Wah mas tajudin ini gimana sih.......
Bangsa Indonesia khan gak semuanya bisa komputer, apalagi sampai
browsing ke internet.
Selama didampingi orangtua saya pikir gak masalah.
Film doraemon aja ngayal + ajaib banget, kenapa film entong
dimasalahkan.
Masalah omongan yg kadang2 kasar..... 
mmmm minggu kemarin aq nonton film kartun diindosiar jg dubbingnya ada
yg omongannnya kasar, (maaf pihak indosiar, mkn bisa jd bahan
pertimbangan). Disitu dikatakan "kurangajar" sy pikir kurang pantas
untuk dubbing di film anak2.
Sekarang ini nonton film anak2 atau kartun sekalipun  saya rasa setiap
orangtua wajib menemani anaknya.
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of tajudin
Sent: 13 Nopember 2007 9:22
To: kesehatan islam; sari kata OOT; syiar-islam OOT; lucky firmansyah
Subject: Re: [syiar-islam] Nasihati "Si Entong", Yuk !



Menurut saya sih Film si entong tidak layak ditonton oleh anak2 kita
kenapa..? 
La wong ceritanya cuman tahayul alias tidak nyata ko ditonton bahkan
kelihatannya TPI 
sangat menyemarakan film tersebut bahkan kalau tidak salah TPI sampai
menayangkan lebih dari 2 x dalam sehari
Permasalahannya adalah jaman gini masih ada kata Ajaib..? yang paling
tidak mendidik anak adalah menampilkan hal2 yg tidak masuk akal
akting ustadnya tidak sesuai figur ustadz, nah tapi sih bukan TPI aja
yang menceritakan hal2 yg tahayul hampir semua Televisi indonesia
seperti itu
Langkah yang paling aman ya TV diganti dengan Computer dan buat program
khusus anak2 banyak ko CD atau film yang sesuai agama kaya semacam
cerita Rasul & Nabi, sibedul anak rajin & pintar banyak dan jangan
sesekali Computer Conect ke Internet ya.

----- Original Message ----- 
From: lucky firmansyah 
To: kesehatan islam ; sari kata OOT ; syiar-islam OOT 
Sent: Monday, November 12, 2007 10:53 AM
Subject: [syiar-islam] Nasihati "Si Entong", Yuk !

Buletin Gaul Islam 
18 Juni 2007 - 14:19 
Nasihati "Si Entong", Yuk! 

STUDIA Edisi 346/Tahun ke-8 (18 Juni 2007)

Sobat muda muslim, yang suka nemenin adiknya (kalo saya nemenin anak)
nonton tivi kayaknya agak-agak apal, atau bahkan apal banget ama
sinetron yang tayang di TPI, yakni Si Entong (Abunawas dari Betawi).
Sebagai hiburan, sinetron yang skenarionya ditulis oleh Ayesha Adam,
Imam Salimy, dan Zainal Radar T memang oke banget. Lucu dan
tokoh-tokohnya sangat berkarakter, sehingga pemirsa yang sering nonton
sinetron ini mengenal betul karakter khas para tokohnya.
Sinetron bergenre drama komedi religi ini dibintangi oleh Fachri
(Entong), Adi Bing Slamet (Ustad Somad), Rheina Ipeh (Fatimah), Hafiz
API (Salim) Ana Shierly (Mpok Lela) dan pemeran lainnya. Sinetron ini
mengisahkan kehidupan Entong, anak lelaki berusia 12 tahun, anak semata
wayang Fatimah. Ayahnya sih udah meninggal dunia. Penampilan Entong yang
suka berpeci merah dan mengenakan kain sarung yang dikalungkan di
lehernya ini punya guru ngaji, namanya Ustad Somad.

Layaknya anak-anak yang lain, Entong juga punya teman sekaligus 'musuh'
bebuyutannya, yakni Memet, Udin, Ucup, dan Siti. Meski kalo dilihat
sebenarnya yang dominan nakal tuh Memet, ketiga kawannya sih cenderung
ngikutin aja apa maunya Memet. Apalagi Siti, meski banyak nge-gank ama
Memet, tapi suka curi-curi kesempatan biar bisa ketemuan ama Entong.
Maklum Siti nih suka ama Entong.
Banyak kejadian kocak khas Betawi dalam sinetron ini. Berbagai peristiwa
dikemas dengan menarik meski sebenarnya kejadian yang biasa terjadi
sehari-hari. Barangkali di sinilah kekuatan sinetron Si Entong ini.
Meski demikian, bukan berarti sinetron ini adalah tontonan yang aman
buat anak-anak dan bahkan untuk orangtua. Lho kok?

Tanya kenapa?
Pertama, sinetron ini kerap mengeksploitasi hal-hal yang nggak masuk
akal. Dari judul per episodenya aja bisa ketahuan, misalnya Pancing
Ajaib, Gelang Laba-laba Ajaib, Baju Ajaib, Tongkat Ajaib dan lainnya.
Ada sih judul yang nggak pake kata ajaib, tapi umumnya cerita itu ya
seputar keajaiban juga. Pada episode Senter Wasiat misalnya, senter yang
dimiliki Entong, kalo disorotkan ke wajah orang, maka tuh orang wajahnya
langsung jadi cantik atau ganteng. Kalo disorotkan ke makanan, maka
makanan tiba-tiba jadi banyak. 
Hmm... juga dalam episode Memet Jadi Dua, Ustad Somad menjelaskan ketika
ngisi pengajiannya Entong Cs, bahwa manusia itu punya teman dalam
dirinya, yang disebut hati nurani atau hati kecil. Memet yang penasaran
pas nyampe rumah langsung bercermin dan mencari-cari teman dalam
dirinya. Tapi nggak nemu. Eh, pas Memet pergi malah bayangannya di
cermin nggak mau pergi. Tetap ada di cermin, bahkan bisa keluar kemudian
main layaknya Memet yang asli. Nah, bayangannya itu disebut Mumut.
Hihi.. lucu dan kreatif, plus menghibur. Yup, memang sinetron ini
sifatnya hiburan, tapi kenapa harus melanggar logika?

Ya, mungkin manusia memang menyukai hal-hal yang ajaib dan segala hal
yang berkaitan dengan kekuatan atau kelebihan ideal yang diinginkannya
dari diri atau sebuah benda. 'Kebiasaan' menyukai hal yang ajaib ini
memang bukan milik orang-orang sini aja, di Amerika pun udah ada sejak
dulu. Misalnya cerita Superman, Batman, Catwoman, Hulk, X-Men, Fantastic
Four, Spiderman, Captain America dan cerita superhero fiksi lainnya.

Jangankan anak-anak, orang dewasa aja suka. Apalagi setelah diangkat ke
layar lebar, gambaran kekuatan tokoh superhero yang ada di komik jadi
lebih terasa nyata dengan bantuan teknologi. Misalnya saja film X-Men
(yang diangkat dari komik karya Stan Lee dan Jack Kirby), tokoh
Wolverine/Logan yang memiliki cakar besi di tangannya jadi kelihatan
gagah. Juga Ororo Munroe/Storm yang punya kekuatan menghadirkan badai
petir, nampak lebih keren dengan bantuan efek. Scott Summers/Cyclops
bisa nyemburin api dari matanya. Wah, kalo mo dipreteli satu-satu
bakalan banyak dan nggak cukup halamannya di buletin ini.

Kedua, sinetron Si Entong ini sering nampilin adegan pergaulan antara
laki-perempuan yang longgar, khususnya tokoh yang dewasa. Misalnya,
adegan tentang Ustad Somad yang kerap mampir ke warungnya Fatimah yang
janda itu. Kalo ketemuan, duduknya juga suka deketan. Apalagi Fatimah
naksir berat sama Ustad Somad. Begitu juga Ustad Somad dengan Jamilah.
Jamilah diajarin ngaji sama Ustad Somad. Lha, apa nggak ada ustazah tuh
buat ngajarin kaum Hawa?

Oke, mungkin bagi sebagian orang hal ini dianggap wajar. Toh, dalam
kehidupan sehari-hari juga banyak yang begitu. Cuma persoalannya nih,
apakah realita yang ada di tengah kehidupan itu nggak bisa kita nilai?
Hanya dibiarkan apa adanya dan bahkan dijadikan inspirasi tanpa ada
penilaian dari si penulis cerita untuk menjelaskan bahwa hal itu
sebenarnya nggak boleh?

Ketiga, obrolan yang ditampilkan kerap kasar dan tidak mendidik
anak-anak. Apalagi kalo tokoh Salim dan Samin bertemu, pasti banyak
ungkapan, obrolan, sindiran, dan adegan yang nggak pantes ditonton.
Setali tiga uang dengan Salim-Samin adalah tokoh Mpok Lela dan Mamake
Memet, yakni Mpok Zaenab. Dua orang ini kerap mengumbar ungkapan dan
istilah yang juga nggak pantes untuk diteladani. 
Sekadar hiburan?
Mungkin aja ada yang bertanya, emangnya nggak boleh kalo bikin cerita
tentang khayalan kayak X-Men dan sejenisnya, termasuk Si Entong, kan
yang penting menghibur?
Sobat muda muslim, saya malah khawatir dengan pernyataan orang-orang
yang menganggap bahwa hiburan ya hiburan dan itu bebas nilai. Hiburan
dipercaya sebagai bagian dari kesenian dan ekspresi berkesenian. Mereka
beralasan bahwa namanya juga hiburan, yang penting kan bisa mengobati
kepenatan, kejenuhan dan membuat kita rileks. 

Oke, penulis juga nggak anti kok sama hiburan, toh sinetron ini penulis
tonton juga untuk mendampingi anak yang memang hobi nonton sinetron ini
sambil harus rajin ngasih tahu mana yang benar-salah, mana yang
baik-buruk, dan yang nggak boleh dan boleh dilakukan. Namun, jujur aja
bahwa kita juga nggak bisa memantau setiap hari tontonan anak-anak. So,
yang diperlukan adalah kerjasama dari pihak lain, khususnya yang
bergelut di media massa televisi supaya nggak menampilkan film atau
sinetron yang nggak mendidik. Baik aspek kognitif maupun afektifnya.
Mungkin kalo orang dewasa sih nggak mudah dibohongi dengan cerita
semacam itu. Tapi anak-anak? Nggak ada jaminan kan kalo kemudian nggak
terpengaruh dengan melakukan adegan yang berhasil ditiru dari tokoh
cerita tersebut?

Waktu kecil dulu, saya dan temen-temen main sering mengekspresikan diri
dengan tokoh-tokoh superhero fiksi yang dilihat di televisi: Superman,
Batman, Flash Gordon, Gundala dan sejenisnya.

Jadi, kalo pun ingin menampilkan cerita tersebut, harus ada penjelasan
di akhir cerita bahwa itu sekadar khayalan belaka. Tapi menurut saya
lebih baik bikin cerita yang masuk akal dan pendidikan yang sesuai
dengan kenyataan kehidupan manusia pada umumnya.

Begitu pula apakah kita kembali berlindung dengan pernyataan: "Ini kan
hiburan. Nggak usah diributkan. Nikmati aja. Repot amat!"
Well, apakah kemudian kita berdalih pula ketika adik atau anak kita yang
terpengaruh sebuah adegan atau obrolan dan ungkapan dari sebuah tayangan
yang nggak mendidik, bahwa hal itu sekadar efek biasa dari sebuah
hiburan? Sesederhana itukah berpikirnya? Padahal, kebiasaan akan berubah
menjadi karakter. Bayangkan jika ada tokoh yang ditontonnya itu sering
berkata tidak baik, kemudian ia mencontohnya dalam kehidupan nyata dan
berlaku kasar kepada temen-temennya. Sudah saatnya kita menerapkan
prinsip bahwa hiburan yang kadang disebut sebagai hasil ekspresi dari
sebuah estetika, tetap harus berdampingan dengan etika. Nggak cuma
menampilkan estetika (keindahan seni menghibur), tapi sekaligus selaras
dengan etika. Utamanya, etika dalam ajaran agama kita, yakni Islam.
Setuju kan? Yes! (backsound: harusnya ini jawabannya ya!)

Hiburan yang mendidik
Sobat, betul banget kalo dikatakan bahwa kita sangat butuh hiburan. Tapi
kan masalahnya nggak semua hiburan bisa kita nikmati begitu saja. Ada
ukuran dan nilai yang harus dimiliki sebuah hiburan sehingga kita nggak
sembarang menikmati. Sebagai seorang muslim, tentu saja hiburan harus
disesuaikan dengan standar ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Itu
sebabnya, meski kita butuh hiburan, tapi nggak melampiaskannya dengan
dugem, kumpul bareng teman (campur-baur cowok-cewek) di diskotik dan
menikmati irama musik yang hingar-bingar. Ya, bagi seorang
muslim/muslimah, menikmati hiburan jenis itu jelas nggak sesuai ajaran
Islam.
So, berarti kita kudu pandai-pandai memilih dan memilah jenis hiburan.
Lebih bagus lagi jika kita bisa menikmati hiburan yang mendidik dan
sekaligus sangat bermanfaat bagi perkembangan kognitif (ilmu
pengetahuan), afektif (perasaan atau emosional), dan psikomotorik
(keterampilan) yang sesuai dengan gaya hidup kita sebagai seorang
muslim. Tul nggak sih? 

Sobat, sebenarnya bisa saja hiburan kemudian dijadikan sarana untuk
menyampaikan informasi yang benar dan mendidik. Sangat bisa dan sangat
mungkin untuk digarap. Sehingga nggak sekadar hiburan an sich. Tapi ada
nilai yang bisa membentuk kepribadian kita: baik pola pikir maupun pola
sikap kita. Nilai yang benar dan baik tentunya. Bukan ukuran nilai
universal atau humanisme, tapi nilai berdasarkan Islam. Malu dong,
ngakunya muslim, tapi kelakuan sekuler abis, hedonis en permisif.
Sungguh terlalu! (silakan nyebutin kalimat ini pake gaya Samin di
sinetron Si Entong kalo mau hehehe..)
Insya Allah nggak ada ruginya ngajarin dan nyampein kebaikan. Hiburan
yang baik dan bermanfaat dalam mendidik insya Allah selain membantu
orang untuk menjadi benar dan baik, kita juga dapat pahala. Sebaliknya,
kalo ngajarin keburukan tentu aja kita dapet bagiannya juga, yakni dosa.
Rasulullah saw. bersabda:

"Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal
dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari
orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia
berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikit pun," (HR Ibnu
Majah) 

Oke deh, ini aja sekadar nasihat kecil buat "Si Entong", yakni bagi
penulis ceritanya, produsernya, sutradaranya dan seluruh kru yang
terlibat di sana. Ini nasihat karena Entong mengusung genre drama komedi
religi (dalam hal ini nilai-nilai ajaran agama Islam). Jadi, ini sekadar
tanda cinta dari saya untuk saling menasihati dan mengingatkan sesama
muslim. Iya nggak sih? Gejlig! Tewewew! [solihin:
www.osolihin.wordpress.com]
=========================================

Mereka masa depan bangsa,
mari selamatkan mereka !

---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]



 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke