Menurut saya sih Film si entong tidak layak ditonton oleh anak2 kita kenapa..? 
La wong ceritanya cuman tahayul alias tidak nyata ko ditonton bahkan 
kelihatannya TPI 
sangat menyemarakan film tersebut bahkan kalau tidak salah TPI sampai 
menayangkan lebih dari 2 x dalam sehari
Permasalahannya adalah jaman gini masih ada kata Ajaib..? yang paling tidak 
mendidik anak adalah menampilkan hal2 yg tidak masuk akal
akting ustadnya tidak sesuai figur ustadz, nah tapi sih bukan TPI aja yang 
menceritakan hal2 yg tahayul hampir semua Televisi indonesia seperti itu
Langkah yang paling aman ya TV diganti dengan Computer dan buat program khusus 
anak2 banyak ko CD atau film yang sesuai agama kaya semacam cerita Rasul & 
Nabi, sibedul anak rajin & pintar banyak dan jangan sesekali Computer Conect ke 
Internet ya.

----- Original Message ----- 
  From: lucky firmansyah 
  To: kesehatan islam ; sari kata OOT ; syiar-islam OOT 
  Sent: Monday, November 12, 2007 10:53 AM
  Subject: [syiar-islam] Nasihati "Si Entong", Yuk !


  Buletin Gaul Islam 
  18 Juni 2007 - 14:19 
  Nasihati “Si Entong”, Yuk! 

  STUDIA Edisi 346/Tahun ke-8 (18 Juni 2007)


  Sobat muda muslim, yang suka nemenin adiknya (kalo saya nemenin anak) nonton 
tivi kayaknya agak-agak apal, atau bahkan apal banget ama sinetron yang tayang 
di TPI, yakni Si Entong (Abunawas dari Betawi). Sebagai hiburan, sinetron yang 
skenarionya ditulis oleh Ayesha Adam, Imam Salimy, dan Zainal Radar T memang 
oke banget. Lucu dan tokoh-tokohnya sangat berkarakter, sehingga pemirsa yang 
sering nonton sinetron ini mengenal betul karakter khas para tokohnya.
  Sinetron bergenre drama komedi religi ini dibintangi oleh Fachri (Entong), 
Adi Bing Slamet (Ustad Somad), Rheina Ipeh (Fatimah), Hafiz API (Salim) Ana 
Shierly (Mpok Lela) dan pemeran lainnya. Sinetron ini mengisahkan kehidupan 
Entong, anak lelaki berusia 12 tahun, anak semata wayang Fatimah. Ayahnya sih 
udah meninggal dunia. Penampilan Entong yang suka berpeci merah dan mengenakan 
kain sarung yang dikalungkan di lehernya ini punya guru ngaji, namanya Ustad 
Somad.

  Layaknya anak-anak yang lain, Entong juga punya teman sekaligus ‘musuh’ 
bebuyutannya, yakni Memet, Udin, Ucup, dan Siti. Meski kalo dilihat sebenarnya 
yang dominan nakal tuh Memet, ketiga kawannya sih cenderung ngikutin aja apa 
maunya Memet. Apalagi Siti, meski banyak nge-gank ama Memet, tapi suka 
curi-curi kesempatan biar bisa ketemuan ama Entong. Maklum Siti nih suka ama 
Entong.
  Banyak kejadian kocak khas Betawi dalam sinetron ini. Berbagai peristiwa 
dikemas dengan menarik meski sebenarnya kejadian yang biasa terjadi 
sehari-hari. Barangkali di sinilah kekuatan sinetron Si Entong ini.
  Meski demikian, bukan berarti sinetron ini adalah tontonan yang aman buat 
anak-anak dan bahkan untuk orangtua. Lho kok?

  Tanya kenapa?
  Pertama, sinetron ini kerap mengeksploitasi hal-hal yang nggak masuk akal. 
Dari judul per episodenya aja bisa ketahuan, misalnya Pancing Ajaib, Gelang 
Laba-laba Ajaib, Baju Ajaib, Tongkat Ajaib dan lainnya. Ada sih judul yang 
nggak pake kata ajaib, tapi umumnya cerita itu ya seputar keajaiban juga. Pada 
episode Senter Wasiat misalnya, senter yang dimiliki Entong, kalo disorotkan ke 
wajah orang, maka tuh orang wajahnya langsung jadi cantik atau ganteng. Kalo 
disorotkan ke makanan, maka makanan tiba-tiba jadi banyak. 
  Hmm… juga dalam episode Memet Jadi Dua, Ustad Somad menjelaskan ketika ngisi 
pengajiannya Entong Cs, bahwa manusia itu punya teman dalam dirinya, yang 
disebut hati nurani atau hati kecil. Memet yang penasaran pas nyampe rumah 
langsung bercermin dan mencari-cari teman dalam dirinya. Tapi nggak nemu. Eh, 
pas Memet pergi malah bayangannya di cermin nggak mau pergi. Tetap ada di 
cermin, bahkan bisa keluar kemudian main layaknya Memet yang asli. Nah, 
bayangannya itu disebut Mumut. Hihi.. lucu dan kreatif, plus menghibur. Yup, 
memang sinetron ini sifatnya hiburan, tapi kenapa harus melanggar logika?

