Salam,
  Sebagian besar ulama berpendapat bahwa istilah tasawuf atau sufi mulai muncul 
dan tersebar pada abad ke-2 Hijriyah dan paruh kedua abad tersebut. Ini tidak 
berarti bahwa pada abad tersebut belum ada semangat hidup spiritual di kalangan 
kaum muslimin. Ada kehidupan spiritual yang akarnya bersumber dari Islam, meski 
tidak disebut tasawuf.
   
  Pada masa Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam, kehidupan spiritual yg dipraktekkan 
kaum Muslimin tidak disebut tasawuf dan orang yg mengamalkannya tidak disebut 
sufi. Karena, mereka ketika itu disebut “Sahabat”, dan sebutan “Sahabat 
Rasulullah” dianggap sebagai sebutan yg paling mulia. Hal yg sama juga terjadi 
pada masa tabi`in. Sebutan “Tabi`in” (pengikut para sahabat) adalah sebutan yg 
paling mulia bagi mereka. Orang yg hidup setelah masa tabi`in pun kemudian 
disebut sebagai “tabi`it tabi`in” (pengikut para tabi`in).
   
  Kemudian zamanpun berganti dan derajat orang pun menjadi berbeda. Orang 
khusus yg menekuni masalah agama kemudian disebut zahid (orang yg zuhud) dan 
abid (orang yg banyak ibadah).
  Selanjutnya muncullah bid`ah-bid`ah dan klaim-klaim suci dari setiap 
kelompok. Setiap kelompok mengklaim mempunyai orang zahid. Maka sekelompok 
Ahlusunnah yg senantiasa mendekatkan diri pada Allah dan menjaga hati dari 
kelalaian mengkhususnya diri dengan sebutan SUFI. Sebutan ini mulai dikenal 
dikalangan orang-orang besar tersebut sebelum abad ke-2 Hijriah. (Ar-Risalah 
Al-Qusyairiyah).
   
  Tasawuf sebagai pengamalan zuhud sudah dikenal secara luas pada abad pertama 
dan menjelang berakhirnya abad ke-2 Hijriyah. Sedangkan Kata TASAWUF DAN SUFI 
baru muncul menjelang berakhirnya abad kedua Hijriah, dan tersebar luas hingga 
menjadi SALAH SATU CABANG ILMU KEISLAMAN YANG MEMPUNYAI KAIDAH-KAIDAH DAN 
DASAR-DASAR SEPERTI CABANG-CABANG ILMU LAINNYA.
   
  Ilmu Tasawuf adalah salah satu cabang Ilmu dalam Agama Islam, sebagaimana 
cabang-cabang ilmu lain misalnya Ilmu Fiqhi, Ilmu Nahwu, Ilmu Hadits, Ilmu 
Faraidh, Ilmu Tajwid dan cabang-cabang ilmu lainnya yang kesemuanya tidak ada 
pembagian di jaman Rasulullah.
   
  Sebagaimana pula hukum, seperti : Halal, Haram, Makruh, Sunnah, mubah dll, 
dalam ilmu Fiqhi, Sebagaimana pula Ahkam I`tikadiah atau hukum hukum yang 
berpautan dengan zat Allah dan sifatnya, dengan Rasul dan urusan hari kemudian 
dalam suatu Ilmu Kalam.
  Serta Ahkam `Amaliyah yang menerangkan sifat-sifat yang terpuji yang harus 
disifati serta sifat tercela yang harus dijauhi yang dipelajari dalam tasauf 
yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.
   
  Ilmu – ilmu dalam islam begitu lengkapnya yakni menyangkut urusan lahir dan 
batin sebagaimana disebutkan bahwa ILMU FIQHI untuk kebaikan amalan anggota, 
ILMU TAUHID untuk kebaikan i`tikad sedangkan ILMU TASAWUF untuk kebaikan rohani.
  
   
  Demikian mohon maaf jika ada tidak berkenan.
  Salam.


A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Assalamu’alaikum wr wb,
Di Majalah Nebula (ESQ) saya membaca konsep Iman,
Islam, dan Ihsan dari Ary Ginanjar. Ini menarik.

Sebagian orang/kelompok ada yang memakai Tauhid,
Fiqih, dan Tasawuf. Bahkan ada yang bilang kalau cuma
belajar Tauhid dan Fiqih saja tanpa Tasawuf berarti
belum sempurna. Padahal Tasawuf tidak ada pada zaman
Nabi, bahkan kata ”Tasawuf” bukan berasal dari bahasa
Arab. Baru muncul 2-3 abad setelah Nabi meninggal.

Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda
Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam“… Barang siapa
yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan
sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya
(yakni tempat tinggalnya) di neraka”. (Hadits shahih
dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8)
dll)

Oleh karena itu ketimbang memakai kata ”Tasawuf” untuk
”menyempurnakan agama Islam, kenapa kita tidak memakai
kata ”Ihsan” yang jelas-jelas ada di hadits Nabi?

Hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra.:

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Pada suatu
hari, Rasulullah SAW muncul di antara kaum muslimin.
Lalu datang seseorang dan berkata: "Wahai Rasulullah,
apakah Iman itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu
engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya,
kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan
beriman kepada Hari Kebangkitan akhir".

Orang itu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah, apakah
Islam itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Islam, yaitu
engkau beribadah kepada Allah dan tidak
menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat
fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan
Ramadhan".

Orang itu kembali bertanya: "Wahai Rasulullah,
apakah Ihsan itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu
engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau
melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka
ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu".

Orang itu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah,
kapankah Hari Kiamat itu?". Rasulullah SAW bersabda:
"Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang
menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan
majikannya, maka itulah satu di antara tandanya.
Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan
manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila
orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling
berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di
antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui
oleh Allah".

Kemudian Rasulullah SAW membaca Surat Luqman ayat
34: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah
pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang
menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam
rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan
pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada
seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan
mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal".

Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rasulullah SAW
bersabda: "Panggillah orang itu kembali!". Para
sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka
tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah SAW
bersabda: "Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk
mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka".

Ihsan ini artinya kebaikan. Bagaimana kita dekat
dengan Allah. Bisa juga diperluas dengan berbuat baik
kepada manusia.

Jika Tasawuf yang sesat bercampur dengan yang baik.
Ada paham Wihdatul Wujud yang menyesatkan. Dalil dari
Al Qur’an dan Hadits dicampur dan sering kalah dengan
kisah-kisah sufi. Pada Ihsan kita hanya mengambil
dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits untuk
mendekatkan diri pada Allah dan berbuat baik pada
sesama manusia dan makhluk lainnya.

Bisakah kita melepaskan fanatisme kita pada guru kita
dengan meninggalkan Tasawuf yang istilahnya tidak ada
dalam Al Qur’an dan Hadits dan berpaling ke ”Ihsan”?

”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga
mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal
mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak
ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci
Allah dari apa yang mereka persekutukan. ” [At
Taubah:31]

[639]. Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran
orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi
buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu
menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

Wassalamu’alaikum wr wb




      Recent Activity
    
      19
  New Members

Visit Your Group 
  SPONSORED LINKS
      
   Islam  
   Islam and the west  
   Islam empire of faith  
   Islam koran  
   Islam matrimonial

      Yahoo! Avatars
  Express Yourself
  Show your face in
  Messenger & more.

    Yahoo! Mail
  Next gen email?
  Try the all-new
  Yahoo! Mail Beta.

    Best of Y! Groups
  Check it out
  and nominate your
  group to be featured.



  .

 
         

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke