Kecintaan Anak Pada Kitabullah, Menyelamatkan Generasi
Islam<http://mumtaza.wordpress.com/2008/01/10/76/>
{ Kamis, 10 Januari 2008 @ 8:19
am<http://mumtaza.wordpress.com/2008/01/10/76/>} · {
Islam <http://id.wordpress.com/tag/islam/> }
{ }
*Para da'i, para khotib, para aktifis Islam* telah berkali-kali menyampaikan
bahwa anak adalah generasi Islam masa depan yang harus kita jaga dan kita
tanamkan Aqidah dan Akhlaq Islam semenjak dini. Namun disatu sisi (bahkan
juga terdapat dari kalangan penyeru tadi), sering secara sadar atau tidak
sadar, telah memunculkan upaya untuk merusak generasi Islam tersebut. Mulai
dari acara-acara lomba nyanyi anak "Islam", lomba fashion show anak "Islam",
dan masih banyak acara-acara lainnya yang selalu menggunakan label Anak
"Islam".
Begitu mudahnya kita menemui anak-anak Islam dengan lancar menyenandungkan
lagu-lagu, bahkan nyanyian orang dewasa. Dan begitu asingnya anak-anak yang
mengenal Agamanya, yang bisa membaca Al Qur'an dengan baik yang benar, yang
mengetahui tentang Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berserta
tuntunannya.
Mengenai senandung, sebenarnya perkara ini bukanlah sesuatu yang aneh karena
jauh sebelumnya Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah
mengabarkannya, yang artinya:* "Akan ada di kalangan ummatku suatu kaum yang
menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat musik." (HR: Bukhari dan Abu
Daud)*
Asy Syaikh Jamil Zainu berkata tentang Hadits ini: "Bahwasannya akan ada
suatu kaum di kalangan Muslimin yang mereka meyakini bahwa zina, memakai
sutera asli, minum khamar, dan musik itu halal, padahal haram." (Kaifa
Nurabbi Auladana 47)
Mari kita renungkan didalam hati ini, apakah yang telah kita lakukan
terhadap anak-anak, adik-adik, kemenakan, dan generasi muda Islam yang
pembinaan dan pendidikannya berada dibawah tanggung jawab kita. Sudakah kita
berupaya keras mendekatkan mereka dengan Syariat Islam? Adakah upaya kita
menanamkan kecintaan anak terhadap Kitabulloh serta himbauan dan tuntunan
untuk mengamalkannya? Ataukah kita hanya sekedar memberikan tawa gembira
kepada mereka dengan mengadakan acara lomba senandung anak "Islam" atau
lomba fashion show anak "Sholeh/ah"?
Jika kita ingin melihat sejarah umat Islam ini lebih dalam lagi, maka kita
akan menengok generasi muda Islam terdahulu yaitu di zaman Salafus Sholeh
(zaman para shohabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in). Sungguh alangkah indahnya
di masa itu.
Memang sungguh sulit dan tidak bisa apabila generasi kita sekarang
dibandingkan dengan mereka. Sungguh jauh sekali kita dibanding mereka, tapi
seharusnya kita berusaha meneladani mereka sebagaimana Alloh Subhanahu wa
Ta'ala dan Rasul-Nya telah memerintahkan hal tersebut.
Generasi terbaik ummat ini telah memberikan teladan pada kita dalam masalah
ini. Betapa tingginya semangat mereka dalam mengarahkan perbuatan anak-anak
mereka agar selaras dengan Kitabullah. Kita bisa dapatkan para shahabat
telah mengajarkan Al Qur'an sejak dini pada anak-anak mereka dan semua itu
tidak lepas karena ittiba' mereka kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan
Rasul-Nya. Firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: *"
akan tetapi
jadilah kalian orang-orang rabbani karena apa yang kalian ajarkan dari Al
Kitab dan karena yang kalian pelajari darinya." (QS: Ali Imran: 79)*
Dari Hadits Utsman radhiallahu 'anhu secara marfu' bahwa Rasululloh
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: *"Sebaik-baik kalian
adalah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya." (HR: Bukhari dalam
Shahih-nya nomor 5027)*
Maka berikanlah perkara-perkara yang baik kepada mereka, ajarkan dan
biasakanlah pada mereka sejak dini Kalamullah agar mereka terbiasa
melantunkannya dan timbul kecintaan pada hati-hati mereka dengan memahamkan
makna-maknanya.
Al Imam Al Hafidh As Suyuthi berkata: "Mengajarkan Al Qur'an pada anak-anak
merupakan salah satu dari pokok-pokok Islam agar mereka tumbuh di atas
fitrahnya dan agar cahaya hikmah lebih dahulu menancap pada hati-hati mereka
sebelum hawa nafsu dan sebelum hati-hati mereka dihitami (dipenuhi) oleh
kekotoran maksiat dan kesesatan" (Manhajut Tarbiyatun Nabawiyyah lith Tifl
104)
Mengajarkan Al Qur'an bukan sekedar membaca lafadh-lafadhnya dan
menghapalkannya, namun melalaikan makna-makna yang terkandung di dalamnya.
Seharusnya kita mengajarkan Al Qur'an dengan disertai keterangan yang
mencukupi.
Salah satu sejarah yang bisa kita jadikan pelajaran bagi pendidikan anak
Islam yang merupakan buah dari terasahnya kecerdasan dan kepekaan terhadap
kandungan makna Al Qur'an adalah kisah pendidikan Mush'ab bin Sa'ad bin Abi
Waqqash.
Dia berkata kepada ayahnya, Sa'ad bin Abi Waqqash: "Wahai ayahku, bagaimana
pendapat ayah tentang firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: *"Yakni
orang-orang yang lalai dalam shalat mereka." (QS: Al Ma'un: 6)*
Mush'ab melanjutkan: "Siapa di antara kita yang tidak lalai dan tidak
terlintas dalam benaknya perkara lain selain shalat sedikitpun?"
Maka sang ayah Sa'ad bin Abi Waqqash menjawab: "Bukan begitu, wahai
anakku. Yang dimaksud lalai dalam firman Alloh tersebut adalah
menyia-nyiakan waktunya." (Riwayat Abu Ya'la dalam Musnad-nya 2/63. Manhaj
Tarbiyah lith Thifl. 108)
Demikian juga kisah Abu Sulaiman Dawud bin Nashr Ath Tha'i. Ketika ia
berumur lima tahun ayahnya menyerahkannya pada seorang pengajar adab. Maka
pengajar tersebut memulai dengan mengajarkan Al Qur'an. Ketika sampai pada
surat Al Insan dan dia telah menghapalnya, suatu hari ibunya melihatnya
sedang menghadap dinding memikirkan sesuatu sambil jarinya menunjuk-nunjuk.
Maka ibunya berkata: "Bangkitlah wahai Dawud, bermainlah bersama anak- anak
yang lain!" Dawud tidak menyahut perintah ibunya hingga ketika sang ibu
mendekapnya, Dawud baru bereaksi, ia berkata: "Ada apa denganmu, wahai
ibuku?"
Kata ibunya : "Di manakah pikiranmu, wahai anakku?"
"Bersama hamba-hamba Alloh," jawab Dawud.
"Di mana mereka?" Tanya sang ibu.
"Di Surga," jawab Dawud singkat.
Ibunya bertanya lagi : "Apa yang sedang mereka perbuat?"
Mendengar pertanyaan itu Dawud membacakan surat Al Insan ayat 13 sampai 21
yang mengabarkan kenikmatan Surga, yang artinya: *"Di dalamnya mereka duduk
bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya)
mentari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon Surga
itu) dekat di atas mereka dan buah-buahannya dimudahkan memetiknya
semudah-mudahnya. Dan diedarkan pada mereka bejana-bejana dari perak dan
gelas-gelas yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari
perak yang telah diukur mereka dengan sebaik- baiknya. Di dalam Surga itu
mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah zanjabil.
(Yang didatangkan dari) sebuah mata air Surga yang dinamakan Salsabil. Dan
mereka dikelilingi pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila engkau
melihat mereka, engkau akan mengira mereka adalah mutiara yang bertaburan.
Dan apabila engkau melihat di sana (Surga) niscaya engkau akan melihat
berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka (penghuni Surga)
memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan
kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan
kepada mereka minuman yang bersih." (QS: Al Insan: 13-21)*
Subhanallah! Di usia mereka yang masih belia akal-akal mereka telah terasah
untuk memikirkan ayat-ayat Alloh Subhanahu wa Ta'ala, men-tadabburi-nya.
Fitrah yang Alloh Subhanahu wa Ta'ala berikan pada mereka terjaga bahkan
terkuatkan dengannya. Bagaimanakah dengan anak-anak yang berada dibawah
tanggung jawab kita?
Upayakanlah yang didengarkan anak-anak pertama kali adalah kalimat-kalimat
Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan memahamkan mereka sehingga mereka terbiasa
mendengar dan mengucapkannya, dengan begitu hati-hati mereka menjadi cinta
terhadap Al Qur'an dan mereka tumbuh di atasnya. Membiasakan anak untuk
menghapal Al Qur'an sejak dini juga merupakan suatu pendidikan yang baik.
Semoga Alloh Subhanahu wa Ta'ala mempermudah jalan bagi kita untuk mendidik
generasi penerus Islam. Wallahu A'lam Bishshawwab.
(Sumber Rujukan: Kaifa Nurabbi Auladana, Asy Syaikh Jamil Zainu; Manhajut
Tarbiyatun Nabawiyyah lith Thifl, Muhammad Nur Suwaid.; Tarbiyatul Abna',
Asy Syaikh Mushthafa Al 'Adawi, Sumber Artikel: http://www.mediamuslim.info)
[Non-text portions of this message have been removed]
===
Mari belajar Islam dan berdakwah melalui SMS
Cara berlangganan: REG SI kirim ke 3252 (Dari Telkomsel)
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252
http://www.media-islam.or.id
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/syiar-islam/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/