Daftar berita terlampir:
* Peracunan Ikan di Sungai Brantas Kian Mencemaskan
* Eko-Hydraulik Ramah Lingkungan
* Buntut Pencemaran Sungai Brantas, PG Ngadirejo Digugat Milyaran Rupiah


Kliping tematik lainnya dapat diperoleh di
http://www.terranet.or.id/terramilis.php
http://www.terranet.or.id/berita.php

TerraNet: Portal Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan
http://www.terranet.or.id
================================================================



Peracunan Ikan di Sungai Brantas Kian Mencemaskan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1966
Yang Bertahan Tinggal Nila 

Penangkapan ikan di Sungai Brantas dengan menggunakan kabel beraliran listrik dan 
racun kimia, kian mencemaskan. Akibat penangkapan dengan dua cara itu, keseimbangan 
ekosistem biota air di Sungai Brantas, menjadi terganggu. Jika tidak segera 
diantisipasi, pada masa mendatang, dikhawatirkan Brantas cuma bisa diambil 
pasirnya.Kepala Dinas Perikanan Kota Kediri, Haris Chandra P, mengatakan hal itu 
kepada Kompas, Sabtu (8/9). "Sebenarnya penangkapan dengan listrik dan racun dilarang, 
sesuai perda (peraturan daerah)," katanya. 
Namun, untuk melaksanakan perda itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri kesulitan. 
Pasalnya, perda itu sendiri belum disosialisasikan. Pemkot tidak bisa langsung 
menghukum para pencari ikan, sebelum perda diumumkan secara luas. 
(Kompas, 2001-09-10)



Eko-Hydraulik Ramah Lingkungan
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1973
Oleh Agus Maryono

PEMBANGUNAN wilayah keairan di seluruh dunia dewasa ini sebagian besar masih 
menggunakan pola pendekatan rekayasa teknik sipil hidro secara partial. Hasil rekayasa 
tersebut lepas dari, bahkan bertentangan, dengan kepentingan kelestarian lingkungan. 
Pola rekayasa hidraulik murni diartikan bahwa penyelesaian masalah di wilayah keairan 
hanya didasarkan pada fungsi hidraulis wilayah keairan itu saja, tanpa 
mempertimbangkan dampak negatif dan keterkaitannya terhadap komponen ekologis yang 
ada. Sebagai misal fungsi suatu sungai, menurut konsep hidraulik murni, sungai hanya 
dipandang sebagai suatu saluran hidrulik pembuangan air kelebihan menuju ke laut. Jadi 
dengan konsep ini, semua sungai sebaiknya diluruskan sehingga air cepat mengalir ke 
hilir. Dengan konsep ini komponen ekologis sungai otomatis akan hancur total.
(Kompas, 2001-09-09)



Buntut Pencemaran Sungai Brantas, PG Ngadirejo Digugat Milyaran Rupiah
http://www.terranet.or.id/goto_berita.php?id=1978
Manajemen Pabrik Gula (PG) Ngadirejo Kediri mengakui sedang menghadapi tuntutan ganti 
rugi senilai milyaran rupiah atas pencemaran Sungai Brantas karena meluapnya tetes 
tebu PG tersebut. Gugatan itu datang dari sejumlah petambak di Surabaya, Sidoarjo, dan 
Mojokerto."Akan tetapi, kami tidak langsung memenuhi. Sekarang ini data-data klaim 
ganti rugi itu sedang diteliti kelayakan dan kebenarannya. Bisa saja benar mereka 
rugi, tetapi nilai yang dicantumkan terlalu besar, atau bisa juga terlalu kecil," ujar 
Administratur PG Ngadirejo Sarjono usai acara penebaran 50.000 benih ikan di Sungai 
Brantas, di Dermaga Jayabaya Kota Kediri, Jumat (7/9). 
Sebagaimana diberitakan, pada awal Agustus lalu tetes tebu PG Ngadirejo meluap dan 
mencemari Sungai Brantas. Akibatnya, beberapa hari air Perusahaan Daerah Air Minum 
(PDAM) tidak bisa dikonsumsi karena bahan bakunya tercemar berat. Disamping itu, satwa 
air seperti ikan dan udang pada mati. Pencemaran juga merugikan petani tambak.
(Kompas, 2001-09-08)




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TerraNet: Portal Lingkungan Hidup Indonesia: http://www.terranet.or.id


Kirim email ke