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke 
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan 
imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke 
Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal. 
Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel. 
Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin 
Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri, 
saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang 
"Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak 
sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same 
language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT, 
entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya, 
sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya 
:"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis, 
wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja? 

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel? 
"... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan 
ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us. 
Saya kurung kalian... 

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama 
saja...

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka 
berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami 
untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman 
melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun 
dicegah polisi berseragam. 

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko 
Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them... katanya sambil 
menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu".
Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel. 

Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang 
menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
Business class pada Flight Malayasia Airlines.
Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya 
sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
"membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di
negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin, 
berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
tidak merekam wajah mereka.
Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
ini, tanpa berjabat tangan. 

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain 
mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
bisa dihajar polisi Malaysia.
Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan 
dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
sedih. 

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
WNI diperlakukan seperti Kriminal.

   

  





   
  This message (including any attachments) contains confidential information 
intended for a specific individual and purpose, and is protected by law. If you 
are not the intended recipient, you should delete this message and are hereby 
notified that any disclosure, copying, or distribution of this message, or the 
taking of any action based on it, is strictly prohibited. 


0-800-1-ASK-ACE
www.acehardware.co.id 
  



  
---------------------------------
  Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers






       
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu 
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
 Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
 Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
 Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di 
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke