Keluarga,Teladan Pertama
Anak<http://baitijannati.wordpress.com/2008/01/05/keluargateladan-pertama-anak/>

Ditulis oleh *Farid Ma'ruf* <http://faridmaruf.wordpress.com/> di/pada
Januari 5, 2008

*Oleh : Lathifah Musa*

* *

*baitijannati*. Fathimah, balita kecil usia 2,5 tahun menggendong boneka
pandanya. Sembari menggoyang-goyang si Panda seolah meninabobokannya,
sesekali ia mengecup kepala bonekanya. Tampak betapa sayangnya ia pada
boneka itu. Tak jauh darinya, ibunda Fathimah juga sedang menggendong
bayinya, adik Fathimah yang berusia 4 bulan. Ternyata apa yang dilakukan
Fathimah persis meniru ibundanya.

Dengan mengamati dan meniru, Fathimah telah belajar mencurahkan kasih sayang
dari sang bunda. Tak heran, walaupun masih balita, naluri keibuannya mulai
bertunas.
       Tidak semua anak perempuan balita seperti Fathimah. Ada yang suka
mencopoti tangan dan kaki bonekanya. Ada yang menggendongnya sekedar
menggantung di leher, sehingga leher boneka tercekik. Ada lagi yang gemar
melempar bonekanya ke luar melalui jendela kamar. Sebagai manusia dewasa,
barangkali kita hanya mengatakan: "Ah biasa, perilaku anak-anak". Tanpa kita
menyadari, bahwa sesungguhnya balita-balita kecil itu sedang tumbuh,
berkembang dan juga belajar.

Anak belajar dengan melihat, mendengar, mengamati kemudian meniru. Jangan
dikira, makhluk kecil mungil itu tidak peduli pada lingkung-annya.
Sesungguhnya mereka memiliki daya rekam yang luar biasa. Tanpa kita sadar,
mereka bisa menjadi peniru-peniru ulung. Tak heran ketika kita meminta Mikko
(3,5 th) untuk menyanyi, dengan fasihnya ia melantunkan "Mbah Dukun"-nya
Alam, dengan lenggak-lenggoknya yang tak kalah dengan aslinya. Atau Rara (3
th) yang masih cedal menyanyi lagu "cucakrowo". Kontan membuat jengah dan
merah telinga orang dewasa, karena baitnya yang cukup "ngeres" dan "saru".

Tapi siapa yang bisa disalahkan? Balita-balita ini sudah terbiasa dengan
lantunan lagu-lagu itu di rumahnya. Bahkan orang tua mereka sendiri sering
melagukannya. Lebih parah lagi mereka justru tertawa, bertepuk dan bersorak
melihat balitanya yang mungil bisa menirukannya dengan lancar dan fasih.

*Sumber Informasi Pertama*

Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah
adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang
pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak
belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada
anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola
interaksi yang pertama dipelajari anak.

Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi.
Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan
kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna
yang pertama.

Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah
sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan
awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak. Di dalam Islam, sistem
pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan
menjadi shaleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis,
semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang
tuanya.

Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW
bersabda: "*Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah),
kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang
Nasrani atau seorang Majusi." *(HR. Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.
Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang
bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah SWT. Orang tua memiliki peran
dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar?
Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.
*
Ibu Pendidik Utama*

Pendidik yang paling berkompeten dalam keluarga tentunya adalah orang tua
(ayah dan ibu). Secara khusus, dalam sebuah keluarga, ibu adalah sosok yang
memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam proses tumbuh kembang
anak. Kepada ibu, anak pertama kali berinteraksi. Ibulah yang paling dekat
dengan anaknya. Dalam kandungan ibu, anak mendapatkan kasih sayang sehingga
ia dapat tumbuh dan berkembang selama kurang lebih 9 bulan, bukan waktu yang
singkat. Kesadaran, kerelaan, ketelatenan dan pengorbanan seorang ibu pada
masa ini sangat diperlukan. Keikhlasan seorang ibu menjalani peran ini
sangat menentukan lestarinya generasi manusia.

Sangatlah tepat kiranya bila Islam menempatkan "peran ibu" sebagai tugas
pokok kaum perempuan. Untuk menjamin pelaksanaan ini, Islam menetapkan
beberapa hukum khusus bagi perempuan, baik berupa hak ataupun kewajiban.
Dengan pengaturan ini, ada jaminan bagi proses tumbuh kembang anak, sehingga
menjadi manusia dewasa yang terarah.

Kemuliaan dan keagungan peran ini tergambar dalam sabda Nabi SAW: "Surga
berada di bawah telapak kaki ibu" (THR Ahmad). Hadits ini mengambarkan
betapa saleh dan tidaknya seorang anak tergantung bagaimana sang ibu
mendidiknya. Kalau ibu memberikan pendidikan dasar yang baik, maka
kemungkinan besar anak akan tumbuh menjadi manusia yang shaleh. Sebaliknya
bila ibu sampai keliru dalam mendidiknya, maka bisa jadi dia tumbuh dewasa
jauh dari arahan Islam.

*Figur Ibu*

Pentingnya figur seorang ibu atau orang tua yang baik, menunjukkan
pentingnya sebuah keluarga sebagai lembaga pendidikan. Untuk itu ayah
sebagai kepala keluarga berperan besar dalam mewujudkan figur ibu yang baik
di lingkungan keluarganya.
Sejak awal, seorang calon ayah dianjurkan memilih calon ibu bagi
anak-anaknya dari kalangan perempuan yang penyayang. Sebagaimana sabda
Rasulullah SAW: "Hendaknya kamu menikahi perempuan yang subur dan penyayang,
sebab denganmu umatku menjadi lebih banyak daripada umat para nabi yang lain
di Hari Kiamat." (THR. Ahmad dan Abu Hakim).

Seorang ibu yang penyayang tidak akan pernah rela untuk menelantarkan
anaknya yang masih kecil demi karir. Ibu yang penyayang juga tidak akan
mengorbankan hak anaknya mendapatkan ASI (Air Susu Ibu). Ibu yang penyayang
ini tidak akan mengorbankan hak anaknya mendapatkan pengasuhan dan
pendidikan yang terbaik.
Ketika seorang anak usia TK kecil ditanya oleh gurunya, "Apakah kamu punya
kaset lagu untuk menari?" Ia menjawab:"Di rumah ada kaset lagu Goyang
Dombret". Sang guru terperanjat,"Itu bukan lagu yang bagus." Tak kalah cepat
si anak menukas: "Ibuku suka lagu itu, katanya itu lagu bagus." Bisa
dibayangkan betapa mengejutkan bila ternyata anak-anak kecil itu pun bisa
mengatakan "goyang ngebor si Inul juga bagus".

Kenyataannya tak sedikit orang tua yang tidak peduli sama sekali dengan
perkembangan pola pikir dan kejiwaan anaknya. Keluarga yang seharusnya
menjadi pelindung tumbuh kembang anak, justru menjadi tempat yang
merusaknya. Padahal ibarat radar, anak akan menangkap setiap obyek yang ada
di sekitarnya. Perilaku orang tua adalah hal yang pertama ditangkapnya.

Bagi seorang anak, ibu memiliki kesan pertama yang begitu besar. Untuk itu
seorang ibu memang harus berperilaku dan berkepribadian tinggi. Supaya kesan
pertama yang tertangkap anak adalah kesan yang baik. Kesan yang baik ini
akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak.
Kekuatan figur ibu ini akan membuat anak mampu menyaring, apa yang boleh
diambil dan apa yang tidak boleh dari lingkungannya. Anak akan menjadikan
apa yang diterimanya dari sang ibu sebagai standar nilai. Anak akan lebih
percaya kepada ibunya daripada orang lain, apalagi terhadap orang-orang yang
kepribadiannya berlawanan dengan sang ibu. Dengan begitu anak akan menjadi
milik ibunya. Ia tidak akan patuh begitu saja pada figur-figur di layar kaca
yang gaya hidup dan perilakunya berlawanan dengan Islam.

*Keteladanan*

Karena anak banyak belajar dari contoh-contoh yang ada, maka anak
membutuhkan figur-figur yang dapat dilihatnya secara langsung. Akal seorang
anak belum sempurna untuk melakukan sebuah proses berpikir. Ia belum mampu
menerjemahkan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Tepatlah
kiranya seorang pakar ilmu pendidikan yang mengatakan bahwa keteladanan
adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam
menyampaikan tata nilai kehidupan. Dan karena keluarga adalah tempat pertama
kali anak belajar hidup dan mengerti nilai-nilai kehidupan, maka orang
tualah yang harus menjadi figur pertama keteladanan anak. (*
www.baitijannati.wordpress.com* <http://www.baitijannati.wordpress.com/>)



Sumber : Majalah Female Readers


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke