Dari tetangga sebelah, semoga bermanfaat........amin.

-----Original Message-----
From: Idam Gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, February 08, 2008 2:49 PM
To: Aco Bro; Adeku; Ayu; Bahri Humaidi; [EMAIL PROTECTED]; Fajar.
Lukman; Izza, Ishmatul (EXT); Jana Priyadi; Mulyono; Nurman; sherly
julainti; Tamar Hartio Sambas; teguh; Yamaha / Yamin
Subject: Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan


Semoga bermanfaat teman2, selamat membaca..



Sebuah Email Tentang Rumah Tuhan



Katagori : Hikmah
Oleh : Redaksi 04 Jan 2008 - 5:00 pm


Oleh Sabrul Jamil
Sebuah e-mail tiba di PC saya. Isinya tentang pengalaman seorang pekerja
asing. Ceritanya, pekerja asing itu tiba untuk pertama kalinya di salah satu
perkantoran megah di kawasan Jakarta. Usai memarkirkan mobilnya di basement,
ia melihat sekelompok orang, laki dan perempuan, tengah melakukan suatu
kegiatan yang aneh di matanya, di salah satu ruangan di basement tersebut.
Ruang tersebut kecil dan pengap, dengan tembok rendah mengelilinginya.

Sesampainya di atas, orang asing ini bertanya tentang apa yang dilihatnya
barusan. Orang Indonesia yang kebetulan muslim menjelaskan bahwa orang-orang
di basement tersebut sedang sholat, menyembah Allah, Tuhan umat Islam.
Sholat adalah kewajiban yang dilaksanakan sehari lima kali. Dengan takjub
orang asing itu menjawab, betapa rendahnya apresiasi umat Islam terhadap
Tuhan mereka.

Jika terhadap ia yang cuma manusia bisa disediakan tempat kerja yang lapang
dan nyaman, mengapa untuk Tuhan mereka hanya tersisa sebuah ruangan pengap
di basement?

Pembaca, tidakkah keheranan orang asing itu menjadi keheranan kita juga?



Suatu sore, di salah satu gedung tinggi di kawasan matraman. Setelah
menyelesaikan suatu urusan, saya bertanya ke salah satu karyawan di gedung
megah tersebut letak musholla. Sudah lewat pukul empat sore. Karyawan tadi,
penuh semangat, menunjukkan letak musholla. Dengan berterima kasih, saya
bergegas mengikuti arah yang ditunjukkan. Saya melewati areal parkir yang
pengap, suatu kantor yang saya perkirakan markas satpam (banyak satpam yang
duduk-duduk di depan kantor tersebut, dengan uniform berantakan), dan
sampailah saya ke gedung mungil, dengan tulisan kusam tertempel di salah
satu temboknya: MUSHOLLA.

Musholla ini terletak persis di belakang gedung tinggi yang baru saja saya
tinggalkan. Ukurannya tak lebih besar dari ruang tamu rumah saya. Temboknya
setengah terbuka, dan dimanfaatkan untuk meletakkan sajadah-sajadah, dan...
Helm!

Di ruang yang sempit itu ada seseorang yang tertidur pulas. Tempat wudhu
terletak tak jauh dari situ. Ada dua kran. Akhirnya, di naungi suasana
pengap dan beraroma kurang sedap, saya menunaikan kewajiban saya kepada Rabb
Penguasa Jagat. Ada rasa malu yang tak terkatakan, hanya sebegini apresiasi
saya kepada Mu, ya Allah.

Saya pulang, meliuk-liuk melewati kemacetan pinggiran kota, dengan setumpuk
pikiran di kepala. Sudah berapa kali saya dapatkan, sebuah gedung
perkantoran megah, dengan tempat sholat yang mirip dengan gudang?

Karena tuntutan pekerjaan, saya sering keluar masuk kampus dan perkantoran.
Dan situasi seperti ini sudah seperti typical: gedung megah, tinggi, dengan
lobby dan ruang kerja yang nyaman, namun tak menyisakan satu ruangan pun
untuk sholat, suatu ibadah yang nabi katakan sebagai tiang agama. Sebagai
gantinya, pihak perkantoran menyediakan tempat sholat di basement, di
sela-sela parkir kendaraan. Atau sebaliknya, tempat sholat sering diletakkan
di bagian tertinggi gedung, seperti di kantor saya. Ini masih lumayan,
karena tempatnya terbuka, sehingga angin dan debu jalan leluasa menerobos.
Setidaknya, sholat tidak dilakukan dalam keadaan pengap.

Tentu ada juga gedung-gedung perkantoran yang menyiapkan tempat sholat yang
memadai, meski tidak harus mewah. Gedungnya terawat. Sajadah dan mukena
secara teratur dibersihkan. Majalah dindingnya secara berkala diupdate.

Pembaca yang baik, sholat adalah sejenis ibadah yang menuntut konsentrasi
tinggi. Konsentrasi ini adalah awal kekhusyuan. Dengan khusyu'-lah kualitas
sholat diperoleh.

Nah, konsentrasi tentunya memerlukan daya dukung lingkungan. Lingkungan yang
bising, pengap, beraroma kurang sedap, secara sunnatullah, akan mengurangi
konsentrasi. Rasulullah pernah menolak sajadah yang bergambar, karena
khawatir akan mengganggu konsentrasi beliau. Beliau juga memerintahkan imam
untuk menyegerakan sholat apabila terdengar suara anak menangis, karena
khawatir si ibu akan merasa resah dalam sholatnya.
Selain itu, beliau juga secara optimal membersihkan diri. Salah satu sunnah
beliau sebelum sholat adalah bersiwak (menggosok gigi), dan memakai
harum-haruman.

Dari situ kita simpulkan, salah satu syarat khusyu' diperoleh dari situasi
dan kondisi ketika sholat. Dilakukan. Terlalu arogan kalau kita menganggap
situasi dan kondisi tidak mempengaruhi kekhusyuan sholat kita.

Bagaimana sholat yang dilakukan di tempat-tempat seperti yang saya gambarkan
di awal tulisan ini? Saya khawatir pelaksanaan sholat tersebut hanya sekedar
untuk menggugurkan kewajiban.

Sesungguhnya, yang bertanggung jawab memakmurkan masjid adalah seluruh orang
beriman yang berada di wilayah masjid tersebut. Bagaimana cara mewujudkan
tanggung jawab tersebut?

Mungkin, yang pertama kali harus dibangun adalah kesadaran. Kesadaran
diperoleh setelah adanya informasi, bahwa Masjid bukanlah sekedar bangunan
pelengkap.

Siapa yang harus memulai?

Setidaknya, Anda, setelah membaca tulisan ini, mulai menyusun gagasan
praktis, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki situasi di tempat Anda
(kecuali kalau Masjid di tempat Anda sudah representatif untuk beribadah).
Jadikan ini sebagai peluang amal. Siapa tahu dapat menjadi jalan lain bagi
kita untuk bertemu dengan senyumNya. (eramuslim)
Sabruljamil.Multiply.Com




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke