Mbak / Ibu Dewi

Sesuai yang saya bilang tadi jaman sekarang itu di TV kelihatannya tidak ada 
saluran yang mendidik sebagai orang tua apakah kita mampu menemani nonton TV 
sesuai kemauan anak..? paling juga sama Pembantu toh, yang nemenin, 
maka dari itu sesuai saran saya alihkan ke Komputer suatu contoh anak saya baru 
usia 3 tahun 2 bln tetapi sekarang sudah bisa memakai komputer dimana komputer 
itu saya sengaja untuk program anak saya tidak ada program lain kecuali khusus 
untuk pendidikan anak, masalah tidak ngerti komputer ya m'af2 saja sebagai 
orang tua pasti ingin memberikan pendidikan anaknya yang terbaik toh.
mohon ma'af jika ada yang tidak berkenan.

  ----- Original Message ----- 
  From: dewi litasari 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, November 13, 2007 1:21 PM
  Subject: RE: [syiar-islam] Nasihati "Si Entong", Yuk !


  Wah mas tajudin ini gimana sih.......
  Bangsa Indonesia khan gak semuanya bisa komputer, apalagi sampai
  browsing ke internet.
  Selama didampingi orangtua saya pikir gak masalah.
  Film doraemon aja ngayal + ajaib banget, kenapa film entong
  dimasalahkan.
  Masalah omongan yg kadang2 kasar..... 
  mmmm minggu kemarin aq nonton film kartun diindosiar jg dubbingnya ada
  yg omongannnya kasar, (maaf pihak indosiar, mkn bisa jd bahan
  pertimbangan). Disitu dikatakan "kurangajar" sy pikir kurang pantas
  untuk dubbing di film anak2.
  Sekarang ini nonton film anak2 atau kartun sekalipun saya rasa setiap
  orangtua wajib menemani anaknya.


  -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
  On Behalf Of tajudin
  Sent: 13 Nopember 2007 9:22
  To: kesehatan islam; sari kata OOT; syiar-islam OOT; lucky firmansyah
  Subject: Re: [syiar-islam] Nasihati "Si Entong", Yuk !

  Menurut saya sih Film si entong tidak layak ditonton oleh anak2 kita
  kenapa..? 
  La wong ceritanya cuman tahayul alias tidak nyata ko ditonton bahkan
  kelihatannya TPI 
  sangat menyemarakan film tersebut bahkan kalau tidak salah TPI sampai
  menayangkan lebih dari 2 x dalam sehari
  Permasalahannya adalah jaman gini masih ada kata Ajaib..? yang paling
  tidak mendidik anak adalah menampilkan hal2 yg tidak masuk akal
  akting ustadnya tidak sesuai figur ustadz, nah tapi sih bukan TPI aja
  yang menceritakan hal2 yg tahayul hampir semua Televisi indonesia
  seperti itu
  Langkah yang paling aman ya TV diganti dengan Computer dan buat program
  khusus anak2 banyak ko CD atau film yang sesuai agama kaya semacam
  cerita Rasul & Nabi, sibedul anak rajin & pintar banyak dan jangan
  sesekali Computer Conect ke Internet ya.

  ----- Original Message ----- 
  From: lucky firmansyah 
  To: kesehatan islam ; sari kata OOT ; syiar-islam OOT 
  Sent: Monday, November 12, 2007 10:53 AM
  Subject: [syiar-islam] Nasihati "Si Entong", Yuk !

  Buletin Gaul Islam 
  18 Juni 2007 - 14:19 
  Nasihati "Si Entong", Yuk! 

  STUDIA Edisi 346/Tahun ke-8 (18 Juni 2007)

  Sobat muda muslim, yang suka nemenin adiknya (kalo saya nemenin anak)
  nonton tivi kayaknya agak-agak apal, atau bahkan apal banget ama
  sinetron yang tayang di TPI, yakni Si Entong (Abunawas dari Betawi).
  Sebagai hiburan, sinetron yang skenarionya ditulis oleh Ayesha Adam,
  Imam Salimy, dan Zainal Radar T memang oke banget. Lucu dan
  tokoh-tokohnya sangat berkarakter, sehingga pemirsa yang sering nonton
  sinetron ini mengenal betul karakter khas para tokohnya.
  Sinetron bergenre drama komedi religi ini dibintangi oleh Fachri
  (Entong), Adi Bing Slamet (Ustad Somad), Rheina Ipeh (Fatimah), Hafiz
  API (Salim) Ana Shierly (Mpok Lela) dan pemeran lainnya. Sinetron ini
  mengisahkan kehidupan Entong, anak lelaki berusia 12 tahun, anak semata
  wayang Fatimah. Ayahnya sih udah meninggal dunia. Penampilan Entong yang
  suka berpeci merah dan mengenakan kain sarung yang dikalungkan di
  lehernya ini punya guru ngaji, namanya Ustad Somad.

  Layaknya anak-anak yang lain, Entong juga punya teman sekaligus 'musuh'
  bebuyutannya, yakni Memet, Udin, Ucup, dan Siti. Meski kalo dilihat
  sebenarnya yang dominan nakal tuh Memet, ketiga kawannya sih cenderung
  ngikutin aja apa maunya Memet. Apalagi Siti, meski banyak nge-gank ama
  Memet, tapi suka curi-curi kesempatan biar bisa ketemuan ama Entong.
  Maklum Siti nih suka ama Entong.
  Banyak kejadian kocak khas Betawi dalam sinetron ini. Berbagai peristiwa
  dikemas dengan menarik meski sebenarnya kejadian yang biasa terjadi
  sehari-hari. Barangkali di sinilah kekuatan sinetron Si Entong ini.
  Meski demikian, bukan berarti sinetron ini adalah tontonan yang aman
  buat anak-anak dan bahkan untuk orangtua. Lho kok?

  Tanya kenapa?
  Pertama, sinetron ini kerap mengeksploitasi hal-hal yang nggak masuk
  akal. Dari judul per episodenya aja bisa ketahuan, misalnya Pancing
  Ajaib, Gelang Laba-laba Ajaib, Baju Ajaib, Tongkat Ajaib dan lainnya.
  Ada sih judul yang nggak pake kata ajaib, tapi umumnya cerita itu ya
  seputar keajaiban juga. Pada episode Senter Wasiat misalnya, senter yang
  dimiliki Entong, kalo disorotkan ke wajah orang, maka tuh orang wajahnya
  langsung jadi cantik atau ganteng. Kalo disorotkan ke makanan, maka
  makanan tiba-tiba jadi banyak. 
  Hmm... juga dalam episode Memet Jadi Dua, Ustad Somad menjelaskan ketika
  ngisi pengajiannya Entong Cs, bahwa manusia itu punya teman dalam
  dirinya, yang disebut hati nurani atau hati kecil. Memet yang penasaran
  pas nyampe rumah langsung bercermin dan mencari-cari teman dalam
  dirinya. Tapi nggak nemu. Eh, pas Memet pergi malah bayangannya di
  cermin nggak mau pergi. Tetap ada di cermin, bahkan bisa keluar kemudian
  main layaknya Memet yang asli. Nah, bayangannya itu disebut Mumut.
  Hihi.. lucu dan kreatif, plus menghibur. Yup, memang sinetron ini
  sifatnya hiburan, tapi kenapa harus melanggar logika?

  Ya, mungkin manusia memang menyukai hal-hal yang ajaib dan segala hal
  yang berkaitan dengan kekuatan atau kelebihan ideal yang diinginkannya
  dari diri atau sebuah benda. 'Kebiasaan' menyukai hal yang ajaib ini
  memang bukan milik orang-orang sini aja, di Amerika pun udah ada sejak
  dulu. Misalnya cerita Superman, Batman, Catwoman, Hulk, X-Men, Fantastic
  Four, Spiderman, Captain America dan cerita superhero fiksi lainnya.

  Jangankan anak-anak, orang dewasa aja suka. Apalagi setelah diangkat ke
  layar lebar, gambaran kekuatan tokoh superhero yang ada di komik jadi
  lebih terasa nyata dengan bantuan teknologi. Misalnya saja film X-Men
  (yang diangkat dari komik karya Stan Lee dan Jack Kirby), tokoh
  Wolverine/Logan yang memiliki cakar besi di tangannya jadi kelihatan
  gagah. Juga Ororo Munroe/Storm yang punya kekuatan menghadirkan badai
  petir, nampak lebih keren dengan bantuan efek. Scott Summers/Cyclops
  bisa nyemburin api dari matanya. Wah, kalo mo dipreteli satu-satu
  bakalan banyak dan nggak cukup halamannya di buletin ini.

  Kedua, sinetron Si Entong ini sering nampilin adegan pergaulan antara
  laki-perempuan yang longgar, khususnya tokoh yang dewasa. Misalnya,
  adegan tentang Ustad Somad yang kerap mampir ke warungnya Fatimah yang
  janda itu. Kalo ketemuan, duduknya juga suka deketan. Apalagi Fatimah
  naksir berat sama Ustad Somad. Begitu juga Ustad Somad dengan Jamilah.
  Jamilah diajarin ngaji sama Ustad Somad. Lha, apa nggak ada ustazah tuh
  buat ngajarin kaum Hawa?

  Oke, mungkin bagi sebagian orang hal ini dianggap wajar. Toh, dalam
  kehidupan sehari-hari juga banyak yang begitu. Cuma persoalannya nih,
  apakah realita yang ada di tengah kehidupan itu nggak bisa kita nilai?
  Hanya dibiarkan apa adanya dan bahkan dijadikan inspirasi tanpa ada
  penilaian dari si penulis cerita untuk menjelaskan bahwa hal itu
  sebenarnya nggak boleh?

  Ketiga, obrolan yang ditampilkan kerap kasar dan tidak mendidik
  anak-anak. Apalagi kalo tokoh Salim dan Samin bertemu, pasti banyak
  ungkapan, obrolan, sindiran, dan adegan yang nggak pantes ditonton.
  Setali tiga uang dengan Salim-Samin adalah tokoh Mpok Lela dan Mamake
  Memet, yakni Mpok Zaenab. Dua orang ini kerap mengumbar ungkapan dan
  istilah yang juga nggak pantes untuk diteladani. 
  Sekadar hiburan?
  Mungkin aja ada yang bertanya, emangnya nggak boleh kalo bikin cerita
  tentang khayalan kayak X-Men dan sejenisnya, termasuk Si Entong, kan
  yang penting menghibur?
  Sobat muda muslim, saya malah khawatir dengan pernyataan orang-orang
  yang menganggap bahwa hiburan ya hiburan dan itu bebas nilai. Hiburan
  dipercaya sebagai bagian dari kesenian dan ekspresi berkesenian. Mereka
  beralasan bahwa namanya juga hiburan, yang penting kan bisa mengobati
  kepenatan, kejenuhan dan membuat kita rileks. 

  Oke, penulis juga nggak anti kok sama hiburan, toh sinetron ini penulis
  tonton juga untuk mendampingi anak yang memang hobi nonton sinetron ini
  sambil harus rajin ngasih tahu mana yang benar-salah, mana yang
  baik-buruk, dan yang nggak boleh dan boleh dilakukan. Namun, jujur aja
  bahwa kita juga nggak bisa memantau setiap hari tontonan anak-anak. So,
  yang diperlukan adalah kerjasama dari pihak lain, khususnya yang
  bergelut di media massa televisi supaya nggak menampilkan film atau
  sinetron yang nggak mendidik. Baik aspek kognitif maupun afektifnya.
  Mungkin kalo orang dewasa sih nggak mudah dibohongi dengan cerita
  semacam itu. Tapi anak-anak? Nggak ada jaminan kan kalo kemudian nggak
  terpengaruh dengan melakukan adegan yang berhasil ditiru dari tokoh
  cerita tersebut?

  Waktu kecil dulu, saya dan temen-temen main sering mengekspresikan diri
  dengan tokoh-tokoh superhero fiksi yang dilihat di televisi: Superman,
  Batman, Flash Gordon, Gundala dan sejenisnya.

  Jadi, kalo pun ingin menampilkan cerita tersebut, harus ada penjelasan
  di akhir cerita bahwa itu sekadar khayalan belaka. Tapi menurut saya
  lebih baik bikin cerita yang masuk akal dan pendidikan yang sesuai
  dengan kenyataan kehidupan manusia pada umumnya.

  Begitu pula apakah kita kembali berlindung dengan pernyataan: "Ini kan
  hiburan. Nggak usah diributkan. Nikmati aja. Repot amat!"
  Well, apakah kemudian kita berdalih pula ketika adik atau anak kita yang
  terpengaruh sebuah adegan atau obrolan dan ungkapan dari sebuah tayangan
  yang nggak mendidik, bahwa hal itu sekadar efek biasa dari sebuah
  hiburan? Sesederhana itukah berpikirnya? Padahal, kebiasaan akan berubah
  menjadi karakter. Bayangkan jika ada tokoh yang ditontonnya itu sering
  berkata tidak baik, kemudian ia mencontohnya dalam kehidupan nyata dan
  berlaku kasar kepada temen-temennya. Sudah saatnya kita menerapkan
  prinsip bahwa hiburan yang kadang disebut sebagai hasil ekspresi dari
  sebuah estetika, tetap harus berdampingan dengan etika. Nggak cuma
  menampilkan estetika (keindahan seni menghibur), tapi sekaligus selaras
  dengan etika. Utamanya, etika dalam ajaran agama kita, yakni Islam.
  Setuju kan? Yes! (backsound: harusnya ini jawabannya ya!)

  Hiburan yang mendidik
  Sobat, betul banget kalo dikatakan bahwa kita sangat butuh hiburan. Tapi
  kan masalahnya nggak semua hiburan bisa kita nikmati begitu saja. Ada
  ukuran dan nilai yang harus dimiliki sebuah hiburan sehingga kita nggak
  sembarang menikmati. Sebagai seorang muslim, tentu saja hiburan harus
  disesuaikan dengan standar ajaran Islam. Bukan ajaran yang lain. Itu
  sebabnya, meski kita butuh hiburan, tapi nggak melampiaskannya dengan
  dugem, kumpul bareng teman (campur-baur cowok-cewek) di diskotik dan
  menikmati irama musik yang hingar-bingar. Ya, bagi seorang
  muslim/muslimah, menikmati hiburan jenis itu jelas nggak sesuai ajaran
  Islam.
  So, berarti kita kudu pandai-pandai memilih dan memilah jenis hiburan.
  Lebih bagus lagi jika kita bisa menikmati hiburan yang mendidik dan
  sekaligus sangat bermanfaat bagi perkembangan kognitif (ilmu
  pengetahuan), afektif (perasaan atau emosional), dan psikomotorik
  (keterampilan) yang sesuai dengan gaya hidup kita sebagai seorang
  muslim. Tul nggak sih? 

  Sobat, sebenarnya bisa saja hiburan kemudian dijadikan sarana untuk
  menyampaikan informasi yang benar dan mendidik. Sangat bisa dan sangat
  mungkin untuk digarap. Sehingga nggak sekadar hiburan an sich. Tapi ada
  nilai yang bisa membentuk kepribadian kita: baik pola pikir maupun pola
  sikap kita. Nilai yang benar dan baik tentunya. Bukan ukuran nilai
  universal atau humanisme, tapi nilai berdasarkan Islam. Malu dong,
  ngakunya muslim, tapi kelakuan sekuler abis, hedonis en permisif.
  Sungguh terlalu! (silakan nyebutin kalimat ini pake gaya Samin di
  sinetron Si Entong kalo mau hehehe..)
  Insya Allah nggak ada ruginya ngajarin dan nyampein kebaikan. Hiburan
  yang baik dan bermanfaat dalam mendidik insya Allah selain membantu
  orang untuk menjadi benar dan baik, kita juga dapat pahala. Sebaliknya,
  kalo ngajarin keburukan tentu aja kita dapet bagiannya juga, yakni dosa.
  Rasulullah saw. bersabda:

  "Siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang baik kemudian beramal
  dengannya, maka ia mendapat balasannya (pahala) dan balasan serupa dari
  orang yang beramal dengannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
  Dan siapa saja yang mencontohkan perbuatan yang buruk kemudian ia
  berbuat dengannya, maka ia mendapat balasannya dan balasan orang yang
  mengikutinya tanpa mengurangi balasan mereka sedikit pun," (HR Ibnu
  Majah) 

  Oke deh, ini aja sekadar nasihat kecil buat "Si Entong", yakni bagi
  penulis ceritanya, produsernya, sutradaranya dan seluruh kru yang
  terlibat di sana. Ini nasihat karena Entong mengusung genre drama komedi
  religi (dalam hal ini nilai-nilai ajaran agama Islam). Jadi, ini sekadar
  tanda cinta dari saya untuk saling menasihati dan mengingatkan sesama
  muslim. Iya nggak sih? Gejlig! Tewewew! [solihin:
  www.osolihin.wordpress.com]
  =========================================

  Mereka masa depan bangsa,
  mari selamatkan mereka !

  ---------------------------------
  Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke