Hasil yang berlawanan

   
  Perbedaan serupa juga akan terlihat dari buah yang dihasilkan. Kalimah 
thayyibah akan menghasilkan buah yang manis; ia akan melahirkan perdamaian di 
dunia. Kebaikan, kebenaran dan keadilan menonjol dan masyarakat pun beruntung 
dengannya. Tetapi sebaliknya, ranting macam apa yang bisa dihasilkan dari akar 
yang jelek seperti kalimah khabitsah? Semakin besar tumbuhan itu, semakin tajam 
duri – duri di setiap dahannya. Racun muncul di bebagai bagiannya. Dan, buah 
macam apa yang akan dihasilkan dari ranting semacam itu? Tentu saja buah yang 
pahit dan beracun.



  Mari kita perhatikan apa yang terjadi di negara – negara di mana kekafiran, 
penyembahan berhala dan sekularisme menjadi dominan : manusia cenderung merusak 
anggota kelompoknya. Persiapan – persiapan perang selalu dilakukan. Senjata 
nuklir dan gas – gas beracun diproduksi terus menerus. Bangsa – bangsa saling 
menghancurkan. Yang kuat menindas yang lemah. Yang lemah menjadi sapi perahan 
tentara dan polisi, mereka terancam penjara dan eksekusi. Mereka tidak bisa 
lepas dari berbagai tekanan.


  

  Bagaimana dengan individu – individunya? Moral mereka rusak sampai – sampai 
setan pun malu karenanya. Manusia melakukan tindakan – tindakan yang hanya 
pantas dilakukan oleh binatang. Orang kaya mengisap darah orang miskin melaui 
eksploitasi, praktik riba dan memaksa orang – orang miskin bekerja seolah – 
olah mereka adalah budak yang dilahirkan untuk melayani orang – orang kaya. Hak 
dan martabat manusia diinjak – injak. Aborsi merupakan hal yang lumrah karena 
manusia tidak ingin keindahan tubuhnya berkurang dengan melahirkan [dan memberi 
ASI] anak-nya. Tukar menukar pasangan, bahkan istri pun dilakukan.
  


  Maka, pepohonan yang tumbuh dari kalimah khabitsah ini pun adalah pepohonan 
yang penuh duri, dan buahnya pahit dan beracun.


  

   Setelah memberikan dua ibarat ini Allah berfirman:
  Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh 
itu[788] dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan 
orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.(QS. Ibrahim [14]: 
27)
  [788]. Yang dimaksud ucapan-ucapan yang teguh di sini ialah kalimatun 
thayyibah yang disebut dalam ayat 24 di atas.

 
  

  Dengan demikian, Allah akan meneguhkan kekuatan dan ketahanan di dunia dan 
akhirat kepada orang – orang yang percaya kepada kalimah thayyibah. Sebaliknya 
Allah akan menyia – nyiakan orang – orang yang berbuat jahat yang lebih memilih 
kalimah khabitsah. Mereka tidak melakukan kebijakan yang akan menghasilkan buah 
baik di dunia maupun akhirat kelak.


  

  Kita sudah tahu perbedaan antara kalimah thayyibah dengan kalimat khabitsah 
dan buah yang dihasilkannya. Sekarang muncul persoalan: kita meyakini kalimah 
thayyibah. Tetapi, mengapa kita tidak maju, sedangkan orang yang tidak 
meyakininya justru memperoleh kemajuan?


  

  Saya akan menjawab persoalan ini. Tetapi, daripada marah dengan kalimat – 
kalimat saya, sebaiknya resapilah ketika saya mengemukakan perihal kebenaran 
ini.


  

  Pertama, penegasan kita bahwa kita meyakini kalimah thayyibah tidak benar. 
Mempercayai kalimah thayyibah tidak sama dengan hanya mengucapkannya. Ia harus 
mengakar di hati, harus mencampakkan yang lain, melahirkan tindakan – tindakan 
yang bisa melawan hal – hal yang tidak baik.
  


  Apakah ini sudah ada pada kita? Bukankah itu berarti kepercayaan terhadap 
berhala dan politeisme masih menempel pada diri kita, berupa ide – ide yang 
bertentangan dengan kalimah thayyibah? Tidakkah banyak pimpinan Islam yang 
tunduk kepada selain Tuhan? Tidakkah umat Islam lebih takut kepada selain 
Tuhan? Tidakkah mereka mengharap sesuatu kepada selain Tuhan? Bukankah mereka 
menjadikan selain Tuhan sebagai penolong mereka? Bukankah mereka seringkali 
mengkesampingkan hukum Tuhan dan menjadikan hukum yang lain tanpa ada rasa 
khawatir? Tidakkah mereka acapkali berada dalam kekuasaan peradilan yang tidak 
dibimbing oleh syari’ah, melainkan tradisi dan adat? Bukankah banyak di antara 
kita yang melanggar hukum Tuhan sekedar untuk meraih keuntungan materi? 
Bukankah banyak orang yang lebih takut kepada marahnya orang – orang yang tidak 
beriman daripada kemarahan Tuhan? Bukankah banyak yang berupaya keras untuk 
memperoleh pemberian dari orang kafir tetapi tidak menjaga pemberian
 Tuhan? Dan bukankah mereka menjadikan hukum orang kafir secara nyata dan hukum 
Tuhan mereka abaikan?


  

  Demi Tuhan, bukankah ini kenyataannya? Jika benar, pembenaran macam apa yang 
kita keluhkan sehingga kita tidak memperoleh kemajuan meski kita percaya pada 
kalimah thayyibah? Pertama sekali kita harus benar – benar beriman kepada 
kalimah thayyibah dan mengikuti pola yang dipesankan untuk kehidupan kita. Jika 
kemudian hidup kita tidak tumbuh seperti pohon yang akarnya menancap tajam ke 
dalam tanah dan memiliki ranting – ranting yang membumbung ke angkasa, maka 
(saya minta ampun kepada Allah) bolehlah kita menuduh Tuhan telah memberikan 
janji palsu kepada kita.


  

  Insyaallah bersambung…
  

  (Sumber : al-Maududi, Abul A’la . Let Us Be Muslims / Menjadi Muslim Sejati, 
Jogjakarta : Mitra Pustaka, 1998)

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke