Bukti Kebenaran
Al-Quran<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/bukti_kebenaran_alquran.html>

Al-Quran mempunyai sekian banyak fungsi. Di antaranya adalah menjadi bukti
kebenaran Nabi Muhammad saw. Bukti kebenaran tersebut dikemukakan dalam
tantangan yang sifatnya bertahap. Pertama, menantang siapa pun yang
meragukannya untuk menyusun semacam Al-Quran secara keseluruhan (baca QS
52:34). Kedua, menantang mereka untuk menyusun sepuluh surah semacam
Al-Quran (baca QS 11:13). Seluruh Al-Quran berisikan 114 surah. Ketiga,
menantang mereka untuk menyusun satu surah saja semacam Al-Quran (baca QS
10:38). Keempat, menantang mereka untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih
kurang sama dengan satu surah dari Al-Quran (baca QS 2:23).

Dalam hal ini, Al-Quran menegaskan: Katakanlah (hai Muhammad) sesungguhnya
jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini,
niscaya mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya, sekalipun
sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain. (QS 17 :88).

Seorang ahli berkomentar bahwa tantangan yang sedemikian lantang ini tidak
dapat dikemukakan oleh seseorang kecuali jika ia memiliki satu dari dua
sifat: gila atau sangat yakin. Muhammad saw. sangat yakin akan wahyu-wahyu
Tuhan, karena "Wahyu adalah informasi yang diyakini dengan sebenarnya
bersumber dari Tuhan."

Walaupun Al-Quran menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad, tapi fungsi
utamanya adalah menjadi "petunjuk untuk seluruh umat manusia." Petunjuk yang
dimaksud adalah petunjuk agama, atau yang biasa juga disebut sebagai
syari'at. Syari'at, dari segi pengertian kebahasaan, berarti ' jalan menuju
sumber air." Jasmani manusia, bahkan seluruh makhluk hidup, membutuhkan air,
demi kelangsungan hidupnya. Ruhaninya pun membutuhkan "air kehidupan." Di
sini, syari'at mengantarkan seseorang menuju air kehidupan itu.

Dalam syari'at ditemukan sekian banyak rambu-rambu jalan: ada yang berwarna
merah, yang berarti larangan; ada pula yang berwarna kuning, yang memerlukan
kehati-hatian; dan ada yang hijau warnanya, yang melambangkan kebolehan
melanjutkan perjalanan. Ini semua, persis sama dengan lampu-lampu
lalulintas. Lampu merah tidak memperlambat seseorang sampai ke tujuan.
Bahkan ia merupakan salah satu faktor utama yang memelihara pejalan dari
mara bahaya. Demikian juga halnya dengan "lampu-lampu merah" atau
larangan-larangan agama.

Kita sangat membutuhkan peraturan-peraturan lalulintas demi memelihara
keselamatan kita. Demikian juga dengan peraturan lalulintas menuju kehidupan
yang lebih jauh, kehidupan sesudah mati. Di sini, siapakah yang seharusnya
membuat peraturan-peraturan menuju perjalanan yang sangat jauh itu?

Manusia memiliki kelemahan-kelemahan. Antara lain, ia seringkali bersifat
egoistis. Disamping itu, pengetahuannya sangat terbatas. Lantaran itu, jika
ia yang diserahi menyusun peraturan lalulintas menuju kehidupan sesudah
mati, maka diduga keras bahwa ia, di samping hanya akan menguntungkan
dirinya sendiri, juga akan sangat terbatas bahkan keliru, karena ia tidak
mengetahui apa yang akan terjadi setelah kematian.

Jika demikian, yang harus menyusunnya adalah "Sesuatu" yang tidak bersifat
egoistis, yang tidak mempunyai sedikit kepentingan pun, sekaligus memiliki
pengetahuan yang Mahaluas. "Sesuatu" itu adalah Tuhan Yang Mahaesa, dan
peraturan yang dibuatnya itu dinamai "agama".

Sayang bahwa tidak semua manusia dapat berhubungan langsung secara jelas
dengan Tuhan, guna memperoleh informasi-Nya. Karena itu, Tuhan memilih
orang-orang tertentu, yang memiliki kesucian jiwa dan kecerdasan pikiran
untuk menyampaikan informasi tersebut kepada mereka. Mereka yang terpilih
itu dinamai Nabi atau Rasul.

Karena sifat egoistis manusia, maka ia tidak mempercayai informasi-informasi
Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi itu. Mereka bahkan tidak percaya bahwa
manusia-manusia terpilih itu adalah Nabi-nabi yang mendapat tugas khusus
dari Tuhan.

Untuk meyakinkan manusia, para Nabi atau Rasul diberi bukti-bukti yang pasti
dan terjangkau. Bukti-bukti tersebut merupakan hal-hal tertentu yang tidak
mungkin dapat mereka --sebagai manusia biasa (bukan pilihan Tuhan)--
lakukan. Bukti-bukti tersebut dalam bahasa agama dinamai "mukjizat".

Para Nabi atau Rasul terdahulu memiliki mukjizat-mukjizat yang bersifat
temporal, lokal, dan material. Ini disebabkan karena misi mereka terbatas
pada daerah tertentu dan waktu tertentu. Ini jelas berbeda dengan misi Nabi
Muhammad saw. Beliau diutus untuk seluruh umat manusia, di mana dan kapan
pun hingga akhir zaman.

Pengutusan ini juga memerlukan mukjizat. Dan karena sifat pengutusan itu,
maka bukti kebenaran beliau juga tidak mungkin bersifat lokal, temporal, dan
material. Bukti itu harus bersifat universal, kekal, dapat dipikirkan dan
dibuktikan kebenarannya oleh akal manusia. Di sinilah terletak fungsi
Al-Quran sebagai mukjizat.

Paling tidak ada tiga aspek dalam Al-Quran yang dapat menjadi bukti
kebenaran Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi bukti bahwa seluruh
informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar bersumber dari
Allah SWT.

Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi
Muhammad bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis. Ia juga tidak
hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif telah mengenal
peradaban, seperti Mesir, Persia atau Romawi. Beliau dibesarkan dan hidup di
tengah-tengah kaum yang oleh beliau sendiri dilukiskan sebagai "Kami adalah
masyarakat yang tidak pandai menulis dan berhitung." Inilah sebabnya, konon,
sehingga angka yang tertinggi yang mereka ketahui adalah tujuh. Inilah latar
belakang, mengapa mereka mengartikan "tujuh langit" sebagai "banyak langit."
Al-Quran juga menyatakan bahwa seandainya Muhammad dapat membaca atau
menulis pastilah akan ada yang meragukan kenabian beliau (baca QS 29:48).

Ketiga aspek yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut. Pertama, aspek
keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Tidak mudah untuk menguraikan
hal ini, khususnya bagi kita yang tidak memahami dan memiliki "rasa bahasa"
Arab --karena keindahan diperoleh melalui "perasaan", bukan melalui nalar.
Namun demikian, ada satu atau dua hal menyangkut redaksi Al-Quran yang dapat
membantu pemahaman aspek pertama ini.

Seperti diketahui, seringkali Al-Quran "turun" secara spontan, guna menjawab
pertanyaan atau mengomentari peristiwa. Misalnya pertanyaan orang Yahudi
tentang hakikat ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, dan tentunya
spontanitas tersebut tidak memberi peluang untuk berpikir dan menyusun
jawaban dengan redaksi yang indah apalagi teliti. Namun demikian, setelah
Al-Quran rampung diturunkan dan kemudian dilakukan analisis serta
perhitungan tentang redaksi-redaksinya, ditemukanlah hal-hal yang sangat
menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara
kata-kata yang digunakannya, seperti keserasian jumlah dua kata yang
bertolak belakang.

Abdurrazaq Nawfal, dalam Al-Ijaz Al-Adabiy li Al-Qur'an Al-Karim yang
terdiri dari tiga jilid, mengemukakan sekian banyak contoh tentang
keseimbangan tersebut, yang dapat kita simpulkan secara sangat singkat
sebagai berikut.

*A. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya.* Beberapa
contoh, di antaranya:

   - Al-hayah (hidup) dan al-mawt (mati), masing-masing sebanyak 145 kali;
   - Al-naf' (manfaat) dan al-madharrah (mudarat), masing-masing sebanyak 50
   kali;
   - Al-har (panas) dan al-bard (dingin), masing-masing 4 kali;
   - Al-shalihat (kebajikan) dan al-sayyi'at (keburukan), masing-masing 167
   kali;
   - Al-Thumaninah (kelapangan/ketenangan) dan al-dhiq
   (kesempitan/kekesalan), masing-masing 13 kali;
   - Al-rahbah (cemas/takut) dan al-raghbah (harap/ingin), masing-masing 8
   kali;
   - Al-kufr (kekufuran) dan al-iman (iman) dalam bentuk definite,
   masing-masing 17 kali;
   - Kufr (kekufuran) dan iman (iman) dalam bentuk indifinite, masing-masing
   8 kali;
   - Al-shayf (musim panas) dan al-syita' (musim dingin), masing-masing 1
   kali.

*B. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang
dikandungnya.*

   - Al-harts dan al-zira'ah (membajak/bertani), masing-masing 14 kali;
   - Al-'ushb dan al-dhurur (membanggakan diri/angkuh), masing-masing 27
   kali;
   - Al-dhallun dan al-mawta (orang sesat/mati [jiwanya]), masing-masing 17
   kali;
   - Al-Qur'an, al-wahyu dan Al-Islam (Al-Quran, wahyu dan Islam),
   masing-masing 70 kali;
   - Al-aql dan al-nur (akal dan cahaya), masing-masing 49 kali;
   - Al-jahr dan al-'alaniyah (nyata), masing-masing 16 kali.

*C. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang
menunjuk kepada akibatnya.*

   - Al-infaq (infak) dengan al-ridha (kerelaan), masing-masing 73 kali;
   - Al-bukhl (kekikiran) dengan al-hasarah (penyesalan), masing-masing 12
   kali;
   - Al-kafirun (orang-orang kafir) dengan al-nar/al-ahraq (neraka/
   pembakaran), masing-masing 154 kali;
   - Al-zakah (zakat/penyucian) dengan al-barakat (kebajikan yang banyak),
   masing-masing 32 kali;
   - Al-fahisyah (kekejian) dengan al-ghadhb (murka), masing-masing 26 kali.


*D. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya.*

   - Al-israf (pemborosan) dengan al-sur'ah (ketergesa-gesaan),
   masing-masing 23 kali;
   - Al-maw'izhah (nasihat/petuah) dengan al-lisan (lidah), masing-masing 25
   kali;
   - Al-asra (tawanan) dengan al-harb (perang), masing-masing 6 kali;
   - Al-salam (kedamaian) dengan al-thayyibat (kebajikan), masing-masing 60
   kali.

*E. Di samping keseimbangan-keseimbangan tersebut, ditemukan juga
keseimbangan khusus.*

(1) Kata yawm (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak
hari-hari dalam setahun. Sedangkan kata hari yang menunjuk kepada bentuk
plural (ayyam) atau dua (yawmayni), jumlah keseluruhannya hanya tiga puluh,
sama dengan jumlah hari dalam sebulan. Disisi lain, kata yang berarti
"bulan" (syahr) hanya terdapat dua belas kali, sama dengan jumlah bulan
dalam setahun.

(2) Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada "tujuh." Penjelasan ini
diulanginya sebanyak tujuh kali pula, yakni dalam ayat-ayat Al-Baqarah 29,
Al-Isra' 44, Al-Mu'minun 86, Fushshilat 12, Al-Thalaq 12, Al-Mulk 3, dan Nuh
15. Selain itu, penjelasannya tentang terciptanya langit dan bumi dalam enam
hari dinyatakan pula dalam tujuh ayat.

(3) Kata-kata yang menunjuk kepada utusan Tuhan, baik rasul (rasul), atau
nabiyy (nabi), atau basyir (pembawa berita gembira), atau nadzir (pemberi
peringatan), keseluruhannya berjumlah 518 kali. Jumlah ini seimbang dengan
jumlah penyebutan nama-nama nabi, rasul dan pembawa berita tersebut, yakni
518 kali.

Demikianlah sebagian dari hasil penelitian yang kita rangkum dan kelompokkan
ke dalam bentuk seperti terlihat di atas.

Kedua adalah pemberitaan-pemberitaan gaibnya. Fir'aun, yang mengejar-ngejar
Nabi Musa., diceritakan dalam surah Yunus. Pada ayat 92 surah itu,
ditegaskan bahwa "Badan Fir'aun tersebut akan diselamatkan Tuhan untuk
menjadi pelajaran generasi berikut." Tidak seorang pun mengetahui hal
tersebut, karena hal itu telah terjadi sekitar 1200 tahun S.M. Nanti, pada
awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1896, ahli purbakala Loret menemukan di
Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satu mumi, yang dari data-data sejarah
terbukti bahwa ia adalah Fir'aun yang bernama Maniptah dan yang pernah
mengejar Nabi Musa a.s. Selain itu, pada tanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith
mendapat izin dari pemerintah Mesir untuk membuka pembalut-pembalut Fir'aun
tersebut. Apa yang ditemukannya adalah satu jasad utuh, seperti yang
diberitakan oleh Al-Quran melalui Nabi yang ummiy (tak pandai membaca dan
menulis itu). Mungkinkah ini?

Setiap orang yang pernah berkunjung ke Museum Kairo, akan dapat melihat
Fir'aun tersebut. Terlalu banyak ragam serta peristiwa gaib yang telah
diungkapkan Al-Quran dan yang tidak mungkin dikemukakan dalam kesempatan
yang terbatas ini.

Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya. Banyak sekah isyarat ilmiah yang
ditemukan dalam Al-Quran. Misalnya diisyaratkannya bahwa "Cahaya matahari
bersumber dari dirinya sendiri, sedang cahaya bulan adalah pantulan (dari
cahaya matahari)" (perhatikan QS 10:5); atau bahwa jenis kelamin anak adalah
hasil sperma pria, sedang wanita sekadar mengandung karena mereka hanya
bagaikan "ladang" (QS 2:223); dan masih banyak lagi lainnya yang kesemuanya
belum diketahui manusia kecuali pada abad-abad bahkan tahun-tahun terakhir
ini. Dari manakah Muhammad mengetahuinya kalau bukan dari Dia, Allah Yang
Maha Mengetahui!

Kesemua aspek tersebut tidak dimaksudkan kecuali menjadi bukti bahwa
petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Al-Quran adalah benar, sehingga
dengan demikian manusia yakin serta secara tulus mengamalkan
petunjuk-petunjuknya.

http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/bukti_kebenaran_alquran.html<http://www.adanipermana.co.cc/Articles/artikel/ilmu_alquran/bukti_kebenaran_alquran.html>

-- 
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

A Dani Permana
www.adanipermana.co.cc
http://it-focus.co.cc


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke