Kang Ahmad, Afwan ikut menanggapi pertanyaan sampean... "kenapa sampai sekarang MUI belum mengeluarkan fatwa haram tentang rokok?" Kalo saya pribadi menjawabnya "Jelas saja belum ada fatwa, karena rokok sudah menjadi konsumsi public kita, lagipula termasuk income yang besar untuk NKRI. Tapi kalo kita menilik pada individualistnya adalah, kebanyakan dari mereka (personel MUI) juga perokok maka karena itu sulit jadinya mengeluarkan fatwa tersebut. Berhenti merokok bukanlah hal yang sangat mudah, karena disitu perlu niat dan semangat yang bener2 kuat. Saya salah satunya... Dengan tekad yang bulat dan diiringi niat, alhamdulillah lepas sudah ketergantungan saya terhadap rokok yang saya lakukan kurang lebih 6 tahun"
Afwan jika menyinggung perasaan Syukron, Irfan ----- Original Message ----- From: Ahmad Al-Badruuni To: Ummu Hanif ; [email protected] Sent: Thursday, January 31, 2008 10:22 AM Subject: Re: [syiar-islam] Ternyata Rokok Itu Haram Ummu Hanif, Kalau kita diharamkan menyia-nyiakan harta, berarti beli mobil mewah,beli motor baru juga diharamkan? Di Indonesia belum bisa disamakan dengan Arab Saudi mengenai "hal" yang satu ini. Alasannya bisa ditanyakan ke MUI kenapa sampai sekarang belum difatwakan haram. Terima kasih, Ahmad Ummu Hanif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ternyata Rokok Itu Haram <http://majalah-nikah.com/nikah2/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=56> <http://majalah-nikah.com/nikah2/index2.php?option=com_content&task=view&id=56&pop=1&page=0&Itemid=1> <http://majalah-nikah.com/nikah2/index2.php?option=com_content&task=emailform&id=56&itemid=1> Thursday, 03 January 2008 Berbicara tentang Narkoba tidak jauh berbeda dengan benda yang satu ini. Benda yang sangat mematikan dan menghancurkan terutama bagi generasi muda kita. Benda ini adalah ROKOK.Bagaimanakah sebenarnya hukum rokok ditinjau dari syariat Islam? Hukum Rokok Menurut Syariat Syekh Ibnu Utsaimin B erbicara tentang Narkoba tidak jauh berbeda dengan benda yang satu ini. Benda yang sangat mematikan dan menghancurkan terutama bagi generasi muda kita. Benda ini adalah ROKOK. Berbagai pertanyaan mengenai hukum rokok mengemuka terutama di negeri Indonesia. Banyak kalangan menilai hukum rokok hanya sampai tingkat makruh. Namun, bagaimanakah hukum rokok sebenarnya ditinjau dari syariat Islam? Syekh Ibnu Utsaimin v menjelaskan hukum rokok menurut syariat yang beliau sertakan dalil-dalil dari Al-Quran maupun sunnah. Beliau v berkata,Merokok adalah HARAM hukumnya berdasarkan makna yang terindikasi dari zhahir ayat Al-Quran dan As-Sunnah serta i'tibar (logika) yang benar. Dalil dari Al-Quran adalah firman-Nya l: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (Al-Baqarah:195). Maknanya, janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu. Wajhud dilalah (aspek pendalilan) dari ayat tersebut adalah bahwa merokok termasuk perbuatan mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan. Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits yang berasal dari Rasulullah secara shahih bahwa beliau melarang menyia-nyiakan harta. Makna menyia-nyiakan harta adalah mengalokasikannya kepada hal yang tidak bermanfaat. Sebagaimana dimaklumi, bahwa mengalokasikan harta dengan membeli rokok adalah termasuk pengalokasian kepada hal yang tidak bermanfaat, bahkan pengalokasian kepada hal yang di dalamnya terdapat kemudharatan. Dalil dari As-Sunnah yang lainnya, sebagaimana hadits dari Rasulullah yang berbunyi: *"Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan juga tidak boleh membahayakan (orang lain)."* (Riwayat Ibnu Majah, kitab *Al-Ahkam* (2340)) Jadi, menimbulkan bahaya (dharar) adalah ditiadakan (tidak berlaku) dalam syariat, baik bahayanya terhadap badan, akal ataupun harta. Sebagaimana dimaklumi pula, bahwa merokok adalah berbahaya terhadap badan dan harta.Adapun dalil dari i'tibar (logika) yang benar, yang menunjukkan keharaman merokok adalah karena (dengan perbuatannya itu) si perokok mencampakkan dirinya sendiri ke dalam hal yang menimbulkan hal yang berbahaya, rasa cemas dan keletihan jiwa. Orang yang berakal tentunya tidak rela hal itu terjadi terhadap dirinya sendiri. Alangkah tragisnya kondisi dada sesak si perokok, bila dirinya tidak menghisapnya. Alangkah berat dirinya berpuasa dan melakukan ibadah-ibadah lainnya karena hal itu menghalangi dirinya dari merokok. Bahkan, alangkah berat dirinya berinteraksi dengan orang-orang yang shalih karena tidak mungkin mereka membiarkan rokok mengepul di hadapan mereka. Karenanya, Anda akan melihat dirinya demikian tidak karuan bila duduk-duduk bersama mereka dan berinteraksi dengan mereka.Semua i'tibar tersebut menunjukkan bahwa merokok adalah diharamkan hukumnya. Karena itu, nasihat saya buat saudaraku kaum muslimin yang didera oleh kebiasaan menghisapnya, agar memohon pertolongan kepada Allah dan mengikat tekad untuk meninggalkannya, sebab di dalam tekad yang tulus disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah serta mengharap pahala-Nya dan menghindari siksaan-Nya; semua itu adalah amat membantu di dalam upaya meninggalkan rokok tersebut.Jika ada orang yang berkilah, "*Sesungguhnya kami tidak menemukan nash, baik di dalam Kitabullah ataupun Sunnah Rasul-Nya perihal haramnya merokok itu sendiri."* Jawaban atas statemen ini, bahwa nash-nash Kitabullah dan As-Sunnah terdiri dari dua jenis: 1. Satu jenis yang dalil-dalilnya bersifat umum seperti Adh-Dhawabith (ketentuan-ketentuan) dan kaidah-kaidah di mana mencakup rincian-rincian yang banyak sekali hingga Hari Kiamat. 2. Satu jenis lagi yang dalil-dalilnya memang diarahkan kepada sesuatu itu sendiri secara langsung. Sebagai contoh untuk jenis pertama adalah ayat Al-Qur'an dan sebuah hadits yang telah kami singgung di atas, yang menunjukkan secara umum keharaman merokok sekalipun tidak secara langsung diarahkan kepadanya.Sedangkan untuk contoh jenis kedua adalah firman-Nya, *"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah."* (Al-Ma'idah:3). Dan firmanNya, *"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu."*(Al-Ma'idah:90). Jadi, baik *nash-nash* tersebut termasuk ke dalam jenis pertama atau jenis kedua, maka ia bersifat keniscayaan (keharusan) bagi semua hamba Allah karena dari sisi pendalilan mengindikasikan hal itu. Kesimpulan: Jadi karena rokok itu jelas berbahaya, merugikan dan tidak ada manfaatnya, maka hukumnya adalah haram. Sumber: *Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2*, penerbit Darul Haq. http://majalah-nikah.com/nikah2/index.php?option=com_content&task=view&id=56&Itemid=1 [Non-text portions of this message have been removed] Wassalam, Ahmad --------------------------------- Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

