Assalamu 'alaikum,

Untuk penggunaan istilah Tasawuf atau Ihsan, silahkan saja, saya
serahkan pada ahlinya. 

Sedikit artikel, bagaimana pandangan Syekh Ibn Taymiyah terhadap kaum
sufi.

Dari buku karya Syekh Ibn Taymiyah: Amradh al-Qulub wa Syifa Uha &
al-Tuhfah al-Iraqiyyah fi al-A'mal al-Qalbiyah: 

Nama-nama berikut dikutip dalam buku beliau [dalam hal ilmiah, mengutip
saja berarti menyetujui pendapat yang dikutip. Kecuali pengarang
menulis argumen yg berlawanan dengan yang dikutip] 

Ini saya cuplik perkataan dan nama-nama sufi yang ada di buku Syekh Ibn
Taymiyah.

Sahl Ibn 'Abdillah al-Tustari berkata:"Tidak ada jalan yg lebih
mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya melebihi rasa butuh." 
Nama lengkap Sahl Ibn 'Abdillah al-Tustari : Abu Muhammad Sahl ibn
Abdillah ibn Yunus al-Tustari, salah seorang pemuka dan ulama kaum
sufi, juga teolog kalam di bidang ilmu keikhlasan, olah jiwa (riyadhat
al-nafs) dan aib perbuatan. Meninggal 283 H. 
  
Yusuf ibn Isbath berkata: "Allah pasti menolong hamba-Nya yang jujur." 
Yusuf ibn Isbath adalah sufi paling zuhud dan teliti dalam mencari
rezeki yang halal di zamannya. Ia meninggal 199 H 
  
Al-Junayd berkata:"Orang yang senang menyimak syair pasti terhanyut,
sedangkan orang yang mengabaikan pasti tentram." 
Abu al-Qasim Al-Junayd ibn Muhammad al-Bahgdadi al-Khazzar. Meninggal
297 H. Ia dianggap pemuka mazhab tasawuf, karena mendasarkan ajarannya
pada Al-Quran & sunnah, bebas dari ajaran sesat dan penyimpangan. 
  
Abd al-Rahman ibn Ahmad al-Ansi al-Midzhaji Abu Sulayman al-Darani,
sufi besar yang zuhud & terkenal ini hidup & meninggal di Damaskus 215.

  
Abu Mahfuzh Ma'ruf ibn Fayruz al-Kharki adalah seorang sufi besar yang
terkenal bersahaja. Tokoh zuhud yang merupakan salah satu guru Imam
Ahmad ini meninggal di Baghdad tahun 200H 
  
Hudayfah ibn Qatadah al-Mir'asyi adalah seorang sufi yang zuhud.
Sahabat Sufyan al-Tsawri meninggal 207 H [Ia lebih sibuk dengan urusan
pemerintahan daripada keilmuan] 
  
Penyebutan tokoh-tokoh sufi oleh Syaikh al-Islam Ibn Taymiyah berati
baliau menghormati, memuliakan, mencermati perjalanan hidup, serta
mengetahui keadaan mereka. 
  
Yang perlu digaris bawahi adalah, semua tokoh sufi tersebut hidup pada
200-300H. ini mengindikasikan bahwa penyimpangan, penyelewengan, dan
kesesatan dalam tasawuf terjadi pada abad-abad berikutnya. 
  
Fenomena ini yang kemudian membuat sejumlah ulama menolak Tasawuf
secara keseluruhan. 
  
Sekali lagi ini sekedar buat sharing saja, mau mempelajari atau tidak,
dengan istilah Tasawuf atau Ihsan, saya serahkan kepada yang lebih
ahli.

wassalam,

Wirawan

--- A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalamu’alaikum wr wb,
> Di Majalah Nebula (ESQ) saya membaca konsep Iman,
> Islam, dan Ihsan dari Ary Ginanjar. Ini menarik.
> 
> Sebagian orang/kelompok ada yang memakai Tauhid,
> Fiqih, dan Tasawuf. Bahkan ada yang bilang kalau cuma
> belajar Tauhid dan Fiqih saja tanpa Tasawuf berarti
> belum sempurna. Padahal Tasawuf tidak ada pada zaman
> Nabi, bahkan kata ”Tasawuf” bukan berasal dari bahasa
> Arab. Baru muncul 2-3 abad setelah Nabi meninggal.
> 
> Dari Abi Hurairah, ia berkata. Telah bersabda
> Rasulullah Alaihi Sholatu Wa Sallam“… Barang siapa
> yang berdusta atasku (yakni atas namaku) dengan
> sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya
> (yakni tempat tinggalnya) di neraka”. (Hadits shahih
> dikeluarkan oleh Imam Bukhari (1/36) dan Muslim (1/8)
> dll)
> 
> Oleh karena itu ketimbang memakai kata ”Tasawuf” untuk
> ”menyempurnakan agama Islam, kenapa kita tidak memakai
> kata ”Ihsan” yang jelas-jelas ada di hadits Nabi?
> 
> Hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra.:
> 
>     Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Pada suatu
> hari, Rasulullah SAW muncul di antara kaum muslimin.
> Lalu datang seseorang dan berkata: "Wahai Rasulullah,
> apakah Iman itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu
> engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya,
> kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, para utusan-Nya, dan
> beriman kepada Hari Kebangkitan akhir".
> 
>     Orang itu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah, apakah
> Islam itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Islam, yaitu
> engkau beribadah kepada Allah dan tidak
> menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat
> fardhu, memberikan zakat wajib dan berpuasa di bulan
> Ramadhan".
> 
>     Orang itu kembali bertanya: "Wahai Rasulullah,
> apakah Ihsan itu?". Rasulullah SAW bersabda: "Yaitu
> engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau
> melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka
> ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu".
> 
>     Orang itu bertanya lagi: "Wahai Rasulullah,
> kapankah Hari Kiamat itu?". Rasulullah SAW bersabda:
> "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang
> menanya. Apabila ada budak perempuan melahirkan
> majikannya, maka itulah satu di antara tandanya.
> Apabila ada orang yang semula miskin menjadi pimpinan
> manusia, maka itu termasuk di antara tandanya. Apabila
> orang-orang yang tadinya menggembalakan ternak saling
> berlomba memperindah bangunan, maka itu termasuk di
> antara tandanya. Ada lima hal yang hanya diketahui
> oleh Allah".
> 
>     Kemudian Rasulullah SAW membaca Surat Luqman ayat
> 34: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya saja lah
> pengetahuan tentang Hari Kiamat dan Dia lah yang
> menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam
> rahim. Dan tiada seorang pun dapat mengetahui (dengan
> pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada
> seorang pun dapat mengetahui di bumi mana dia akan
> mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
> Mengenal".
> 
>     Kemudian orang itu berlalu. Lalu Rasulullah SAW
> bersabda: "Panggillah orang itu kembali!". Para
> sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka
> tidak melihat sesuatu pun. Maka Rasulullah SAW
> bersabda: "Itu tadi adalah Jibril, yang datang untuk
> mengajarkan kepada manusia tentang agama mereka".
> 
> Ihsan ini artinya kebaikan. Bagaimana kita dekat
> dengan Allah. Bisa juga diperluas dengan berbuat baik
> kepada manusia.
> 
> Jika Tasawuf yang sesat bercampur dengan yang baik.
> Ada paham Wihdatul Wujud yang menyesatkan. Dalil dari
> Al Qur’an dan Hadits dicampur dan sering kalah dengan
> kisah-kisah sufi. Pada Ihsan kita hanya mengambil
> dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits untuk
> mendekatkan diri pada Allah dan berbuat baik pada
> sesama manusia dan makhluk lainnya.
> 
> Bisakah kita melepaskan fanatisme kita pada guru kita
> dengan meninggalkan Tasawuf yang istilahnya tidak ada
> dalam Al Qur’an dan Hadits dan berpaling ke ”Ihsan”?
> 
> ”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib
> mereka sebagai tuhan selain Allah[639] dan (juga
> mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal
> mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak
> ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci
> Allah dari apa yang mereka persekutukan. ” [At
> Taubah:31]
> 
>  
> [639]. Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran
> orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi
> buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu
> menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.
> 
> 
> Wassalamu’alaikum wr wb
> 
> 
> ===
> Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
> Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
>        
>
____________________________________________________________________________________
> Need a vacation? Get great deals
> to amazing places on Yahoo! Travel.
> http://travel.yahoo.com/
> 
> 
> Ajaklah teman dan saudara anda bergabung ke milis Syiar Islam.
> Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 



      
____________________________________________________________________________________
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz

Kirim email ke