  Ya, mungkin manusia memang menyukai hal-hal yang ajaib dan segala hal yang 
berkaitan dengan kekuatan atau kelebihan ideal yang diinginkannya dari diri 
atau sebuah benda. ‘Kebiasaan’ menyukai hal yang ajaib ini memang bukan milik 
orang-orang sini aja, di Amerika pun udah ada sejak dulu. Misalnya cerita 
Superman, Batman, Catwoman, Hulk, X-Men, Fantastic Four, Spiderman, Captain 
America dan cerita superhero fiksi lainnya.

  Jangankan anak-anak, orang dewasa aja suka. Apalagi setelah diangkat ke layar 
lebar, gambaran kekuatan tokoh superhero yang ada di komik jadi lebih terasa 
nyata dengan bantuan teknologi. Misalnya saja film X-Men (yang diangkat dari 
komik karya Stan Lee dan Jack Kirby), tokoh Wolverine/Logan yang memiliki cakar 
besi di tangannya jadi kelihatan gagah. Juga Ororo Munroe/Storm yang punya 
kekuatan menghadirkan badai petir, nampak lebih keren dengan bantuan efek. 
Scott Summers/Cyclops bisa nyemburin api dari matanya. Wah, kalo mo dipreteli 
satu-satu bakalan banyak dan nggak cukup halamannya di buletin ini.

  Kedua, sinetron Si Entong ini sering nampilin adegan pergaulan antara 
laki-perempuan yang longgar, khususnya tokoh yang dewasa. Misalnya, adegan 
tentang Ustad Somad yang kerap mampir ke warungnya Fatimah yang janda itu. Kalo 
ketemuan, duduknya juga suka deketan. Apalagi Fatimah naksir berat sama Ustad 
Somad. Begitu juga Ustad Somad dengan Jamilah. Jamilah diajarin ngaji sama 
Ustad Somad. Lha, apa nggak ada ustazah tuh buat ngajarin kaum Hawa?

  Oke, mungkin bagi sebagian orang hal ini dianggap wajar. Toh, dalam kehidupan 
sehari-hari juga banyak yang begitu. Cuma persoalannya nih, apakah realita yang 
ada di tengah kehidupan itu nggak bisa kita nilai? Hanya dibiarkan apa adanya 
dan bahkan dijadikan inspirasi tanpa ada penilaian dari si penulis cerita untuk 
menjelaskan bahwa hal itu sebenarnya nggak boleh?

  Ketiga, obrolan yang ditampilkan kerap kasar dan tidak mendidik anak-anak. 
Apalagi kalo tokoh Salim dan Samin bertemu, pasti banyak ungkapan, obrolan, 
sindiran, dan adegan yang nggak pantes ditonton. Setali tiga uang dengan 
Salim-Samin adalah tokoh Mpok Lela dan Mamake Memet, yakni Mpok Zaenab. Dua 
orang ini kerap mengumbar ungkapan dan istilah yang juga nggak pantes untuk 
diteladani. 
  Sekadar hiburan?
  Mungkin aja ada yang bertanya, emangnya nggak boleh kalo bikin cerita tentang 
khayalan kayak X-Men dan sejenisnya, termasuk Si Entong, kan yang penting 
menghibur?
  Sobat muda muslim, saya malah khawatir dengan pernyataan orang-orang yang 
menganggap bahwa hiburan ya hiburan dan itu bebas nilai. Hiburan dipercaya 
sebagai bagian dari kesenian dan ekspresi berkesenian. Mereka beralasan bahwa 
namanya juga hiburan, yang penting kan bisa mengobati kepenatan, kejenuhan dan 
membuat kita rileks. 

  Oke, penulis juga nggak anti kok sama hiburan, toh sinetron ini penulis 
tonton juga untuk mendampingi anak yang memang hobi nonton sinetron ini sambil 
harus rajin ngasih tahu mana yang benar-salah, mana yang baik-buruk, dan yang 
nggak boleh dan boleh dilakukan. Namun, jujur aja bahwa kita juga nggak bisa 
memantau setiap hari tontonan anak-anak. So, yang diperlukan adalah kerjasama 
dari pihak lain, khususnya yang bergelut di media massa televisi supaya nggak 
menampilkan film atau sinetron yang nggak mendidik. Baik aspek kognitif maupun 
afektifnya. Mungkin kalo orang dewasa sih nggak mudah dibohongi dengan cerita 
semacam itu. Tapi anak-anak? Nggak ada jaminan kan kalo kemudian nggak 
terpengaruh dengan melakukan adegan yang berhasil ditiru dari tokoh cerita 
tersebut?

  Waktu kecil dulu, saya dan temen-temen main sering mengekspresikan diri 
dengan tokoh-tokoh superhero fiksi yang dilihat di televisi: Superman, Batman, 
Flash Gordon, Gundala dan sejenisnya.

  Jadi, kalo pun ingin menampilkan cerita tersebut, harus ada penjelasan di 
akhir cerita bahwa itu sekadar khayalan belaka. Tapi menurut saya lebih baik 
bikin cerita yang masuk akal dan pendidikan yang sesuai dengan kenyataan 
kehidupan manusia pada umumnya.

  Begitu pula apakah kita kembali berlindung dengan pernyataan: “Ini kan 
hiburan. Nggak usah diributkan. Nikmati aja. Repot amat!”
  Well, apakah kemudian kita berdalih pula ketika adik atau anak kita yang 
terpengaruh sebuah adegan atau obrolan dan ungkapan dari sebuah tayangan yang 
nggak mendidik, bahwa hal itu sekadar efek biasa dari sebuah hiburan? 
Sesederhana itukah berpikirnya? Padahal, kebiasaan akan berubah menjadi 
karakter. Bayangkan jika ada tokoh yang ditontonnya itu sering berkata tidak 
baik, kemudian ia mencontohnya dalam kehidupan nyata dan berlaku kasar kepada 
temen-temennya. Sudah saatnya kita menerapkan prinsip bahwa hiburan yang kadang 
disebut sebagai hasil ekspresi dari sebuah estetika, tetap harus berdampingan 
dengan etika. Nggak cuma menampilkan estetika (keindahan seni menghibur), tapi 
sekaligus selaras dengan etika. Utamanya, etika dalam ajaran agama kita, yakni 
Islam. Setuju kan? Yes! (backsound: harusnya ini jawabannya ya!)

  Hiburan yang mendidik
  Sobat, betul banget kalo dikatakan bahwa kita sangat butuh hiburan. Tapi kan 
masalahnya nggak semua hiburan bisa kita nikmati begitu saja. Ada ukuran dan 
nilai yang harus dimiliki sebuah hiburan sehingga kita nggak sembarang 
menikmati. Sebagai seorang muslim, tentu saja hiburan harus disesuaikan dengan 
standar ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Itu sebabnya, meski kita butuh 
hiburan, tapi nggak melampiaskannya dengan dugem, kumpul bareng teman 
(campur-baur cowok-cewek) di diskotik dan menikmati irama musik yang 
hingar-bingar. Ya, bagi seorang muslim/muslimah, menikmati hiburan jenis itu 
jelas nggak sesuai ajaran Islam.
  So, berarti kita kudu pandai-pandai memilih dan memilah jenis hiburan. Lebih 
bagus lagi jika kita bisa menikmati hiburan yang mendidik dan sekaligus sangat 
bermanfaat bagi perkembangan kognitif (ilmu pengetahuan), afektif (perasaan 
atau emosional), dan psikomotorik (keterampilan) yang sesuai dengan gaya hidup 
kita sebagai seorang muslim. Tul nggak sih? 

  Sobat, sebenarnya bisa saja hiburan kemudian dijadikan sarana untuk 
menyampaikan informasi yang benar dan mendidik. Sangat bisa dan sangat mungkin 
untuk digarap. Sehingga nggak sekadar hiburan an sich. Tapi ada nilai yang bisa 
membentuk kepribadian kita: baik pola pikir maupun pola sikap kita. Nilai yang 
benar dan baik tentunya. Bukan ukuran nilai universal atau humanisme, tapi 
nilai berdasarkan Islam. Malu dong, ngakunya muslim, tapi kelakuan sekuler 
abis, hedonis en permisif. Sungguh terlalu! (silakan nyebutin kalimat ini pake 
gaya Samin di sinetron Si Entong kalo mau hehehe..)
  Insya Allah nggak ada ruginya ngajarin dan nyampein kebaikan. Hiburan yang 
baik dan bermanfaat dalam mendidik insya Allah selain membantu orang untuk 
menjadi benar dan baik, kita juga dapat pahala. Sebaliknya, kalo ngajarin 
keburukan tentu aja kita dapet bagiannya juga, yakni dosa. Rasulullah saw. 
bersabda:

  “Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal dengannya, 
maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari orang yang beramal 
dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa saja yang 
mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia berbuat dengannya, maka ia 
mendapat balasannya dan balasan orang yang mengikutinya tanpa mengurangi 
balasan mereka sedikit pun,” (HR Ibnu Majah) 

  Oke deh, ini aja sekadar nasihat kecil buat “Si Entong”, yakni bagi penulis 
ceritanya, produsernya, sutradaranya dan seluruh kru yang terlibat di sana. Ini 
nasihat karena Entong mengusung genre drama komedi religi (dalam hal ini 
nilai-nilai ajaran agama Islam). Jadi, ini sekadar tanda cinta dari saya untuk 
saling menasihati dan mengingatkan sesama muslim. Iya nggak sih? Gejlig! 
Tewewew! [solihin: www.osolihin.wordpress.com]
  =========================================


  Mereka masa depan bangsa,
  mari selamatkan mereka !





  ---------------------------------
  Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke